Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Kamis, 09 Desember 2010

Meraba Matahari (Season 2)


Season 2
Kerajaan Seongnam


Jung Yong Hwa yang menyahut “Kalian hanya menjebak orang-orang yang lewat dari satu arah, kenapa justru orang-orang yang akan pergi kearah pusat kota pemerintahan Seongnam?”

Orang yang berwajah garang itu mengerutkan dahinya, katanya “Pertanyaanmu bagus anak muda, tetapi aku tidak dapat menjawab. Kami sama sekali tidak pernah memikirkannya, bahwa jebakan kami hanya berlaku bagi mereka yang berkuda dari satu arah. Mungkin kami mempunyai firasat bahwa kalian akan lewat jalan ini menuju pusat pemerintahan Kerajaan Seongnam.”

“Lalu, apa maksud kalian dengan merentang akar-akar hutan ini menyilang jalan itu?”

“Kau sudah tentu tahu apa yang kami inginkan. Karena kalian tidak terlempar dari kuda kalian, maka baiklah aku katakan saja bahwa aku ingin merampas semua harta kalian, kami adalah sekawanan perampok. Kami tidak perlu menyembunyikan kenyataan diri atau berpura-pura. Berikan kudamu, uangmu, pedangmu. Pokoknya tinggalkan semuanya dan kalian boleh pergi.”

“Baik. Kamipun akan berterus terang” sahut Jung Yong Hwa “Kami akan menangkap kalian dan membawanya menghadap Raja Seongnam. Selama ini Seongnam selalu tenang, tenteram dan tidak pernah terdapat gejolak apapun. Tiba-tiba muncul kalian, kawanan perampok yang bukan saja ingin merampas milik kami, tetapi kalian sudah membuat Seongnam menjadi resah.”

Para perampok itu tertawa, seorang diantara mereka berkata “Itu memang kami sengaja. Karena selama ini Seongnam tenang-tenang saja, maka, banyak orang yang menjadi lengah dan tidak berhati-hati. Nah, karena itu, maka Seongnam menjadi ladang yang sangat subur bagi kami. Di daerah yang tidak sedamai Seongnam, tidak akan ada orang yang memilih jalan ini untuk memilih jalan yang ramai meskipun agak jauh. Tetapi disini, didaerah yang aman dan tenteram, kalian berani lewat jalan yang sepi ini. Karena itu, maka kalian telah menemui nasib buruk seksrang ini.”

“Kami atau kalian yang menemui nasib buruk? Kami adalah prajurit Seongnam dalam tugas sandi, justru karena pada saat-saat terakhir sering terjadi perampokan. Semula kami tidak mempercayainya, karena selama ini Seongnam selalu aman dan tenteram. Namun disini kami menemukan kenyataan itu. Di Seongnam memang ada sekawanan perampok dan bahkan mungkin sekelompok perampok yang justru memanfaatkan ketenangan masyarakat Seongnam yang kalian anggap lengah. Memang mungkin rakyat menjadi lengah, tetapi tidak untuk perajurit.”

“Persetan dengan celoteh kalian. Jika kalian prajurit dalam tugas sandi, kenapa kalian membawa orang tua itu bersama kalian.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa serentak berpaling kepada Master Kang Shin Il yang berdiri saja seolah membeku.

“Orang tua itu hanya kebetulan seperjalanan, agaknya orang tua itu sudah mempunyai firasat buruk, bahwa Seongnam sekarang memang sudah tidak lagi aman dan tenteram.”

“Sudahlah, jangan mengaku-aku prajurit, bahkan seandainya kalian prajurit. Kalian harus tunduk kepada kami sekarang ini. Serahkan semua yang kalian punya, juga orang tua itu. Kemudian karena kalian prajurit, maka perlakuan kami akan berbeda.”

“Kenapa jika kami prajurit?” tanya Kim Hyun Joong.

“Karena kalian prajurit, maka kalian akan kami bunuh disini. Biarlah Seongnam menyadari, betapa rapuhnya kekuatan Kerajaan Seongnam yang katanya aman dan tenteram. Orang tua itu akan kami lepaskan untuk berceritera, bahwa dua orang prajurit Seongnam telah mati dibunuh sekawanan perampok. Orang tua itu akan berceritera, bahwa ternyata para prajurit Seongnam tidak mampu melindunginya, sehingga ia harus menyerahkan semua miliknya kepada orang-orang yang merampoknya di jalan ini.”

Tetapi Jung Yong Hwa itupun menjawab, “Bersiaplah, kami akan menangkap kalian. Jika kalian melawan, maka kami akan terpaksa membunuh kalian. Orang-orang Seongnam akan merasakan betapa ketatnya perlindungan bagi ketenangan hidup mereka.”

Keempat orang perampok itu bergeser merenggang. Tetapi sambil tertawa seorang yang agaknya pemimpin mereka itu masih juga tertawa sambil berkata “Prajurit-prajurit muda kebanyakan memang besar kepala, mereka merasa dirinya mampu. Tetapi apa kalian pernah belajar olah bela diri yang sebenarnya di lingkungan keprajuritan? Pejabat-pejabat dan petinggi-petinggi kerajaan kalian pun tidak tahu ilmu bela diri yang sebenarnya, apalagi kalian.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa tidak bertanya lagi, keduanyapun telah mengikat kuda-kuda mereka pada pohon jati di pinggir jalan. Kemudian keduanya pun telah mengambil jarak. Mereka menyadari, bahwa mereka masing-masing akan menghadapi dua orang lawan. Para perampok itu tentu tidak akan memperhitungkan kehadiran Master Kang Shin Il, kecuali jika Master Kang Shin Il itu sendiri yang akan turun ke medan pertempuran.

Namun sepertinya Master Kang Shin Il tidak akan melibatkan diri, ia masih saja berdiri sambil memegangi kendali kudanya, seakan-akan membeku.

Sebenarnya Master Kang Shin Il memang tidak ingin langsung terjun ke arena, ia justru ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh kedua orang muridnya.

Hanya dalam keadaan yang memaksa dan terdesak, maka Master Kang Shin Il akan melibatkan diri.

Salah seorang dari keempat perampok itu masih berkata “Angkatlah wajahmu, pandanglah langit diatas Kerajaan Seongnam untuk terakhir kalinya. Pandanglah awan yang mengalir dan seakan-akan bersarang di puncak gunung itu. Kemudian tundukkan kepalamu. Pandanglah bumi yang kau injak. Di bumi itu pula kalian akan dikuburkan.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa tidak menyahut, namun keduanya benar-benar telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, para perampok itupun telah berpencar, seakan-akan memilih lawan masing-masing, seperti yang diduga oleh Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa, mereka masing-masing akan berhadapan dengan dua orang yang bertubuh tinggi, berbadan kekar, dan berwajah garang. Meskipun mereka sering tertawa, tetapi suara tertawa mererka sama sekali jauh dari nafas keramah-tamahan.

“Suara iblis yang bersarang ditubuh mereka.” kata Kim Hyun Joong di dalam hatinya.

Sebagai putra mahkota seorang yang memimpin pemerintahan, maka Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa benar-benar merasa tersinggung oleh perbuatan para perampok itu. Ketenangan yang mereka anggap ketenangan itu, seolah-olah telah menggelar lahan yang sangat subur bagi mereka.

“Kesan itu harus dihapuskan, setiap penjahat yang ada di Kerajaan ini harus dihukum.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, para perampok itu sudah mulai menyerang dari arah yang berbeda. Dua orang menghadapi Kim Hyun Joong, yang dua orang lagi menghadapi Jung Yong Hwa.

Dengan tangkasnya Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa menghadapi para perampok yang garang itu.

Ketika beberapa serangan para perampok itu tidak sempat menyentuh tubuh kedua orang anak muda itu, maka para perampok itupun mulai menyadari, bahwa anak-anak muda itu bukannya sekedar menggertak. Agaknya mereka memang mempunyai bekal yang cukup dalam olah bela diri.

Master Kang Shin Il masih berdiri di tempatnya, kedua murid utamanya itu justru mendapat tempat untuk menguji ilmu yang pernah mereka pelajari.

Namun pertempuran itu tidak berlangsung lama, Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa ternyata terlalu kuat bagi keempat perampok itu.

Dalam beberapa saat, keempat perampok itu mulai terdesak. Serangan-serangan mereka yang garang sama sekali tidak berarti bagi Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa, bahkan serangan-serangan Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa yang kemudian justru sering mengenai tubuh mereka, serangan-serangan kedua orang anak muda itu mampu menembus pertahanan lawan-lawan mereka.

Ketika serangan Kim Hyun Joong yang deras mengenai dada seorang diantara lawan-lawannya, orang itupun terlempar beberapa langkah, kakinya terperosok kedalam lubang jebakan mereka sendiri, sehingga orang itu tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya. Dengan demikian maka ia pun telah terbaring jatuh, kemudian terguling masuk kedalam aliran air sungai yang meskipun tidak terlalu deras, tetapi telah membasahi pakaiannya.

Dengan cepat orang itu berusaha untuk bangkit. Ada beberapa teguk air yang masuk ke mulutnya dan menghisap ke dalam tenggorokannya.

Tetapi begitu ia bangkit berdiri dan berusaha naik ke pinggiran sungai. Maka kawannya yang seorang lagi telah terlempar pula menimpanya, sehingga kedua-daunya justru terjebur lagi ke dalam sungai.

Kim Hyun Joong dengan cepat memburunya. Demikiam keduanya berusaha untuk bangkit, dan kakinya telah menyambar kening seorang diantara mereka, sehingga terpelanting ke dalam sungai. Sementara itu, kawannya pun berusaha pula untuk berdiri. Tetapi sekali lagi kaki Kim Hyun Joong terayun menghantam lambung.

Dengan demikian, maka kedua lawan Kim Hyun Joong itupun telah terperosok masuk kedalam sungai.

Kemudian, Jung Yong Hwa telah meloncat sambil memutar tubuhnya, kakinya melayang menerpa kening seorang dari kedua lawannya, sehingga orang itu terlempar beberapa langkah. Kepalanya menjadi pening, serta matanya berkunang-kunang.

Kawannya yang melihat serangan itu berusaha mempergunakan kesempatan. Dengan cepat orang itu meluncur menyerang Jung Yong Hwa dengan kakinya mengarah ke punggung. Tetapi dengan tangkasnya Jung Yong Hwa merendah, dengan deras kakinya justru menyapu kaki lawannya.

Orang itupun terpelanting dengan kerasnya, tubuhnya yang jatuh, menimpa batu-batu di pinggiran sungai. Terdengar orang itu mengeluh kesakitan. Punggungnya serasa menjadi retak.

Tetapi ada harapan lagi, bagi keempat perampok itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja seorang diantara mereka telah memberikan isyarat dengan siulan nyaring.

Dengan cepat keempat orang itu berusaha untuk segera bangkit berdiri dan melarikan diri.

Tidak ada kesulitan bagi Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa untuk menangkap mereka. Ketika keempat orang itu berlari ke hutan, maka Kim Hyun Joong maupun Jung Yong Hwa berusaha untuk mengejar mereka.

Tetapi terdengar Master Kang Shin Il bertepuk tangan memanggil mereka.

“Guru.” kata Kim Hyun Joong “Kami harus dapat menangkap salah satu dari mereka. Dengan demikian kita akan tahu, siapakah mereka itu dan siapa pula pemimpin mereka.”

“Tidak akan banyak artinya, muridku.” Jawab Master Kang Shin Il.

“Kenapa guru?”

“Yang mereka ketahui, mereka adalah sebagian dari sekelompok penjahat. Hanya itu. Merekapun tidak akan dapat menunjukkan sarang kawan-kawannya karena mereka tentu berpindah-pindah tempat. Menurut penglihatanku, mereka adalah sebagian kecil dari sekawanan perampok yang besar dalam susunan keanggotaan yang berlapis, sehingga orang-orang pada lapisan terbawah tidak akan tahu, siapakah yang berada dilapisan tengah. Apalagi dilapisan atas.”

“Tetapi setidak-tidaknya kami membawa bukti bahwa telah terjadi kerusuhan di Kerajaan ini.”

“Jika kau kehilangan bukti, aku akan bersedia menjadi saksi.”

Kim Hyun Joong terdiam.

“Kalian berdua, kalian tidak tahu, apa yang ada dibelakang pepohonan hutan itu. Sarang mereka tentu tidak ada di tempat itu. Tetapi kau harus mengingat jebakan-jebakan yang mungkin mereka pasang. Bukan hanya sekedar akar-akar hutan yang terikat menyilang di jalan. Mungkin di dalam hutan itu terdapat berbagai macam jebakan, sementara beberapa orang telah menunggu.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa saling berpandangan sejenak, namun merekap un mengerti peringatan yang diberikan oleh gurunya. Mungkin para perampok itu telah membuat jebakan yang memang mereka tujukan kepada para prajurit jika mereka mencoba memburu untuk menangkap mereka.

“Ya, guru.” desis Kim Hyun Joong kemudian.

“Nah, sekarang marilah kita meneruskan perjalanan, singkirkan akar-akar hutan itu.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa pun kemudian telah menyingkirkan akar-akar hutan yang merentang menyilang jalan itu.

Sejenak kemudian, maka mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan mereka, tetapi yang berada di paling depan kemudian adalah Master Kang Shin Il.

Ketika mereka kemudian telah sampai ke jalan yang lebih lebar, yang semakin jauh dari hutan, Master Kang Shin Il pun berkata kepada Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa “Majulah sedikit muridku, ada yang akan aku katakan.

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa kemudian berkuda disebelah menyebelahi Master Kang Shin Il. Sementara itu, kuda merekapun berlari tidak terlalu kencang.

”Aku melihat kalian tadi marah sekali kepada para perampok itu.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa termangu-mangu sejenak, namun kemudian Kim Hyun Joong pun menjawab “Ya, guru. Aku memang marah sekali kepada mereka.”

“Itu wajar, muridku. Tetapi betapapun kalian marah. Kalian tidak boleh terbakar oleh rasa kemarahan kalian, maka penalaran kalianpun akan menjadi kacau.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa terdiam.

“Kalian berdua, aku melihat ungkapan kemarahan kalian adalah tatanan gerak bela diri kalian. Betapa kalian marah sekali sehingga serangan-serangan kalian tidak lagi terkendali. Tidak ada pikiran lain di kepala kalian sekali menghancurkan lawan kalian. Dan bahkan malah membunuh mereka. Seadainya kalian mengejar mereka agar menangkap salah seorang dari mereka untuk dijadikan sumber keterangan, maka yang akan kalian dapatkan tidak akan lebih dari sosok-sosok mayat para perampok itu. Aku melihat bahwa kalian terlalu sulit untuk mengendalikan kemarahan kalian.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa tidak menjawab.

“Tetap itu wajar sekali terjadi pada anak-anak muda yang baru keluar dari sebuah perguruan. Anak-anak muda yang merasa dirinya telah berbekal ilmu.”

Jantung Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa pun telah tersentuh pula, karena itu, maka keduanya sama sekali tidak menjawab.

“Tetapi setelah kalian mengalami itu semua. Untuk seterusnya berhatil-hatilah. Kalian harus menjaga agar kalian tidak terbenam kedalam arus kemarahan setiap kali kalian menghadapi persoalan, betapapun kalian menjadi marah. Kalian harus tetap menyadari, apa yang akan kalian lakukan.”

“Ya, guru.” jawab Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa berbarengan.

“Tetapi apa yang terjadi bukan merupakan gejala buruk bagi kalian. Itu wajar. Wajar sekali. Namun meskipun hal itu terjadi, namun sebaiknya kalian mampu tetap berpegang teguh pada penalaran yang penting.

“Ya, guru.” jawab kedua orang anak muda itu.

“Nah, marilah kita berpacu agak lebih cepat. Waktu kita sudah tersita beberapa lama di pinggir hutan itu.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa tidak menjawab, sementara itu, kuda Master Kang Shin Il berlari semakin cepat, sehingga kedua orang anak muda itupun mempercepat lari kuda mereka pula. Namun dengan demikian, maka mereka tidak dapat mencapai lingkungan dalam Kerajaan Seongnam, sebelum senja, ketika senja turun, mereka masih berada di jalan yang langsung menuju ke pintu gerbang Desa Seongnam.

Demikian mereka sampai ke pintu Desa, maka lampu-lampu minyak disetiap rumah sudah dinyalakan. Dua buah obor telah terpasang pula di pintu gerbang, sedangkan di pinggir jalan induk yang langsung menuju ke alun-alun, di beberapa gerbang pun telah terpasang obor pula.

Dalam keremangan senja, tidak banyak lagi orang yang berada di jalan, bahkan tidak ada orang yang memperhatikan tiga orang berkuda menyusuri jalan induk yang langsung menuju alun-alun.

Namun penjaga pintu gerbang istana Seongnam lah yang terkejut ketika mereka melihat tiga orang berkuda berhenti di depan pintu gerbang halaman istana.

“Pangeran Kim Hyun Joong dan Pangeran Jung Yong Hwa” desis prajurit yang bertugas.

“Ya, kami datang bersama guru.”

“Silahkan, silahkan, Pangeran, silahkan Master.”

Ketiganya pun segera memasuki pintu gerbang halaman istana, mereka langsung menyusuri halaman samping dan berhenti di pintu.

Prajurit yang bertuga spun segera menerima ketiga ekor kuda itu dan mempersilahkan mereka memasuki pintu samping.

Kedatangan Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa bersama Master Kang Shin Il pada saat malam mulai turun itu, memang agak mengejutkan Kaisar Ryu Seung Ryong.

Kaisar Ryu Seung Ryong pun kemudian menerima kehadiran Master Kang Shin Il serta kedua orang puteranya di serambi samping.

“Selamat datang Master Kang Shin Il, nampaknya Master Kang Shin Il bersama Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa agak kesiangan berangkat dari perguruan, sehingga lewat senja kalian baru sampai. Bukankah biasanya Master Kang Shin Il dan anak-anak sudah sampai sebelum senja turun?”

Master Kang Shin Il tersenyum, katanya “Ada sedikit hambatan di perjalanan, Kaisar Ryu Seung Ryong”

Kaisar Ryu Seung Ryong mengerutkan keningnya, dengan nada tinggi ia paun bertanya “Hambatan apa Master Kang Shin Il?”

Master Kang Shin Il memandang Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa berganti-ganti. Sambil tersenyum ia pun berkata “Kedua putra Kaisar Ryu Seung Ryong telah diuji di perjalanan.”

“Ada apa?” nampak kecemasan di wajah Kaisar Ryu Seung Ryong.

Namun sebelum pembicaraan itu berlanjut, Permaisuri Lee Mi Sook telah memasuki serambi itu pula. Dengan nada penuh kerinduan dari seorang ibu, Permaisuri Lee Mi Sook itupun berkata “Aku mendengar suara kalian Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa. Marilah. Masuklah ke ruang dalam, kalian tentu letih setelah menempuh perjalanan seharian.”

“Kau belum mengucapkan selamat datang kepada Master Kang Shin Il, Permaisuri Lee Mi Sook.” potong Kaisar Ryu Seung Ryong.

Permaisuri Lee Mi Sook tertawa, katanya, “Maaf Master Kang Shin Il, sudah sejak di dalam ucapan itu sudah ada di bibir. Tetapi ketika aku melihat Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa, aku lupa mengucapkannya. Apalagi kektika aku melihat pakaian mereka yang kusut. Keringat dan debu yang melekat diwajah mereka. Maaf, Master Kang Shin Il. Biarlah mereka membenahi diri.”

“Master Kang Shin Il tentu juga akan segera berbenah diri.”

“Kamar bagi Master Kang Shin Il akan segera disiapkan. Bukankah Master Kang Shin Il akan bermalam?”

“Tentu.” Kaisar Ryu Seung Ryong lah yang menjawab “Bukankah malam sudah turun?”

“Nah, masih banyak waktu untuk berbincang. Malam nanti, esok pagi dan barangkali Master Kang Shin Il tidak hanya akan bermalam semalam saja.”

Master Kang Shin Il hanya tertawa saja. Sementara itu, setelah Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa mencium tangan ibunya, mereka pun dibimbing seperti anak-anak masuk ke ruang dalam.

“Maaf, Master Kang Shin Il.” kata Kaisar Ryu Seung Ryong kemudian “Ibunya memang sangat rindu kepada mereka.”

“Aku mengerti, Kaisar Ryu Seung Ryong.”

“Aku juga minta maaf, Master Kang Shin Il. Sebelum Master Kang Shin Il sempat beristirahat, aku sudah mendesak ingin mengetahui hambatan apa yang telah terjadi di perjalanan?”

Master Kang Shin Il tersenyum, katanya “Tidak apa Kaisar Ryu Seung Ryong, bukankah itu sudah sewajarnya?”

“Ya, Master Kang Shin Il.” sahut Kaisar Ryu Seung Ryong.

Master Kang Shin Il pun kemudian menceritakan apa yang telah terjadi di perjalanan. Empat orang kawanan perampok itupun telah mengganggu perjalanan mereka.

“Perampok?”

“Ya, Kaisar Ryu Seung Ryong.”

Kaisar Ryu Seung Ryong termangu-mangu sejenak, namun sementara itu, seorang pelayan telah menghidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan.

“Silahkan Master Kang Shin Il. Nanti pembicaraan kita tentang para perampok itu kita lanjutkan.”

“Terima kasih, Kaisar Ryu Seung Ryong.”

“Kami akan mempersilahkan Master Kang Shin Il untuk mandi dan beristirahat. Malam nanti kita akan dapat berbicara panjang bersama Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa.”

Malam ini setelah makan malam Kaisar Ryu Seung Ryong duduk di serambi bersama Master Kang Shin Il, Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa. Permaisuri Lee Mi Sook pun duduk bersama mereka sebentar. Namun kemudian minta diri untuk bersama-sama dengan pelayan membersihkan ruangan dalam.

“Nah” kata Kaisar Ryu Seung Ryong kemudian. “Sekarang aku ingin mendengar cerita tentang perjalanan Master Kang Shin Il bersama Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa sepenuhnya.”

Master Kang Shin Il pun tersenyum, katanya “Baiklah, Kaisar Ryu Seung Ryong, tetapi sebaiknya biarlah Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa sajalah yang bercerita.”

Kaisar Ryu Seung Ryong mengangguk-angguk, katanya “Baiklah, ceritakan apa yang telah terjadi.”

Berganti-gantian Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa menceritakan apa yang telah terjadi di perjalanan mereka. Mereka saling melengkapi dan bahkan cerita mereka memang kadang-kadang menjadi tumpang tindih. Rasa-rasanya terlalu banyak yang ingin mereka katakan, sehingga kalimat pun rasa-rasanya saling berdesakan lewat mulut keduanya.

Kaisar Ryu Seung Ryong mengangguk-angguk, akhirnya cerita kedua orang putranya itu jelas pula baginya.

“Master Kang Shin Il.” kata Kaisar Ryu Seung Ryong “Sebenarnya Kerajaan Seongnam tidak lagi aman dan tenteram seperti sebelumnya. Aku juga sudah menerima laporan tentang kejahatan yang terjadi di beberapa pedesaan. Juga telah terjadi perampokan di jalan-jalan.”

“Jadi ayahanda sudah mengetahuinya?” tanya Kim Hyun Joong.

“Baru dalam pekan ini. Sepertinya peristiwa kejahatan itu juga belum lama mulai tumbuh di Kerajaan ini.”

“Kita tidak boleh terlambat ayahanda.” kata Jung Yong Hwa kemudian.

“Ya.” Kaisar Ryu Seung Ryong mengangguk-angguk “Tetapi kita juga tidak boleh tergesa-gesa. Kita harus tahu, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kita tidak salah mengambil langkah.

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa mengangguk-angguk kecil.

“Nah, sikap Kaisar Ryu Seung Ryong itu harus kalian teladani, muri-muridku. Kita jangan tergesa-gesa mengambil sikap agar kita tidak salang langkah.”

“Ya, guru.” sahut Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa bersama.

Sementara itu, Kaisar Ryu Seung Ryong pun berkata selanjutnya “Selain laporan tentang tindakan kejahatan itu, sejak hari ini Permaisuri Seo Woo Rim juga berada disini.”

“Maksud Kaisar Ryu Seung Ryong, Permaisuri Seo Woo Rim-Istri Kaisar Song Jae Ho Kerajaan Sungkyunkwan berada di Kerajaan ini?”

“Ya.”

“Apakah sekedar menengok keadaan keluarga disini?”

“Tidak, Master Kang Shin Il. Tetapi Permaisuri Seo Woo Rim itu mengungsi ke Kerajaan Seongnam.”

“Permaisuri Seo Woo Rim mengungsi ke Seongnam?” tanya Jung Yong Hwa.

“Ya.”

“Kenapa Ayahanda?” tanya Kim Hyun Joong.

“Ada masalah dengan putra mahkota-pangeran Park Yong Ha, yang sekarang telah diangkat menjadi Kaisar Sungkyunkwan menggantikan ayahnya-Kaisar Song Jae Ho.”

“Persoalan apa?”

“Permaisuri Seo Woo Rim dipersilahkan meninggalkan Kerajaan Sungkyunkwan.

“Alasannya?”

“Ayahanda masih belum sempat berbicara panjang. Baru besok hari ayahanda akan berbicara dengan Permaisuri Seo Woo Rim. Tadi Permaisuri Seo Woo Rim nampak sangat letih.

“Dengan siapa Permaisuri Seo Woo Rim datang kemari?”

“Dengan putrinya-Putri Han Ga In.”

“Jadi Permaisuri Seo Woo Rim datang bersama dengan Putri Han Ga In?”

“Ya.”

“Lalu Permaisuri Seo Woo Rim akan tinggal di Seongnam?”

“Nampaknya memang begitu. Tetapi Ayahanda masih belum tahu pasti, meskipun demikian, Ayahanda telah memerintahkan menyiapkan sebuah tempat tinggal bagi Permaisuri Seo Woo Rim. Jika benar Permaisuri Seo Woo Rim akan tinggal di Seongnam, maka biarlah Permaisuri Seo Woo Rim tinggal di tempat itu dengan tenang dan tidak bersama Putri Han Ga In. Biarlah ibundamu menugaskan dua atau tiga orang pelayannya di rumah Permaisuri Seo Woo Rim serta seorang juru taman.”

“Kenapa pangeran Park Yong Ha sampai hati mengusir permaisuri Seo Woo Rim dari Sungkyunkwan?”

“Bagaimanapunn juga hubungan antara anak dan ibu tiri sering menimbulkan persoalan.” desis Master Kang Shin Il. “Meskipun tidak semuanya, ada seorang ibu tiri yang bersikap kurang baik terhadap anak tirinya, tetapi sebaliknya ada anak tiri yang bersikap tidak baik terhadap ibu tirinya.”

“Besok tidak ada salahnya jika Master Kang Shin Il juga ikut mendengarkan cerita Permaisuri Seo Woo Rim.”

“Baik Kaisar Ryu Seung Ryong, tetapi tentu saja aku hanya akan menjadi pendengar yang baik tanpa dapat melibatkan diri.”

“Mungkin Master Kang Shin Il dapat memberikan petunjuk jalan manakah yang terbaik. Pada dasarnya perselisihan antara ibu dan anak, meskipun anak tiri, dapat dijernihkan.”

Dan, ketika malam menjadi semakin larut, Kaisar Ryu Seung Ryong pun berkata kepada kedua puteranya “Kalian tentu letih, beristirahatlah. Biarlah Ayahanda duduk disini sebentar lagi dengan gurumu.”

“Baik, ayah.” Sahut Kim Hyun Joong, namun kemudian Jung Yong Hwa pun yang juga merasa letih, kemudian bangkit pula berdiri sambil berkata “Aku juga mohon diri untuk beristirahat.”

Keduanya pun kemudian telah meninggalkan Master Kang Shin Il dan Kaisar Ryu Seung Ryongdi serambi.

“Master Kang Shin Il, meskipun tidak Master Kang Shin Il katakan, tetapi ketika anak-anak menceritakan hambatan yang mereka alami, terasa ada sesuatu yang ingin Master Kang Shin Il sampaikan.”

Master Kang Shin Il tersenyum, katanya “Bukankah Kaisar Ryu Seung Ryong merasakan, betapa mereka berdua demikian ingin menceritakan apa yang telah terjadi?”

“Ya, Master Kang Shin Il.”

“Keduanya memang menjadi sangat marah kepada para perampok itu, sehingga mereka berdua telah hanyut kedalam arus perasaan mereka.”

Kaisar Ryu Seung Ryong masih mengangguk-angguk.

“Nah, aku merasa perlu untuk sedikit mengekang gejolak darah muda mereka. Ketika mereka mengejar para perampok yang melarikan diri, aku memang mencegahnya, maksud keduanya memang benar, mereka ingin menangkap setidak-tidaknya seorang dari mereka untuk menjadi sumber keterangan. Tetapi jika mereka dapat menangkap salah seorang dari perampok itu, maka perampok itu tentu sudah mati sebelum sempat berbicara juga.”

“Aku mengerti Master Kang Shin Il.” desis Kaisar Ryu Seung Ryong “Darah muda mereka masih mudah mendidih, sifat kemudaan mereka masih mereka kedepankan.”

“Seorang yang baru saja keluar dari sebuah perguruan, memang terdorong untuk menguji kemampuannya. Dibarengi dengan kemarahan yang menyala, maka keduanya agak kurang dapat mengendalikan diri.”

“Terima kasih atas pengamatan Master Kang Shin Il yang lengkap terhadap anak-anak itu.”

“Semoga untuk selanjutnya juga menjadi perhatian Kaisar Ryu Seung Ryong.”

Kaisar Ryu Seung Ryong pun mengangguk-angguk pula.

Namun beberapa saat kemudian, Kaisar Ryu Seung Ryong pun telah mempersilahkan Master Kang Shin Il untuk beristirahat. Sebuah bilik yang sudah dibersihkan dan diatur dengan rapi telah disiapkan bagi Master Kang Shin Il.

Dipagi hari berikutnya, ketika langit masih remang-remang. Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa sudah sibuk di pemandian, bergantian mereka menimba air untuk mengisi bak di pemandian.

“Biarlah saya yang mengisinya, Pangeran.” kata salah seorang pelayan di Kerajaan.
Tetapi mengisi bak di pagi hari adalah kewajiban yan harus mereka lakukan di perguruan. Sehingga rasa-rasanya ada yang terhutang jika mereka tidak mengisi bak. Karena itu, maka kepada pelayannya Jung Yong Hwa berkata “Biarlah aku mengisinya, pekerjaan ini selalu aku lakukan.”

“Tetapi tentu tidak di Kerajaan ini, Pangeran.”

“Disinipun aku tidak boleh melupakan kewajiban itu.”

Pelayannya tidak dapat memaksanya meskipun ia masih saja berdebar-debar, jika Kaisar Ryu Seung Ryong atau Permaisuri Lee Mi Sook melihatnya, maka mereka akan menjadi marah.

Tetapi ternyata tidak, ketika Kaisar Ryu Seung Ryong yang berdiri di pintu melihat Kim Hyun Joong menimba air selagi Jung Yong Hwa mandi, Kaisar Ryu Seung Ryong itu sama sekali tidak marah, dan bahkan tidak mencegahnya. Dibiarkannya Kim Hyun Joong terus mengisi bak pemandian.

Ketika matahari naik, Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa sudah siap untuk hadir di ruang utama Kerajaan bersama para pemimpin Kerajaan Seongnam. Master-master dari Perguruan Kangsan juga akan ikut hadir.

Sebelum Master Kang Shin Il masuk ke ruang utama kerajaan, ia melihat Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa mengenakan pakaian kebangsawanan Kerajaan.

“Sejak kalian berdua berada di perguruan, kalian berdua belum pernah ikut dalam pertemuan resmi seperti hari ini, bukan?”

“Belum. Guru, adalah kebetulan hari ini ayahanda memanggil para pemimpin Kerajaan untuk mengyelenggarakan sebah pertemuan resmi di ruang utama.”

“Kalian berdua nampak benar-benar seperti putra mahkota.”

“Ah, guru, ibunda tadi mengatakan, bahwa kemarin adalah hari ulang tahunku. Karena itu, maka ibundalah yang memberikan pakaian baru kepadaku, apalagi hari ini ayahanda menyelenggarakan sebuah pertemuan besar.”

“Hyung yang kemarin berulang-tahun, aku ikut pula menerima hadiah dari ibunda.”

“Besok, jika kau berulang-tahun, aku juga akan menuntut hadiah.” sahut Kim Hyun Joong.

Jung Yong Hwa tertawa, gurunya tertawa pula.


Bersambung (Season 3-Permaisuri Seo Woo Rim)...

Meraba Matahari (Season 1)


Season 1
Putra Mahkota


Ketika kabut mulai terkuak, maka cahaya fajarpun mulai mewarnai langit, namun titik-titik embun masih bergelayutan diujung dedaunan.

Dinginnya malam masih terasa, meskipun perlahan-lahan pucuk-pucuk pepohonan bagaikan bermunculan dari kegelapan di lembah-lembah perbukitan.

Di lereng bukit berbatu padas, dua orang anak muda yang berloncatan, saling menyerang dan bertahan, kedua-duanya memiliki bekal ilmu yang tinggi. Kaki-kaki mereka dengan tangkasnya melesat dari bongkah-bongkah batu padas ke bongkah-bongkah yang lain, seakan-akan terbang berputaran diantara bebatuan.

Sekali-kali serangan merekapun mengena, sekali-kali berbenturan dengan keras sekali sehingga keduanya tergetar dan terodorong mundur berberapa langkah.

Namun ketika cahaya langit menjadi semakin terang, maka keduanyapun menjadi semakin garang, tangan-tangan mereka yang luput dari sasaran dan menyentuh batu-batu padas di tebing, maka tebing itupun telah berguguran. Pepohonan bagaikan diguncang, cabang dan ranting yang tersentuh tangan kedua anak muda itupun berpatahan.

Bukit dibawah kaki mereka seakan-akan telah bergetar.

Seluruh tubuh anak muda itu sudah basah, bukan oleh embun saja, tetapi oleh keringat yang bagaikan diperas dari tubuh mereka. Untuk mengatasi rasa sakit dan nyeri, maka keringat merekapun menjadi semakin banyak mengalir.

Ketika seorang diantara mereka meloncat dengan cepatnya menyerang dengan kakinya dan tepat mengenai dada lawannya, maka lawannya telah terdorong mundur beberapa langkah. Tubuhnya membentur sebongkah batu padas, sehingga kemudian terbanting jatuh.

Dengan tangkasnya yang seorang lagi telah memburunya. Pada saat lawannya akan bangkit, maka kakinyapun telah terayun bersamaan dengan tubuhnya yang berputar.

Tetapi ternyata serangannya itu tidak mengenai sasaran, karena lawannya dengan cepat bergesar dan bahkan menjatuhkan dirinya.

Kaki yang sudah terlanjur terayun dengan derasnya itu telah menghantam batu padas pada tebing bukit padas itu.

Batu padas itupun telah pecah berserakan, untunglah bahwa lawannya dengan cepat berguling, melesat dan sekali berputar diudara, kemudian bangkit berdiri beberapa langkah dari tebing yang runtuh itu.

Bahkan dengan cepat pula, anak muda itu telah meloncat dengan tangan terjulur lurus. Jari-jarinya yang lurus merapat telah berhasil menyusup pertahanan lawannya mengenai lambung.

Lawannya terdorong mundur sambil menyeringai menahan sakit, namun pada saat anak muda itu siap memburu, terdengar suara tepuk tangan dari sela-sela bebatuan di bukit itu.

Kedua anak muda yang bertempur itupun berhenti dan berloncatan mundur mengambil jarak.
Keduanya pun kemudian berdiri tegak menghadap kepada orang yang bertepuk tangan itu. Serentak keduanya pun mengangguk hormat.

Seseorang yang sudah melewati usia setengah abad berdiri tegak sambil tersenyum memandang kedua orang anak muda itu. Orang itu masih terlihat kokoh meskipun rambutnya yang selembar-selembar berderai di bawah ikat kepalanya sudah memutih.

“Sudah cukup, kalian sudah berlatih hampir setengah malam, kalian berdua tentu sudah letih, mungkin di beberapa bagian tubuh kalian terasa sakit, nyeri dan barangkali pedih, marilah, kita pulang untuk berisitirahat.”

“Ya guru.” jawab keduanya hampir berbarengan.

Keduanya pun kemudian berjalan bersama di belakang orang tua itu.

Bertiga mereka berjalan di jalan setapak, di lereng perbukitan yang membujur sejajar dengan pantai lautan yang berombak ganas.

“Lihatlah murid-muridku.” berkata orang tua itu. “Gelombang itu bagaikan gejolak kehidupan, ia tidak pernah berhenti, susul menyusul dan silih berganti.”

Sambil berjalan diatas jalan sempit di perbukitan, mereka menyaksikan debur ombak yang tidak pernah ada hentinya, jika angin berhembus semilir, maka gejolak ombak itu memang agak mereda, tetapi jika langit menjadi buram, angin mulai menderu, maka prahara pun datang mendorong ombak yang semakin besar, sehingga seolah-olah beribu bukit berterbangan bertimbun di tepian. Namun kemudian kembali meluncur hanyut ke kedalaman lautan yang luas.

“Lihatlah gunung itu.” Orang tua itu berkata lagi.

Anak-anak muda itupun kemudian memandang kekejauhan. Sebuah gunung yang tinggi menjulang menggapai langit, mega-mega putih yang mengalir dari selatan, bagaikan telah tersangkut di ujungnya yang menjadi kemerah-merahan oleh cahaya matahari pagi yang mulai terbit.

“Didalam gejolak kehidupan yang kadang-kadang bagaikan diguncang oleh prahara, hati kita harus tetap sekukuh dan seteguh gunung itu.” Orang tua itu berkata lagi.

Sambil berjalan kedua orang anak muda itu masih juga memandangi gunung yang berdiri tegak dan tidak tergoyahkan oleh prahara dan badai, tidak tergeser oleh angin pusaran dan tidak menggeliat oleh panasnya api.

Beberapa saat kemudian, ketiga orang itu sudah mulai menuruni tebing perbukitan yang curam. Tanah berbatu padas dibawah kaki mereka kadang-kadang terasa licin oleh embun, tajamnya bebatuan terasa menusuk telapak kaki mereka.

Tetapi mereka sudah terbiasa, jari-jari mereka bagaikan mampu mencengkeram jika tanah terasa licin oleh embun. Tajamnya bebatuan terasa menusuk telapak kaki mereka.

Sekali-sekali mereka harus meloncati celah-celah perbukitan, menelusuri relung-relung yang tajam.

Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di lahan yang datar. Dijalan persawahan yang rata. Disekitarnya terdapat batang-batang padi yang hijau menebar sampai keujung pandang.

Ketiga orang itu berjalan dengan cepatnya melintasi pematang sawah menuju kesebuah perguruan yang terpencil, sebuah perguruan kecil yang letaknya terpisah dari sebuah perguruan yang terhitung besar.

Atas ijin Master Ahn Jae Wook, Master Kang Shin Il mendirikan sebuah perguruan kecil saja yang letaknya terpisah dari Perguruan Kangsan. Hubungan Master Kang Shin Il dengan Master Ahn Jae Wook cukup akrab, bahkan keduanya sudah menjadi seperti saudara sendiri.

Apalagi umur merekapun sebaya. Jika mereka bertemu, pembicaraan diantara merekapun selalu sejalan.

Disamping beberapap orang murid yang jumlahnya banyak, Master Kang Shin Il mempunyai dua orang murid utama. Dua orang murid yang dibanggakan oleh Master Kang Shin Il karena keduanya memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda sebayanya.

Keduanya adalah Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa, kakak beradik, putra Kaisar Ryu Seung Ryong dari Kerajaan Seongnam.

Kakak beradik itu umurnya tidak bertaut banyak, ketika Kim Hyun Joong belum dapat berjalan, ibunya sudah mengandung lagi, maka beberapa bulan kemudian lahirlah adiknya. Juga seorang laki-laki yang diberi nama Jung Yong Hwa. Dengan demikian maka umur mereka hanya bertaut kurang dari dua tahun.

Keduanya tumbuh dengan baik sebagaimana putera seorang kaisar. Sejak mereka mulai mengenali lingkungannya, maka Kaisar Ryu Seung Ryong sudah menugaskan orang-orang pintar untuk mendidik mereka dalam berbagai macam ilmu. Namun kemudian, menginjak remaja, maka merekapun telah diserahkan kepada Master Kang Shin Il. Seorang yang memilih satu lingkungan kehidupan di sebuah padepokan yang sepi.

“Aku titipkan anak-anakku kepadamu, Master Kang Shin Il.” Kata Kaisar Ryu Seung Ryong.

Master Kang Shin Il yang sedikit lebih tua dari Kaisar Ryu Seung Ryong itu menarik nafas panjang, Master Kang Shin Il adalah saudara tertua seperguruan dari Kaisar Ryu Seung Ryong.

“Terima kasih atas kepercayaan Kaisar Ryu Seung Ryong kepadaku, tetapi aku sendiri ragu, apakah aku akan dapat memikul kepercayaan itu. Sehingga hasilnya sesuai dengan keinginan Kaisar Ryu Seung Ryong.”

Kaisar Ryu Seung Ryong tersenyum, katanya “Aku mengenalmu dengan baik, kau pun mengenalku dengan baik pula.”

Master Kang Shin Il tertawa, katanya “Baiklah, aku akan membawa kedua putra Kaisar Ryu Seung Ryong itu ke perguruanku. Pada saat mereka menjadi dewasa penuh, aku akan membawa mereka kembali”

“Apakah selama itu mereka tidak boleh sekali-sekali pulang untuk menengok keluarganya? Ibunya tentu akan sangat merindukannya”

“Tentu, Kaisar, mereka berada di perguruanku tidak sebagai tawanan atau orang buangan, sehingga tidak boleh meninggalkan tempat. Tetapi mereka akan menjadi murid-murid utama perguruanku”
sejak saat itu, empat tahun lalu, dua orang remaja putra Kaisar Ryu Seung Ryong itu berada di perguruan yang dipimpin oleh Kang Shin Il. Namun seperti yang dimaksudkan oleh Kaisar Ryu Seung Ryong, bahwa sekali-sekali merekapun pulang karena keluarganya merindukannya.

Namun bukan saja kerinduan seorang ayah dan ibu, tetapi setiap Jung Yong Jwa dan Kim Hyun Joong pulang, Kaisar Ryu Seung Ryong selalu menilik kemajuan kedua orang putranya yang diasuh oleh Kang Shin Il itu.

Setiap kali Kaisar Ryu Seung Ryong tersenyum, ia bangga dengan kemajuan yang pesat dari kedua orang puteranya itu, kepercayaannya kepada saudara perguruannya tidak sia-sia.

Master Kang Shin Il sendiripun merasa bangga terhadap kedua orang muridnya itu, pada saat-saat terakhir, Master Kang Shin Il telah sampai pada puncak ilmu yang dapat diajarkannya kepada kedua orang muridnya yang telah menjadi dewasa penuh itu.

Sebagaimana yang dijanjikan kepada Kaisar Ryu Seung Ryong, jika keduanya telah menjadi dewasa penuh, maka mereka akan dibawa kembali ke Kerajaan.

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga telah memasuki sebuah perguruan yang tidak begitu besar. Dipagi hari, sebagian murid perguruan Kangsan sibuk menimba air mengisi kendi-kendi air, ada yang sibuk di dapur merebus air, yang lain berada di kandang ternak dan di kandang kuda.

Ketika para murid-murid itu melihat Master Kang Shin Il bersama dengan Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa memasuki perguruan, merekapun mengangguk hormat.

“Teruskan kerja kalian anak-anak” kata Master Kang Shin Il. “Kalian adalah anak-anak yang rajin dan terampil. Dengan demikian, maka perguruan kita akan selalu terpelihara kebersihannya. Jika Master Ahn Jae Wook datang kemari, maka ia akan tetap mengagumi kebersihan perguruan kita”

Master Kang Shin Il pun langsung pergi ke pusat bangunan perguruan itu bersama Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa.

“Duduklah nak, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kalian”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa termangu-mangu sejenak, tidak biasanya Master Kang Shin Il bersikap demikian bersungguh-sungguh seperti itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa telah duduk menghadap Master Kang Shin Il.

Kedua anak muda itu masih belum mengeringkan keringatnya, bahkan di beberapa bagian tubuh mereka masih terasa nyeri dan pedih. Ada beberapa luka yang menggores pada saat-saat tubuh mereka membentur batu-batu padas, bahkan kening Jung Yong Hwa masih nampak memar.

“Anak-anakku” kata Master Kang Shin Il, “Jika kalian ingat, maka hari ini adalah hari ulang tahun kelahiranmu Kim Hyun Joong. Kim Hyun Joong pada hari ini genap berusia dua puluh lima tahun, sedangkan kau Jung Yong Hwa dalam beberapa bulan lagi akan berusia genap dua puluh empat tahun, karena selisih usia kalian berdua tidak ada dua tahun.”

“Ya guru” Kim Hyun Joong mengangguk hormat “Aku ingat, bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku, tetapi menurut pendapatku, aku tidak merasa perlu mengadakan peringatan khusus pada hari ulang tahun ini, guru. Agaknya cukuplah jika aku sempat mengingatnya saja”

Master Kang Shin Il tertawa, katanya “Aku mengerti nak. Kau tentu tidak memerlukannya, yang ingin aku sampaikan adalah, bahwa kau sudah dewasa penuh, demikianlah pula dengan Jung Yong Hwa”

“Ya, guru”

“Dengarlah, ketika Kaisar Ryu Seung Ryong menitipkan kalian berdua di perguruanku ini, aku mengatakan, bahwa pada saat kalian sudah dewasa penuh, maka aku akan membawa kalian kembali ke kerajaan.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa menundukkan kepalanya.

“Nah, sekarang kalian sudah dewasa sepenuhnya, meskipun umur Jung Yong Hwa terpaut sekitar satu setengah tahun, tetapi menurut pendapatku, Jung Yong Hwa juga sudah dapat danggap dewasa sepenuhnya. Sementara itu ilmu yang aku ajarkan kepada kalian berduapun sudah tuntas. Kalian berdua adalah murid-muridku yang terbaik”

Keduanya terdiam, mereka sadar, bahwa dengan demikian mereka harus meninggalkan perguruan yang telah mereka huni sekitar empat tahun.

Selama empat tahun mereka menghirup udara di perguruan itu. Selama empat tahun mereka teguk airnya. Mereka makan hasil buminya dan selain semuanya itu, mereka telah menyadap ilmu pula dari gurunya, Master Kang Shin Il.

“Anak-anakku.” kata Master Kang Shin Il ketika dilihatnya kedua anak muda itu menunduk dalam-dalam “Sebenarnya perguruan ini bukan tempat terbaik bagi kalian. Kalian adalah putra-putra Kaisar Kerajaan Seongnam. Disini kalian bekerja keras untuk menyadap ilmu, sekarang, ilmu itu telah ada di dalam diri kalian, tentu saja hanya sebatas kemampuanku untuk menurunkan ilmu itu kepada kalian.” Master Kang Shin Il berhenti sejenak, lalu katanya lagi. “Nah, karena itu, sudah saatnya kalian pulang kerumah kalian di Kerajaan Seongnam.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa memang menyadari, bahwa pada suatu saat mereka memang harus meninggalkan perguruan ini, mereka harus kembali ke Kerajaan, apalagi ayah mereka, Kaisar Ryu Seung Ryong akan menjadi semakin tua, sehingga kehadiran mereka di Kerajaan Seongnam akan sangat diperlukan.

Pada tahun-tahun terakhir mereka berada di perguruan itu. Telah terjadi pergeseran kekuasaan di Kerajaan Sungkyunkwan, Kaisar Song Jae Ho, saudara tertua Kaisar Ryu Seung Ryong, telah meninggal. Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa, meskipun mereka masih berada di perguruan, namun mereka sempat pergi ke Kerajaan Sungkyunkwan bersama ayah dan ibu mereka untuk menghadiri pemakaman Kaisar Song Jae Ho. Merekapun sempat menghadiri acara pengangkatan yang menetapkan putra Kaisar Song Jae Ho, Pangeran Park Yong Ha untuk menggantikan kedudukan ayahnya, bergelar Kaisar Park Yong Ha di Kerajaan Sungkyunkwan.

“Anak-anakku.” kata Master Kang Shin Il. “Besok aku akan mengantar kalian pulang, aku akan menyerahkan kembali kalian kepada ayah kalian, Kaisar Ryu Seung Ryong. Sehingga apa yang aku ajarkan kepada kalian, sesuai dengan kehendaknya.

Kim Hyun Joong menark nafas dalam-dalam, dengan nada rendah ia pun kemudian berkata “Kami mengucapkan beribu-ribu terimakasih, guru. Disini kami sudah mendapatkan apa saja yang kami perlukan sebagai bekal hidup kami dikemudian hari.”

“Sebenarnya kami sudah terlanjur merasa terikat dengan kehidupan di perguruan ini, guru.” kata Kim Hyun Joong Lagi.

Master Kang Shin Il tersenyum, katanya “Jika aku menyerahkan kalian kepada ayah kalian, bukan berarti bahwa hubungan kita telah terputus. Kalian dapat datang kapan saja ke perguruan ini, kalian dapat bermalam disini atau bahkan tinggal disini beberapa hari asalkan ayah kalian mengijinkannya.”

“Ya, guru.” sahut Jung Yong Hwa sambil mengangguk hormat.

“Sejak dini hari tadi, aku sudah melihat kemampuan kalian berdua, apa yang dapat aku tuangkan kepada kalian, telah aku lakukan. Menurut pendapatku, pada suatu saat kalian menjadi dewasa seperti sekarang ini. Ilmu kalianpun telah menjadi matang pula. Karena itu, aku berkesimpulan, bahwa kalian memang sudah waktunya untuk kembali ke kerajaan. Mungkin ayah kalian memerlukan bantuan kalian dalam menjalankan pemerintahannya karena ayah kalian sudah menjadi semakin tua.”

“Nah, sekarang mandilah, aku sudah menyiapkan serbuk yang dapat meredakan rasa sakit pada tubuh dan dapat meneyembuhkan luka-luka kalian, terbarkanlah serbuk itu ke dalam bak mandi.”

“Ya, guru.”

“Marilah, kita ambil serbuk penghilang rasa sakit.”

Master Kang Shin Il pun kemudian telah memberikan masing-masing sebuah bumbung kecil yang berisi serbuk ramuan dari berbagi macam daun dan bunga yang terdapat di kebun belakang perguruannya, berdasarkan atas pengamatan dan penelitian dan pengalaman yang lama, maka Master Kang Shin Il telah dapat membuat ramuan yang akan sangat berarti bagi kedua orang anak muda itu.

Sebenarnya, setelah mandi dengan menaburkan serbuk didalam bumbung itu di bak mandi yang telah penuh diisi air, maka terasa alangkah segarnya tubuh mereka. Perasaan sakit, nyeri dan pedihpun telah hilang, meskipun sejak dini hari mereka berlatih dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka diatas perbukitan yang berbatu padas.

Setelah mandi dan berbenah diri, maka merekapun duduk di ruang dalam bersama Master Kang Shin Il, ada beberapa pesan yang disampakan oleh Master Kang Shin Il kepada kedua orang anak muda itu, karena hari itu adalah hari terakhir mereka di perguruan.

“Nah, berbicaralah dengan para murid-murik perguruan yang lain.” kata Master Kang Shin Il kemudian, bahwa besok kalian akan pergi meninggalkan perguruan ini.”

“Baik, guru” jawab Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa hampir berbarengan.

Sejenak kemudian, Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa telah berada diantara para murid-murid perguruan yang lain. Ada diantara mereka yang sudah bersiap berlatih, tetapi ada pula yang masih melakukan tugas-tugas rutin mereka.

Para murid-murid perguruan itu terkejut ketika mereka mendengar pernyataan Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa, bahwa besok mereka akan meninggalkan perguruan.

“Kalian berdua tidak akan kembali lagi kemari?” tanya salah seorang murid perguruan Kangsan.

“Tidak, maksudku, masa berguru kami sudah selesai, tetapi bukan berarti bahwa kami tidak akan pernah datang ke perguruan ini lagi, sekali-sekali kami tentu akan datang kemari.” jawab Kim Hyun Joong.

“Ada ikatan yang tidak dapat dengan serta-merta kami putuskan.” sambung Jung Yong Hwa.

Namun bagaimanapun juga, kepergian Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa membuat para murid perguruan Kangsan itu merasa kehilangan, setidak-tidaknya untuk sementara.

Esok harinya, pada dini hari, Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa telah bangun. Mereka segera mempersiapkan diri. Hari itu, mereka akan diantar oleh Master Kang Shin Il kembali ke Kerajaan Seongnam.

Kedua putra Kaisar Ryu Seung Ryong itu menyadari, bahwa kehidupuan di Kerajaan menurut gelar lahiriah tentu jauh lebih baik dari mereka dapatkan dalam kehidupan di perguruan itu yang tidak mereka dapat di Kerajaan. Di perguruan mereka hidup dalam suasana tenang dan damai. Tidak ada masalah yang dapat menimbulkan pertengkaran. Bukan berarti bahwa di perguruan itu tidak akan ada perbedaan pendapat. Tetapi mereka menanggapi perbedaan pendapat itu dengan sikap yang tenang. Kadang-kadang ada perbedaan pendapat yang sulit dipertemukan meskipun dengan bantuan beberapa orang guru yang lain. Namun dalam keadaan demikian, mereka yang berbeda pendapat itu akhirnya sepakat untuk berbeda pendapat. Yang satu tidak memaksakan pendapatnya kepada yang lain. Apalagi dengan menyatakan kebenaran pendapatnya bagi semua orang.

Sebelum matahari terbit, maka kedua orang anak muda itupun sudah siap. Demikiian pula Master Kang Shin Il. Kuda-kuda yang akan mereka pergunakan telah disediakan pula di samping halaman perguruan Kangsan.

“Kita akan singgah sebentar di rumah Master Ahn Jae Wook, sebaiknya kalian minta diri kepada Master Ahn Jae Wook.”

“Baik, guru.”

Ketika matahari terbit, maka merekapun meninggalkan perguruan Kangsan setelah Master Kang Shin Il memberikan beberapa pesan kepada muridnya. Seorang murid yang tertua, bukan saja umurnya, tetapi juga masa bergurunya telah diserahi untuk memimpin adik-adik seperguruannya.

“Mungkin aku akan bermalam di kerajaan.” kata Master Kang Shin Il kepada para muridnya.
Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Master Kang Shin Il, Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa pun telah melarikan kuda mereka menuju rumah Master Ahn Jae Wook.

Kedatangan Master Kang Shin Il bersama muridnya pagi-pagi sekali pada saat matahari baru terbit, telah mengejutkan Master Ahn Jae Wook.

“Maaf, Master Ahn Jae Wook.” kata Master Kang Shin Il .“Mungkin kami mengganggu atau bahkan mengejutkan Master Ahn Jae Wook, sebenarnya kami hanya ingin minta diri. Hari ini Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa akan kembali ke Kerajaan Seongnam.”

“Maksud Master Kang Shin Il, kembali pulang ke Kerajaan dan tidak datang lagi ke perguruan?”

“Waktu mereka tinggal di perguruan sudah habis. Seperti yang aku janjikan, aku akan mengembalikan mereka setelah mereka dewasa. Karena sekarang mereka sudah dewasa, dan tidak ada lagi yang dapat aku ajarkan kepada mereka, maka aku akan membawa mereka kembali ke kerajaan dan menyerahkannya kepada ayah mereka.”

“Kami berdua mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan hati Master Ahn Jae Wook.” kata Kim Hyun Joong kemudian.

“Apa yang telah aku lakukan? aku tidak berbuat apa-apa bagi kalian berdua. Nah, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan bagi kalian berdua. Semoga apa yang kalian dapatkan dari perguruan Kangsan yang dipimpin oleh Master Kan Shin Il akan dapat berarti bagi kalian berdua di masa datang. Baktiku kepada Kaisar Ryu Seung Ryong.”

“Terima kasih, Master Ahn Jae Wook, mudah-mudahan kita masing-masing selalu dirahmati oleh ALLAH Subhanallahi Wataala disepanjang hidup kita.”

Master Ahn Jae Wook tersenyum, setiap kali ia melihat kedua orang anak muda putra Kaisar Ryu Seung Ryong itu hatinya selalu bergetar. Master Ahn Jae Wook sendiri mempunyai lima orang anak, tetapi semuanya perempuan. Semuanyan telah bersuami pula. Tetapi Master Ahn Jae Wook yang baru mempunyai tiga orang cucu itu, ternyata semuanya juga perempuan.

“Aku ingin mempunyai keturunan laki-laki, semoga ALLAH menganugerahkan aku dengan cucu laki-laki.”

Tetapi Master Ahn Jae Wook masih berharap, salah seorang anaknya sedang mengandung, ia berharap anak yang akan lahir itu laki-laki. Jika anak itu perempuan, maka ia masih akan tetap memohon seorang cucu laki-laki.

Demikian, maka sejenak kemudian, Master Kan Shin Il bersama dengan Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa pun telah melarikan kuda mereka menuju ke Kerajaan Seongnam.

Ketika mereka meninggalkan perguruan Kangsan, masih terdengar kicau burung-burung liar yang hinggap di pepohonan. Sementara itu, matahari pun memanjat semakin tinggi, daun padi yang hijau subur, yang bergetar disentuh angin pagi, nampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.

Sementara embun masih nampak bergelayutan di ujungnya yang menunduk.

Master Kan Shin Il, Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa pun memang tidak melarikan kuda mereka terlalu kencang. Meskipun jarak yang akan mereka tempuh cukup panjang, namun mereka merasa bahwa perjalanan mereka tidak akan mengalami hambatan.

Mungkin mereka akan berhenti sebentar untuk beristirahat. Mungkin ada kedai yang memadai serta yang sekaligus dapat merawat dan memberikan makan kepada kuda-kuda mereka.

“Sebelum senja kita akan sampai.” kata Master Kan Shin Il.

“Jika kita berhenti beristirahat?”

“Ya, kita akan berhenti beristirahat sekali atau dua kali. Mungkin kita tidak sangat memerlukan kesempatan untuk beristirahat. Tetapi agaknya kuda-kuda kita memerlukannya.”

Sedikit lewat tengah hari, Master Kan Shin Il yang mengajak kedua orang anak muda itu untuk beristirahat di sebuah kedai. Menurut Master Kan Shin Il, kedua anak muda itu tentu tidak akan ada yang mengajaknya berhenti, sementara itu kuda mereka sudah nampak agak letih dan haus.

Ternyata sebuah kedai yang terletak tidak jauh dari sebuah pasar, menyediakan tenaga yang dapat merawat, memberi makan dan minum kuda yang kelelahan, maka mereka bertigapun telah berhenti di kedai itu sambil menyerahkan kuda-kuda mereka kepada seorang yang memang ditugaskan untuk itu.

Kehadiran Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa di kedai itu sama sekali tidak menarik perhatian, karena keduanya mengenakan pakaian orang kebanyakan. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri bahwa keduanya adalah putera seorang Kaisar.

Namun didalam kedai itu Kim Hyun Joong, Jung Yong Hwa dan Master Kang Shin Il tertarik kepada pembicaraan beberapa orang yang lebih dahulu berada di kedai itu, mereka menceritakan bahwa keadaan Kerajaan Seongnam mulai tidak aman. Sekali-sekali terdengar berita tentang perampokan di jalan-jalan yang sepi. Bahkan ada perampok yang berani melakukannya disiang hari.

“Guru.” desis Kim Hyun Joong “ Apa selama ini guru tidak pernah mendengar berita seperti itu?”

Master Kang Shin Il menggeleng, katanya perlahan-lahan “Yang aku ketahui selama ini Kerajaan Seongnam adalah sebuah kerajaan yang tenteram. Tidak terdapat gejolak kejahatan yang pernah mengusik ketenangan kehidupannya.”

“Tetapi menurut orang itu..?”

Master Kang Shin Il mengangguk-angguk.

Sebenarnya mereka mendengar dengan jelas, bahwa Kerajaan Seongnam mulai disentuh oleh perbuatan-perbuatan jahat.

“Tetapi semuanya itu baru kita dengar dari pembicaraan orang di sebuah kedai, guru.” kata Kim Hyun Joong.

“Ya. Mudah-mudahan yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang kita dengar itu.”

“Mungkin yang terjadi itu tidak terjadi di Kerajaan Seongnam, guru.” berkata Jung Yong Hwa. “Atau jika perampokan itu bernar terjadi mungkin di daerah perbatasan Kerajaan Seongnam dan Kerajaan Sungkyunkwan. ”

“Ya, meskipun demikian, jika di dekat perbatasan telah terjadi kerusuhan, maka yang tinggal selangkah itu tentu akan segera terjadi pula.”

Jung Yong Hwa mengangguk sambil menjawab. “Ya, guru.”

“Bagaimanapun juga apa yang kita dengar ini akan kita laporkan kepada Kaisar Ryu Seung Ryong. Apa salahnya kita berjaga-jaga orang-orang itu tentu bukan sekedar membual, meskipun mungkin yang terjadi tidak tepat seperti apa yang mereka perbincangkan itu.”

“Guru.” kata Jung Yong Hwa. “Kita juga akan melewati jalan di dekat perbatasan dengan Kerajaan Sunkyunkwan kan?”

“Ya, tetapi mudah-mudahan kita tidak menemui hambatan.”

Demikianlah, beberapa saat kemudian, setelah mereka minum dan makan serta kuda-kuda mereka pun sudah puas beristirahat serta sudah kenyang pula, maka mereka bertigapun melanjutkan perjalanan mereka menuju pusat pemerintahan Kerajaan Seongnam.

Sejenak kemudian, kuda-kuda mereka telah berlari lagi menyusuri jalan-jalan berbatu. Mereka bertiga memutuskan untuk mengambil jalan terdekat, meskipun bukan jalan yang terbaik. Jalan yang mereka lalui justru akan melewati semak belukar, bahkan melewati sebuah hutan rimba yang berada di perbatasan.

Rasa-rasanya mereka justru ingin membuktikan, apakah yang dibicarakan oleh orang-orang yang berada di kedai itu memang benar.

“Mungkin kita mendapatkan kesan-kesan tertentu yang dapat membenarkan atau justru bertentangan dengan yang dibicarakan oleh orang di dalam kedai itu.” kata Kim Hyun Joong.

Master Kang Shin Il tidak mencegahnya, sebagai putra seorang Kasiar, keduanya tentu ingin mengetahui keadaan sebenarnya dari wilayah kekuasaan ayahnya.

Kuda mereka masih berlari, sekali-sekali jalan menanjak naik, namun kemudian jalan pun menurun dengan tajamnya. Sekali-sekali mereka menyeberangi sungai yang tidak begitu besar sehingga airnya pun tidak begitu dalam.

Ketika matahari mulai beranjak turun, maka Jung Yong Hwa pun berkata “Kita akan segera sampai di jalan yang terdekat dengan perbatasan, Hyung.”

“Ya, Jung Yong Hwa. Dekat dengan perbatasan Kerajaan Sungkyunkwan yang sekarang pemerintahannya dipegang oleh Raja Park Yong Ha.”

“Apakah keadaan di Kerajaan Sungkyunkwan manjadi semakin memburuk sepeninggalnya Raja Song Jae Ho, sehingga terjadi kerusuhan di beberapa tempat, bahkan mengalir ke Kerajaan Seongnam?”

“Kita belum tahu pasti Dongsaeng.”

“Bagaimana menurut pendapat guru? apakah Raja Park Yong Ha tidak mampu mengendalikan Kerajaan Sungkyunkwan setangkas Raja Song Jae Ho?”

“Aku kurang mengenal Raja Park Yong Ha. Tetapi Aku mengetahui bahwa Raja Park Yong Ha berguru kepada seorang yang aku kenal dengan baik.”

“Atau ada orang yang tidak menyenanginya sehingga dengan sengaja menimbulkan keresahan?”

“Masih banyak yang perlu kita ketahui, muridku.”

Ketiganyapun terdiam sejenak, kuda-kuda mereka masih berlari di jalan yang semakin dekat dengan hutan yang panjang.

Namun tiba-tiba saja Jung Yong Hwa itupun berkata “Hyung, jangan-jangan justru kerusuhan itu terjadi di Kerajaan Seongnam, baru merembes ke Kerajaan Sungkyunkwan”

“Jika demikian, kita harus dengan cepat bukan saja menumpasnya, tetapi juga mencari sebabnya.”

“Ya.” Jung Yong Hwa mengangguk-angguk.

Ketika kemudian mereka mendekati sebuah tikungan, pada jarak terdekat dengan hutan yang memanjang, Master Kang Shin Il berkata “Berhati-hatilah, murid-muridku.”

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa yang patuh kepada gurunya itu memperlambat kudanya. Ketika mereka sampai di kelok jalan, maka keduanya benar-benar berhati-hati.”

Untunglah, bahwa Master Kang Shin Il telah memberi peringatan kepada mereka. Sehingga mereka menarik kendali kuda mereka. Beberapa langkah dari tikungan terdapat akar-akar hutan yang menyilang jalan. Akar-akar hutan yang sengaja diikat pada dua batang pohon yang berseberangan setinggi dada orang yang berkuda.

Kim Hyun Joong dan Jung Yong Hwa yang berada di depan segera berhenti dan meloncat turun. Mereka sadar, bahwa mereka berhadapan dengan bahaya yang dapat mencancam jiwa mereka.

Master Kang Shin Il kemudian turun pula dari kudanya, jika saja mereka tidak berhati-hati, maka akar-akar hutan akan dapat menjebak mereka, sehingga mereka akan terpelanting dari kuda-kuda mereka.

Dengan geram Kim Hyun Joong berkata “Jika apa yang dikatakan orang di kedai itu bukan sekedar dongeng. Sekarang kita hadapi kenyataan itu disini. Bukankah kita masih tetap berada di Kerajaan Seongnam?”

“Ya, Hyung. Kita masih berada di Kerajaan Seongnam. Jika memang benar, bahwa telah terjadi kerusuhan di Kerajaan Seongnam, kejadian yang sebelumnya belum pernah mengotori udara Kerajaan ini.”

Master Kang Shin Il berdiri termangu-mangu, dipandanginya hutan yang tinggi beberapa langkah saja itu.

Mereka memang berada diruas jalan yang terdekat dengan hutan di perbatasan itu.

Sejenak mereka bertiga berdiri termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak berniat dengan cepat menghindar dari kemungkinan buruk menghadapi orang-orang yang telah dengan sengaja menyilangkan akar-akar hutan itu. Bahkan mereka bertiga seakan-akan menunggu, apa yang akan terjadi kemudian memskipun mereka dapat saja merunduk, menyusup dibawah akar-akar hutan itu dan melarikan kuda mereka.

Sebentar kemudian, tiba-tiba saja mereka mendengar suara tertawa, empat orang bertubuh tinggi, berbadan kekar dan berwajah garang muncul dari dalam hutan.

Seorang diantara mereka berkata “Luar biasa, jarang sekali orang yang sempat menghindari jebakan kami. Apalagi orang yang berkuda dari arah tikungan. Tetapi kalian sempat menarik kendali, sehingga kuda kalian berhenti sebelum akar-akar hutan itu melemparkan kalian dari kuda-kuda kalian.”


Bersambung (Season 2 – Kerajaan Seongnam)...

Senin, 06 Desember 2010

Trio Detektif (Chapter 1)


Chapter 1
Tamu Kejutan

"Apa kira-kira yang akan terjadi seandainya dulu aku memutuskan untuk menjadi seorang kriminal super?" Eunhyuk berspekulasi.

Pada hari yang panas itu ia dan Donghae sedang duduk di keteduhan bengkel Eunhyuk yang terletak di luar rumah. Mereka sedang sibuk bekerja dengan tumpukan barang bekas terbaru hasil belian Paman Kim Min Joon, paman Eunhyuk.

Donghae, penyelidik yang tinggi dan berotot, menjatuhkan obeng yang sedang digunakannya membuka bagian belakang sebuah jam dinding tua. Ia menatap Eunhyuk dengan mulut terbuka.

"Apa katamu?"

"Aku bilang, apa kira-kira yang akan terjadi seandainya dulu aku memutuskan untuk menjadi seorang kriminal super," ulang Eunhyuk. "Kau ingat rencana para perampok bank yang menyewa orang-orang kerdil untuk menyamar sebagai kurcaci? Pemimpin perampok itu menawarkan untuk menjadikan aku anak didiknya dan melatihku menjadi penjahat nomor satu. Aku hanya iseng-iseng berpikir apa yang akan terjadi seandainya waktu itu kuterima tawarannya."

"Kemungkinan besar kau sekarang terkurung di Penjara Seoul bersama anggota gang itu yang lain," kata Donghae.

"Hm," gumam Eunhyuk, "aku hanya ingin tahu."

Anak-anak itu sedang bergembira karena sehari sebelumnya mereka mengetahui bahwa mereka akan diberi penghargaan oleh Namchoseon Teenage Club sebagai warga teladan atas jasa-jasa mereka terhadap masyarakat sebagai detektif junior sukarela. Bersama seorang pemenang yang lain mereka akan menerima hadiah sebesar 5 Juta pada suatu acara penghargaan di Balai Kota. Teman mereka, Chief Lee Joon, akan bertindak sebagai pembawa acara. Hadiah itu akan mereka bagi tiga, yang berarti masing-masing akan memperoleh kurang lebih 1 Juta 600 ribu!

"Menurutku seorang penjahat super harus merancang suatu kejahatan super. Sesuatu yang direncanakan dan dilaksanakan dengan sempurna," kata Eunhyuk lagi.

"Kau tidak sungguh-sungguh berniat menjadi seorang penjahat bukan?!" seru Donghae.

"Rasanya tidak," Eunhyuk menyeringai. "Tapi sekali waktu seorang penyelidik yang bagus harus berpikiran seperti seorang kriminal untuk mengetahui cara mereka berpikir."

"Seandainya aku diberi 100 Ribu setiap kali mendengar kau berkata ...," omongan Eunhyuk terputus dengan kedatangan Yesung, seorang remaja berpenampilan seorang kutu buku.

"Hai, Yesung. Mengapa kau begitu lama?"

"Miss G.NA Choi menyuruhku memperbaiki sampul buku-buku tua. Kupikir aku takkan pernah bisa keluar dari sana." Yesung bekerja paruh waktu di Perpustakaan Umum Namchoseon. Pekerjaannya itu sungguh berguna dalam melakukan riset-riset untuk kasus-kasus Trio Detektif.

"Sudahkah kalian memutuskan apa yang hendak kalian lakukan dengan uang hadiah itu?" Yesung bertanya penuh semangat.

"Aku akan menghabiskannya di Sixpac Magic – Fitness Center!" Donghae tertawa.

"Aku akan membeli sepeda baru. Kau, Eunhyuk?"

"Sudah menjadi keputusanku bahwa biro penyelidik kita dapat menginvestasikan penghargaan finansial itu pada sebuah komputer," jawab Eunhyuk. "Paling tidak sebagai uang mukanya."

"Saudara-saudara, serahkan saja pada Eunhyuk untuk bersenang-senang dengan uang yang demikian banyak!" Donghae berkata sinis.

Mereka terus bercakap-cakap dengan antusias tentang apa yang akan mereka lakukan dengan hadiah itu, sampai terdengar seruan Bibi Lee Yo Won memanggil mereka. Suaranya bergema di sela-sela tumpukan barang bekas yang sengaja mereka letakkan secara strategis. Bibi Lee Yo Won adalah seorang wanita yang berhati besar. Hanya satu yang lebih besar daripada hatinya, kemampuannya menemukan anak-anak malas dan menyuruh mereka bekerja keras. Meskipun Paman Kim Min Joon yang berburu barang bekas, Bibi Lee Yo Won-lah yang sesungguhnya menjalankan bisnis barang bekas mereka. Dan kini suaranya menuntut perhatian.

"Eunhyuk!" serunya. "Di mana lagi kau sekarang? Kau kedatangan tamu. Chief Lee Joon ada di sini mencarimu!" Kemudian ia berpaling untuk melayani seorang pembeli.

Ketiga remaja itu saling berpandangan, terkejut.

"Menurutmu apakah ia lupa memberi tahu sesuatu tentang acara penghargaan itu?" tanya Yesung, melompat turun dari tempatnya duduk di atas mesin cetak.

"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya!" Eunhyuk bangkit. "Menemui dia!"

Mereka berjalan zig-zag melalui sela-sela tumpukan barang bekas menuju suatu gerbang besar, pintu masuk ke Gyeongbokgung Workshop. Chief Lee Joon berdiri menunggu di sana di sebelah mobil patrolinya. Eunhyuk segera sadar bahwa petugas polisi itu nampak aneh. Mereka sudah cukup lama bekerja sama sehingga Eunhyuk dapat menyimpulkan dari raut wajah Chief Lee Joon bahwa ia sedang berada dalam stres.

"Halo, Chief Lee Joon. Sepertinya Anda datang untuk urusan pekerjaan dan bukan tentang penghargaan," kata Eunhyuk.

"Tepat sekali, Eunhyuk. Tapi bagaimana kau bisa menebaknya?" Chief Lee Joon menjawab dengan alis terangkat. Yesung dan Donghae menatap Eunhyuk dengan kebingungan yang sama.

"Saya selalu berusaha untuk tidak menebak jika jawabannya sudah jelas. Ada yang bisa kami bantu?"

"Begini, Trio Detektif," kata Chief Lee Joon, nampak malu-malu, "ada pencurian di Gyeonggi Bakery tadi malam ...."

"Dan Anda ingin kami membantu menemukan pencurinya," kata Donghae penuh semangat.

Sudah beberapa minggu berlalu sejak kasus terakhir mereka dan mereka tidak sabar menunggu misteri selanjutnya.

"Sayangnya tidak, Donghae," jawab Chief Lee Joon lambat-lambat. "Begini ... kalian bertiga adalah tersangka utama!"

"APA?!" mereka berseru serempak.

Bibi Lee Yo Won menjatuhkan sapu yang sedang dipegangnya dan bergegas menghampiri. "Apa maksudnya semua ini, Chief Lee Joon?!" tukasnya. "Kau kenal baik dengan anak-anakku ini, kau seharusnya lebih tahu!" Wanita itu mendengus dan berjalan menuju ke kantor. "Yeobo, cepat keluar!"

"Tenang, Bibi Lee Yo Won," Chief Lee Joon menenangkannya. "Aku yakin ada penjelasan yang masuk akal."

Sementara Chief Lee Joon berusaha meredakan amarah bibi Lee Yo Won, Paman Kim Min Joon berjalan menuju gerbang utama. Paman Kim Min Joon adalah seorang lelaki bertubuh tinggi – suami Bibi Lee Yo Won. Matanya berbinar-binar sembari ia mengisap pipa di sela-sela bibirnya. "Ada masalah apa, Chief Lee Joon?" tanyanya tenang.

"Gyeonggi Bakery dimasuki pencuri semalam," ulang Chief Lee Joon. "Kami tidak punya petunjuk apa-apa... kecuali ini." Ia menunjukkan selembar kartu nama milik Trio Detektif itu, tersegel dalam sebuah kantong plastik tempat barang bukti.

"Oh, itu salah satu kartu nama dari club kalian, Anak-anak!" Bibi Lee Yo Won menahan nafas. Lee Yo Won tahu bahwa keponakannya dan teman-temannya itu yang sudah dianggap seperti anak kandung sendiri olehnya dan suaminya – Kim Min Joon itu mengadakan rapat secara teratur tapi ia tidak pernah sadar bahwa mereka adalah penyelidik serius yang telah membantu memecahkan beberapa peristiwa kejahatan nyata. Tak peduli berapa kali Eunhyuk memberi tahunya, ia tetap menganggap perusahaan mereka sebuah Club.

Sementara itu Eunhyuk mengamat-amati kartu di tangan Chief Lee Joon dengan seksama dan mencubiti bibir bawahnya ... suatu tanda bahwa otaknya sedang berputar kencang.

"Boleh saya lihat, Chief Lee Joon?" tanyanya.

Chief Lee Joon menyerahkan kantong barang bukti dengan kartu di dalamnya. Eunhyuk menatapnya selama beberapa menit. Ia membaliknya dan memandang bagian belakang, lalu kembali ke bagian depan. Yesung dan Donghae mendekat dan ikut memandang melalui bahu Eunhyuk. Tulisannya:

TRIO DETEKTIF
"Kami Menyelidiki Apa Saja"

Penyelidik Pertama...........Eunhyuk Lee
Penyelidik Kedua............Donghae Lee
Catatan dan Riset..............Yesung Kim


"Waduh! Ada pencuri menjatuhkan kartu nama kita!" seru Donghae.

"Anda bilang ini ditemukan di lokasi kejahatan?" tanya Eunhyuk sambil mengerutkan kening.

"Tepat sekali, Eunhyuk," jawab Chief Lee Joon. "Tepat di sebelah mesin kasir yang kosong. Ny. Ha Ji Won, pemiliknya, baru saja memasang seperangkat sistem pengaman yang canggih dua minggu lalu. Menurutnya ia sering membuat roti sampai larut malam dan harus bekerja sendirian. Tidak mudah bagi seorang pencuri untuk membobol sistem itu. Sekarang Ny. Ha Ji Won sangat cemas."

"Pencuri itu hanya mengambil uang dari mesin kasir?" tanya Eunhyuk, agak heran. "Tidak ada lagi yang dicuri atau dirusak?"

"Tidak satupun. Dan inilah yang lucu," Chief Lee Joon nampak tegang. Hari yang panas serasa semakin panas dan Chief Lee Joon melonggarkan dasinya dan membuka kancing kerahnya. "Menurut Ny. Ha Ji Won tidak ada peralatan yang dirusak dan bahkan tidak ada satu Roti pun yang diambil. Dan ia sangat yakin bahwa di dalam mesin kasir hanya ada 200 Ribu!"

Bersambung…

Tanah Warisan (Chapter 8)


Sekali lagi lewat sekilas ingatannya tentang sikap ayah Kim So Eun kepadanya. Tetapi tidak bijaksana baginya apalagi ia segera bertanya. Ia tidak akan merusak suasana pertemuan yang membuat dadanya serasa menjadi retak.

Ketika ibunya kemudian pergi ke dapur merebus air, maka Kim Bum berjalan berputaran di dalam setiap ruang rumahnya. Tidak ada yang berubah, selain menjadi kotor dan rusak. Tetapi sesuatu telah mengembang di dalam hatinya. Aku akan menjadikan rumah ini seperti beberapa puluh tahun yang lalu. Semasa ayah masih seorang yang kaya raya.

Setelah minum beberapa teguk dan mandi di sumur di belakang rumah, maka Kim Bum kemudian bercerita tentang dirinya. Pengalamannya selama ia meninggalkan rumah ini. "Orang tua itu sangat baik bu," katanya.

"Aku tinggal di rumahnya seperti aku tinggal di rumah sendiri. Aku dianggapnya sebagai anaknya. Apalagi orang tua itu memang tidak mempunyai seorang anakpun".

"Tuhan menuntun jalanmu sampai ke rumah yang baik itu nak."

"Ya ibu," jawab Kim Bum.

"Aku diketemukannya di pinggir sungai ketika aku beristirahat. Hampir-hampir aku mati kelaparan. Tetapi Tuhan masih melindungi aku."

"Bersyukurlah nak," sahut ibunya.

"Lalu apa yang kau katakan kepadanya, ketika kau bermaksud pulang ke rumah ini?"

"Aku berkata terus terang. Aku rindu kepada ibu, kepada rumah ini dan kepada tanah ini."

"Apa ia tidak berkeberatan?"

"Tidak ibu. Sama sekali tidak. Bahkan ia mengatakan padaku, kapanpun aku akan kembali kesana, ia akan dengan senang hati menerimaku kembali dirumahnya.”

"Oh, apakah kau masih akan kembali kepadanya?"

"Maksudku, aku dapat menengoknya untuk sehari dua hari. Lebih baik aku pergi bersama ibu pada suatu ketika."

"Senang sekali ibu mendengarnya, Kim Bum."

"Tetapi lebih daripada itu ibu, aku telah dipercaya olehnya untuk mewarisi ilmunya."

"Ya, ilmu bela diri. Aku telah mendapat pelajaran tata bela diri sebaik-baiknya. Aku sangat berterima kasih kepadanya. Kepada kepercayaan itu."

"Oh," tiba-tiba wajah perempuan tua itu menjadi cemas.

"Kenapa kau pelajari ilmu semacam itu nak?"

"Apa salahnya?"

Perempuan itu tidak menyahut. Tetapi wajahnya menjadi suram, dilemparkannya pandangan matanya yang sayu ke sudut yang gelap. Kemudian terdengar suaranya parau. "Ayahmu juga mempelajari ilmu semacam itu dahulu."

Kim Bum tidak segera menjawab. Ia melihat ibunya justru menjadi kecewa.

Dengan demikian maka sejenak mereka dicekam dalam kesenyapan. Masing-masing membiarkan angan-angannya meloncat ke saat-saat yang lampau. Kim Bum yang masih kecil saat itu tidak dapat mengerti lebih banyak lagi, kenapa ayahnya mati terbunuh dalam perkelahian yang tidak adil. Beberapa orang telah mengeroyoknya beramai-ramai. Betapapun tinggi ilmu ayahnya itu, namun untuk menghadapi beberapa orang yang berilmu pula, sepertinya ia tidak mampu. Kekuatan lawan-lawannya berada di luar kemungkinan perlawanannya. Sehingga akhirnya ia harus terkapar mati berlumuran darah.

Dan Kim Bum yang kecil itu sudah tidak tahu bahwa di antara mereka yang membunuh ayahnya adalah orang-orang desa ini sendiri. Tetapi ibunya sudah dapat menangkap lebih banyak persoalan daripada Kim Bum yang kecil. Perempuan itu tahu benar, bahwa perselisihan itu timbul di lingkaran judi. Dalam perselisihan yang demikian, maka tidak ada seorang pun yang mampu menahan hatinya lagi. Dan terjadilah akibat yang mengerikan itu. Suaminya terbunuh.

Masih terbayang di rongga matanya, apa yang terjadi saat itu, seperti baru kemarin malam. Darah yang merah mengalir dari kening dan pelipis suaminya. Tiga buah tusukan melubangi dada dan lambungnya. Yang paling pedih adalah, gunjingan orang-orang yang melihat peristiwa itu. "Tidak ada yang dapat disalahkan. Setelah Cha Seung Won menjadi miskin, maka sifatnya tidak lebih baik dari seekor serigala".

Dan ternyata kemudian, bahwa akibat yang timbul tidak hanya terhenti sampai disitu. Meskipun Ny. Kim Sun Ah itu telah merasakan, bahwa orang-orang di sekitarnya, para tetangganya, telah mulai menjauhi keluarganya, namun sejak meninggalnya suaminya sikap itu menjadi semakin nyata. Hanya dalam soal-soal yang sangat penting, orang-orang disekitarnya bersedia menghubunginya. Mereka berbicara kadang-kadang sekali, sekadar satu dua patah kata.

Dengan demikian maka hidupnya kemudian menjadi terasing. Justru setelah ia menjadi miskin. Setelah semua kekayaannya satu-satu mengalir kelingkaran judi.

Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditatapnya wajah anaknya yang masih menunduk. "Ilmu bela diri itu akan selalu membawa malapetaka nak," desisnya kemudian.

Bersambung…

Tanah Warisan (Chapter 7)


Kim Bum menarik nafas dalam-dalam.

Kemudian dipaksanya kakinya melangkah memasuki halaman yang kotor itu.

Yang pertama-tama disentuhnya, adalah sarang labah-labah yang menyangut diwajahnya. Perlahan-lahan Kim Bum melangkah menunju ke tangga teras. Rumah itu masih juga berdiri, diatas tiang yang kokoh kuat, tiang-tiang yang lain masih juga tampak kuat. Tetapi ketika ia menengadah, maka atap rumah itu sudah dipenuhi oleh lubang-lubang sebesar kelapa.

"Selama ini ibu tinggal seorang diri di rumah ini," desisnya. Apabila ketika diingatnya sikap ayah Kim So Eun terhadapnya. Maka desisnya, "Apakah demikian pula sikapnya terhadap ibu?"

Pertanyaan itu telah mendorongnya semakin cepat menaiki tangga terasnya dan langsung menunju pintu utama. Dari lubang-lubang dinding yang retak ia melihat sederet sinar yang kemerah-merahan menerangi ruangan dalam rumah itu.

Dengan tangan gemetar ia mengetuk pintu rumahnya. Perlahan-lahan, kemudian semakin lama semakin keras.

"Siapa di luar?" terdengar suara parau seorang perempuan.

Kim Bum akan menyahut. Tetapi sesuatu terasa menyumbat kerongkongan, sehingga ia harus mendehem beberapa kali.

"Siapa di luar?" terdengar suara itu sekali lagi.

"Aku, aku," suara Kim Bum pun gemetar pula.

"Aku siapa?"

"Aku ibu, Kim Bum."

"He," perempuan tua yang sudah berbaring dipembaringannya itu terloncat berdiri. Tetapi ia tidak segera percaya kepada pendengarannya. Sekali lagi ia bertanya, "Siapa di luar?"

"Kim Bum ibu."

"Kim Bum, Kim Bum," perempuan itu kemudian berlari sehingga hampir saja ia jatuh terjerembab ketika kakinya menyentuh sudut pembaringannya. Dengan tergesa-gesa dibukanya pintu rumahnya.

Ketika pintu rumah itu terbuka, sepercik cahaya lampu minyak meloncat keluar, mengusap wajah anak muda yang berdiri dengan kaki gemetar di muka pintu yang sudah sepuluh tahun ditinggalkannya. "Kim Bum," suara perempuan itu seolah-olah menyangkut dikerongkongannya pula.

Anak muda itu tidak sempat menjawab, ketika tiba-tiba saja perempuan tua itu memeluknya. Menciumnya seperti masa kanak-kanaknya dahulu. Terasa setitik air mata hingga dipundaknya yang bidang. "Kau akhirnya pulang nak."

"Ya ibu. Aku harus pulang. Tidak ada tempat lain yang paling baik untukku daripada tanah ini. Daripada rumah ini dan halaman ini."

"Ya, ya anakku. Aku memang sudah menyangka bahwa kau akan pulang. Karena itu, betapa hatiku pedih, aku tetap tinggal di rumah ini sambil menunggumu".

"Sekarang aku sudah pulang. Ibu tidak akan sendiri lagi. Aku akan membantu ibu dalam kerja sehari-hari. Aku akan membersihkan halaman. Memperbaiki rumah kita yang rusak".

"Tentu. Tentu Kim Bum. Kau tidak boleh pergi lagi. Kau harus tinggal dirumah ini apapun yang terjadi. Karena rumah ini, halaman ini, adalah rumah kita. Tanah ini adalah Tanah Warisan yang tidak akan dapat dimiliki oleh orang lain. Meskipun aku hampir mati kelaparan, tetapi tanah ini tidak akan aku serahkan kepada siapapun dengan ganti apapun lagi."

Kim Bum tidak menjawab. Yang terdengar kemudian adalah isak tangis ibunya sambil menariknya masuk. Dengan suara yang patah-patah perempuan tua itu berkata. "Marilah Kim Bum. Masuklah. Jangan kau tinggalkan lagi rumah kita ini".

Kim Bum pun kemudian masuk ke dalam ruang yang sudah lama ditinggalkannya itu. Setelah menutup pintu dan menguncinya kembali, Kim Bum mengamat-amati setiap sudut ruangan. Tiang-tiang itu masih juga berdiri dengan kokohnya. Kayu-kayu rumah yang kekuning-kuningan. Dinding yang masih kuat meskipun kotor. Seperti rumah itu, yang paling parah adalah atapnya.

"Tetapi tidak sulit untuk memperbaikinya," desisnya di dalam hati. Aku akan mencari daun lontar, kemudian untuk sementara, sebelum sempat membuat atap kayu, biarlah aku sulami saja dengan daun lontar."

Kim Bum terkejut ketika ia mendengar suara ibunya. "Duduklah nak. Inilah rumahmu sekarang."

"Biarlah bu," jawab Kim Bum, "Besok aku akan memperbaikinya. Aku akan membuat rumah ini seperti rumah kita beberapa puluh tahun yang lalu."

"Oh," perempuan itu mengangkat wajahnya, namun kesan yang dengan tiba-tiba membayang, segera lenyap. Bahkan ia pun kemudian tersenyum, "Ya anakku. Kau harus memperbaiki rumah ini. Betapapun kesan orang-orang disekitar kita."

Bersambung…

Tanah Warisan (Chapter 6)


Kim Bum menjadi semakin tertunduk. Terbayang sekilas di rongga matanya wajah kakaknya, Jung Yunho yang kini sama sekali tidak diharapkannya untuk bertemu lagi.

“Dan sekarang,” terdengar suara Kim So Eun, “Apakah kau akan pulang ke rumah yang sudah kira-kira sepuluh tahun kau tinggalkan itu?”

Kim Bum mengangguk lemah. Jawabnya, “Ya, aku akan pulang ke rumah itu. Ibuku masih ada di dalam rumah itu.”

Namun tiba-tiba Kim Bum mengangkat wajahnya, “Bukankah ibuku masih ada di rumah itu?”

Kim So Eun mengangguk. Jawabnya, “Ya, ibumu masih tinggal di rumah itu.”

Kim Bum mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ibu pasti sudah menjadi tua.”

“Seperti kau Kim Bum. Ibumu tampak jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.”

“Aku dapat membayangkan. Betapa berat beban hidupnya. Sementara sumber penghasilannya sudah habis sama sekali.”

Kim So Eun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kedatanganmu pasti akan menjadi obat keprihatinannya selama ini.”

“Ya, aku mengharapkan demikian.”

“Tentu, sudah tentu,” potong Kim So Eun.

Tetapi ketika Kim So Eun masih ingin berbicara dengan Kim Bum, tiba-tiba ia tertegun. Didengarnya sesorang memanggilnya, “Kim So Eun, hei apa yang sedang kau lakukan?”

Barulah gadis itu sadar, bahwa ia bukan Kim So Eun yang dahulu. Yang masih pantas bermain berkejaran dengan Kim Bum. Dan Kim Bum itu pun bukan Kim Bum yang dahulu pula. Ia kini seorang anak muda yang sudah dewasa. Karena itu, maka tiba-tiba wajahnya menjadi merah. Sambil menundukkan kepalanya ia berkata, “Maaf Kim Bum. Aku dipanggil ayah.”

“Ayahmu datang ke mari Kim So Eun.”

“Oh,” Kim So Eun mengangkat wajahnya memandang ke ayahnya yang dengan tergesa-gesa mendekatinya. “Dengan siapa kau berbicara, Kim So Eun?” tanya ayahnya.

“Anak yang sudah lama hilang dari permainan di desa kita ayah. Kini ia kembali.”

“Siapa,” orang tua itu mencoba mengamat-amati wajah Kim Bum, tetapi ia tidak segera dapat mengenalnya. “Aku tidak mengenal anak ini.”

“Tentu ayah mengenalnya. Tetapi sepertinya ayah tidak punya waktu untuk mengenal wajah anak-anak waktu itu. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu.”

“Oh, sepuluh tahan yang lalu.”

“Ya ayah. Inilah Kim Bum putra Tn. Cha Seung Won dan Ny. Kim Sun Ah ".

“He?” orang tua itu mundur selangkah. “Jadi kau anak Tn. Cha Seung Won?”

“Ya paman,” sahut anak muda yang bernama Kim Bum itu.

“Oh, anak Tn. Cha Seung Won sudah sebesar ini kau rupanya?”

“Ya paman,” anak muda itu mengangguk pula.

Kim Bum menjadi heran ketika wajah orang tua itu semakin tegang. Tiba-tiba ia meraih tangan anak perempuannya dan menariknya sambil berkata. “Ayo kita pulang. Jangan berhubungan lagi dengan anak muda itu,” Lalu kepada Kim Bum ia berkata, “Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan Tn. Cha Seung Won.”

“Ayah,” potong Kim So Eun, “Kenapa dengan ayah?”

Tetapi orang tua itu menarik tangan Kim So Eun, “Ayo Kim So Eun, kita pulang.”

Kim So Eun tidak dapat membantah lagi. Sambil berlari-lari ia mengikuti langkah ayahnya, karena tangannya masih juga ditarik oleh ayahnya itu.

Kim Bum berdiri kebingungan. Kenapa ayah Kim So Eun itu bersikap demikian terhadapnya? Anak muda itu kemudian menundukkan kepalanya. Ia mencoba mengerti akan sikap itu. Dicobanya untuk mengenang, apa saja yang pernah dilakukan oleh ayahnya di masa kecilnya. “Ayah memang bukan seseorang yang terlampau baik,” katanya di dalam hati.

“Tetapi ia dahulu seorang yang kaya, seorang yang disegani, dicintai oleh tetangga. Namun ketika ayah menjadi miskin, serentak mereka menjauhkan dirinya. Dan bahkan ayah harus mati dalam keadaan yang paling menyedihkan.”

Kim Bum menggeram. Diangkatnya wajahnya. Dengan sorot mata yang berapi-api ia memandang pedesaan yang terbentang dihadapannya. Semakin lama menjadi semakin kabur, karena cahaya matahari menjadi semakin suram dan bahkan kemudian menjadi merah kehitam-hitaman. “Aku akan pulang. Apapun yang akan terjadi,” geramnya.

Tiba-tiba langkahnya justru menjadi tegap. Dadanya tengadah dan matanya memandang lurus ke depan. Dengan tidak menghiraukan apapun lagi ia berjalan kemulut lorong desanya. Satu dua ia masih bertemu dengan orang-orang yang terlambat pulang dari sawah. Tetapi orang-orang itu sama sekali tidak memperhatikannya. Orang-orang itu pada umumnya sudah tidak dapat mengenalnya lagi. Tetapi langkahnya kemudian tertegun pula ketika ia sudah berdiri di pintu gerbang halaman rumahnya yang rusak.

Terasa sesuatu menyangkut dikerongkongannya. Rumah ini seolah-olah telah menjadi rumah hantu. Gelap dan mengerikan.

Halamannya pun sudah tidak ubahnya lagi dengan sebuah hutan kecil yang pekat dengan berbagai macam pepohonan liar.

Bersambung…

Jumat, 03 Desember 2010

Tanah Warisan (Chapter 5)


TANPA sadar anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bergumam lagi. "Pohon Jati itu masih ada disana, masih sama seperti kira-kira sepuluh tahun yang lalu."

Perlahan-lahan kepalanya terangguk-angguk. Kemudian kakinya yang kotor oleh debu, mulai bergerak-gerak terayun selangkah mendekati perkampungan Desa Gwangju. Tetapi anak muda itu tidak segera masuk ke dalam perkampungan itu. Sejenak ia masih dibayangi oleh keragu-raguan.

Karena itu, maka kemudian, sambil beristirahat ia ingin melihat, apakah ia masih berhak untuk memasuki desa itu kembali. Perlahan-lahan diletakkannya dirinya, duduk di bawah pohon jati. Diikutinya setiap gerak yang tertangkap oleh matanya. Anak-anak yang berlari sambil membawa binatang yang baru saja digembalakannya. Orang-orang tua yang pulang dari sawah, dan anak-anak muda yang kembali, setelah mereka bersembunyi digubug-gubug peristirahatan mereka.

Tiba-tiba dadanya berdesir ketika ia melihat seorang gadis lewat beberapa langkah didepannya sambil menjinjing sebuah keranjang. Sepertinya ia baru pulang dari sawahnya, memetik daun singkong. Sekilas anak muda itu merasa bahwa ia pernah mengenal gadis itu. Tentu saja semasa kanak-kanak. Hampir sepuluh tahun yang lalu. Tanpa sadar tiba-tiba ia berdiri dan melangkah mengikutinya. Dan hampir tanpa sadar pula ia memanggil. "Kim So Eun."

Gadis itu terkejut, sehingga langkahnya pun terhenti. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang anak muda berdiri tegak dibelakangnya. Sejenak gadis yang bernama Kim So Eun itu berdiri dengan tegangnya. Ia tidak segera dapat mengenali, siapakah yang telah memanggilnya itu. "Kau tentu saja tidak mengenal aku lagi bukan, Kim So Eun?" tanya anak muda itu.

Kim So Eun mencoba mengingat-ingat. Namun akhirnya bibirnya yang tipis itu bergerak menyebut sebuah nama, "Jung Yunho."

Tetapi sekali lagi Kim So Eun terkejut ketika ia melihat wajah itu benar-benar berkerut-kerut. Bahkan tampaklah bahwa anak muda itu menjadi kecewa. Sambil menggelengkan kepalanya ia menjawab, "Bukan Kim So Eun. Aku bukan Jung Yunho anak setan itu."

"Oh," Kim So Eun menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, "Jadi kau, adiknya. Kim Bum."

Kepala anak muda itu terangguk lemah. Terdengar suaranya parau. "Ya, aku Kim Bum."

"Aku hampir tidak dapat mengenalimu lagi Kim Bum," kata Kim So Eun sambil melangkah mendekat.

"Kau sudah sedemikian besar dan gagah. Kemanakah kau selama ini? Kau dan kakakmu Jung Yunho telah menghilang dari Desa kami lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Wajahmu benar-benar mirip dengan wajah kakakmu. Dimana kita masih kanak-kanak, tidak terlampau sulit membedakan, yang manakah Jung Yunho dan yang manakah Kim Bum, karena umurmu terpaut agak banyak dari kakakmu. Tetapi wajah itu sukar dibedakan kini."

"Apakah kau pernah melihat Jung Yunho akhir-akhir ini?" tanya Kim Bum.

Kim So Eun menggeleng, "Tidak. Tetapi menurut bayangan angan-anganku, wajahnya tidak terpaut banyak dengan wajahmu. Apalagi kau tampak jauh lebih tua dari umurmu".

Kim Bum mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ya. Aku bekerja berat selama ini. Tetapi bukankah Jung Yunho pergi jauh lebih dahulu dari kepergianku."

Kim So Eun mengingat-ingat sebentar. Jawabannya kemudian. "Ya. Aku ingat sekarang. Jung Yunho memang pergi lebih dahulu dari kau. Waktu itu aku masih terlampau kecil. Karena itulah maka aku tidak begitu ingat lagi akan wajah itu. Tetapi wajah itu benar-benar seperti wajahmu sekarang. Bahkan semasa kecil wajahmu itu tidak seperti wajahmu kini."

Bersambung...

Tanah Warisan (Chapter 4)


Ketika orang-orang berkuda itu berpacu lewat di depan pintu gerbang rumah tua, tempat perempuan tua itu tinggal, terdengar salah seorang dari mereka sempat berteriak. "Hei Ny. Kim Sun Ah, kenapa kau tidak menyambut kedatangan kami?"

Perempuan tua, penghuni rumah yang kotor dan rusak, yang dipanggil Ny. Kim Sun Ah, menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak berani keluar dari rumahnya, meskipun ia tahu bahwa orang-orang berkuda itu tidak akan memasuki rumahnya karena tidak ada sesuatu yang akan dapat mereka ambil. Meskipun demikian, berita yang didengarnya sedikit-sedikit tentang orang-orang berkuda itu telah membuatnya menjadi ngeri.

"Sebenarnya lebih baik bagiku untuk tidak melihat apa saja yang terjadi di Desa ini," desisnya.

Tetapi perempuan tua itu tidak dapat pergi dari rumahnya. Apapun yang terjadi di desa itu, apapun yang dialaminya, baik yang ditimbulkan oleh ketakutannya tentang orang-orang berkuda, maupun sikap orang-orang Desa itu sendiri tidak terlampau baik kepadanya, juga betapapun rumahnya telah menjadi onggokan kayu bakar yang tidak berarti, ia akan tetap tinggal di rumah itu.

Di halaman yang luas itu. Karena rumah itu adalah rumah peninggalan.

Tanah yang didiaminya itu adalah Tanah Warisan.

"Aku ingin mati di dalam rumah ini," desisnya setiap kali.

"Meskipun seandainya aku akan tertimbun oleh atapnya yang roboh karena hujan atau angin."

Panggilan orang-orang berkuda itu ternyata telah menumbuhkan kebanggaannya kepada orang yang bernama Cha Seung Won. Seorang laki-laki tampan, tegap dan berani. Tetapi laki-laki itu telah mati. Laki-laki itu di masa hidupnya adalah suaminya. Kemudian dikenangnya kedua anaknya laki-laki. Kedua anaknya telah pergi meninggalkannya ketika mereka masih terlampau muda. Bahkan masih kanak-kanak. Tanpa diketahuinya kemana mereka itu pergi.

Kini, ia hidup sendiri menunggui sebuah halaman yang luas di rumah yang besar. Namun keadannya tidak lagi seperti beberapa puluh tahun yang lalu. Rumah itu sudah tidak lagi memancarkan sesuatu, selain wajah perempuan tua yang cekung dan dalam. Tetapi meskipun perempuan yang bernama Ny. Kim Sun Ah itu, seakan-akan hidup terpisah dari orang-orang disekitarnya, namun ia dapat merasakan kegelisahan yang sangat telah membakar Desanya.

Orang-orang yang paling penting, yang dianggapnya paling kuat diseluruh Desa, tidak berdaya untuk melindungi rakyatnya dari sentuhan jari-jari orang yang menyebut dirinya Raja So Ji Sub.

Demikianlah perempuan tua yang bernama Ny. Kim Sun Ah itu hidup terasing di dalam masyarakat yang sedang dibayangi oleh ketakutan, kengerian dan kecemasan. Sehingga dengan demikian, maka terasa hidupnya menjadi semakin sepi. Rumahnya yang besar dan halamannya yang luas menjadi semakin lama semakin suram. Tetapi tanah itu tidak akan ditinggalkannya, sampai maut merabanya.

Tanah warisan itu akan ditungguinya sampai akhir hayatnya.

"Kalau saja, anak-anak itu ingat kembali kepada Tanah ini," katanya setiap kali di dalam hatinya.

"Mereka pasti akan datang. Mudah-mudahan umurku masih sempat melihat salah seorang atau bahkan kedua-duanya kembali ke rumah ini."

Dan setiap kali perempuan itu berdoa sambil menyesali segala kesalahan yang pernah dilakukannya.

Kemudian, orang-orang berkuda yang dipimpin oleh Yoo Seung Ho telah menjadi semakin jauh dari Desa yang telah dijadikan korbannya. Desa Gwangju.

Dengan gembira mereka kembali kepada pimpinan tertinggi mereka yang menyebut dirinya Raja So Ji Sub, karena mereka merasa bahwa perjalanan mereka kali ini cukup memberi harapan untuk mendapatkan kepercayaan yang lebih besar lagi dari Raja So Ji Sub.

Dengan demikian, maka mereka tidak menaruh perhatian sama sekali ketika mereka melihat seseorang berdiri tegak di atas pematang sawah di pinggir jalan yang mereka lalui.

Hanya sekali Yoo Seung Ho melihat seorang anak muda dengan pakaian yang kusut, memandang orang-orang berkuda itu dengan penuh keheranan. Selebihnya, anak muda itu tidak menarik sama sekali. Namun sebaliknya, orang-orang berkuda itulah yang telah menarik perhatian anak muda itu. Berbagai macam pertanyaan telah menyentuh dinding hatinya. Tetapi ia sama sekali tidak berbuat sesuatu selain memandanginya sampai hilang di belakang debu putih yang mengepul dari bawah kaki-kaki kuda mereka.

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sadar dipandanginya langit yang telah menjadi kemerah-merahan. Matahari telah menjadi semakin rendah di arah barat.

"Desa itu hampir tidak berubah," desisnya.

Bersambung...

Tanah Warisan (Chapter 3)


Laki-laki tua itu tidak menyahut. Kedipan matanya sajalah yang seolah-olah berteriak menyuruh orang-orang itu pergi segera dari rumahnya.

"Jangan terlampau kikir." kata Yoo Seung Ho kemudian.

"Semua harta bendamu itu tidak akan dapat kau bawa mati. Bukankah umurmu sudah menjelang enam puluh lima tahun."

Laki-laki tua itu mengangguk.

"Nah, seharusnya kau sudah tidak memikirkan harta benda lagi. Kau buang sajalah semua kekayaanmu, supaya tidak membuat jalanmu menjadi gelap."

Sekali lagi Yoo Seung Ho tertawa. Kemudian direbutnya cincin yang masih dipegang oleh laki-laki tua itu. Dengan suara menggelegar Yoo Seung Ho kemudian berkata. "Baik-baiklah di rumah. Aku minta diri." Tanpa menunggu jawaban, Yoo Seung Ho itu segera melangkah keluar, turun kehalaman dan langsung meloncat ke punggung kudanya.

Sejenak kemudian terdengarlah ledakan cambuk disusul dengan derap kuda menjauh. Tetapi kuda-kuda itu akan segera berhenti lagi, memasuki halaman rumah yang lain dan memeras penghuni-penghuninya sambil menakut-nakutinya dengan ujung pedangnya.

Sepeninggal orang-orang berkuda itu, barulah istri laki-laki tua yang kehilangan cincinnya bersama anak gadisnya berani keluar dari persembunyiannya. Dengan tubuh gemetar mereka bertanya, apa saja yang telah dibawa oleh orang- orang berkuda itu.

"Syukurlah," kata isterinya. "Kalau hanya sebuah cincin, kita akan merelakannya. Seribu kali rela."

"Huh," potong laki-laki tua itu. "Aku menabung sejak aku masih muda."

"Tetapi masih ada yang lain yang tinggal di rumah ini," kata isterinya.

"Lihat, kelak mereka akan kembali dan kembali lagi. Semua kekayaan kita akan dikurasnya sampai habis."

"Tetapi itu lebih baik daripada nyawa kita yang diambilnya."

Laki-laki tua itu menarik nafas dalam. "Tetapi ini tidak dapat berlangsung terus menerus," geramnya. "Lalu, apakah yang dapat kita lakukan? Apakah kita akan mengungsi saja?"

"Tidak ada tempat lagi di kolong langit ini. Orang-orang besar saling berebut kekuasaan, maka kita kehilangan perlindungan. Orang-orang yang merasa dirinya kuat, berbuat sewenang-wenang untuk kepentingan diri mereka sendiri. Seperti apa yang dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya Raja So Ji Sub."

Laki-laki itu berhenti sejenak, lalu, "Sepanjang umurku baru sejak Deoksugung menjadi kisruh itulah aku mendengar nama Raja So Ji Sub. Kalau keadaan tidak segera menjadi baik, maka akan timbul pula ditempat lain orang-orang serupa itu, dan menyengsarakan rakyatnya"

Istri dan anak gadisnya tidak menyahut. Namun ketakutan yang sangat telah membayang di wajah mereka. Dengan suara tertahan-tahan isterinya berkata sekali lagi, "Kita mengungsi dari tempat ini. Kita mencari tempat yang paling aman. Kita akan dapat hidup tentram meskipun tidak sebaik ditempat ini."

"Sudah aku katakan, tidak ada tempat yang baik saat di Deoksugung telah menjadi panas. Sebentar lagi Deoksugung akan meledak, dan Gyuparkjesun akan menjadi bara yang terlampau panas. Semua tempat akan mengalami gangguan serupa. Tidak ada seorang prajurit pun yang sempat melindungi rakyatnya dari gangguan orang-orang gila macam Raja So Ji Sub itu."

Isterinya tidak segera menyahut. Ia tidak dapat membayangkan, bagaimanakah bentuk harapan suaminya itu. Karena itu, maka ia hanya dapat menundukkan kepalanya sambil memeluk anaknya.

"Sudahlah Bu," kata laki-laki tua itu.

"Sementara ini kita tidak akan diganggu lagi, sampai saatnya iblis itu datang dibulan depan. Aku kira mereka akan memerlukan sesuatu lagi dari aku dan orang-orang lain yang dianggapnya cukup di Desa ini. Sekarang beristirahatlah. Berlakulah seperti biasa. Tidak ada apa-apa. Setidak-tidaknya untuk sebulan mendatang."

Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian bersama anaknya mereka pergi ke ruang belakang.

Di serambi belakang beberapa orang pembantu dan pelayan, menggigil ketakutan tanpa dapat berbuat sesuatu.

Demikianlah maka sepanjang hari itu, Yoo Seung Ho memasuki beberapa rumah untuk mengambil apa saja yang dianggapnya berharga. Setelah kerja itu dianggapnya selesai, maka kuda-kuda mereka pun segera berderap pergi meninggalkan desa itu di dalam ketakutan dan kecemasan. Sepeninggal orang-orang berkuda itu, beberapa orang laki-laki yang bersembunyi bertebaran di semak-semak liar, saling bermunculan. Dengan tergesa-gesa mereka pulang ke rumah masing-masing. Mereka ingin segera tahu, apakah rumah-rumah mereka pun telah didatangi pula oleh Yoo Seung Ho. Terutama yang merasa mempunyai simpanan sesuatu di dalam rumahnya.

Bersambung...

Tanah Warisan (Chapter 2)


Orang berkuda itu turun di sebuah halaman yang bersih dari sebuah rumah yang bagus. Beberapa orang kawannya pun turun pula sambil mengacung-acungkan senjata masing-masing.

“Jangan sembunyi,” teriaknya.

Tetapi pintu rumah itu masih tertutup rapat.

“Buka pintunya,” ia berteriak lagi. “Kalau tidak, aku bakar rumah ini. Cepat.”

Perlahan-lahan pintu rumah itu terbuka. Seorang laki-laki tua menjengukkan kepalanya dengan tangan gemetar. “Ha, kau ada di rumah. Jangan mencoba bersembunyi ya?”

“Tidak,” jawabnya dengan suara yang bergetar aku tidak bersembunyi.”

“Tetapi kau tidak mau membuka pintu rumah ini.”

“Aku berada dibelakang.”

“Jangan banyak bicara. Sekarang serahkan permintaanku sebulan yang lalu.”

Laki-laki tua itu terdiam sejenak. Tetapi tubuhnya yang gemetar menjadi semakin gemetar.

“Ayo jangan banyak tingkah.”

“Tetapi, tetapi,” suaranya tergagap. “Aku sudah menyerahkan pajak itu kepada kepala desa yang akan membawanya ke Deoksugung bersama upeti yang lain.”

“Aku tidak bertanya tentang upeti. Kau jangan mengigau lagi tentang Deoksugung, atau kerajaan iblis sekalipun. Dengar. Sekarang sengketa antara Deoksugung dan Gyuparkjesun menjadi semakin tajam. Kedua pasukan berhadapan di daerah Hyunghuiyeong. Mereka tidak akan sempat mengurus pajak dan upeti. Karena itu, maka tugas mereka itu pun telah kami ambil alih. Kalian tidak usah menyerahkan apapun lagi kepada Kepala Desa, sebab ia tidak akan menyerahkannya kepada Kaisar Park Shin Yang yang sedang sibuk berkelahi melawan putranya sendiri itu. Yang berperang biarlah berperang. Aku ingin melakukan tugas-tugas yang lain. Misalnya memungut pajak.”

Orang tua itu menjadi semakin gemetar. Kini orang berkuda itu telah berdiri didepannya. Ketika sekali tangannya disentakkan kemuka, orang tua itu terpelanting keluar.

“Berlakulah agak sopan sedikit menerima tamu,” kata orang berkuda itu.

Tertatih-tatih orang tua itu mencoba berdiri. Kemudian katanya, “Tetapi, tetapi, semuanya telah terlanjur aku serahkan kepada Kepala Desa Gwangju.”

Namun belum selesai ia berkata, tangan orang berkuda itu telah menarik leher bajunya.

“Apa kau bilang? Bukankah sebulan yang lalu aku telah berkata kepadamu, bahwa kau harus menyerahkannya kepadaku, kepada kami? Kepada Raja So Ji Sub?”

“Tetapi, tetapi....... suaranya terputus ketika sebuah pukulan menyentuh pipinya yang telah berkerut. “Ampun, ampun,” teriaknya sambil tertatih-tatih. Sejenak kemudian laki-laki tua itu terbanting jatuh terlentang.

“Berikan kepadaku seperti permintaanku. Kalau tidak, maka aku mengambilnya sendiri ke dalam rumahmu. Ingat, aku adalah Yoo Seung Ho, utusan terpercaya Raja So Ji Sub mengerti?”

Orang tua itu kini telah mengigil. Matanya dibayangi oleh perasaan takut tiada terhingga.

“Cepat,” teriak orang yang menamakan dirinya Yoo Seung Ho.

“Tetapi..........,” sekali lagi suaranya terpotong. Kini ujung pedang Yoo Seung Ho telah menyentuh dada orang tua itu. “Apakah kau masih akan berkeberatan.”

Orang tua itu tidak dapat ingkar lagi. Kepalanya kemudian tertunduk lesu. Dengan suara gemetar ia menjawab. “Baiklah, aku akan menyerahkan apa yang masih ada padaku.”

“Bagus. Cepat. Aku masih banyak pekerjaan. Hari ini aku harus memasuki sepuluh pintu rumah.”

Orang tua yang malang itu kemudian menyeret kakinya yang lemah masuk kedalam rumahnya diikuti oleh Yoo Seung Ho. Beberapa orang kawannya tersebar dihalaman dengan senjata masing-masing siap ditangan mereka. Betapa pun beratnya, orang tua itu terpaksa menyerahkan sebuah cincin emas yang selama ini disimpannya baik-baik. Tetapi ia masih lebih sayang kepada umurnya yang tinggal sedikit daripada kepada cincin emas itu.

“Ini adalah satu-satunya milikku yang paling berharga,” kata orang tua itu.

Yoo Seung Ho tertawa. Suaranya berkepanjangan seolah-olah menelusuri setiap sudut ruangan. Katanya, “Kau sangka aku dapat mempercayaimu? Kau sangka aku tidak tahu bahwa kau menyimpan banyak cincin emas yang lain, yang justru bertahtakan dengan intan dan berlian. Aku dengar kau juga mempunyai banyak permata? Kau sangka aku tidak tahu, bahwa kau telah berhasil memeras orang-orang disekitar sini dengan segala macam cara? Huh, jangan mencoba membohongi aku. Kau tahu, bahwa orang-orangku sebagian adalah orang-orang Desa sini. Orang-orang yang mengerti betul, apa yang tersimpan disetiap rumah disini.”

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia merasa, bahwa lebih baik diam daripada membuat Yoo Seung Ho itu marah.

“Baiklah,” kata Yoo Seung Ho kemudian. “Aku akan minta diri. Kali ini aku sudah cukup dengan cincin emas ini.”

Bersambung...

Kamis, 02 Desember 2010

Tanah Warisan (Chapter 1)


AWAN yang kelabu mengalir dihanyutkan oleh angin yang kencang ke Utara. Segumpal bayangan yang kabur melintas di atas sebuah halaman rumah yang besar. Kemudian kembali sinar matahari memancar seolah-olah menghanguskan tanaman yang liar di atas halaman yang luas itu.

Seorang perempuan tua berjalan tertatih menuruni tangga rumahnya. Kemudian memungut beberapa batang kayu yang dijemurnya di halaman. Sekali-kali ia menggeliat sambil menekan punggungnya.

Dengan telapak tangannya yang kisut dihapusnya keringat yang menitik di keningnya.

"Hehhh," perempuan itu berdesah.

"Kalau saja mereka masih ada di rumah ini." perempuan itu kini berdiri tegak. Ditengadahkan wajahnya kelangit, dan dilihatnya matahari yang telah melampaui di atas kepalanya.

Tanpa sesadarnya diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Keningnya berkerut ketika dilihatnya halaman rumahnya yang menjadi liar karena tidak terpelihara. Rumah besar yang kotor dan rusak. Kandang yang kosong dan lumbung yang hampir roboh.

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kembali ia membungkukkan punggungnya, memungut beberapa batang kayu bakar yang dijemurnya di halaman. Ketika perempuan itu melihat seseorang berjalan di lorong depan halaman rumahnya, maka ia mencoba menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Tetapi orang itu memalingkan wajahnya, dan berjalan semakin cepat.

"Hem," sekali lagi perempuan tua itu berdesah. Di pandanginya orang itu sampai hilang dibalik dinding halaman rumah sebelah. Sejenak kemudian dengan langkah yang berat perempuan itu melangkah masuk ke rumahnya yang kotor dan rusak, langsung pergi ke dapur.

Perlahan-lahan ia berjongkok di depan perapian. Sebuah panci berisi air terpanggang di atas api. Satu-satu dimasukannya batang-batang kayu bakar yang kering ke dalam lidah api yang menjilat-jilat. "Kalau anak-anak itu ada di rumah," sekali lagi ia berdesah. Seleret kenangan meloncat ke masa lampaunya. Kepada anak-anaknya. Dua orang anak laki-laki. Tetapi keduanya tidak ada disampingnya. Tetapi perempuan tua itu mencoba menerima nasibnya dengan tabah. Kesulitan demi kesulitan, penderitaan demi penderitaan lahir dan batin telah dilampauinya. Namun seolah-olah seperti sumber air yang tidak kering-keringnya. Terus menerus datang silih berganti.

"Hukuman yang tidak ada habisnya," desahnya. Namun kemudian ia mencoba menempatkan dirinya untuk menerima segalanya dengan ikhlas.

"Semua adalah akibat dari kesalahanku sendiri."

Perempuan itu tiba-tiba terkejut ketika ia mendengar langkah beberapa orang berlari-lari. Semakin lama semakin dekat. Perlahan-lahan ia berdesis. "Apakah mereka datang lagi?"

Ia bangkit berdiri ketika langkah-langkah itu semakin banyak berderap di jalan didepan pintu gerbang halamannya bahkan ada di antaranya yang meloncat memotong melintasi halaman rumahnya.

"Tidak ada gunanya mereka berlari-lari," gumam perempuan tua itu sambil melangkah ke pintu. Ketika kepalanya menjenguk keluar, dilihatnya beberapa orang yang terakhir melintas di bawah pohon-pohon liar dihalaman rumahnya. Sejenak kemudian perempuan tua itu mendengar derap beberapa ekor kuda datang. Semakin lama semakin dekat.

"Mereka benar-benar datang," desisnya. Dan perempuan itu benar-benar melihat orang berkuda melintas cepat di jalan di depan rumahnya. Cepat-cepat perempuan tua itu menutup pintu rumahnya. Sambil menahan nafasnya ia bergumam.

"Apalagi yang akan mereka lakukan di dusun ini?" Dan ia tidak berani membayangkan, apa saja yang telah dilakukan oleh orang-orang berkuda itu.

Sementara itu, orang-orang berkuda itupun telah memasuki beberapa buah rumah sambil berteriak-teriak kasar. Seorang yang berkumis dengan sebuah pedang di tangan berteriak-teriak.

"Ayo serahkan permintaanku sebulan yang lalu."

Bersambung...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...