Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Rabu, 15 Desember 2010

Meraba Matahari (Season 4)


Season 4
Lee Hong Ki Jagoan Kampung


Mereka rasa-rasanya terbenam ke dalam angan-angan mereka masing-masing, Kim Hyun Joong masih saja bingung memikirkan sikap Pangeran Park Yong Ha, sementara itu Jung Yong Hwa membayangkan kehidupan yang sepi dari Permaisuri Seo Woo Rim dan anak perempuannya, Putri Han Ga In. Sehari-hari mereka hanya berdua saja, terpisah dari keluarga mereka.

Ketika keduanya sampai di istana, maka keduanya pun segera mencari guru mereka. Berbincang-bincang sebentar, kemudian keduanya pun pergi menghadap ayahanda mereka.

Pada saat itu, para Panglima telah memerintahkan para prajurit untuk bersiaga sepenuhnya, mereka harus mengamati peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan kejahatan yang nampaknya mulai menyebar di Kerajaan Seongnam.

Sebenarnya para Panglima pun telah memerintahkan seluruh penghuni Desa Seongnam masing-masing untuk bersiaga sebaik-baiknya. Setiap orang laki-laki yang masih nampak kuat harus mendapat giliran meronda. Terlebih-lebih anak-anak mudanya.

Namun, meskipun demikian, kesegiaan itu tidak dapat menghentikan kerusuhan di Kerajaan Seongnam, kerusuhan itu dapat terjadi di jalan-jalan sepi. Namun juga di pedesaan-pedesaan. Yang terjadi bukan saja pencurian binatang ternak, tetapi yang telah terjadi adalah justru perampokan-perampokan, kawanan perampok bagaikan telah meleburkan diri di Kerajaan Seongnam terutama di perbatasan.

Di Desa Seongdeok, di setiap malam bukan saja mereka yang bertugas meronda yang berada di gardu-gardu. Tetapi mereka yang tidak mendapat giliran ronda pun selalu berdatangan ke gardu-gardu.
Seorang anak muda yang bertubuh tinggi, yang selalu membawa pedang di punggangnya berkata kepada kepada kawan-kawannya “Jika saja para perampok itu berani datang kemari.”

Anak muda itu memang seorang anak muda yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya. Tidak seorang pun yang berani melawannya, ia memiliki kekuatan besar melampaui kekuatan anak-anak muda kebanyakan.

Sayang sekali, anak muda itu terlalu sombong, ia terlalu yakin akan kemampuannya.

Setiap malam hari, anak muda itu rajin berada di gardu. Meskipun bukan hari-hari gilirannya meronda. Di gardu ia sempat menyombongkan diri, menantang para perampok yang ditakuti di mana-mana.

Namun malam itu, rasa-rasanya agak lain dari malam-malam sebelumnya. Meskipun di gardu terdapat banyak orang seperti biasanya, tetapi malam itu terasa sangat sepi. Orang-orang yang berada di gardu itu tidak nampak tegar seperti biasanya. Sebagian dari mereka mulai mengantuk sebelum waktu sepi desa. Anak-anak mudanya tidak berkelakar seperti biasanya, sehingga suara tertawa dan kelakar mereka terdengar meledak-ledak.

Seorang yang umurnya sudah mendekati pertengahan abad, namun masih tetap setia datang ke gardu, berkata kepada seorang anak muda yang berada di sebelahnya “Suasana malam ini agak lain dari malam-malam biasanya.”

“Mungkin angin yang basah itu terasa terlalu dingin, Hyung.”

“Ya, nampaknya langit bersih tanpa selembar awan telah membuat malam terasa sangat dingin.”

“Ya, apalagi sehari tadi, kita semuanya sibuk di sawah, musim menggarap sawah ini membuat kita semuanya sudah mengantuk.”

“Ya, benar begitu.”

Orang yang separuh baya itu mengangguk-angguk, tetapi ia merasakan sesuatu yang lain. Bukan sekedar letih karena kerja seharian. Ada yang asing, tetapi ia tidak dapat mengatakannya.
Malampun merayap semakin dalam, anak muda yang bertubuh tinggi dan selalu membawa pedang di punggungnya itupun turun dari gardu dan berjalan-jalan hilir mudik.

“Hei, bukankan sudah hampir tengah malam. Marilah, siapa yang bertugas meronda berkeliling sekarang?” anak muda itu hampir berteriak.

Tiga orang anak muda yang lain dengan malasnya bangkit berdiri, seorang diantaranya menguap sambil berkata “Ngantuk sekali ya, rasa-rasanya mataku tidak dapat terbuka sama sekali.”

“Kau yang bertugas meronda berkeliling-kan?”

“Ya”

“Marilah kita pergi, aku temani kalian, jika ada sesuatu, biarlah aku meyelesaikannya.”

Seorang yang lain, yang duduk santai berkata “Pergilah, harus ada diantara kita yang meronda berkeliling. Lee Hong Ki sudah bersedia mengantar kalian, karena itu, jangan cemas lagi, Lee Hong Ki akan mengatasi segala-galanya jika terjadi sesuatu.”

“Bahkan seandainya ada sekelompok perampok sekalipun.” sahut anak muda yang membawa pedang itu dan bernama Lee Hong Ki.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, lima orang termasuk Lee Hong Ki yang berada paling depan, berjalan mengelilingi kampung. Empat kawan Lee Hong Ki membawa kentongan kecil yang dibunyikan sepanjang jalan dengan irama pasti.

Tetapi Lee Hong Ki pun kemudian berkata “Tidak ada gunanya kau membunyikan kentongan itu.”

“Kenapa ? orang-orang yang tidur terlalu nyenyak akan terbangun.” jawab seorang kawannya.

“Apa yang dapat mereka lakukan, meskipun mereka terbangun.”

“Mereka akan mengetahui jika ada orang jahat masuk ke dalam rumah mereka.”

“Bagaimana jika mereka tahu?”

“Mereka akan menangkapnya, atau membunyikan kentongan untuk memberi isyarat kepada kita yang berada di gardu.”

“Mereka tidak akan dapat melakukannya.”

“Kenapa ?”

“Jika yang datang itu seorang pencuri yang kurus karena kelaparan, mencongkel dinding rumah dan merangkak masuk, maka orang-orang yang terbangun karena bunyi kentonganmu itu akan dapat menangkap mereka, tetapi jika orang yang datang itu sekelompok perampok?”

“He..!” anak-anak muda yang meronda berkeliling itu mulai saling merapat.

“Perampok, atau berandal itu jika mendatangi rumah seseorang tidak dengan sembunyi-sembunyi. Mereka mengetuk pintu, jika tidak dibuka, maka mereka akan mendobraknya.”

Keempat orang anak muda itu mulai berdesakkan, tetapi tangan mereka masih saja memukul kentongan kecil.

“Tetapi kentongan ini harus dibunyikan, itu kewajiban kita. Jika kita tidak membunyikan kentongan ini, maka orang-orang desa mengira kita tidak melakukan ronda malam ini.”

Lee Hong Ki tertawa, katanya “Tentu bukan karena itu. Kau akan merasa lebih tenang jika lebih banyak orang terbangun di desa ini, kan?”

“Ya.”

“Jika demikian, terserah saja kepada kalian.”

Kemudia, kawan-kawan Lee Hong Ki itu justru memukul kentongan makin keras. Semakin lama malam terasa menjadi semakin menakutkan. Rasa-rasanya jalan pedesaan itu semakin menjadi gelap, beberapa buah obor di setiap pintu gerbang rumah penduduk rasa-rasanya tidak membantu. Cahayanya menjadi redup. Bahkan bayangan yang timbul oleh cahaya bergerak-gerak seperti hendak menerkam.
Anak-anak muda itu semakin cemas ketika mereka mendengar bunyi burung hantu di kejauhan. Ketika burung itu terbang melintas sambil berbunyi, rasa-rasanya burung itu telah menebarkan malapetaka di pedesaan itu.

Lee Hong Ki tertawa, katanya “Kalian takut mendengar bunyi burung hantu itu ya? Kalian terlalu percaya pada dongeng dan tahayul yang membuat kalian menjadi penakut.”

“Tetapi semua orang-orang tua kita menceritakan hal seperti itu.”

“Menceritakan apa?”

“Tentang burung itu.”

“Burung apa namanya?”

Anak itu terdiam, sehingga Lee Hong Ki tertawa semakin panjang, katanya “Menyebut namanya saja kau tidak berani. Dengar, namanya burung Hantu. Apakah nama burung itu begitu menakutkan kalian, hingga menyebut namanya saja kalian tidak berani..”

“Sudahlah, kita berbicara tentang hal lain saja.” potong seorang kawannya.

Lee Hong Ki masih tertawa, namun sebelum ia menjawab, di kejauhan memang terdengar suara burung hantu itu lagi.

Anak-anak muda itu menjadi semakin berhimpitan, kulit mereka meremang, namun demikian mereka justru memukul kentongan semakin keras.

Para peronda itu itu tiba-tiba saja terkejut ketika mereka melihat seseorang berlari muncul dari tikungan, langsung menjumpai mereka.

Lee Hong Ki yang berdiri paling depan, segera meloncat menghadang. Tiba-tiba pedangnya telah berada di tangannya.

Ternyata Lee Hong Ki memang tangkas.

Orang itu berhenti dan berkata dengan nafas yang memburu. “Aku….., ini aku…..Lee Yong Woo….”

“Lee Yong Woo Hyung?”

“Ya…, aku…Lee Yong Woo…”

“Ada apa Hyung lari-lari kemari…?”

“Ada, ada rampok….., ada rampok di rumah paman….”

“Rampok? paman siapa yang dirampok?”

“Paman Kim Soo Ro….. Pedagang sapi itu…”

“Darimana Hyung tahu, kalau rumah paman Kim Soo Ro dirampok?”

“……Kebetulan aku sedang tidur di rumah paman Kim Soo Ro, paman sedang mengadakan pertemuan keluarga, karena ia akan menikahkan anaknya yang perempuan. Keluarga yang lain pada pulang, sedangkan aku tetap tinggal. Aku tidur di bilik belakang dekat dapur. Sewaktu para perampok beraksi, aku berhasil lolos dan menyelinap keluar dan bersembunyi di kebun. Sewaktu kalian datang dan membunyikan kentongan, maka aku langsung lari menuju kemari.”

“Jangan cemas.” kata Lee Hong Ki. “Aku akan datang ke rumah paman Kim Soo Ro.”

“Tetapi perampoknya tidak hanya sendiri, mereka banyak, Lee Hong Ki.”

Lee Hong Ki termangu-mangu sejenak, kemudian ia pun berkata kepada kawan-kawannya “Bunyikan kentongan kalian dalam irama cepat dan suara yang lebih keras sambil mendekati rumah paman Kim Soo Ro.”

“Tetapi…Lee Hong Ki….aku…. takut”

“Jangan kuatir, dalam waktu dekat, orang-orang akan berdatangan mengepung rumah itu.”

“Tetapi perampok itu kan kejam-kejam Lee Hong Ki.”

“Persetan, sekarang bunyikan kentonganmu dengan lebih keras, cepat, sebelum perampok itu sempat lari.”

Anak muda itu tidak sempat berpikir, tiba-tiba saja suara kentongan itu menjadi lebih keras dari sebelumnya.

Pedesaan itu memang menjadi gempar. Suara kentongan dengan irama cepat itu telah membangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak. Beberapa orang segera menyambar senjata yang selalu mereka siapkan di dekat pembaringan mereka, sejak Kepala Desa Seongdeok memperingatkan rakyatnya untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk karena ulah para perampok.

Demikian pula orang-orang yang berada di gardu. Ada diantara mereka yang menjadi ketakutan sehingga gemetar mendengar suara kentongan dalam irama cepat. Tetapi ada juga yang dengan sigapnya meloncat turun dan berlari-lari kearah suara kentongan itu. Lee Hong Ki telah mendahului pergi ke rumah paman Kim Soo Ro bersama Lee Yong Won, karena Lee Yong Won tidak bersenjata, maka ia pun meminjam sepotong besi yang dibawa oleh salah seorang peronda itu.

Keempat orang peronda itu memang mengikuti Lee Hong Ki dan Lee Yong Won. Tetapi mereka tetap mengambil jarak sambil menunggu orang-orang yang terbangun oleh suara kentongan.

Beberapa orang tetangga terdekat memang segera sampai di pintu pagar rumah Paman Kim Soo Ro, namun pada saat itu, beberapa orang perampok dengan membawa hasil rampokannya telah keluar dari pintu pagar dan turun ke jalan. Mereka nampaknya tidak banyak terpengaruh oleh suara kentongan itu, tidak pula menjadi tergesa-gesa, meskipun mereka mendengar beberapa orang mulai berteriak-teriak.

Beberapa orang perampok itu berjalan beriringan kearah pintu gapura pedesaan dengan tenangnya.

Ketika beberapa orang menghentikan mereka, para perampok itu memang berhenti, bahkan menunggu, apa kira-kira yang akan dilakukan oleh warga pedesaan kepada mereka.

“Menyerahlah.” teriak Lee Hong Ki. “Kalian kami tangkap.”

Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa. Seorang perampok yang bertubuh tinggi besar. Melangkah maju sambil berkata. “Jangan main-main anak muda, minggirlah.”

“Kami bersungguh-sungguh.” kata Lee Hong Ki. “Kami mendapat wewenang untuk menangkap kalian.”

“Aku peringatkan sekali lagi, bahwa perampok seperti kami tidak dapat diajak bermain-main. Apalagi pada saat-saat kami menjalankan pekerjaan kami seperti sekarang ini. Karena itulah, minggirlah, jika kalian tidak minggir, maka tentu akan jatuh korban di pihak kalian. Meskipun kalian berjumlah banyak, namun kalian tidak bisa berkelahi. Berbeda dengan kami, berkelahi adalah pekerjaan kami sehari-hari, menyakiti dan melukai orang. Bahkan kami adalah pembunuh-pembunuh yang sebenarnya.”

“Jangan membual.” potong Lee Hong Ki. “Aku adalah pemimpin anak-anak muda desa ini.”

“Nampaknya kau memang keras kepala, ya.”

“Persetan.” geram Lee Hong Ki sambil memutar pedangnya.

Namun tiba-tiba saja perampok yang bertubuh tinggi besar itu pun memutar sebuah pedang di tangannya sambil berkata lantang. “Minggir jika tidak ingin celaka.”

Jantung Lee Hong Ki menjadi berdebar-debar, apalagi orang yang berdiri di hadapannya itu bertubuh lebih tinggi dan lebih besar darinya. Padahal Lee Hong Ki sudah menganggap bahwa tubuhnya adalah yang tertinggi dan terbesar di seluruh Pedesaan.

Tetapi Lee Hong Ki sudah terlanjur sesumbar di hadapan kawan-kawannya, bahwa ia akan menantang dan menangkap para perampok itu. Bahkan tidak hanya seorang yang ditantangnya, tetapi sekelompok perampok.

Ketika ia benar-benar berhadapan dengan sekelompok perampok, maka suasana hatinya memang lain.

“Minggir.” bentak perampok itu.

Lee Hong Ki tidak mau minggir, meskipun dengan sedikit gemetar Lee Hong ki memutar pedangnya sambil berkata “Kami semua akan menangkap kalian, kau lihat seluruh penghuni desa ini sudah berada disini.”

“Sayang sekali, semakin banyak yang datang akan semakin banyak pula yang akan mati. Nah, sekarang aku akan pergi meninggalkan Desa ini.

Ketika perampok itu melangkah maju, maka Lee Hong Ki pun meloncat menyerang. Pedangnya diayunkan dengan kerasnya mengarah ke bahu perampok itu.

Namun yang terdengar adalah dentangan senjata yang beradu, Pedang Lee Hong Ki telah membentur pedang perampok itu, sehingga bunga api pun berloncatan dari benturan itu.

Namun Lee Hong Ki telah bergeser surut, telapak tangannya terasa pedih sekali. Hampir saja goloknya terlepas.

Namun Lee Hong Ki tidak mempunyai banyak kesempatan, perampok itu meloncat memburunya. Dengan sekali pukul, golok Lee Hong Ki telah terlepas dari tangannya, terlempar beberapa meter dari kakinya.

Yang terjadi kemudian telah menggetarkan jantung orang-orang yang mengepung para perampok itu. Satu ayunan pedang itu telah mengenai paha Lee Hong Ki.

Terdengar Lee Hong Ki berteriak kesakitan, dengan serta merta ia pun terjatuh dan tidak dapat bangkit berdiri lagi.

Dengan serta merta perampok itupun berteriak. “Siapa lagi yang akan mencoba menahan kami?”

Tidak terdengar satupun jawaban.

Perampok yang bertubuh tinggi besar itu pun memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berjalan terus meninggalkan orang-orang desa yang berkerumun, sambil berkata. “Jangan mencoba menghalangi kami, jika ada yang mencobanya juga, maka aku akan membunuhnya, tidak sekedar melukainya lagi.”

Orang-orang yang mengepung itupun menyibak, mereka tidak berani berbuat apa-apa terhadap para perampok yang nampaknya garang dan bengis itu. Apalagi senjata-senjata mereka yang mengerikan itu telah membut jantung mereka bergetar.

Selain pedang, ada diantara mereka yang membawa tombak dengan mata tombak yang bercabang. Ada yang membawa semacam kapak bertangkai panjang. Dan berbagai jenis senjata yang menyeramkan lainnya.

Orang-orang desa itupun seakan-akan hanya sekedar menjadi penonton sebuah barisan orang-orang yang berwajah garang yang berhasil membawa barang-barang berharga milik Paman Kim Soo Ro. Baru ketika mereka telah pergi, beberapa orang berusaha menolong Lee Hong Ki yang merintih kesakitan, agaknya tulang pahanya telah menjadi retak.

Dengan hati-hati Lee Hong Ki diangkat dan dibawa pulang ke rumahnya yang tidak begitu jauh dari tempat kejadian, namun sepanjang jalan Lee Hong Ki selalu mengeluh kesakitan.

Beberapa orang yang lain telah berada di rumah Paman Kim Soo Ro, mereka melihat Bibi Oh Yoon Ah, Istri Paman Kim Soo Ro menangis di ruang tengah, dengan memelas ia pun merintih. “Aku mengumpulkan uang sekeping demi sekeping, tiba-tiba saja mereka datang dan merampas semuanya.”

Paman Kim Soo Ro duduk tepekur tidak jauh dari istrinya, pundaknya nampak berdarah, agaknya para perampok itu telah melukainya meskipun tidak begitu parah.

Beberapa orang mencoba menghiburnya, namun bibi Oh Yoon Ah masih saja mengangis. Ia merasa telah kehilangan segala yang dimilikinya.

“Sudahlah Bibi Oh Yoon Ah, yang penting Bibi Oh Yoon Ah dan Paman Kim Soo Ro selamat, harta benda dapat dicari lagi, tetapi nyawa? kemana kita akan mencarinya? Bersukurlah bahwa Paman Kim Soo Ro hanya luka dan tidak dibunuh oleh perampok-perampok yang keji itu.”

Demikianlah, sejenak kemudian, Master Ahn Jae Wook dan petinggi Desa Seongdeok telah datang hampir berbarengan dengan Kepala Desa Seongdeok.

“Jadi…. tidak ada orang yang berani berusaha menangkap mereka meskipun kalian berjumlah sekian banyaknya?” tanya Kepala Desa.

“Lee Hong Ki sudah mencoba, Kepala Desa. Lee Hong Ki yang menurut pendapat kami adalah orang yang terkuat diantara kami, dalam sekejap telah dilukai. Lalu apa pula artinya kami. Dan para perampok itu mengancam bahwa orang berikutnya tidak hanya akan disakiti seperti Lee Hong Ki, tetapi mereka benar-benar akan membunuh.”

“Berapa orang mereka semuanya?”

“Lebih dari lima belas orang.”

“Lima belas orang?”

“Ya, Kepala Desa.”

Jumlah itupun mengejutkan Kepala Desa, Master Ahn Jae Wook dan petinggi Desa Seongdeok, merasa wajar sekali jika orang-orang desa itu merasa ragu untuk bertempur menghadapi lima belas orang perampok yang garang dengan membawa berbagai macam senjata yang mengerikan.

Kepala Desa Seongdeok itupun menarik nafas panjang, seandainya orang-orang di sekitar Paman Kim Soo Ro itu memberanikan diri untuk mencoba menangkap mereka, maka korban pun akan berjatuhan, jika setiap perampok membunuh satu orang warga, maka akan ada lima belas mayat yang harus dikuburkan.
Karena itu, maka Kepala Desa tidak lagi menyalahkan warganya, mereka bukan penakut, tetapi mereka tahu, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi lima belas perampok.

“Besok, peristiwa ini akan aku laporkan. Kami rakyat Seongnam tidak mampu lagi mengatasi.” kata Kepala Desa.

“Peristiwa di Desa Seongmega beberapa hari yang lalu, tidak segarang apa yang terjadi disini. Perampok di Desa Seongmega itu tidak diketahui oleh orang lain kecuali pemilik rumahnya.” kata Kepala Desa.

Peristiwa perampokan itu akhirnya sampai kepada Kaisar Ryu Seung Ryong. Bahkan yang terakhir telah terjadi perampokan dengan mencoba membunuh korbannya dengan kejam. Sebelumnya, sebuah rumah sudah dibakar habis oleh para perampok yang marah, karena mereka tidak menemukan yang mereka cari di rumah itu. Setelah menyakiti suami istri pemilik rumah itu, maka mereka membakar rumahnya dan membiarkan suami istri itu berada di dalamnya. Untunglah, bahwa suami istri itu masih sempat merangkak sambil membantu istrinya keluar dari kobaran api sambil berteriak-teriak minta tolong. Pertolongan dari para tetanggapun datang tepat pada waktunya, sehingga keduanya serta anaknya yang masih kecil dapat diselamatkan. Seorang pembantu di rumah itu juga selamat, meskipun ia mengalami luka bakar.

Kaisar Ryu Seung Ryong menjadi sangat prihatin atas peristiwa beruntun di Kerajaan Seongnam itu, sehingga secara khusus, Kaisar Ryu Seung Ryong telah memanggil kedua orang Patih yaitu Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk. Sementara itu Kaisar Ryu Seung Ryong juga minta Master Kang Shin Il tidak tergesa-gesa meninggalkan Kerajaan.

Ketika kedua orang Patih itu menghadap, maka Kaisar Ryu Seung Ryong juga memanggil kedua putranya untuk menghadap pula.

“Keadaan sudah semakin gawat, patih” kata Kaisar Ryu Seung Ryong.

“Sudah waktunya untuk bertindak, Kaisar Ryu Seung Ryong. Para panglima sudah memberikan laporan, bahwa mereka tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Para perampok itu mendatangi rumah para korbannya dalam jumlah yang besar, dan merampok tiga rumah sekaligus dalam satu malam.” kata Patih Lee Seung Ki.

“Memang perlu dicari pijakan dari kerusuhan yang terjadi itu, Kaisar Ryu Seung Ryong. Agaknya memang bukan kerusuhan biasa, bukan dilakukan oleh orang-orang yang kelaparan atau sekedar mencari harta benda untuk menimbun kekayaan” ujar Master Kang Shin Il.

“Ya, Master Kang Shin Il.”

“Kaisar Ryu Seung Ryong, kita harus berusaha untuk dapat menangkap para perampok dari tataran tertinggi, sehingga akan mendapat keterangan yang jelas, apakah sebenarnya yang terjadi.”

Kaisar Ryu Seung Ryong mengangguk-angguk. Namun pada saat itu tiba-tiba saja Kim Hyun Joong berkata, meskipun dengan ragu-ragu. “Ayahanda, jika ayahanda berkenan, hamba akan menyampaikan pendapat hamba. Apapun alasannya, siapapun yang dalangnya, kerusuhan-kerusuhan ini harus dihentikan. Jika ayahanda berkenan, hamba mohon mendapat perintah dari ayahanda untuk mengatasi kerusuhan ini.”

“Maksudmu?”

“Hamba akan mencoba untuk berhadapan dengan perampok itu, ayahanda.”

Kaisar Ryu Seung Ryong mengerutkan keningnya, sementara itu Jung Yong Hwa pun berkata pula. “Hamba sependapat dengan Kim Hyun Joong Hyung, ayahanda. Jika ayahanda memerintahkan kami untuk mengatasi kerusuhan itu, maka perintah itu akan hamba junjung tinggi.”

Kaisar Ryu Seung Ryong termangu-mangu sejenak, namun Master Kang Shin Il berkata “Kaisar Ryu Seung Ryong, sebenarnya Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa telah menimba ilmu di perguruan Kangsan sampai tuntas. Agaknya memang sudah sampai saatnya, bahwa mereka mendapatkan beban tugas yang sesuai bagi mereka, juga sebagai putra mahkota. Karena itu, jika Kaisar Ryu Seung Ryong berkenan, maka Kaisar Ryu Seung Ryong dapat memerintahkan putra Kaisar Ryu Seung Ryong untuk mengatasi kerusuhan ini. Aku mengusulkan salah satu dari mereka yang berangkat. Tugas pertama ini dibebankan kepada Kim Hyun Joong, sementara Jung Yong Hwa tetap tinggal di Dalam Kerajaan, jika mungkin untuk mengatasi persoalan yang gawat yang dapat terjadi disini.”

“Guru.” Jung Yong Hwa itupun memohon “Jika saja guru dan ayahanda berkenan, aku ingin ikut bersama Hyung.”

“Jung Yong Hwa.” kata Kaisar Ryu Seung Ryong kemudian “Aku setuju dengan gurumu, salah seorang dari kalian tetap tinggal disini, mungkin aku akan sangat memerlukannya.”

Jung Yong Hwa tidak dapat memaksa, betapapun ia ingin pergi bersama Kim Hyun Joong untuk mengatasi kerusuhan yang terjadi di Seongnam, namun ayahandanya menahannya agar ia tetap berada di istana.

“Jung Yong Hwa.” kata Kaisar Ryu Seung Ryong “Bukannya aku tidak percaya akan kemampuanmu, menurut gurumu, kau dan Kim Hyun Joong telah bersama-sama menuntaskan ilmu yang kalian pelajari di perguruan, karena itu, menurut gurumu, kau dan Kim Hyun Joong memiliki ilmu yang sama tinggi. Namun justru karena itu, maka aku ingin kau tetap tinggal berasamaku di Kerajaan.”

Jung Yong Hwa sebagai seorang putra mahkota, harus mampu menempatkan diri, maka iapun berkata “Hamba menjunjung tinggi titah ayahanda.”

“Bagus Jung Yong Hwa, kau tetap bersamaku dalam keadaan yang gawat ini.”

“Hamba, ayahanda.”

“Nah, dengan demikian, maka aku akan memerintahkan Kim Hyun Joong untuk pergi mengatasi kerusuhan ini.”

“Kaisar Ryu Seung Ryong.” kata Patih Kim Ji Suk “Apakah tidak sebaiknya Kaisar Ryu Seung Ryong memerintahkan saja beberapa orang panglima untuk pergi melakukan tugas itu.”

“Patih Kim Ji Suk. Aku memang mempunyai keinginan untuk menguji anakku. Selama ini anak-anakku tidak pernah turun kedalam tugas-tugas penting. karena mereka tidak berada di Kerajaan. Biarlah Pangeran Park Yong Ha mengetahui, bahwa anak-anak Seongnam itu tidak saja pandai dalam kecerdasan otak. Tetapi dalam keadaan gawat, merekapun bisa terjun ke gelanggang pertempuran.”

Patih Kim Ji Suk tidak mengatakan apa-apa lagi, sementara Kaisar Ryu Seung Ryong segera menjatuhkan perintah. “Kim Hyun Joong, berdasarkan perintahku, pergilah untuk memberantas kerusuhan itu, kau aku beri hak dan wewenang untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Tetapi kau tidak boleh lepas dari kebijaksanaan untuk mengatasi setiap keadaan.”

“Hamba ayahanda.”

“Patih Lee Seung Ki akan menunjuk, siapakah yang akan pergi bersamamu. Dengar nasehatnya serta nasehat Patih Kim Ji Suk.”

“Hamba junjung tinggi perintah ayahanda. Hamba akan mengikuti segala petunjuk dari Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk.”

“Nah, Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk. Aku serahkan anakku kepada kalian berdua. Biarlah ia melakukan kewajibannya sebagai seorang prajurit juga sebagai putra mahkota Kerajaan Seongnam. Semoga anakku dapat memberantas kerusuhan yang timbul di wilayah Seongnam.”

“Hamba Kaisar Ryu Seung Ryong.” sahut Patih Lee Seung Ki dan Patih Kim Ji Suk hampir bersamaan.

Jung Yong Hwa memang merasa sangat kecewa. Tetapi ia dapat mengerti, kenapa jika salah seorang diantara mereka, dua orang putra Kaisar Ryu Seung Ryong, justru Kim Hyun Joong yang harus dikenal bukan saja oleh Pangeran Park Yong Ha di Sungkyunkwan, tetapi juga oleh rakyat Seongnam sendiri, karena Kim Hyun Joong adalah putra pertama Kaisar Ryu Seung Ryong. Kim Hyun Joong yang kelak berhak untuk menggantikan kedudukan Kaisar Ryu Seung Ryong di Seongnam, karena itu adalah wajar, bahwa Kim Hyun Joong lah yang harus lebih banyak dikenal oleh rakyat Seongnam.

Hari itu juga Kim Hyun Joong telah meninggalkan Istana bersama Patih Lee Seung Ki dan patih Kim Ji Suk. Kedua orang Patih itu akan membawa Kim Hyun Joong kepada beberapa orang Panglima terpilih yang akan mendampinginya, mengatasi kerusuhan di Seongnam.

Bersambung (Season 5 – Tiga Panglima Pilihan)...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...