Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Jumat, 17 Desember 2010

Meraba Matahari (Season 9)


Season 9
Patih Han Jung Soo


“Jangan-jangan seisi Desa ini sudah mengungsi?” seorang diantara mereka pun bertanya.

“Jika desa induk ini kosong, maka rumah di desa induk ini akan kita bakar.” sahut yang lain.

Panglima Siwon sendiri, yang berjalan paling depan, masih belum berkata apa-apa, tetapi ia berjalan semakin cepat, agaknya ia langsung pergi ke rumah Tn.Cha Seung Won.

Ketika mereka melewati sebuah gardu perondaan, maka seperti di desa-desa, gardu perondaan kosong, tidak seorangpun yang meronda malam ini, bahkan obornyapun tidak menyala sama sekali. Malam terasa demikian mencengkam, sepi dan tegang.

Para perampok itu menjadi gelisah bukan karena mereka akan mendapat perlawanan, tetapi mereka justru menjadi gelisah karena desa induk itu terasa sepi sekali.

Namun ketika Panglima Siwon yang gelisah itu mendorong sebuah pintu pagar halaman rumah di pinggir jalan utama itu, ia melihat lampu yang menyala, bahkan kemudian ia pun mendengar suara bayi yang menangis.

Panglima Siwon menarik nafas dalam-dalam, desa ini tidak kosong, penghuninya masih ada di rumah mereka masing-masing, jika mereka pergi mengungsi, maka tentu tidak akan terdengar suara bayi yang menangis di rumah sebelah.

Karena itu, maka Panglima Siwon melangkah semakin cepat. Namun Panglima Siwon itu berhenti di luar sebuah pagar halaman rumah yang luas, halaman rumah Tn.Cha Seung Won, seorang saudagar yang kaya.

“Rumah ini adalah sasaran kita.” berkata Panglima Siwon sambil mendorong pintu pagar halaman itu perlahan-lahan, demikian pagar itu terbuka, maka Panglima Siwon itu pun melihat lampu yang menyala, bahkan di dalam rumah itu pun nampak pula cahaya lampu yang terang.

“Kita tidak kehilangan korban kita malam ini.” kata Panglima Siwon.

Iapun kemudian memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bergerak masuk.

Para prajurit yang berada di halaman itupun kemudian mempersiakan diri, mereka membiarkan para perampok itu seluruhnya memasuki halaman.

Tetapi agaknya dua orang diantara mereka tetap berada di pintu pagar untuk mengamati keadaan, mereka mengawasi jalan yang melintas di depan rumah Tn.Cha Seung Won.

“Memang sekitar dua puluh sampai tiga puluh orang.” desis seorang prajurit ke telinga kawannya.

Kawannya mengangguk-angguk, namun merekapun melihat dua orang diantara para perampok yang berdiri di pintu pagar.

Sejenak suasana benar-benar dicengkam oleh ketegangan, bahkan para perampok yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan merekapun menjadi tegang pula.

Ternyata Desa Namchoseon memang mempunyai kesan yang berbeda dari desa yang lain.

Sejenak kemudian, maka Panglima Siwon dan beberapa orang diantara anak buahnya masuk ke dalam rumah, sementara beberapa orang yang lain telah melingkari rumah itu, berjaga-jaga di pintu depan dan pintu dapur.

“Jangan ada yang sempat keluar.” kata Panglima Siwon.

Kemudian, dibawah bayangan cahaya lampu minyak, Panglima Siwon itu mengetuk pintu rumah Tn.Cha Seung Won yang tertutup rapat.
Namun tidak terdengar jawaban sekali lagi Panglima Siwon mengetuk lebih keras lagi, tetapi juga tidak terdengar jawaban.

“Tn.Cha Seung Won, buka pintunya atau aku yang akan membukanya sendiri dengan paksa.”

Sepi, rumah itu masih saja tetap membisu.

“Tn.Cha Seung Won, jika kau tetap saja diam, aku akan menghancurkan pintu rumahmu.”

Karena tidak ada jawaban, maka Panglima Siwon itupun berkata kepada kawan-kawannya “Kita pecahkan saja pintunya.” Beberapa orangpun segera melangkah mendekati Panglima Siwon, merekapun segera bersiap untuk mendorong dan memecahkan pintu yang masih saja tertutup rapat.

Namun sebelum mereka bersama-sama mendorong dan memecahkan pintu itu, tiba-tiba saja terdengar seseorang berkata dari dalam kegelapan “Apa yang akan kau lakukan, Tuan?”

Panglima Siwon terkejut, iapun segera berpaling, demikian pula kawan-kawannya yang berada di sebelahnya.

“Siapa kau.” kata Panglima Siwon.

“Aku pimpinan anak-anak muda Namchoseon.”

“Pimpinan anak-anak muda Namchoseon? sayang sekali anak muda, kau telah terjun ke sarang singa yang lapar, apakah kau belum mengenalku?”

“Kau tentu pimpinan sekelompok brandalan yang akan merampok rumah Tn.Cha Seung Won.”

“Ya, namaku Panglima Siwon, nama yang ditakuti di daerah ini.”

“Sayang, bahwa anak-anak muda Namchoseon tidak merasa takut mendengar nama Panglima Siwon.”

“Kurang ajar kau.”

“Panglima Siwon, kami anak-anak muda Namchoseon memang sudah menunggumu, kami sudah siap untuk menangkapmu, sudah hampir sebulan kami berlatih keras dibawah pimpinan Kepala Desa Oh Ji Ho, sekarang adalah waktunya untuk menerapkan hasil kerja keras kami.”

Seorang perampok yang perutnya buncit tertawa berkepanjangan, katanya “Apa yang kau dapatkan dengan latihan sebulan itu? ternyata kalian adalah anak-anak muda yang lebih dungu daru yang aku duga.”

“Inilah yang kami dapatkan dari latihan-latihan yang pernah kami lakukan.” terdengar suara yang lain, orang-orang berjalan dari kegelapan sambil mendorong seseorang pula, katanya kemudian “ini tentu kawanmu pula, seorang lagi telah kami bunuh di depan gapura desa Namchoseon, dan inilah yang seorang lagi.”

Panglima Siwon memang sangat terkejut, orang itu adalah orangnya yang ditugaskan mengawasi keadaan di depan Gapura Desa, namun ternyata orang itu tidak berdaya, bahkan seorang dari dua orang yang ditugaskannya itu sudah terbunuh.

Bahkan orang yang membawa seorang perampok mendekati rumah Tn.Cha Seung Won itu kemudian mendorongnya sambil berkata lantang “Kau telah membunuh dua orang di desa yang telah kau rampok sebelumnya, karena itu, maka dua orangmu harus dibunuh pula.”

Sebelum Panglima Siwon sempat menjawab, maka tiba-tiba saja ujung pedang yang bagaikan menyala kebiru-biruan telah menghunjam lambung perampok yang malang itu, terdengar teriakan yang menggelepar di malam yang gelap itu.

Orang yang berdiri di depan pendapa telah berteriak pula “Jangan Panglima Yesung.”

Tetapi orang yang menusuk dengan pedang itu menjawab “Kita tidak dapat beramah tamah dengan perampok.”

Keteganganpun segera mencengkam, perampok yang lambungnya tertusuk pedang itupun terjatuh di tanah, nafasnya yang terakhirpun telah dihembuskannya.

Orang yang berdiri di depan rumah itu merasa jantungnya berdegup kencang, sementara itu Panglima Yesung pun berkata “Tidak hanya kedua orangmu ini yang akan mati.”

Orang yang berdiri di depan rumah itu akhirnya harus bersikap, karena itu, maka iapun kemudian berkata “Panglima Siwon, baiklah kami berterus terang, diantara anak-anak muda desa Namchoseon sekarang ini, memang terdapat beberapa orang prajurit dari Seongnam, karena itu, maka aku minta kau dan orang-orangmu menyerah, maka kita akan dapat menghindari kematian, dua orang yang terbunuh itu sudah cukup.”

Panglima Siwon pun bergetar oleh kemarahan yang menghimpit jantungnya.

“Jadi kau adalah prajurit Seongnam?”

“Ya.” Panglima Yesung lah yang menjawab “Yang ada diantara anak-anak muda Desa namchoseon adalah Pangeran Kim Hyun Joong sendiri, selain itu disini ada tiga orang Panglima yang namanya dikenal oleh semua orang, tidak hanya di Seongnam, tetapi juga di Kerajaan Sungkyunkwan. Di Kerajaan Seongnam dan bahkan di seluruh Kerajaan di Korea, Panglima yang telah memukul mundur pasukan yang sangat besar yang datang dari China.”

Suara Panglima Yesung yang lantang itu bagaikan menggelegar di seluruh halaman dan bahkan menggoyang rumah yang ditinggalkan penghuninya itu.

Tetapi Panglima Siwon adalah seorang pimpinan perampok yang mempunyai pengalaman yang sangat luas, ia seorang yang berilmu tinggi dan sudah kenyang makan pahit getirnya dunia kelamnya.

Karena itu, maka Panglima Siwon itupun menyahut “Persetan dengan igauanmu, jika kalian benar dapat mengalahkan pasukan yang besar yang datang dari China itu, karena kalian membawa pasukan yang sangat besar pula, bukan saja dari Seongnam, tetapi juga dari semua Kerajaan yang berada dibawah naungan kuasa Korea.

“Jadi kau mendengar juga berita tentang perang besar yang terjadi itu?”

“Ya.”

“Kalau demikian, kau tentu pernah mendengar nama-nama Panglima Yesung, Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae.”

“Aku tidak perduli dengan nama-nama itu, jika kau salah seorang diantara mereka, maka aku akan menghancurkan namamu itu, bahkan kau akan menjadi mayat di halaman rumah ini, sebagaimana kedua orang kawanku yang telah kau bunuh.”

“Persetan, kita akan membuktikannya”.

Panglima Siwon pun kemudian telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk menyerang orang-orang yang berada di halaman itu.

Namun sejenak kemudian, anak-anak muda Desa Namchoseon pun berloncatan di halaman, ada yang meloncat dari dahan-dahan pohon, ada yang meloncat dari luar dinding halaman dan ada pula yang berlari-lari memasuki halaman lewat pintu pagar yang telah terbuka. Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit di sekitar rumah Tn.Cha Seung Won yang kosong itu, enam orang prajurit Seongnam, tiga orang Panglima muda yang pilihan telah melibatkan diri dalam pertempuran itu.

Ternyata Panglima Siwon adalah orang yang benar-benar berilmu tinggi, ia tidak mau mengikat diri menghadapi seorang lawan, tetapi ia berloncatan diantara orang-orangnya dengan pedang yang berputaran mengerikan.

Anak-anak muda Desa Namchoseon sempat bergetar jantungnya melihat cara para perampok itu bertempur, namun para prajurit Seongnam itu berusaha mengimbangi mereka, para prajurit itupun berloncatan di seluruh medan pertempuran, apalagi Pangeran Kim Hyun Joong, Panglima Yesung, Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae.

Namun Pangeran Kim Hyun Joong menjadi cemas melihat sikap Panglima Yesung, ia sama sekali tidak mengekang diri dalam pertempuran itu, it tidak pernah memberikan kesempatan kepada lawan-lawannya, pedangnya terayun-ayun sangat mengerikan, sehingga tanpa ampun, orang yang sempat menghadapinya akan terkapar mati dengan luka-lukanya yang parah.

Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae serta para prajurit yang lain masih berusaha untuk mengendalikan diri, mereka tidak harus membunuh lawan yang datang kepada mereka.

Demikianlah, maka pertempuran itu menjadi semakin sengit, dengan dibayangi oleh kemampuan para prajurit Seongnam, maka anak-anak muda Namchosoen pun menjadi semakin berani, seperti pesan yang mereka terima, maka mereka tidak bertempur satu lawan satu, tetapi mereka sudah mempunyai kelompok-kelompok kecil untuk menghadapi setiap perampok yang harus mereka hadapi.

Meskipun para perampok adalah orang-orang yang sudah terbiasa berpetualang diantara ujung-ujung senjata, tetapi menghadapi para prajurit Seongnam dibawah para Panglima pilihan, merekapun mengalami kesulitan.

Tetapi Panglima Siwon sendiri adalah orang yang sangat garang, beberapa orang telah tersentuh tajam pedangnya, namun setiap kali Panglima Siwon harus menghadapi kemampuan para prajurit Seongnam.

Namun akhirnya Panglima Siwon tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya, satu persatu orang-orangnya jatuh terkapar di tanah. Disana sini terdengar erangan kesakitan, desah yang tertahan, serta keluhan-keluhan panjang.

Ketika terdengar di kejauhan suara ayam jantan yang berkokok untuk ketiga kalinya di malam itu, maka pertempuran di rumah Tn.Cha Seung Won itupun sudah selesai, beberapa orang perampok terluka parah, ada juga diantara mereka yang terbunuh.

Namun ketika Pangeran Kim Hyun Joong dan para Panglima serta para prajurit berkumpul di depan rumah Tn.Cha Seung Won dikelilingi oleh anak-anak muda Desa Namchoseon, barulah meraka menyadari ternyata bahwa pimpinan perampok yang bernama Panglima Siwon itu sempat meloloskan diri.

“Kurang ajar.” geram Panglima Yesung. “Jika Panglima Siwon itu tidak tertangkap, maka kita akan membunuh semua perampok yang tertinggal dan yang menyerah.

“Kita tidak dapat melakukannya, Panglima Yesung.” sahut Pangeran Kim Hyun Joong.

“Sudah aku katakan, kita tidak dapat beramah-tamah dengan mereka, para perampok itu sudah membuat banyak sekali kerugian, bukan saja harta benda yang telah mereka rampok, tetapi mereka telah menimbulkan kegelisahan dan ketakutan, harga dari keresahan itu tidak akan dapat lunas dengan kematian mereka, sebelum Panglima Siwon sendiri digantung di alun-alun atau diketemukan mayatnya di pertempuran.”

“Bukan wewenang kita untuk menghukum mereka.”

“Di medan pertempuran, kita tidak bersalah jika kita membunuh lawan.”

“Tetapi pertempuran sudah selesai.” desis Pangeran Kim Hyun Joong.

“Mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya, Pangeran, mereka tidak akan dapat menghentikan tingkah laku mereka, seandainya mereka dibawa menghadapi Kaisar Ryu Seung Ryong kemudian diadili dan dijatuhi hukuman, maka setelah mereka lepas dari hukuman, mereka akan mengulangi kejahatan yang pernah lakukan.”

“Biarlah segala sesuatunya di putuskan kelak.” jawab Pangeran Kim Hyun Joong.

Panglima Yesung masih akan menjawab, tetapi Panglima Eunhyuk pun berkata “Bukankah yang dikatakan oleh Pangeran Kim Hyun Joong itu benar?”

“Kita akan menjadi prajurit yang cengeng.”

“Kita terikat pada pangeran, Panglima Yesung.” kata Panglima Donghae.

Panglima Yesung tidak menjawab lagi, tetapi dari raut wajahnya nampak bahwa jantungnya justru menjadi semakin bergejolak.
Pangeran Kim Hyun Joong pun kemudian telah memerintahkan kepada anak-anak muda Desa Namchoseon untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan yang telah menjadi korban dan gugur di pertempuran, bahkan bukan hanya kawan-kawan mereka yang terluka dan menjadi korban saja yang harus dikumpulkan, tetapi juga para perampok yang terluka dan terbunuh di pertempuran, sedangkan yang menyerah, telah diikat dan dibawa ke halaman rumah Kepala Desa Oh Ji Ho.

Menjelang fajar, Panglima Siwon, para Petinggi Desa, Pangeran Kim Hyun Joong dan para Panglima masih berbincang di rumah Kepala Desa Oh Ji Ho, semuanya menyatakan kekecewaan mereka, bahwa pimpinan peramapok yang bernama Panglima Siwon itu tidak dapat tertangkap.

“Para perampok itu harus di hukum mati.” geram Panglima Yesung. “Ada tiga orang prajurit Seongnam yang terluka, meskipun tidak terlalu parah, siapa yang melawan, apalagi melukai petugas, ia akan dihukum dengan hukuman yang paling berat, selain itu ada sebelas orang anak muda yang terluka, tiga diantaranya parah dan yang seorang telah gugur.”

“Ada berapa orang perampok yang tertangkap?” tanya Kepala Desa Oh Ji Ho.

“Yang menyerah ada enam belas orang Kepala Desa Oh Ji Ho. Panglima Siwon sendiri entah dengan berapa orang kawannya, berhasil meloloskan diri, yang terluka dan terbunuh.”

Kepala Desa Oh Ji Ho menarik nafas dalam-dalam, katanya “Kami mengucapkan terima kasih yang besar sekali, Pangeran Kim Hyun Joong. bukankah dengan demikian, gerombolan perampok itu sudah dihancurkan, mereka tidak mempunyai kekuatan lagi untuk dapat melakukan kegiatan mereka dihari-hari mendatang. Setidak-tidaknya untuk waktu yang dekat ini.”

“Tetapi kami merasa kecewa, bahwa kami tidak dapat menangkap Panglima Siwon, pimpinan perampok itu, Kepala Desa Oh Ji Ho. kami sangat memerlukan keterangannya dalam hubungannya dengan gerakannya yang seakan-akan muncul dari Kerajaan Sungkyunkwan.”

“Ya, Pangeran, tetapi apa boleh buat, namun yang sudah Pangeran lakukan bersama para Panglima dan para prajurit sudah merupakan satu keberhasilan, anak-anak muda Desa Namchoseon, bukan saja mendapat pengalaman yang sangat berharga malam ini, tetapi mereka bukan lagi anak-anak muda yang gemetaran mendengar suara kentongan dalam irama cepat, latihan-latihan yang sudah pangeran berikan bersama para Panglima dan para prajurit, akan dapat kita kembangkan, sehingga jika pimpinan perampok itu datang lagi dengan membawa dendam, maka anak-anak muda Namchoseon sudah tidak akan mengecewakan.”

“Itulah yang kami harapkan, Kepala Desa Oh Ji Ho, mudah-mudahan anak-anak muda di desa tidak segera menjadi jemu justru karena mereka merasa sudah memiliki kemampuan yang cukup.”

“Aku akan berusaha, Pangeran, sementara itu, kelak jika pangeran akan meninggalkan desa ini, Pangeran dapat memberikan pesan kepada mereka.”

Pangeran Kim Hyun Joong mengangguk-anggguk sambil berdesis “Ya, Kepala Desa Oh Ji Ho.”

***

Kemudian, di tempat yang jauh, di perbatasan antara Kerajaan Seongnam dan Kerajaan Sungkyunkwan, Panglima Siwon memapah seorang anak muda yang terluka parah dibantu seorang anak buahnya.
“Kuatkan, dirimu. Sebentar lagi kita akan sampai di pondok itu. Ayahmu- Patih Han Jung Soo tentu menunggu kita di pondok itu.”

Anak muda itu mengerang kesakitan, sementara langit menjadi semakin terang, cahaya fajar sudah membayang di pungung pebukitan di arah timur.

“Aku tidak kuat lagi, Panglima Siwon.”

“Jangan berkata begitu. Kau adalah anak muda yang jarang ada duanya, kau mempunyai daya tahan yang sangat tinggi, kaupun menjadi harapan ayahandamu di masa mendatang.”

“Tetapi lukaku sangat parah, Panglima Siwon.”

“Lihat, di depan kita adalah Gapura Desa, pondok kita terletak dekat pintu gerbang itu, sedikit berbelok ke kiri, di tempat yang kelihatan terpisah dari rumah-rumah yang lain karena halamannya yang luas serta kebun kosong di sebelahnya.”

Anak muda itu tidak menjawab, yang terdengar adalah desah desah kesakitan.

Sebelum terang, mereka bertiga telah memasuki Gapura Desa yang masih sepi, merekapun dengan cepat menyelinap memasuki lorong kecil kearah kiri, sejenak kemudian merekapun telah memasuki sebuah halaman rumah sederhana yang terletak di tengah-tengah kebun yang luas serta di sebelahnya terdapat kebun kosong yang cukup luas pula.

Karena pintu rumah sederhana itu masih tertutup, maka Panglima Siwon pun mengetuk pintunya perlahan-lahan.

Sekali dua kali tidak terdengar jawaban, sementara itu anak muda yang terluka itu masih saja mengerang kesakitan.

Karena itulah, maka Panglima Siwon pun mengetuk lebih keras lagi.

Di dalam rumah itu, Patih Han Jung Soo dan Panglima Leeteuk ternyata baru saja terlelap, semalam suntuk mereka bertahan menunggu Panglima Siwon itu kembali, tetapi sampai dini hari, mereka masih belum memasuki rumah sederhana yang terletak di perbatasan itu.

Namun justru ketika mereka baru saja terlelap, pintu rumah itu telah diketuk orang.

Patih Han Jung Soo yang terkejut dengan gagap memanggil Panglima Leeteuk. “Panglima Leeteuk, kau dengar pintu diketuk orang?”
Panglima Leeteuk segera terbangun pula, sementara itu ketukan pintu itupun menjadi semakin keras.

“Siapa itu?” tanya Panglima Leeteuk sambil mengambil pedangnya.

“Aku Panglima Leeteuk.”

“Panglima Siwon?”

“Ya.”

“Buka pintu itu cepa.” bentak Patih Han Jung Soo yang tidak sabar.

Panglima Leeteuk pun segera meloncat ke pintu sambil meletakkan kembali pedangnya.

Demikian pintu dibuka, maka Panglima Siwon pun segera bergerak masuk sambil memapah anak muda yang terluka itu, di belakangnya seorang anak buahnya mengikuti pula.

“Tutup kembali pintu itu, dungu.” bentak Panglima Leeteuk.

Anak buah Panglima Siwon itupun kemudian dengan tergesa-gesa menutup pintu yang masih terbuka.

Sementara itu, cahaya fajarpun menjadi semakin terang, ayam-ayampun mulai turun dari kandangnya, seekor induk ayam berkotek memanggil anak-anaknya, ketika ia menemukan seekor cacing tanah yang gembur.

“Anak itu terluka?” tanya Patih Han Jung Soo.

“Ya, Patih Han Jung Soo.”

“Siapa?”

Panglima Siwon menjadi ragu-ragu.

“Siapa?” bentak Patih Han Jung Soo.

Panglima Siwon pun kemudian membaringkan anak muda yang terluka itu di lantai.

“Heechul.” Patih Han Jung Soo hampir menjerit. “Jadi yang terluka itu anakku?”

Panglima Siwon menundukkan wajahnya, dengan nada dalam ia pun berdesis “Ya Patih Han Jung Soo.”

Patih Han Jung SOo segera meloncat dan berjongkok disisinya.

“Heechul, jadi kau yang terluka itu, nak.”

“Ayah.” desis Heechul.

“Kenapa kau nak?”

“Lukaku parah, ayah.”

“Biarlah Panglima Leeteuk memanggil tabib terbaik di Sungkyunkwan.”

“Tidak ada gunanya lagi, ayah.”

“Jangan berkata begitu, Heechul.”

Patih Han Jung Soo itupun kemudian mengangkat kepala anaknya dan diletakkannya di pangkuannya.

“Aku sudah tidak kuat lagi, ayah. Darahku terlalu banyak yang keluar.”

“Siapa yang melukaimu, Heechul? orang-orang Namchoseon?”

“Tidak ayah, bukan orang-orang Namchoseon.”

“Jadi siapa?”

“Ternyata di Namchoseon kami bertemu dengan sekelompok prajurit dari Seongnam, ayah.”

“Prajurit dari Seongnam?”

“Ya, ayah, para prajurit yang dipimpin langsung oleh Pangeran Kim Hyun Joong.”

“Kim Hyun Joong, Pangeran Kim Hyun Joong anak Kaisar Seongnam?”

“Ya, ayah.”

“Kau tidak salah lihat, Heechul, bukankah Kim Hyun Joong tidak berada di Seongnam?”

“Tidak, ayah. Aku tidak salah lihat. Selain aku memang sudah mengenalnya sejak lama, seorang Panglima pun telah menyebut namanya pula, disamping Kim Hyun Joong, tiga orang Panglima muda yang namanya mulai dikenal sejak pertempuran di China, Panglima Yesung, Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae.”

“Gila orang-orang Seongnam, tetapi jangan cemas Heechul, kau akan segera sembuh, kau akan segera mendapat kesempatan untuk membalas dendam.

“Ayah, aku tidak mampu lagi bertahan.

“Panglima Leeteuk.” teriak Patih Han Jung Soo.

“Ya, Patih Han Jung Soo.”

“Kenapa kau begitu dungu, cepat pangil tabib terbaik di Sungkyunkwan.”

“Dibawa kemari?”

Patih Han Jung Soo termangu-mangu sejenak, lalu katanya “Ya, bawa orang itu kemari.”

“Tetapi, apakah tidak ada bahayanya jika tabib itu melihat rumah ini?”

“Aku tidak peduli, yang penting anakku dapat diselamatkan.”

Namun terdengar suara Heechul yang lemah “Tidak usah ayah, tidak akan ada artinya.”

“Heechul.”

Suara Heechul menjadi semakin tersendat “Ayah.”

“Heechul.”

Heechul memandang ayahnya dengan mata yang semakin sayu, wajahnya menjadi sangat pucat seakan-akan tidak berdarah lagi, sementara itu darah yang mengalir dari lukanya membasahi lantai rumah itu, menggenang di kaki ayahnya.

“Ayah.” suara Heechul hampir tidak terdengar.

“Heechul, dengar. Aku akan mengundang tabib itu, Heechul.”
Mata Heechul menjadi semakin redup, sehingga akhirnya mata itupun terpejam.

“Heechul” Patih Han Jung Soo berteriak.

Namun Heechul sudah tidak mendengarnya, nafasnya yang terakhir pun telah meluncur lewat lubang hidungnya.

Patih Han Jung Soo memeluk anaknya dan meletakkannya di dadanya, dengan suaranya yang bergetar iapun berkata “Heechul, kenapa kau mendahului ayahmu, nak. Aku ingin kau menjadi seorang besar, jauh lebih besar dari ayahmu. Aku ingin kau menjadi Panglima yang selalu berada dekat dengan Kaisar, tetapi kenapa kau justru mendahuluiku.”

Tetapi Heechul sama sekali sudah tidak bergerak lagi. Perlahan-lahan Patih Han Jung Soo meletakkan anak laki-lakinya yang sudah meninggal itu, kemudian iapun bangkit dan bergeser mendekati Panglima Siwon, dengan sinar mata yang menyala Patih Han Jung Soo mencengkam baju Panglima Siwon sambil membentak. “Apa kerjamu manusia bodoh. untuk apa kau pergi ke Namchoseon? kenapa kau tidak dapat melindungi anakku, sehingga terbunuh di pertempuran melawan prajurit Seongnam? ada berapa orang prajurit Seongnam yang berada di Namchoseon? Seratus, lima puluh? Seluruh prajurit Seongnam?”

Panglima Siwon tidak segera menjawab, mulutnya justru bagaikan terbungkam.

“Kau sudah menjadi tuli, he? atau bisu?”

Panglima Siwon masih belum menjawab.

Namun tiba-tiba saja tangan Patih Han Jung Soo menyambar wajahnya sambil membentak “Berapa, He?”

“Ampun, Patih Han Jung Soo. Panglima Siwon menjadi gagap. “Tidak jelas, kami tidak tahu ada berapa orang prajurit Seongnam di Namchosoen, mereka tidak mengenakan pakaian prajurit, agaknya mereka sengaja menjebak kami, sementara itu, anak-anak muda Namchoseon pun telah ikut pula bersama-sama mereka. jumlahnya tidak terhitung, bahkan mereka sudah pandai pula menempatkan diri untuk melawan kami.”

Patih Han Jung Soo mengguncang baju Panglima Siwon yang dicengkramnya sambil membentak “Jadi kau tidak dapat mengatasi anak-anak muda Namchoseon itu, He? Mulutmu saja yang selalu sesumbar, tetapi apa yang terjadi? anakku telah mati.”

Panglima Siwon tidak menjawab, Patih Han Jung Soo yang kehilangan anaknya tentu sulit untuk menahan perasaannya yang bergejolak, karena itu, maka Panglima Siwon memilih untuk diam.
Patih Han Jung Soo itupun kemudian melepaskan baju Panglima Siwon, kemudian ia mendekati pengikut Panglima Siwon yang membantunya membawa Heechul pulang ke pondok itu.

Dengan kasar Patih Han Jung Soo mendorong pundak orang yang duduk di lantai itu dengan kakinya, sehingga orang itu jatuh terlentang.

“Dase pengecut, apa kerjamu di Namchoseon He? Kau biarkan anakku mati?”

Orang itupun tidak menjawab pula, ketika ia perlahan-lahan bangkit dan duduk kembali, maka Patih Han Jung Soo pun berkata “Aku tidak mau menerima keadaan ini, orang-orang Seongnam telah berhutang nyawa, mereka harus membayar dengan nyawa pula, Pangeran Kim Hyun Joong, Panglima Yesung, Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae harus mati.”

Suara Patih Han Jung Soo tergetar seakan-akan telah mengguncang dinding pondok kecil yang dipergunakannya itu.

“Kita akan membawa Heechul pulang.”

“Apa kata orang yang melihat keadaannya di sepanjang jalan?” desis Panglima Leeteuk.

Patih Han Jung Soo termangu-mangu sejenak, dengan nada berat iapun bertanya “Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?”

“Patih Han Jung Soo.” kata Panglima Leeteuk. “Jika tubuh Heechul dibawa pulang, akan dapat menimbulkan masalah, di perjalanan,tetapi juga di Sungkyunkwan. Seandainya akan diaadakan upacara pemakaman, apa yang dapat kita katakan kepada orang-orang yang datang melayat? kecelakaan atau pembunuhan atau apa? seandainya demikian, masih akan timbul pertanyaan panjang yang tidak berkeputusan, kita akan semakin lama akan menjadi semakin sulit untuk menjawabnya.”

Bersambung (Season 10 - Pertempuran)...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...