Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Rabu, 15 Desember 2010

Meraba Matahari (Season 4)


Season 4
Lee Hong Ki Jagoan Kampung


Mereka rasa-rasanya terbenam ke dalam angan-angan mereka masing-masing, Kim Hyun Joong masih saja bingung memikirkan sikap Pangeran Park Yong Ha, sementara itu Jung Yong Hwa membayangkan kehidupan yang sepi dari Permaisuri Seo Woo Rim dan anak perempuannya, Putri Han Ga In. Sehari-hari mereka hanya berdua saja, terpisah dari keluarga mereka.

Ketika keduanya sampai di istana, maka keduanya pun segera mencari guru mereka. Berbincang-bincang sebentar, kemudian keduanya pun pergi menghadap ayahanda mereka.

Pada saat itu, para Panglima telah memerintahkan para prajurit untuk bersiaga sepenuhnya, mereka harus mengamati peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan kejahatan yang nampaknya mulai menyebar di Kerajaan Seongnam.

Sebenarnya para Panglima pun telah memerintahkan seluruh penghuni Desa Seongnam masing-masing untuk bersiaga sebaik-baiknya. Setiap orang laki-laki yang masih nampak kuat harus mendapat giliran meronda. Terlebih-lebih anak-anak mudanya.

Namun, meskipun demikian, kesegiaan itu tidak dapat menghentikan kerusuhan di Kerajaan Seongnam, kerusuhan itu dapat terjadi di jalan-jalan sepi. Namun juga di pedesaan-pedesaan. Yang terjadi bukan saja pencurian binatang ternak, tetapi yang telah terjadi adalah justru perampokan-perampokan, kawanan perampok bagaikan telah meleburkan diri di Kerajaan Seongnam terutama di perbatasan.

Di Desa Seongdeok, di setiap malam bukan saja mereka yang bertugas meronda yang berada di gardu-gardu. Tetapi mereka yang tidak mendapat giliran ronda pun selalu berdatangan ke gardu-gardu.
Seorang anak muda yang bertubuh tinggi, yang selalu membawa pedang di punggangnya berkata kepada kepada kawan-kawannya “Jika saja para perampok itu berani datang kemari.”

Anak muda itu memang seorang anak muda yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya. Tidak seorang pun yang berani melawannya, ia memiliki kekuatan besar melampaui kekuatan anak-anak muda kebanyakan.

Sayang sekali, anak muda itu terlalu sombong, ia terlalu yakin akan kemampuannya.

Setiap malam hari, anak muda itu rajin berada di gardu. Meskipun bukan hari-hari gilirannya meronda. Di gardu ia sempat menyombongkan diri, menantang para perampok yang ditakuti di mana-mana.

Namun malam itu, rasa-rasanya agak lain dari malam-malam sebelumnya. Meskipun di gardu terdapat banyak orang seperti biasanya, tetapi malam itu terasa sangat sepi. Orang-orang yang berada di gardu itu tidak nampak tegar seperti biasanya. Sebagian dari mereka mulai mengantuk sebelum waktu sepi desa. Anak-anak mudanya tidak berkelakar seperti biasanya, sehingga suara tertawa dan kelakar mereka terdengar meledak-ledak.

Seorang yang umurnya sudah mendekati pertengahan abad, namun masih tetap setia datang ke gardu, berkata kepada seorang anak muda yang berada di sebelahnya “Suasana malam ini agak lain dari malam-malam biasanya.”

“Mungkin angin yang basah itu terasa terlalu dingin, Hyung.”

“Ya, nampaknya langit bersih tanpa selembar awan telah membuat malam terasa sangat dingin.”

“Ya, apalagi sehari tadi, kita semuanya sibuk di sawah, musim menggarap sawah ini membuat kita semuanya sudah mengantuk.”

“Ya, benar begitu.”

Orang yang separuh baya itu mengangguk-angguk, tetapi ia merasakan sesuatu yang lain. Bukan sekedar letih karena kerja seharian. Ada yang asing, tetapi ia tidak dapat mengatakannya.
Malampun merayap semakin dalam, anak muda yang bertubuh tinggi dan selalu membawa pedang di punggungnya itupun turun dari gardu dan berjalan-jalan hilir mudik.

“Hei, bukankan sudah hampir tengah malam. Marilah, siapa yang bertugas meronda berkeliling sekarang?” anak muda itu hampir berteriak.

Tiga orang anak muda yang lain dengan malasnya bangkit berdiri, seorang diantaranya menguap sambil berkata “Ngantuk sekali ya, rasa-rasanya mataku tidak dapat terbuka sama sekali.”

“Kau yang bertugas meronda berkeliling-kan?”

“Ya”

“Marilah kita pergi, aku temani kalian, jika ada sesuatu, biarlah aku meyelesaikannya.”

Seorang yang lain, yang duduk santai berkata “Pergilah, harus ada diantara kita yang meronda berkeliling. Lee Hong Ki sudah bersedia mengantar kalian, karena itu, jangan cemas lagi, Lee Hong Ki akan mengatasi segala-galanya jika terjadi sesuatu.”

“Bahkan seandainya ada sekelompok perampok sekalipun.” sahut anak muda yang membawa pedang itu dan bernama Lee Hong Ki.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, lima orang termasuk Lee Hong Ki yang berada paling depan, berjalan mengelilingi kampung. Empat kawan Lee Hong Ki membawa kentongan kecil yang dibunyikan sepanjang jalan dengan irama pasti.

Tetapi Lee Hong Ki pun kemudian berkata “Tidak ada gunanya kau membunyikan kentongan itu.”

“Kenapa ? orang-orang yang tidur terlalu nyenyak akan terbangun.” jawab seorang kawannya.

“Apa yang dapat mereka lakukan, meskipun mereka terbangun.”

“Mereka akan mengetahui jika ada orang jahat masuk ke dalam rumah mereka.”

“Bagaimana jika mereka tahu?”

“Mereka akan menangkapnya, atau membunyikan kentongan untuk memberi isyarat kepada kita yang berada di gardu.”

“Mereka tidak akan dapat melakukannya.”

“Kenapa ?”

“Jika yang datang itu seorang pencuri yang kurus karena kelaparan, mencongkel dinding rumah dan merangkak masuk, maka orang-orang yang terbangun karena bunyi kentonganmu itu akan dapat menangkap mereka, tetapi jika orang yang datang itu sekelompok perampok?”

“He..!” anak-anak muda yang meronda berkeliling itu mulai saling merapat.

“Perampok, atau berandal itu jika mendatangi rumah seseorang tidak dengan sembunyi-sembunyi. Mereka mengetuk pintu, jika tidak dibuka, maka mereka akan mendobraknya.”

Keempat orang anak muda itu mulai berdesakkan, tetapi tangan mereka masih saja memukul kentongan kecil.

“Tetapi kentongan ini harus dibunyikan, itu kewajiban kita. Jika kita tidak membunyikan kentongan ini, maka orang-orang desa mengira kita tidak melakukan ronda malam ini.”

Lee Hong Ki tertawa, katanya “Tentu bukan karena itu. Kau akan merasa lebih tenang jika lebih banyak orang terbangun di desa ini, kan?”

“Ya.”

“Jika demikian, terserah saja kepada kalian.”

Kemudia, kawan-kawan Lee Hong Ki itu justru memukul kentongan makin keras. Semakin lama malam terasa menjadi semakin menakutkan. Rasa-rasanya jalan pedesaan itu semakin menjadi gelap, beberapa buah obor di setiap pintu gerbang rumah penduduk rasa-rasanya tidak membantu. Cahayanya menjadi redup. Bahkan bayangan yang timbul oleh cahaya bergerak-gerak seperti hendak menerkam.
Anak-anak muda itu semakin cemas ketika mereka mendengar bunyi burung hantu di kejauhan. Ketika burung itu terbang melintas sambil berbunyi, rasa-rasanya burung itu telah menebarkan malapetaka di pedesaan itu.

Lee Hong Ki tertawa, katanya “Kalian takut mendengar bunyi burung hantu itu ya? Kalian terlalu percaya pada dongeng dan tahayul yang membuat kalian menjadi penakut.”

“Tetapi semua orang-orang tua kita menceritakan hal seperti itu.”

“Menceritakan apa?”

“Tentang burung itu.”

“Burung apa namanya?”

Anak itu terdiam, sehingga Lee Hong Ki tertawa semakin panjang, katanya “Menyebut namanya saja kau tidak berani. Dengar, namanya burung Hantu. Apakah nama burung itu begitu menakutkan kalian, hingga menyebut namanya saja kalian tidak berani..”

“Sudahlah, kita berbicara tentang hal lain saja.” potong seorang kawannya.

Lee Hong Ki masih tertawa, namun sebelum ia menjawab, di kejauhan memang terdengar suara burung hantu itu lagi.

Anak-anak muda itu menjadi semakin berhimpitan, kulit mereka meremang, namun demikian mereka justru memukul kentongan semakin keras.

Para peronda itu itu tiba-tiba saja terkejut ketika mereka melihat seseorang berlari muncul dari tikungan, langsung menjumpai mereka.

Lee Hong Ki yang berdiri paling depan, segera meloncat menghadang. Tiba-tiba pedangnya telah berada di tangannya.

Ternyata Lee Hong Ki memang tangkas.

Orang itu berhenti dan berkata dengan nafas yang memburu. “Aku….., ini aku…..Lee Yong Woo….”

“Lee Yong Woo Hyung?”

“Ya…, aku…Lee Yong Woo…”

“Ada apa Hyung lari-lari kemari…?”

“Ada, ada rampok….., ada rampok di rumah paman….”

“Rampok? paman siapa yang dirampok?”

“Paman Kim Soo Ro….. Pedagang sapi itu…”

“Darimana Hyung tahu, kalau rumah paman Kim Soo Ro dirampok?”

“……Kebetulan aku sedang tidur di rumah paman Kim Soo Ro, paman sedang mengadakan pertemuan keluarga, karena ia akan menikahkan anaknya yang perempuan. Keluarga yang lain pada pulang, sedangkan aku tetap tinggal. Aku tidur di bilik belakang dekat dapur. Sewaktu para perampok beraksi, aku berhasil lolos dan menyelinap keluar dan bersembunyi di kebun. Sewaktu kalian datang dan membunyikan kentongan, maka aku langsung lari menuju kemari.”

“Jangan cemas.” kata Lee Hong Ki. “Aku akan datang ke rumah paman Kim Soo Ro.”

“Tetapi perampoknya tidak hanya sendiri, mereka banyak, Lee Hong Ki.”

Lee Hong Ki termangu-mangu sejenak, kemudian ia pun berkata kepada kawan-kawannya “Bunyikan kentongan kalian dalam irama cepat dan suara yang lebih keras sambil mendekati rumah paman Kim Soo Ro.”

“Tetapi…Lee Hong Ki….aku…. takut”

“Jangan kuatir, dalam waktu dekat, orang-orang akan berdatangan mengepung rumah itu.”

“Tetapi perampok itu kan kejam-kejam Lee Hong Ki.”

“Persetan, sekarang bunyikan kentonganmu dengan lebih keras, cepat, sebelum perampok itu sempat lari.”

Anak muda itu tidak sempat berpikir, tiba-tiba saja suara kentongan itu menjadi lebih keras dari sebelumnya.

Pedesaan itu memang menjadi gempar. Suara kentongan dengan irama cepat itu telah membangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak. Beberapa orang segera menyambar senjata yang selalu mereka siapkan di dekat pembaringan mereka, sejak Kepala Desa Seongdeok memperingatkan rakyatnya untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk karena ulah para perampok.

Demikian pula orang-orang yang berada di gardu. Ada diantara mereka yang menjadi ketakutan sehingga gemetar mendengar suara kentongan dalam irama cepat. Tetapi ada juga yang dengan sigapnya meloncat turun dan berlari-lari kearah suara kentongan itu. Lee Hong Ki telah mendahului pergi ke rumah paman Kim Soo Ro bersama Lee Yong Won, karena Lee Yong Won tidak bersenjata, maka ia pun meminjam sepotong besi yang dibawa oleh salah seorang peronda itu.

Keempat orang peronda itu memang mengikuti Lee Hong Ki dan Lee Yong Won. Tetapi mereka tetap mengambil jarak sambil menunggu orang-orang yang terbangun oleh suara kentongan.

Beberapa orang tetangga terdekat memang segera sampai di pintu pagar rumah Paman Kim Soo Ro, namun pada saat itu, beberapa orang perampok dengan membawa hasil rampokannya telah keluar dari pintu pagar dan turun ke jalan. Mereka nampaknya tidak banyak terpengaruh oleh suara kentongan itu, tidak pula menjadi tergesa-gesa, meskipun mereka mendengar beberapa orang mulai berteriak-teriak.

Beberapa orang perampok itu berjalan beriringan kearah pintu gapura pedesaan dengan tenangnya.

Ketika beberapa orang menghentikan mereka, para perampok itu memang berhenti, bahkan menunggu, apa kira-kira yang akan dilakukan oleh warga pedesaan kepada mereka.

“Menyerahlah.” teriak Lee Hong Ki. “Kalian kami tangkap.”

Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa. Seorang perampok yang bertubuh tinggi besar. Melangkah maju sambil berkata. “Jangan main-main anak muda, minggirlah.”

“Kami bersungguh-sungguh.” kata Lee Hong Ki. “Kami mendapat wewenang untuk menangkap kalian.”

“Aku peringatkan sekali lagi, bahwa perampok seperti kami tidak dapat diajak bermain-main. Apalagi pada saat-saat kami menjalankan pekerjaan kami seperti sekarang ini. Karena itulah, minggirlah, jika kalian tidak minggir, maka tentu akan jatuh korban di pihak kalian. Meskipun kalian berjumlah banyak, namun kalian tidak bisa berkelahi. Berbeda dengan kami, berkelahi adalah pekerjaan kami sehari-hari, menyakiti dan melukai orang. Bahkan kami adalah pembunuh-pembunuh yang sebenarnya.”

“Jangan membual.” potong Lee Hong Ki. “Aku adalah pemimpin anak-anak muda desa ini.”

“Nampaknya kau memang keras kepala, ya.”

“Persetan.” geram Lee Hong Ki sambil memutar pedangnya.

Namun tiba-tiba saja perampok yang bertubuh tinggi besar itu pun memutar sebuah pedang di tangannya sambil berkata lantang. “Minggir jika tidak ingin celaka.”

Jantung Lee Hong Ki menjadi berdebar-debar, apalagi orang yang berdiri di hadapannya itu bertubuh lebih tinggi dan lebih besar darinya. Padahal Lee Hong Ki sudah menganggap bahwa tubuhnya adalah yang tertinggi dan terbesar di seluruh Pedesaan.

Tetapi Lee Hong Ki sudah terlanjur sesumbar di hadapan kawan-kawannya, bahwa ia akan menantang dan menangkap para perampok itu. Bahkan tidak hanya seorang yang ditantangnya, tetapi sekelompok perampok.

Ketika ia benar-benar berhadapan dengan sekelompok perampok, maka suasana hatinya memang lain.

“Minggir.” bentak perampok itu.

Lee Hong Ki tidak mau minggir, meskipun dengan sedikit gemetar Lee Hong ki memutar pedangnya sambil berkata “Kami semua akan menangkap kalian, kau lihat seluruh penghuni desa ini sudah berada disini.”

“Sayang sekali, semakin banyak yang datang akan semakin banyak pula yang akan mati. Nah, sekarang aku akan pergi meninggalkan Desa ini.

Ketika perampok itu melangkah maju, maka Lee Hong Ki pun meloncat menyerang. Pedangnya diayunkan dengan kerasnya mengarah ke bahu perampok itu.

Namun yang terdengar adalah dentangan senjata yang beradu, Pedang Lee Hong Ki telah membentur pedang perampok itu, sehingga bunga api pun berloncatan dari benturan itu.

Namun Lee Hong Ki telah bergeser surut, telapak tangannya terasa pedih sekali. Hampir saja goloknya terlepas.

Namun Lee Hong Ki tidak mempunyai banyak kesempatan, perampok itu meloncat memburunya. Dengan sekali pukul, golok Lee Hong Ki telah terlepas dari tangannya, terlempar beberapa meter dari kakinya.

Yang terjadi kemudian telah menggetarkan jantung orang-orang yang mengepung para perampok itu. Satu ayunan pedang itu telah mengenai paha Lee Hong Ki.

Terdengar Lee Hong Ki berteriak kesakitan, dengan serta merta ia pun terjatuh dan tidak dapat bangkit berdiri lagi.

Dengan serta merta perampok itupun berteriak. “Siapa lagi yang akan mencoba menahan kami?”

Tidak terdengar satupun jawaban.

Perampok yang bertubuh tinggi besar itu pun memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berjalan terus meninggalkan orang-orang desa yang berkerumun, sambil berkata. “Jangan mencoba menghalangi kami, jika ada yang mencobanya juga, maka aku akan membunuhnya, tidak sekedar melukainya lagi.”

Orang-orang yang mengepung itupun menyibak, mereka tidak berani berbuat apa-apa terhadap para perampok yang nampaknya garang dan bengis itu. Apalagi senjata-senjata mereka yang mengerikan itu telah membut jantung mereka bergetar.

Selain pedang, ada diantara mereka yang membawa tombak dengan mata tombak yang bercabang. Ada yang membawa semacam kapak bertangkai panjang. Dan berbagai jenis senjata yang menyeramkan lainnya.

Orang-orang desa itupun seakan-akan hanya sekedar menjadi penonton sebuah barisan orang-orang yang berwajah garang yang berhasil membawa barang-barang berharga milik Paman Kim Soo Ro. Baru ketika mereka telah pergi, beberapa orang berusaha menolong Lee Hong Ki yang merintih kesakitan, agaknya tulang pahanya telah menjadi retak.

Dengan hati-hati Lee Hong Ki diangkat dan dibawa pulang ke rumahnya yang tidak begitu jauh dari tempat kejadian, namun sepanjang jalan Lee Hong Ki selalu mengeluh kesakitan.

Beberapa orang yang lain telah berada di rumah Paman Kim Soo Ro, mereka melihat Bibi Oh Yoon Ah, Istri Paman Kim Soo Ro menangis di ruang tengah, dengan memelas ia pun merintih. “Aku mengumpulkan uang sekeping demi sekeping, tiba-tiba saja mereka datang dan merampas semuanya.”

Paman Kim Soo Ro duduk tepekur tidak jauh dari istrinya, pundaknya nampak berdarah, agaknya para perampok itu telah melukainya meskipun tidak begitu parah.

Beberapa orang mencoba menghiburnya, namun bibi Oh Yoon Ah masih saja mengangis. Ia merasa telah kehilangan segala yang dimilikinya.

“Sudahlah Bibi Oh Yoon Ah, yang penting Bibi Oh Yoon Ah dan Paman Kim Soo Ro selamat, harta benda dapat dicari lagi, tetapi nyawa? kemana kita akan mencarinya? Bersukurlah bahwa Paman Kim Soo Ro hanya luka dan tidak dibunuh oleh perampok-perampok yang keji itu.”

Demikianlah, sejenak kemudian, Master Ahn Jae Wook dan petinggi Desa Seongdeok telah datang hampir berbarengan dengan Kepala Desa Seongdeok.

“Jadi…. tidak ada orang yang berani berusaha menangkap mereka meskipun kalian berjumlah sekian banyaknya?” tanya Kepala Desa.

“Lee Hong Ki sudah mencoba, Kepala Desa. Lee Hong Ki yang menurut pendapat kami adalah orang yang terkuat diantara kami, dalam sekejap telah dilukai. Lalu apa pula artinya kami. Dan para perampok itu mengancam bahwa orang berikutnya tidak hanya akan disakiti seperti Lee Hong Ki, tetapi mereka benar-benar akan membunuh.”

“Berapa orang mereka semuanya?”

“Lebih dari lima belas orang.”

“Lima belas orang?”

“Ya, Kepala Desa.”

Jumlah itupun mengejutkan Kepala Desa, Master Ahn Jae Wook dan petinggi Desa Seongdeok, merasa wajar sekali jika orang-orang desa itu merasa ragu untuk bertempur menghadapi lima belas orang perampok yang garang dengan membawa berbagai macam senjata yang mengerikan.

Kepala Desa Seongdeok itupun menarik nafas panjang, seandainya orang-orang di sekitar Paman Kim Soo Ro itu memberanikan diri untuk mencoba menangkap mereka, maka korban pun akan berjatuhan, jika setiap perampok membunuh satu orang warga, maka akan ada lima belas mayat yang harus dikuburkan.
Karena itu, maka Kepala Desa tidak lagi menyalahkan warganya, mereka bukan penakut, tetapi mereka tahu, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi lima belas perampok.

“Besok, peristiwa ini akan aku laporkan. Kami rakyat Seongnam tidak mampu lagi mengatasi.” kata Kepala Desa.

“Peristiwa di Desa Seongmega beberapa hari yang lalu, tidak segarang apa yang terjadi disini. Perampok di Desa Seongmega itu tidak diketahui oleh orang lain kecuali pemilik rumahnya.” kata Kepala Desa.

Peristiwa perampokan itu akhirnya sampai kepada Kaisar Ryu Seung Ryong. Bahkan yang terakhir telah terjadi perampokan dengan mencoba membunuh korbannya dengan kejam. Sebelumnya, sebuah rumah sudah dibakar habis oleh para perampok yang marah, karena mereka tidak menemukan yang mereka cari di rumah itu. Setelah menyakiti suami istri pemilik rumah itu, maka mereka membakar rumahnya dan membiarkan suami istri itu berada di dalamnya. Untunglah, bahwa suami istri itu masih sempat merangkak sambil membantu istrinya keluar dari kobaran api sambil berteriak-teriak minta tolong. Pertolongan dari para tetanggapun datang tepat pada waktunya, sehingga keduanya serta anaknya yang masih kecil dapat diselamatkan. Seorang pembantu di rumah itu juga selamat, meskipun ia mengalami luka bakar.

Kaisar Ryu Seung Ryong menjadi sangat prihatin atas peristiwa beruntun di Kerajaan Seongnam itu, sehingga secara khusus, Kaisar Ryu Seung Ryong telah memanggil kedua orang Patih yaitu Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk. Sementara itu Kaisar Ryu Seung Ryong juga minta Master Kang Shin Il tidak tergesa-gesa meninggalkan Kerajaan.

Ketika kedua orang Patih itu menghadap, maka Kaisar Ryu Seung Ryong juga memanggil kedua putranya untuk menghadap pula.

“Keadaan sudah semakin gawat, patih” kata Kaisar Ryu Seung Ryong.

“Sudah waktunya untuk bertindak, Kaisar Ryu Seung Ryong. Para panglima sudah memberikan laporan, bahwa mereka tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Para perampok itu mendatangi rumah para korbannya dalam jumlah yang besar, dan merampok tiga rumah sekaligus dalam satu malam.” kata Patih Lee Seung Ki.

“Memang perlu dicari pijakan dari kerusuhan yang terjadi itu, Kaisar Ryu Seung Ryong. Agaknya memang bukan kerusuhan biasa, bukan dilakukan oleh orang-orang yang kelaparan atau sekedar mencari harta benda untuk menimbun kekayaan” ujar Master Kang Shin Il.

“Ya, Master Kang Shin Il.”

“Kaisar Ryu Seung Ryong, kita harus berusaha untuk dapat menangkap para perampok dari tataran tertinggi, sehingga akan mendapat keterangan yang jelas, apakah sebenarnya yang terjadi.”

Kaisar Ryu Seung Ryong mengangguk-angguk. Namun pada saat itu tiba-tiba saja Kim Hyun Joong berkata, meskipun dengan ragu-ragu. “Ayahanda, jika ayahanda berkenan, hamba akan menyampaikan pendapat hamba. Apapun alasannya, siapapun yang dalangnya, kerusuhan-kerusuhan ini harus dihentikan. Jika ayahanda berkenan, hamba mohon mendapat perintah dari ayahanda untuk mengatasi kerusuhan ini.”

“Maksudmu?”

“Hamba akan mencoba untuk berhadapan dengan perampok itu, ayahanda.”

Kaisar Ryu Seung Ryong mengerutkan keningnya, sementara itu Jung Yong Hwa pun berkata pula. “Hamba sependapat dengan Kim Hyun Joong Hyung, ayahanda. Jika ayahanda memerintahkan kami untuk mengatasi kerusuhan itu, maka perintah itu akan hamba junjung tinggi.”

Kaisar Ryu Seung Ryong termangu-mangu sejenak, namun Master Kang Shin Il berkata “Kaisar Ryu Seung Ryong, sebenarnya Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa telah menimba ilmu di perguruan Kangsan sampai tuntas. Agaknya memang sudah sampai saatnya, bahwa mereka mendapatkan beban tugas yang sesuai bagi mereka, juga sebagai putra mahkota. Karena itu, jika Kaisar Ryu Seung Ryong berkenan, maka Kaisar Ryu Seung Ryong dapat memerintahkan putra Kaisar Ryu Seung Ryong untuk mengatasi kerusuhan ini. Aku mengusulkan salah satu dari mereka yang berangkat. Tugas pertama ini dibebankan kepada Kim Hyun Joong, sementara Jung Yong Hwa tetap tinggal di Dalam Kerajaan, jika mungkin untuk mengatasi persoalan yang gawat yang dapat terjadi disini.”

“Guru.” Jung Yong Hwa itupun memohon “Jika saja guru dan ayahanda berkenan, aku ingin ikut bersama Hyung.”

“Jung Yong Hwa.” kata Kaisar Ryu Seung Ryong kemudian “Aku setuju dengan gurumu, salah seorang dari kalian tetap tinggal disini, mungkin aku akan sangat memerlukannya.”

Jung Yong Hwa tidak dapat memaksa, betapapun ia ingin pergi bersama Kim Hyun Joong untuk mengatasi kerusuhan yang terjadi di Seongnam, namun ayahandanya menahannya agar ia tetap berada di istana.

“Jung Yong Hwa.” kata Kaisar Ryu Seung Ryong “Bukannya aku tidak percaya akan kemampuanmu, menurut gurumu, kau dan Kim Hyun Joong telah bersama-sama menuntaskan ilmu yang kalian pelajari di perguruan, karena itu, menurut gurumu, kau dan Kim Hyun Joong memiliki ilmu yang sama tinggi. Namun justru karena itu, maka aku ingin kau tetap tinggal berasamaku di Kerajaan.”

Jung Yong Hwa sebagai seorang putra mahkota, harus mampu menempatkan diri, maka iapun berkata “Hamba menjunjung tinggi titah ayahanda.”

“Bagus Jung Yong Hwa, kau tetap bersamaku dalam keadaan yang gawat ini.”

“Hamba, ayahanda.”

“Nah, dengan demikian, maka aku akan memerintahkan Kim Hyun Joong untuk pergi mengatasi kerusuhan ini.”

“Kaisar Ryu Seung Ryong.” kata Patih Kim Ji Suk “Apakah tidak sebaiknya Kaisar Ryu Seung Ryong memerintahkan saja beberapa orang panglima untuk pergi melakukan tugas itu.”

“Patih Kim Ji Suk. Aku memang mempunyai keinginan untuk menguji anakku. Selama ini anak-anakku tidak pernah turun kedalam tugas-tugas penting. karena mereka tidak berada di Kerajaan. Biarlah Pangeran Park Yong Ha mengetahui, bahwa anak-anak Seongnam itu tidak saja pandai dalam kecerdasan otak. Tetapi dalam keadaan gawat, merekapun bisa terjun ke gelanggang pertempuran.”

Patih Kim Ji Suk tidak mengatakan apa-apa lagi, sementara Kaisar Ryu Seung Ryong segera menjatuhkan perintah. “Kim Hyun Joong, berdasarkan perintahku, pergilah untuk memberantas kerusuhan itu, kau aku beri hak dan wewenang untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Tetapi kau tidak boleh lepas dari kebijaksanaan untuk mengatasi setiap keadaan.”

“Hamba ayahanda.”

“Patih Lee Seung Ki akan menunjuk, siapakah yang akan pergi bersamamu. Dengar nasehatnya serta nasehat Patih Kim Ji Suk.”

“Hamba junjung tinggi perintah ayahanda. Hamba akan mengikuti segala petunjuk dari Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk.”

“Nah, Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk. Aku serahkan anakku kepada kalian berdua. Biarlah ia melakukan kewajibannya sebagai seorang prajurit juga sebagai putra mahkota Kerajaan Seongnam. Semoga anakku dapat memberantas kerusuhan yang timbul di wilayah Seongnam.”

“Hamba Kaisar Ryu Seung Ryong.” sahut Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk hampir bersamaan.

Jung Yong Hwa memang merasa sangat kecewa. Tetapi ia dapat mengerti, kenapa jika salah seorang diantara mereka, dua orang putra Kaisar Ryu Seung Ryong, justru Kim Hyun Joong yang harus dikenal bukan saja oleh Pangeran Park Yong Ha di Sungkyunkwan, tetapi juga oleh rakyat Seongnam sendiri, karena Kim Hyun Joong adalah putra pertama Kaisar Ryu Seung Ryong. Kim Hyun Joong yang kelak berhak untuk menggantikan kedudukan Kaisar Ryu Seung Ryong di Seongnam, karena itu adalah wajar, bahwa Kim Hyun Joong lah yang harus lebih banyak dikenal oleh rakyat Seongnam.

Hari itu juga Kim Hyun Joong telah meninggalkan Istana bersama Patih Lee Seung Ki dan patih Kim Ji Suk. Kedua orang Patih itu akan membawa Kim Hyun Joong kepada beberapa orang Panglima terpilih yang akan mendampinginya, mengatasi kerusuhan di Seongnam.

Bersambung (Season 5 – Tiga Panglima Pilihan)...

Meraba Matahari (Season 3)


Season 3
Permaisuri Seo Woo Rim


Ketika matahari mulai bersinar terang, maka para petinggi di Kerajaan Seongnam mulai berdatangan. Ketika para petinggi Seongnam sudah hadir, maka Master Kang Shin Il diikuti oleh Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa telah duduk di ruang utama Istana.

Orang-orang yang hadir segera mengenali kedua orang anak muda itu. Mereka adalah putera mahkota-Kaisar Ryu Seung Ryong yang sudah agak lama berada di sebuah perguruan.

“Sepertinya sekarang mereka sudah pulang.” kata salah seorang petinggi kepada petinggi yang lain, yang duduk di sebelahnya.

Sementara itu, dua orang Patih telah hadir pula di ruang utama Istana, patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk.”

Beberapa saat kemudian Kaisar Ryu Seung Ryong pun menuju ruang utama istana untuk menghadiri pertemuan itu.

Ketika Kaisar Ryu Seung Ryong duduk, maka suasana di ruang utama istana itu menjadi lengang. Semuanya duduk diam sambil menundukkan kepala mereka.

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa sempat mencuri pandang melihat suasana di ruang utama istana itu, suasana yang jarang sekali mereka temui, suasana yang demikian terasa tegang dan kaku.

“Seberapa lama lagi kami harus duduk mematung seperti ini.” kata Kim Hyun Joong di dalam hatinya.

Tetapi ia merasa wajib untuk menyesuaikan diri. Apalagi ia adalah putra Kaisar Ryu Seung Ryong itu sendiri yang harus dijunjung tinggi kewibawaannya. Beberapa saat kemudian, maka Kaisar Ryu Seung Ryong telah membuka pertemuan itu.

Master Kang Shin Il justru agak terkejut ketika di akhir acara, Kaisar Ryu Seung Ryong memberikan waktu kepadanya, karena kehadirannya di Kerajaan Seongnam adalah dalam rangka penyerahan kembali kedua orang putera yang pernah dititipkankan kepadanya.

Master Kang Shin Il memang tidak menduga. bahwa Kaisar Ryu Seung Ryong merencanakan penyerahan itu dilakukan dalam satu upacara, karena pada saat Kaisar Ryu Seung Ryong menyerahkan kedua puteranya itu sama sekali tidak disertai dengan upacara apapun. Waktu itu, Kaisar Ryu Seung Ryong secara langsung menyerahkan pangeran Kim Hyun Joong dan Pangeran Jung Yong Hwa dan langsung pula keduanya ikut bersamanya berkuda ke perguruan.

Pada waktu Kaisar Ryu Seung Ryong itu berkata kepadanya “Aku titipkan anak-anakku kepadamu Master Kang Shin Il.”

Tetapi tiba-tiba kini Master Kang Shin Il itu harus menyerahkan keduanya dalam satu upacara di ruang utama istana dihadapan para petinggi Kerajaan Seongnam.

Master Kang Shin Il memang tidak terbiasa dengan upacara-upacara resmi seperti itu. Namun Master Kang Shin Il tidak dapat mengelak. Dihadapan para Patih Lee Seung Ki, patih Kim Ji Suk, dan para petinggi yang lain. Master Kang Shin Il itupun berkata : “Ampun Kaisar Ryu Seung Ryong, junjungan rakyat Seongnam, pada saat ini, aku yang rendah, Master Kang Shin Il dari Perguruan Kangsan, menyerahkan kembali kedua putra Kaisar Ryu Seung Ryong yang selama empat tahun berada di perguruan. Aku yang kurang pengetahuan dan tidak memahami ilmu, mohon ampun apabila yang kami lakukan, jauh dari memenuhi harapan Kaisar Ryu Seung Ryong, namun yang penting yang aku harapkan dapat selalu diingat oleh kedua anak muda, putra Kaisar Ryu Seung Ryong adalah pesanku kepada mereka, hendaknya hidup mereka semata-mata menuju ke jalan yang benar. Sebagai putra mahkota, mereka mempunyai kesempatan yang luas untuk memperhatikan sesamanya yang kekurangan, kelaparan dan hidup dalam kegelapan. Bertindak dengan bijaksana serta hatinya dipenuhi oleh kesabaran serta belas kasihan.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa justru terkejut. Mereka memang sering mendengar nasehat itu diucapkan hampir disetiap kesempatan, tetapi ketika nasehat gurunya itu diucapkannya dihadapan para petinggi Kerajaan Seongnam, maka mereka seakan-akan dihadapan kepada para saksi yang akan menilai, apakah dalam perjalanan hidupnya kemudian, mereka akan dapat memenuhi petunjuk gurunya itu. Sehingga masa berguru yang dijalaninya itu benar-benar mempunyai arti.

Terasa jantung kedua anak muda itu tergetar. Namun justru itu, maka keduanya pun telah berjanji untuk melakukan semua petunjuk gurunya itu.

Sementara itu, Kaisar Ryu Seung Ryong telah menanggapi pula dengan pernyataan terima kasih kepada Master Kang Shin Il yang telah memberikan bimbingan kepada kedua putranya, tidak saja dalam olah bela diri, tetapi juga arah serta pegangan hidup mereka di masa mendatang.

Baru kemudian, Kaisar Ryu Seung Ryong berbicara dengan para pemimpin di Kerajaan Seongnam.

Yang terpenting mereka bicarakan adalah tentang laporan adanya tindak kejahatan yang tumbuh di sekitar daerah Kerajaan Seongnam.

“Bukan berarti bahwa selama ini tidak ada tindak kejahatan di Kerajaan Seongnam. Tetapi tindak kejahatan itu segera dapat diredam. Namun akhir-akhir ini tindak kejahatan itu rasa-rasanya tumbuh dengan cepat. Menurut laporan yang diterima oleh para panglima di Seongnam, kejahatan itu mulai merambat dari satu tempat ketempat yang lain.

Ternyata para petinggi di Seongnam juga sudah mendengar laporan-laporan tentang terganggunya keamanan dan ketenteraman hidup bagi rakyat Seongnam.

“Kita harus segera mengambil tindakan untuk mencegah meluasnya tindak kejahatan itu.” bkata Kaisar Ryu Seung Ryong.

Para pemimpin yang hadir itupun sependapat bahwa mereka harus mengambil tindakan yang cepat, jika mereka bertindak dengan lambat, maka kejahatan itu akan menjalar kemana-mana.

Patih Lee Seung Ki berpendapat bahwa para Panglima harus memantau keadaan dengan seksama.

“Setiap saat mereka harus memberikan laporan tentang perkembangan keamanan di areal kerajaan Seongnam.”

“Aku tugaskan kepada para panglima untuk mengamati lingkungan mereka masing-masing, jika perlu, jika rakyat mengalami kesulitan untuk menghadapi mereka, maka Seongnam akan memerintahkan para prajurit untuk mengatasinya. Karena itu, kami memerlukan laporan itu setiap saat dan dalam waktu yang cepat dari setiap peristiwa kejahatan”

Pertemuan itu telah menghasilkan kesepakatan bahwa para petinggi di Seongnam harus memantau keadaan, terutama dalam hubungannya dengan semakin berkembangnya kejahatan.

Ketika pembicaraan dianggap sudah cukup, maka Kaisar Ryu Seung Ryong menutup pertemuan itu. Para petinggi Kerajaan Seongnam diperkenankan meninggalkan Ruang Utama Istana.

“Aku minta Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk untuk tetap disini bersama Master kang Shin Il serta kedua putraku.”

Demikian, sejenak kemudian Ruang Utama Istana itu pun menjadi lengang. Yang tertinggal hanyalah Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk, kedua putra Kaisar Ryu Seung Ryong serta Master Kang Shin Il.

Namun kemudian Kaisar Ryu Seung Ryong itupun berkata kepada Jung Yong Hwa “Jung Yong Hwa, persilahkan ibundamu serta Permaisuri Seo Woo Rim menghadap, aku ingin berbicara tentang sikap Pangeran Park Yong Ha.”

“Hamba laksanakan, ayahanda.” sahut Jung Yong Hwa sambil beringsut.

Beberapa saat kemudian, Permaisuri Seo Woo Rim, Putri Han Ga In ditemani oleh Permaisuri Lee Mi Sook (istri Kaisar Ryu Seung Ryong) telah menghadap Kaisar Seongnam.

“Permaisuri Seo Woo Rim.” kata Kaisar Ryu Seung Ryong “Maaf, bahwa baru sekarang kita akan berbicara tentang keadaan Permaisuri Seo Woo Rim, kemarin Permaisuri Seo Woo Rim nampak begitu letih, sehingga aku biarkan Permaisuri Seo Woo Rim untuk beristirahat.”

“Terima kasih, Kaisar Ryu Seung Ryong, bahwa aku diperkenankan untuk berada di Seongnam itupun sudah merupakan satu kemurahan hati Kaisar Ryu Seung Ryong yang tidak terhingga artinya bagi aku dan anakku Putri Han Ga In.”

“Permaisuri Seo Woo Rim.” kata Kaisar Ryu Seung Ryong kemudian “Apa yang sebenarnya terjadi di Kerajaan Sungkyunkwan sehingga Permaisuri Seo Woo Rim harus meninggalkan Kerajaan?”

“Kaisar Ryu Seung Ryong, sebenarnya aku tidak tahu, apakah kesalahanku sebenarnya, tanpa tuduhan apa-apa, tiba-tiba saja Pangeran Park Yong Ha telah mengusirku, agar aku dan Putri Han Ga In meninggalkan Kerajaan Sungkyunkwan.”

“Tetapi bukankah Permaisuri Seo Woo Rim dapat menduga, apakah sebabnya Pangeran Park Yong Ha menjadi marah dan bahkan kemarahannya agak melampui batas kewajaran, karena Pangeran Park Yong Ha sudah mengusir Permaisuri Seo Woo Rim dari Kerajaan Sungjyunkwan , bagaimana juga, Permaisuri Seo Woo Rim adalah istri Kaisar Song Jae Ho almarhum. Sehingga Permaisuri Seo Woo Rim berhak untuk tinggal di istana berasama dengan Putri Han Ga In.”

“Tetapi sudahlah, Kaisar Ryu Seung Ryong. Kemurahan hati Kaisar Ryu Seung Ryong sudah dapat menyejukkan hatiku serta anakku.”

“Mungkin Permaisuri Seo Woo Rim yang merasa sudah mempunyai tempat tinggal selanjutnya, sudah merasa cukup. Mungkin Permaisuri Seo Woo Rim tidak merasa mendendam kepada Pangeran Park Yong Ha, tetapi karena masih ada sangkut paut hubungan keluarga, maka tidak ada salahnya mengetahui, apa yang sebenarnya yang telah terjadi di Sungkyunkwan. Dalam pertemuan ini aku masih menahan dua orang Patih agar dapat ikut mendengarkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Sungkyunkwan bukan saja sebuah Kerajaan yang semula diperintah oleh Kaisar Song Jae Ho, saudara tertuaku sendiri dan yang sekarang diperintah oleh keponakanku sendiri, Pangeran Park Yong Ha. Tetapi Sungkyunkwan juga sebuah Kerajaan yang merupakan tetangga terdekat. Garis batas sebelah utara Seongnam adalah garis batas sebelah selatan Sungkyunkwan. Sehingga apa yang terjadi di Sungkyunkwan akan dapat memercik ke Seongnam. Apalagi sekarang Permaisuri Seo Woo Rim berada disini.”

Permaisuri Seo Woo Rim menundukkan kepalanya, diusapnya matanya yang basah dengan jari-jarinya. Sementara itu Putri Han Ga In yang duduk di sebelah ibunya hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Kaisar Ryu Seung Ryong” suara Permaisuri Seo Woo Rim itu tersendat-sendat “Sebenarnya Pangeran Park Yong Ha tidak pernah menjatuhkan tuduhan apa-apa. Justru karena itu, aku tidak dapat membela diri, tetapi menurut seorang pelayan istana, justru diluar Sungkyunkwan telah tersebar kabar yang sangat memalukan untukku.”

“Kabar apakah itu Permaisuri Seo Woo Rim? Nah, kabar yang tersebar itulah yang ingin aku dengar. Tentu saja bukan merupakan pegangan atas kebenarannya.”

“Kaisar Ryu Seung Ryong, sebenarnya aku sangat malu untuk mengutarakannya, tetapi apa boleh buat. Aku dapat mengerti, bahwa Kaisar Ryu Seung Ryong memerlukan bahan untuk menempatkan masalah ini pada tempat yang sewajarnya.”

“Ya, Permaisuri Seo Woo Rim.”

“Kaisar Ryu Seung Rong. Orang-orang di jalanan mengatakan bahwa Pangeran Park Yong Ha menjadi sangat marah kepadaku dan kepada Putri Han Ga In karena aku dan Putri Han Ga In sering menjual harta benda milik Istana yang harganya sangat mahal. Nampan dari emas, beberapa buah mangkuk yang dilapisi perak, berbagai macam perhiasan dan masah banyak lagi. Karena itu, maka aku telah diusir dari Istana. Aku diberi waktu sepekan untuk berkemas dan menyiapkan benda-benda berharga di istana yang ingin aku bawa. Pangeran Park Yong Ha akan memberikan apa saja yang aku kehendaki untuk aku bawa meninggalkan Kerajaan Sungkyunkwan.”

“Tetapi bukankah Permaisuri Seo Woo Rim dapat membuktikan bahwa Permaisuri Seo Woo Rim tidak melakukannya? Bukankah benda-benda berharga di Kerajaan Sungkyunkwan diketahui dengan pasti jenis dan jumlahnya, sehingga jika ada yang hilang akan segera diketahui?”

“Aku tidak dapat mengatakannya kepada pangeran Park Yong Ha, Pangeran Park Yong Ha sendiri tidak pernah melontarkan tuduhan apapun kepadaku. Kaisar Ryu Seung Ryong, yang aku tahu, tiba-tiba saja Pangeran Park Yong Ha meminta kepadaku untuk mengemaskan barang-barangku dan meninggalkan Istana dalam waktu sepekan.”

“Tetapi Permaisuri Seo Woo Rim justru dipersilahkan membawa apa saja yang ingin Permaisuri Seo Woo Rim bawa dari Kerajaan Sungkyunkwan?”

“Ya, Kaisar Ryu Seung Ryong, tetapi aku tidak membawa sepotong pun benda berharga. Aku ingin mengatakan kepada Pangeran Park Yong Ha, bahwa aku tidak menginginkan semua itu. Ketika aku akan berangkat, aku katakan kepadanya, Pangeran Park Yong Ha menghitung semua benda bukan saja yang berharga, tetapi apa saja yang ada di Istana. Bahkan nampan lampu dari perak yang sangat aku sukapun, tidak aku bawa.”

“Apa kata Pangeran Park Yong Ha ketika ia tahu bahwa Permaisuri Seo Woo Rim tidak membawa apa-apa?”

“Pangeran park Yong Ha tidak mengatakan apa-apa kepadaku.”

Kaisar Ryu Seung Ryong mengangguk-angguk, katanya “Sudahlah Permaisuri Seo Woo Rim. Biarlah Permaisuri Seo Woo Rim tinggal disini. Aku sudah menyediakan sebuah paviliun istana bagi Permaisuri Seo Woo Rim, mungkin terlalu sederhana dibandingkan dengan Istana Sungkyunkwan.”

“Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga. Jika Kaisar Ryu Seung Ryong dan Permaisuri Lee Mi Sook tidak menaruh belas kasihan, lalu apakah jadinya kami berdua, apakah kami harus berkeliaran di sepanjang jalan.”

Suara Permaisuri Seo Woo Rim itu terputus, jari-jarinya sibuk mengusap matanya yang basah. “Sudahlah Permaisuri Seo Woo Rim.” kata Permaisuri Lee Mi Sook “Tinggallah di Seongnam. Dua orang pelayan istanaku akan melayani Permaisuri Seo Woo Rim. Selain mereka, juru taman kami akan memelihara taman di paviliun istana yang kami sediakan bagi Permaisuri Seo Woo Rim. Jika Permaisuri Seo Woo Rim masih memerlukannya, aku dapat menambahnya dengan satu atau dua orang lagi.”

“Tentu sudah cukup, Permaisuri Lee Mi Sook.”

“Putri Han Ga In.” kata Permaisuri Lee Mi Sook.

“Ya, Permaisuri Lee Mi Sook.”

“Sepertinya kau memang harus prihatin dimasa mudamu, tetapi dengan demikian, kau telah mempersiapkan hari depanmu dengan baik. Terimalah apa yang telah terjadi atas dirimu dengan hati yang tegar. Yakinlah akan kemurahan Tuhan. Sehingga pada suatu ketika akan terjadi perubahan pada jalan hidupmu.”

“Ya, Permaisuri Lee Mi Sook.” suara Putri Han Ga In hampir tidak terdengar, wajahnya kemudian menunduk dalam-dalam.

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa tidak dapat ikut campur dalam pembicaraan itu, apalagi gurunya. Sedangkan Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk pun hanya dapat mendengarkan pembicaraan itu sambil mengangguk kecil.

Dengan susah payah Putri Han Ga In berusaha untuk menahan agar ia tidak menangis, tetapi ternyata Putri Han Ga In itu pun kemudian terisak.

Permaisuri Lee Mi Sook memeluknya sambil berbisik “Sudahlah Putri Han Ga In, jangan menangis, Peristiwa yang tidak kita inginkan memang dapat saja datang setiap saat. Tetapi bukankah kau harus pasrah atas apa yang terjadi. Kita harus mensyukuri bahwa kita masih menemukan jalan keluar. Tentu saja atas petunjuk-Nya.

Putri Han Ga In mengangguk.

“Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa.” kata Kaisar Ryu Seung Ryong kemudian “Antarkan Permaisuri Seo Woo Rim dan putrinya ke Paviliun Istana yang telah dipersiapkan. Biarlah para pelayan istana dan juru taman itu menyertai kalian.”

“Baik Ayahanda.” jawab Kim Hyun Joong. “Mari Permaisuri Seo Woo Rim, mari Putri Han Ga In.” Sejenak kemudian, maka Permaisuri Lee Mi Sook, Permaisuri Seo Woo Rim dan Putri Han Ga In telah meninggalkan Ruang Utama Istana diiringi oleh Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa yang akan mengantar Permaisuri Seo Woo Rim dan Putri Han Ga In ke paviliun istana yang telah disediakan.

Namun Kaisar Ryu Seung Ryong masih tetap memerintahkan Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk untuk tetap tinggal bersama Master Kang Shin Il.

“Patih Lee Seung Ki serta patih Kim Ji Suk, bagaimana menurut pendapat kalian atas apa yang terjadi. Apakah peristiwa itu murni sebagaimana yang kita dengar. Bahwa Pangeran Park Yong Ha telah mengusir Permaisuri Seo Woo Rim dari Kerajaan Sungkyunkwan atau kalian melihat persoalan lain di balik apa yang kita dengar. Apakah ada niat yang belum kita ketahui dari Pangeran park Yong Ha terhadap Kerajaan Seongnam atau sikap apapun, karena Pangeran Park Yong Ha tentu memperhitungkan bahwa Permaisuri Seo Woo Rim tentu akan pergi ke Seongnam.

Master Kang Shin Il menarik nafas panjang, katanya “Kaisar Ryu Seung Ryong memerlukan waktu untuk mengetahuinya, memang tidak mustahil, bahwa dibalik peristiwa itu tersembunyi masalah yang lebih tajam dalam dan rumit. Namun seperti apa yang pernah Kaisar Ryu Seung Ryong katakan, kita tidak boleh tergesa-gesa.”

Kaisar Ryu Seung Ryong mengangguk-angguk sambil menjawab “Ya, Master Kang Shin Il. Kita memang harus melihat dengan sangat hati-hati dan dari segala sudut pandang yang berbeda.”

“Ampun Kaisar Ryu Seung Ryong.” kata Patih Lee Seung Ki “Apakah hamba diperkenankan untuk menyampaikan pendapat hamba?”

“Katakanlah, Patih Lee Seung Ki.”

“Ada beberapa peristiwa yang terjadi bersamaan, memang mungkin satu kebetulan, tetapi mungkin memang ada kaitannya.”

“Apa yang patih Lee Seung Ki maksudkan?”

Patih Lee Seung Ki termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya “Tiba-tiba saja Permaisuri Seo Woo Rim sudah berada di Seongnam, Permaisuri Seo Woo Rim diusir dari Kerajaan Sungkyunkwan dengan alasan yang tidak jelas. Sementara itu di kerusuhan di Seongnam meningkat dengan cepat, nampaknya juga tanpa sebab. Selama ini kesejahteraan rakyat Seongnam justru semakin meningkat. Tidak ada bencana alam dan tidak ada permusuhan yang terjadi di lingkungan Istana. Namun tiba-tiba saja terjadi banyak kerusuhan itu terjadi di daerah yang lebih dekat perbatasan dengan Kerajaan Sungkyunkwan dari pada perbatasan yang lain.”

Kaisar Ryu Seung Ryong menarik nafas dalam-dalam. Sementara Patih Kim Ji Suk berkata “Kaisar Ryu Seung Ryong, apa yang dikatakan oleh Patih Lee Seung Ki itu memang harus mendapat perhatian khusus. Meskipun secara umum, para panglima dan para prajurit yang lain sudah mendapat perintah untuk memantau keadaan, tetapi daerah perbatasan itu harus mendapat perhatian lebih.”

“Bagaimana menurut pendapat Patih Kim Ji Suk sendiri.”

“Kaisar Ryu Seung Ryong, seperti yang kita ketahui, bahwa terdapat perbedaan tingkat kesejahteraan bagi rakyat Kerajaan Seongnam dengan rakyat Kerajaan Sungkyunkwan. Keadaan alam, lingkungan serta kebijaksanaan yang berbeda antara Kaisar Song Jae Ho dengan Kaisar Ryu Seung Ryong. Meskipun para Patih sudah banyak membantu serta memberikan beberapa pendapat yang memungkinkan adanya perubahan di Kerajaan Sungkyunkwan, namun Sungkyunkwan masih belum dapat menyamai Seongnam.”

“Perbedaan lantaran kesejahteraan itukah yang menurut Patih Kim Ji Suk dapat menimbulkan masalah?”

“Baru satu dugaan, Kaisar Ryu Seung Ryong”

“Tetapi kenapa baru sekarang?”

“Pangeran Park Yong Ha adalah seorang yang masih muda. Sikapnya tentu berbeda dengan Kaisar Song Jae Ho yang sudah banyak makan pahit asamnya kehidupan. Mungkin kendati Pangeran Park Yong Ha tidak sekuat kendali di tangan ayahandanya.”

Kaisar Ryu Seung Ryong mengangguk-angguk, sementara Patih Lee Sung Ki berkata dengan nada merendah “Kaisar Ryu Seung Ryong, sebaiknya kita memang tidak berprasangka buruk, bahwa ada semacam kesengajaan dari beberapa orang pemimpin di Sungkyunkwan. Tetapi tidak mustahil bahwa ada pemimpin yang merasa iri terhadap kemajuan yang kita capai selama ini.”

Kaisar Ryu Seung Ryong termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia pun berkata “Ya, kita jangan berprasangka buruk. Tetapi semua kemungkinan harus menjadi perhatian kita.”

“Kami berdua akan berusaha Kaisar Ryu Seung Ryong.”

“Aku percaya kepada Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk. Mudah-mudahan langit akan segera menjadi terang diatas Seongnam.”

Sejenak kemudian, maka kedua orang Patih itupun telah diperkenankan untuk meninggalkan ruang utama istana, sehingga yang tinggal kemudian adalah Master Kang Shin Il sendiri. Dua orang prajurit yang bertugas di depan ruang utama istana itupun termangu-mangu. Tidak biasanya Kaisar Ryu Seung Ryong duduk berlama-lama di ruang utama istana. Apalagi setelah pertemuan selesai.

Tetapi nampaknya Kaisar Ryu Seung Ryong masih berbincang-bincang dengan Master Kang Shin Il tentang kemungkinan baru dalam hubungannya dengan Kerajaan Sungkyunkwan.

“Semoga tidak terjadi, Kaisar Ryu Seung Ryong” kata Master Kang Shin Il “Tetapi kecemasan kedua orang Patih itu sangat beralasan, mungkin diluar pengetahuan Pangeran Park Yong Ha. Tetapi mungkin yang terjadi di Seongnam itu justru sepengetahuan Pangeran Park Yong Ha yang masih muda itu.”

Tetapi menurut pengetahuanku, Pangeran Park Yong Ha adalah anak muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesatriaan.”

“Seseorang dapat berganti sikap karena pengaruh orang lain. Jika seseorang dengan cerdik dan licik, setiap hari meniupkan pengaruhnya ketelinga Pangeran Park Yong Ha, maka mungkin saja sikap Pangeran Park Yong Ha berubah atau merasa tidak berubah, tetapi dengan penafsiran yang sengaja dikaburkan sehingga seakan-akan Pangeran Park Yong Ha masih tetap berpijak pada nilai-nilai yang dijunjungnya.

Kaisar Ryu Seung Ryong mengangguk-angguk, katanya “Ya, Master Kang Shin Il. Aku mengerti seseorang memang dapat berbicara tentang sikapnya berdasarkan atas kepentingannya, sedangkan kebenaran pun dapat diurai menurut sudut pandang seseorang.”

“Ya, Kaisar Ryu Seung Ryong. Sehingga seseorang yang merasa dirinya menegakkan kebenaran akan dapat berbenturan dengan orang lain yang juga bersumpah untuk menegakkan kebenaran pula.”

Kaisar Ryu Seung Ryong menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian katanya “Maaf, aku persilahkan Master Kang Shin Il untuk beristirahat, anak-anak tadi baru mengantar Permaisuri Seo Woo Rim ke tempat tinggalnya yang baru.”

“Terima kasih, Kaisar Ryu Seung Ryong.”

Master Kang Shin Il berdiri ketika Kaisar Ryu Seung Ryong kemudian bangkit dan melangkah masuk ke ruang dalam. Sementara itu, para prpajurit yang berjaga-jaga di depan ruang utama istana pun telah meninggalkan tempatnya dan bergabung dengan kawan-kawannya yang berada di gazebo istana. Namun dua orang yang berjaga di pintu gerbang Istana masih juga berada dalam tugasnya.

Master Kang Shin Il kemudian keluar dari ruang utama istana. Sejenak ia berdiri termangu-mangu, namun kemudian ia pun melangkah ke kamar yang disediakan Kaisar Ryu Seung Ryong.

Diruang dalam, Kaisar Ryu Seung Ryong pun kemudian duduk bersama dengan Permaisuri Lee Mi Sook yang masih nampak muram.

“Kasihan Permaisuri Seo Woo Rim” desis Permaisuri Lee Mi Sook.

“Ya, tetapi apakah kepadamu Permaisuri Seo Woo Rim mengatakan persoalan-persoalan lain yang dapat melengkapi keterangannya?”

“Tidak, Kaisar Ryu Seung Ryong, Permaisuri Seo Woo Rim tidak mengatakan apa-apa kecuali sebagaimana dikatakannya kepada Kaisar Ryu Seung Ryong tadi.”

“Bukankah aneh, jika Pangeran Park Yong Ha menuduhkan demikian, sementara barang-barang berharga di istana masih lengkap.”

Tetapi yang dimaksud Permaisuri Seo Woo Rim adalah berita yang tersiar di jalanan, sebagaimana yang didengar oleh pelayan istananya. Mungkin Pangeran Park Yong Ha mempunyai alasan yang lain?”

“Tetapi kenapa alasan itu tidak dikatakan kepada Permaisuri Seo Woo Rim?”

“Sikap itulah yang sulit dimengerti.”

Kaisar Ryu Seung Ryong menarik nafas dalam-dalam, sambil mengangguk-anggukan kepalanya iapun berkata “Ya, jika saja Putri Han Ga In mau mengatakan sesuatu kepada Kim Hyun Joong atau Jung Yong Hwa.”

“Nampaknya Putri Han Ga In juga tidak tahu apa-apa. Putri Han Ga In memang cantik, tetapi tatapan matanya tidak menunjukkan ketajaman pikirannya serta kecerdasannya. Mungkin ia bukan gadis yang bodoh, tetapi agaknya ia seorang gadis yang manja.”

“Ya.” Kaisar Ryu Seung Ryong mengangguk-angguk. “Aku sependapat. Nampaknya gadis cantik itu tidak mempunyai banyak kelebihan dari gadis-gadis yang lain. Putri Han Ga In tidak seperti Pangeran Park Yong Ha, dilihat dari pandangan matanya. Pangeran Park Yong Ha sudah menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak muda yang tangkas berpikir dan bertindak.”

“Sepertinya Putri Han Ga In tidak pernah mendapat kesempatan mengasah ketajaman pikirannya dalam kemanjaannya, sehingga yang ada adalah seorang gadis cantik sebagaimana Putri Han Ga In itu.”

“Besok atau lusa, kita menengok di paviliun istana Permaisuri Seo Woo Rim yang kita sediakan, apakah Permaisuri Seo Woo Rim merasa betah atau tidak. Mungkin paviliun istana itu kurang memadai dibandng dengan istana di Sungkyunkwan.”

“Tetapi Permaisuri Seo Woo Rim menyadari, bahwa ia sekarang tidak berada di Istana Kerajaan Sungkyunkwan.”

“Permaisuri Lee Mi Sook menarik nafas panjang.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa telah berada di tempat tinggal Permaisuri Seo Woo Rim yang baru. Dua orang pelayan istana perempuan telah diperintahkan oleh Permaisuri Lee Mi Sook untuk sementara berada di paviliun istana itu. Sepasang suami istri yang akan memelihara taman serta membersihkan isi paviliun istana dan perabot-perabotnya juga akan berada di paviliun istana itu.

“Kau senang dengan rumah ini, Putri Han Ga In?” tanya Jung Yong Hwa kepada Putri Han Ga In.

“Tentu, Pangeran Jung Yong Hwa. Jika Kaisar Ryu Seung Ryong dan Permaisuri Lee Mi Sook tidak memberikan paviliun istana ini kepada kami, maka kami akan hidup disepanjang jalan.”

“Tentu tidak, Putri Han Ga In, tentu ada tempat yang dapat menerima Putri Han Ga In dan Permaisuri Seo Woo Rim.”

“Ya.” Permaisuri Seo Woo Rim yang menyahut. “Ternyata memang ada tempat yang dapat menerima kami. Tempat yang sangat menyenangkan, tetapi yang dihadiahkan oleh Kaisar Ryu Seung Ryong.”

Jung Yong Hwa mengangguk hormat sambil berkata “Hanya seadanya saja Permaisuri Seo Woo Rim. Seharusnya ayahanda menyediakan tempat yang lebih baik bagi Permaisuri Seo Woo Rim. Maksudku bukan baik wujud dan bentuknya. Tetapi tempat tinggal yang dapat lebih memberikan kenyamanan bagi Permaisuri Seo Woo Rim dan Putri Han Ga In.”

“Paviliun Istana ini jauh lebih nyaman bagi kami berdua, daripada Istana di Kerjaan Sungkyunkwan. Apalagi dilihat dari sisi kebutuhan jiwani, jiwaku yang bagaikan disayat dengan sembilu oleh anakku sendiri. Meskipun Pangeran Park Yong Ha itu anak tiriku. Tetapi aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Tidak ada bedanya, bahkan bagiku bersikap baik, merawat dan mencintai Pangeran Park Yong Ha lebih banyak merupakan satu pengabdian. Aku merasa bahwa siapapun aku ini. Tetapi Pangeran Park Yong Ha-lah yang akan dan yang sekarang sudah ternyata, mewarisi kedudukan ayahandanya, menjadi Kaisar di Kerajaan Sungkyunkwan.”

Jung Yong Hwa mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba Permaisuri Seo Woo Rim itu bertanya “Dimana Pangeran Kim Hyun Joong?”

“Melihat-lihat keadaan rumah ini, Permaisuri Seo Woo Rim. Mungkin masih ada yang kurang pantas atau bahkan mungkin ada cacat yang harus segera ditangani.”

“Semuanya sudah terlalu cukup bagiku, sebenarnya aku ingin mempersilahkan kalian berdua istirahat terlebih dahulu disini.”

“Terima kasih, Permaisuri Seo Woo Rim. Aku akan mencari Pangeran Kim Hyun Joong dahulu. Aku juga akan melihat-lihat rumah ini dalam keseluruhan.”

Demikianlah, maka Jung Yong Hwa pun meninggalkan Putri Han Ga In dan ibundanya mencari Kim Hyun Joong. Jung Yong Hwa menemukan Kim Hyun Joong sedang menunggui juru taman mengumpulkan sampah, kemudian membuat lubang disudut halaman, memasukkan sampah itu dan kemudian menimbunnya.

“Kau yang membuat akar merambat di pagar itu?”

“Ya, Pangeran.”

“Jaga pagar hidup yang menyekat taman halaman samping itu agar tetap rapi.”

“Ya, Pangeran.”

“Aku lihat sumur di samping itu airnya cukup baik. Sehingga di musim kemarau pun kau tidak akan kekurangan air.”

“Ya, Pangeran.”

Kim Hyun Joong berpaling ketika Jung Yong Hwa mendekatinya sambil berkata “Hyung, kau dipanggil oleh Permaisuri Seo Woo Rim.”

“Ada apa? apakah ada yang tidak berkenan? kemarin sejak Permaisuri Seo Woo Rim datang dan memberitahukan serba sedikit persoalan yang dialaminya, ayahanda dan ibunda segera memerintahkan beberapa orang membersihkan dan mengatur tempat ini.”

“Tidak, bukan soal itu, sepertinya Permaisuri Seo Woo Rim hanya ingin mempersilahkan kita duduk-duduk beristirahat di dalam. Segala sesuatunya nampaknya sudah cukup memadai bagi Permaisuri Seo Woo Rim dan Putri Han Ga In.”

“Baiklah, Jung Yong Hwa, aku selesaikan dahulu gambaran tugas juru taman ini agar taman di paviliun istana ini pun nampak asri seperti taman Kerajaan Sungkyunkwan, tetapi tentu saja tidak dapat dicipta dalam sehari. Diperlukan waktu sekitar sebulan.”

“Aku kira tidak akan menjadi masalah, Hyung.”

Namun Jung Yong Hwa masih harus menunggu beberapa saat, baru kemudian Kim Hyun Joong meninggalkan juru taman itu dan bersama-sama dengan Jung Yong Hwa masuk ke dalam.

Permaisuri Seo Woo Rim dan Putri Han Ga In ternyata sudah menunggu mereka di dalam, dengan ramah Permaisuri Seo Woo Rim itu pun berkata “Maaf, sudah merepotkan kalian berdua. Sekarang, biarlah aku yang mempersilahkan kalian berdua duduk, karena atas izin Kaisar Ryu Seung Ryong lah, aku akan tinggal di paviliun istana ini.”

“Ya, Permaisuri Seo Woo Rim memang akan tinggal di paviliun istana ini. paviliun istana ini akan menjadi tempat tinggal permaisuri Seo Woo Rim, meskipun barangkali kurang memadai.”

“Tidak, Sama sekali tidak. paviliun istana ini sudah terlalu baik bagiku dan Putri Han Ga In. Bahkan terasa terlalu besar.”

“Mudah-mudahan Permaisuri Seo Woo Rim dan Putri Han Ga In betah tinggal di paviliun istana ini. Tetapi jika ada masalah, aku mohon Permaisuri Seo Woo Rim langsung saja menyampaikan kepada ayahanda atau kepada ibunda atau kepada kami berdua.”

“Terima kasih.”

“Nah, Permaisuri Seo Woo Rim. Kami kira kami sudah melaksanakan perintah ayahanda. Kami sudah mengantar Permaisuri Seo Woo Rim sampai ke tempat ini, dan satu dua hari, mungkin paviliun istana ini masih perlu dibenahi.”

“Terima kasih. Tetapi aku minta kalian berdua tidak tergesa-gesa meninggalkan Paviliun istana ini. Aku ingin menjamu kalian berdua.”

“Terima kasih. Permaisuri Seo Woo Rim masih terlalu repot mengatur segala sesuatunya disesuaikan dengan selera Permaisuri sendiri. Kami berdua akan mohon diri.”

“Jika saya tidak dapat menahan lebih lama lagi, baiklah. Silahkan. Tetapi aku mohon, besok kalian bedua berkunjung ke paviliun istana ini, agar saya dan putri Han Ga In tidak merasa kesepian. Jika kalian berdua sering berkunjung kemari, maka kami akan segera merasa menyatu dengan keluarga Kaisar Ryu Seung Ryong. Dengan demikian, maka kami akan segera menjadi tenang dari guncangan perasaan karena sikap Pangeran Park Yong Ha itu.”

“Baik, Permaisuri Seo Woo Rim. Kami akan sering-sering berkunjung kemari.”

Demikianlah sejenak kemudian Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa segera meninggalkan Paviliun Istana yang diperuntukkan bagi Permaisuri Seo Woo Rim itu, mereka tidak terlalu banyak bicara disepanjang jalan.

Bersambung (Season 4 – Lee Hong Ki Jagoan Kampung)...

Selasa, 14 Desember 2010

Meraba Matahari (FF)

Meraba Matahari

Title : Meraba Matahari
Author : Sweety Qliquers
Genre : Fantasy, Drama Kolosal
Episode : ... Season
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 11 November 2010, 04.00 PM
Cast & Note :

Desa Seongdeok
* Desa di kawasan Kerajaan Seongnam
* Desa yang terletak di perbatasan Kerajaan Seongnam & Kerajaan Sungkyunkwan


Kerajaan Seongnam
* Istana tempat tinggal Kaisar Ryu Seung Ryong, Permaisuri Lee Mi Sook, Pangeran Kim Hyun Joong & Pangeran Jung Yong Hwa
* Di bawah kepemimpinan Kaisar Ryu Seung Ryong


Kerajaan Sungkyunkwan
* Di bawah kepemimpinan Kaisar Song Jae Ho
* Setelah meninggalnya Kaisar Song Jae Ho, Kepemimpinan digantikan oleh Putra mahkota yaitu Pangeran Park Yong Ha


Perguruan Kangsan
* Tempat belajar Kim Hyun Joong & Jung Yong Hwa
* Perguruan Milik Master Kang Shin Il & Master Ahn Jae Wook


Kang Shin Il
* Master Kang Shin Il
* Guru Kim Hyun Joong & Jung Yong Hwa
* Master Perguruan Kangsan


Ahn Jae Wook
* Master Ahn Jae Wook
* Master Perguruan Kangsan
* Guru Kim Hyun Joong & Jung Yong Hwa


Ryu Seung Ryong
* Kaisar Ryu Seung Ryong, Suami Permaisuri Lee Mi Sook
* Ayahanda Kim Hyun Joong & Jung Yong Hwa


Lee Mi Sook
* Permaisuri Lee Mi Sook, Istri Kaisar Ryu Seung Ryong
* Ibunda Pangeran Kim Hyun Joong & Jung Yong Hwa



Kim Hyun Joong
* Pangeran Kim Hyun Joong
* Putra Mahkota Kaisar Ryu Seung Ryong & Permaisuri Lee Mi Sook
* Kakak pangeran Jung Yong Hwa


Jung Yong Hwa
* Pangeran Jung Yong Hwa
* Putra Mahkota Kaisar Ryu Seung Ryong & Permaisuri Lee Mi Sook
* Adik pangeran Kim Hyun Joong


Song Jae Ho
* Kaisar Song Jae Ho, Kerajaan Sungkyunkwan
* Ayahanda Pangeran Park Yong Ha


Seo Woo Rim
* Permaisuri Seo Woo Rim, Kerajaan Sungkyunkwan
* Istri Kaisar Song Jae Ho
* Ibu Tiri Pangeran Park Yong Ha
* Ibunda Putri Han Ga In


Park Yong Ha
* Pangeran Park Yong Ha, Kerajaan Sungkyunkwan
* Setelah ayahandanya-Kaisar Song Jae Ho meninggal, ia menggantikan kedudukan ayahnya untuk memimpin Kerajaan Sungkyunkwan


Han Ga In
* Putri Han Ga In
* Putri Permaisuri Seo Woo Rim
* Anak Tiri Kaisar Song Jae Ho, Kerajaan Sungkyunkwan


Lee Seung Ki
* Patih Lee Seung Ki
* Patih Kerajaan Seongnam


Kim Ji Suk
* Patih Kim Ji Suk
* Patih Kerajaan Seongnam


Lee Hong Ki
* Jagoan kampung, Desa Seongdeok
* Merasa dirinya yang paling tangguh untuk menghadapi para perampok yang mengganggu ketenangan Desa Seongdeok


Kim Soo Ro
* Paman Kim Soo Ro
* Pedagang Sapi Desa Seongdeok yang dirampok
* Suami Bibi Oh Yoon Ah


Oh Yoon Ah
* Bibi Oh Yoon Ah
* Istri Paman Kim Soo Roo-pedagang sapi Desa Seongdeok yang dirampok


Lee Yong Woo
* Penjaga rumah Paman Kim Soo Ro, Pedagang Sapi Desa Seongdeok
* Orang pertama yang Mengetahui jika rumah Paman Kim Soo Ro dirampok


Eunhyuk`Suju
* Panglima Eunhyuk
* 1 dari 3 Panglima yang memimpin pasukan yang diminta oleh Kaisar Ryu Seung Ryong dan Kaisar Song Jae Ho. Ketika terjadi benturan kekuatan antara Korea dengan kekuatan yang datang dari China


Yesung`Suju
* Panglima Yesung
* 1 dari 3 Panglima yang memimpin pasukan yang diminta oleh Kaisar Ryu Seung Ryong dan Kaisar Song Jae Ho. Ketika terjadi benturan kekuatan antara Korea dengan kekuatan yang datang dari China


Donghae`Suju
* Panglima Donghae
* 1 dari 3 Panglima yang memimpin pasukan yang diminta oleh Kaisar Ryu Seung Ryong dan Kaisar Song Jae Ho. Ketika terjadi benturan kekuatan antara Korea dengan kekuatan yang datang dari China


Desa Seongmega
* Desa di kawasan Kerajaan Seongnam
* Desa yang juga mengalami perampokan tetapi tidak segarang yang terjadi di Desa Seongdeok
* Perampok di Desa Seongmega tidak diketahui oleh orang lain kecuali pemilik rumahnya


Desa Teukbyeolsi
* Desa yang akan dilewati Pangeran Kim Hyun Joong & Panglima Eunhyuk, Panglima Yesung serta Panglima Donghae untuk menuju ke Desa Namchoseon
* Memiliki nama pasar yang sama dengan nama desanya yaitu pasar Teukbyeolsi


Desa Baekjeong
* Desa yang letaknya bersebelahan dengan Desa Namchoseon
* Desa yang sering dilewati para perampok yang meresahkan penduduk di desa-desa kawasan Kerajaan Seongnam


Siwon`Suju
* Panglima Siwon
* Pemimpin para perampok yang meresahkan penduduk di desa-desa kawasan Kerajaan Seongnam


Oh Ji Ho
* Kepala Desa Oh Ji Ho
* Kepala Desa Namchoseon


Lee Hyung Chul
* Pejabat Lee Hyung Chul
* Petinggi di Desa Namchoseon


Jo Dong Hyuk
* Pejabat Jo Dong Hyuk
* Petinggi di Desa Namchoseon


Lee Sang Yoon
* Pejabat Lee Sang Yoon
* Petinggi di Desa Namchoseon


Lee Hyun Woo
* Bertugas mengawasi Desa Namchoseon, khususnya kediaman Kepala Desa Oh Ji Ho
* Mengantar Pangeran Kim Hyun Joong, Panglima Eunhyuk, Panglima Yesung, Panglima Donghae menghadap Kepala Desa Oh Ji Ho


Lee Joon Ki
* Bertugas mengawasi Desa Namchoseon, khususnya kediaman Kepala Desa Oh Ji Ho
* Mengantar Pangeran Kim Hyun Joong, Panglima Eunhyuk, Panglima Yesung, Panglima Donghae menghadap Kepala Desa Oh Ji Ho


Kim Joo Hyuk
* Kepala Desa Kim Joo Hyuk
* Kepala Desa Seongdeok


Desa Namchoseon
* Desa di kawasan kerajaan Seongnam
* Desa yang menurut perhitungan Panglima Eunhyuk, Panglima Yesung, Panglima Donghae & Pangeran Kim Hyun Joong akan diserang para perampok seperti Desa Seongdeok


Desa Chunggukga
* Desa yang juga menjadi sasaran para perampok
* Desa yang letaknya bersebelahan dengan Desa Namchoseon


Desa Aegukga
* Desa Yang Juga Menjadi Sasaran para perampok
* Desa yang terkenal dihuni oleh orang-orang yang berani, karena sebagian dari mereka senang berburu di hutan


Desa Byulgukga
* Desa Yang Juga Menjadi Sasaran para perampok
* Desa yang terkenal dihuni oleh orang-orang yang berani, karena sebagian dari mereka senang berburu di hutan
* Penduduknya banyak yang terkena luka-luka bakar, karenanya para perampok tidak segan-segan untuk membakar rumah penghuninya


Desa Sillagukga
* Desa Yang Juga Menjadi Sasaran para perampok
* Desa yang terkenal dihuni oleh orang-orang yang berani, karena sebagian dari mereka senang berburu di hutan


Lee Bo Young
* Istri Kepala Desa Namchoseon Oh Ji Ho
* Memiliki putri satu-satunya yang bernama Jung So Min



Jung So Min
* Putri dari Kepala Desa Namchoseon Oh Ji Ho
* Gadis yang menggetarkan hati Pangeran Kim Hyun Joong


Heechul`Suju
* Putra Patih Han Jung Soo, Kerajaan Sungkyunkwan
* Mati terbunuh di tangan prajurit Seongnam setelah membantu Panglima Siwon untuk merampok Desa Namchoseon


Han Jung Soo
* Patih Han Jung Soo
* Patih Kerajaan Sungkyunkwan, yang bersengkongkol dengan Panglima Siwon-pemimpin perampok ternama untuk memporak-porandakan tahta kerajaan Seongnam


Leeteuk`Suju
* Panglima Leeteuk
* Panglima Kerajaan Sungkyunkwan, yang bersengkongkol dengan Patih Han Jung Soo dan Panglima Siwon-pemimpin perampok ternama untuk memporak-porandakan tahta kerajaan Seongnam


Chae Rim
* Istri Patih Han Jung So, Kerajaan Sungkyunkwan
* Merasa sangat terpukul dengan meninggalnya Heechul-putra satu-satunya


Cha Seung Woo
* Tn.Cha Seung Woo, Orang terkaya di Desa Namchoseon
* Rumahnya di Desa Namchoseon menjadi sasaran para perampok


Kaneshiro Takeshi
* Tn.Kaneshiro Takeshi, Orang terkaya di Desa Namchoseon
* Rumahnya di Desa Namchoseon menjadi sasaran para perampok


Meraba Matahari

Season 1 - Putra Mahkota
Season 2 - Kerajaan Seongnam
Season 3 - Permaisuri Seo Woo Rim
Season 4 - Lee Hong Ki Jagoan Kampung
Season 5 - Tiga Panglima Pilihan
Season 6 - Desa Namchoseon
Season 7 - Jung So Min
Season 8 - Rumah Tn.Cha Seung Woo
Season 9 - Patih Han Jung Soo
Season 10 - Pertempuran
Season 11
Season 12
Season 13
Season 14
Season 15
Season 16
Season 17
Season 18
Season 19
Season 20
Season 21
Season 22
Season 23
Season 44
Season 25
Season 26
Season 27
Season 28
Season 29-Tamat
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...