Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Jumat, 17 Desember 2010

Meraba Matahari (Season 9)


Season 9
Patih Han Jung Soo


“Jangan-jangan seisi Desa ini sudah mengungsi?” seorang diantara mereka pun bertanya.

“Jika desa induk ini kosong, maka rumah di desa induk ini akan kita bakar.” sahut yang lain.

Panglima Siwon sendiri, yang berjalan paling depan, masih belum berkata apa-apa, tetapi ia berjalan semakin cepat, agaknya ia langsung pergi ke rumah Tn.Cha Seung Won.

Ketika mereka melewati sebuah gardu perondaan, maka seperti di desa-desa, gardu perondaan kosong, tidak seorangpun yang meronda malam ini, bahkan obornyapun tidak menyala sama sekali. Malam terasa demikian mencengkam, sepi dan tegang.

Para perampok itu menjadi gelisah bukan karena mereka akan mendapat perlawanan, tetapi mereka justru menjadi gelisah karena desa induk itu terasa sepi sekali.

Namun ketika Panglima Siwon yang gelisah itu mendorong sebuah pintu pagar halaman rumah di pinggir jalan utama itu, ia melihat lampu yang menyala, bahkan kemudian ia pun mendengar suara bayi yang menangis.

Panglima Siwon menarik nafas dalam-dalam, desa ini tidak kosong, penghuninya masih ada di rumah mereka masing-masing, jika mereka pergi mengungsi, maka tentu tidak akan terdengar suara bayi yang menangis di rumah sebelah.

Karena itu, maka Panglima Siwon melangkah semakin cepat. Namun Panglima Siwon itu berhenti di luar sebuah pagar halaman rumah yang luas, halaman rumah Tn.Cha Seung Won, seorang saudagar yang kaya.

“Rumah ini adalah sasaran kita.” berkata Panglima Siwon sambil mendorong pintu pagar halaman itu perlahan-lahan, demikian pagar itu terbuka, maka Panglima Siwon itu pun melihat lampu yang menyala, bahkan di dalam rumah itu pun nampak pula cahaya lampu yang terang.

“Kita tidak kehilangan korban kita malam ini.” kata Panglima Siwon.

Iapun kemudian memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bergerak masuk.

Para prajurit yang berada di halaman itupun kemudian mempersiakan diri, mereka membiarkan para perampok itu seluruhnya memasuki halaman.

Tetapi agaknya dua orang diantara mereka tetap berada di pintu pagar untuk mengamati keadaan, mereka mengawasi jalan yang melintas di depan rumah Tn.Cha Seung Won.

“Memang sekitar dua puluh sampai tiga puluh orang.” desis seorang prajurit ke telinga kawannya.

Kawannya mengangguk-angguk, namun merekapun melihat dua orang diantara para perampok yang berdiri di pintu pagar.

Sejenak suasana benar-benar dicengkam oleh ketegangan, bahkan para perampok yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan merekapun menjadi tegang pula.

Ternyata Desa Namchoseon memang mempunyai kesan yang berbeda dari desa yang lain.

Sejenak kemudian, maka Panglima Siwon dan beberapa orang diantara anak buahnya masuk ke dalam rumah, sementara beberapa orang yang lain telah melingkari rumah itu, berjaga-jaga di pintu depan dan pintu dapur.

“Jangan ada yang sempat keluar.” kata Panglima Siwon.

Kemudian, dibawah bayangan cahaya lampu minyak, Panglima Siwon itu mengetuk pintu rumah Tn.Cha Seung Won yang tertutup rapat.
Namun tidak terdengar jawaban sekali lagi Panglima Siwon mengetuk lebih keras lagi, tetapi juga tidak terdengar jawaban.

“Tn.Cha Seung Won, buka pintunya atau aku yang akan membukanya sendiri dengan paksa.”

Sepi, rumah itu masih saja tetap membisu.

“Tn.Cha Seung Won, jika kau tetap saja diam, aku akan menghancurkan pintu rumahmu.”

Karena tidak ada jawaban, maka Panglima Siwon itupun berkata kepada kawan-kawannya “Kita pecahkan saja pintunya.” Beberapa orangpun segera melangkah mendekati Panglima Siwon, merekapun segera bersiap untuk mendorong dan memecahkan pintu yang masih saja tertutup rapat.

Namun sebelum mereka bersama-sama mendorong dan memecahkan pintu itu, tiba-tiba saja terdengar seseorang berkata dari dalam kegelapan “Apa yang akan kau lakukan, Tuan?”

Panglima Siwon terkejut, iapun segera berpaling, demikian pula kawan-kawannya yang berada di sebelahnya.

“Siapa kau.” kata Panglima Siwon.

“Aku pimpinan anak-anak muda Namchoseon.”

“Pimpinan anak-anak muda Namchoseon? sayang sekali anak muda, kau telah terjun ke sarang singa yang lapar, apakah kau belum mengenalku?”

“Kau tentu pimpinan sekelompok brandalan yang akan merampok rumah Tn.Cha Seung Won.”

“Ya, namaku Panglima Siwon, nama yang ditakuti di daerah ini.”

“Sayang, bahwa anak-anak muda Namchoseon tidak merasa takut mendengar nama Panglima Siwon.”

“Kurang ajar kau.”

“Panglima Siwon, kami anak-anak muda Namchoseon memang sudah menunggumu, kami sudah siap untuk menangkapmu, sudah hampir sebulan kami berlatih keras dibawah pimpinan Kepala Desa Oh Ji Ho, sekarang adalah waktunya untuk menerapkan hasil kerja keras kami.”

Seorang perampok yang perutnya buncit tertawa berkepanjangan, katanya “Apa yang kau dapatkan dengan latihan sebulan itu? ternyata kalian adalah anak-anak muda yang lebih dungu daru yang aku duga.”

“Inilah yang kami dapatkan dari latihan-latihan yang pernah kami lakukan.” terdengar suara yang lain, orang-orang berjalan dari kegelapan sambil mendorong seseorang pula, katanya kemudian “ini tentu kawanmu pula, seorang lagi telah kami bunuh di depan gapura desa Namchoseon, dan inilah yang seorang lagi.”

Panglima Siwon memang sangat terkejut, orang itu adalah orangnya yang ditugaskan mengawasi keadaan di depan Gapura Desa, namun ternyata orang itu tidak berdaya, bahkan seorang dari dua orang yang ditugaskannya itu sudah terbunuh.

Bahkan orang yang membawa seorang perampok mendekati rumah Tn.Cha Seung Won itu kemudian mendorongnya sambil berkata lantang “Kau telah membunuh dua orang di desa yang telah kau rampok sebelumnya, karena itu, maka dua orangmu harus dibunuh pula.”

Sebelum Panglima Siwon sempat menjawab, maka tiba-tiba saja ujung pedang yang bagaikan menyala kebiru-biruan telah menghunjam lambung perampok yang malang itu, terdengar teriakan yang menggelepar di malam yang gelap itu.

Orang yang berdiri di depan pendapa telah berteriak pula “Jangan Panglima Yesung.”

Tetapi orang yang menusuk dengan pedang itu menjawab “Kita tidak dapat beramah tamah dengan perampok.”

Keteganganpun segera mencengkam, perampok yang lambungnya tertusuk pedang itupun terjatuh di tanah, nafasnya yang terakhirpun telah dihembuskannya.

Orang yang berdiri di depan rumah itu merasa jantungnya berdegup kencang, sementara itu Panglima Yesung pun berkata “Tidak hanya kedua orangmu ini yang akan mati.”

Orang yang berdiri di depan rumah itu akhirnya harus bersikap, karena itu, maka iapun kemudian berkata “Panglima Siwon, baiklah kami berterus terang, diantara anak-anak muda desa Namchoseon sekarang ini, memang terdapat beberapa orang prajurit dari Seongnam, karena itu, maka aku minta kau dan orang-orangmu menyerah, maka kita akan dapat menghindari kematian, dua orang yang terbunuh itu sudah cukup.”

Panglima Siwon pun bergetar oleh kemarahan yang menghimpit jantungnya.

“Jadi kau adalah prajurit Seongnam?”

“Ya.” Panglima Yesung lah yang menjawab “Yang ada diantara anak-anak muda Desa namchoseon adalah Pangeran Kim Hyun Joong sendiri, selain itu disini ada tiga orang Panglima yang namanya dikenal oleh semua orang, tidak hanya di Seongnam, tetapi juga di Kerajaan Sungkyunkwan. Di Kerajaan Seongnam dan bahkan di seluruh Kerajaan di Korea, Panglima yang telah memukul mundur pasukan yang sangat besar yang datang dari China.”

Suara Panglima Yesung yang lantang itu bagaikan menggelegar di seluruh halaman dan bahkan menggoyang rumah yang ditinggalkan penghuninya itu.

Tetapi Panglima Siwon adalah seorang pimpinan perampok yang mempunyai pengalaman yang sangat luas, ia seorang yang berilmu tinggi dan sudah kenyang makan pahit getirnya dunia kelamnya.

Karena itu, maka Panglima Siwon itupun menyahut “Persetan dengan igauanmu, jika kalian benar dapat mengalahkan pasukan yang besar yang datang dari China itu, karena kalian membawa pasukan yang sangat besar pula, bukan saja dari Seongnam, tetapi juga dari semua Kerajaan yang berada dibawah naungan kuasa Korea.

“Jadi kau mendengar juga berita tentang perang besar yang terjadi itu?”

“Ya.”

“Kalau demikian, kau tentu pernah mendengar nama-nama Panglima Yesung, Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae.”

“Aku tidak perduli dengan nama-nama itu, jika kau salah seorang diantara mereka, maka aku akan menghancurkan namamu itu, bahkan kau akan menjadi mayat di halaman rumah ini, sebagaimana kedua orang kawanku yang telah kau bunuh.”

“Persetan, kita akan membuktikannya”.

Panglima Siwon pun kemudian telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk menyerang orang-orang yang berada di halaman itu.

Namun sejenak kemudian, anak-anak muda Desa Namchoseon pun berloncatan di halaman, ada yang meloncat dari dahan-dahan pohon, ada yang meloncat dari luar dinding halaman dan ada pula yang berlari-lari memasuki halaman lewat pintu pagar yang telah terbuka. Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit di sekitar rumah Tn.Cha Seung Won yang kosong itu, enam orang prajurit Seongnam, tiga orang Panglima muda yang pilihan telah melibatkan diri dalam pertempuran itu.

Ternyata Panglima Siwon adalah orang yang benar-benar berilmu tinggi, ia tidak mau mengikat diri menghadapi seorang lawan, tetapi ia berloncatan diantara orang-orangnya dengan pedang yang berputaran mengerikan.

Anak-anak muda Desa Namchoseon sempat bergetar jantungnya melihat cara para perampok itu bertempur, namun para prajurit Seongnam itu berusaha mengimbangi mereka, para prajurit itupun berloncatan di seluruh medan pertempuran, apalagi Pangeran Kim Hyun Joong, Panglima Yesung, Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae.

Namun Pangeran Kim Hyun Joong menjadi cemas melihat sikap Panglima Yesung, ia sama sekali tidak mengekang diri dalam pertempuran itu, it tidak pernah memberikan kesempatan kepada lawan-lawannya, pedangnya terayun-ayun sangat mengerikan, sehingga tanpa ampun, orang yang sempat menghadapinya akan terkapar mati dengan luka-lukanya yang parah.

Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae serta para prajurit yang lain masih berusaha untuk mengendalikan diri, mereka tidak harus membunuh lawan yang datang kepada mereka.

Demikianlah, maka pertempuran itu menjadi semakin sengit, dengan dibayangi oleh kemampuan para prajurit Seongnam, maka anak-anak muda Namchosoen pun menjadi semakin berani, seperti pesan yang mereka terima, maka mereka tidak bertempur satu lawan satu, tetapi mereka sudah mempunyai kelompok-kelompok kecil untuk menghadapi setiap perampok yang harus mereka hadapi.

Meskipun para perampok adalah orang-orang yang sudah terbiasa berpetualang diantara ujung-ujung senjata, tetapi menghadapi para prajurit Seongnam dibawah para Panglima pilihan, merekapun mengalami kesulitan.

Tetapi Panglima Siwon sendiri adalah orang yang sangat garang, beberapa orang telah tersentuh tajam pedangnya, namun setiap kali Panglima Siwon harus menghadapi kemampuan para prajurit Seongnam.

Namun akhirnya Panglima Siwon tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya, satu persatu orang-orangnya jatuh terkapar di tanah. Disana sini terdengar erangan kesakitan, desah yang tertahan, serta keluhan-keluhan panjang.

Ketika terdengar di kejauhan suara ayam jantan yang berkokok untuk ketiga kalinya di malam itu, maka pertempuran di rumah Tn.Cha Seung Won itupun sudah selesai, beberapa orang perampok terluka parah, ada juga diantara mereka yang terbunuh.

Namun ketika Pangeran Kim Hyun Joong dan para Panglima serta para prajurit berkumpul di depan rumah Tn.Cha Seung Won dikelilingi oleh anak-anak muda Desa Namchoseon, barulah meraka menyadari ternyata bahwa pimpinan perampok yang bernama Panglima Siwon itu sempat meloloskan diri.

“Kurang ajar.” geram Panglima Yesung. “Jika Panglima Siwon itu tidak tertangkap, maka kita akan membunuh semua perampok yang tertinggal dan yang menyerah.

“Kita tidak dapat melakukannya, Panglima Yesung.” sahut Pangeran Kim Hyun Joong.

“Sudah aku katakan, kita tidak dapat beramah-tamah dengan mereka, para perampok itu sudah membuat banyak sekali kerugian, bukan saja harta benda yang telah mereka rampok, tetapi mereka telah menimbulkan kegelisahan dan ketakutan, harga dari keresahan itu tidak akan dapat lunas dengan kematian mereka, sebelum Panglima Siwon sendiri digantung di alun-alun atau diketemukan mayatnya di pertempuran.”

“Bukan wewenang kita untuk menghukum mereka.”

“Di medan pertempuran, kita tidak bersalah jika kita membunuh lawan.”

“Tetapi pertempuran sudah selesai.” desis Pangeran Kim Hyun Joong.

“Mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya, Pangeran, mereka tidak akan dapat menghentikan tingkah laku mereka, seandainya mereka dibawa menghadapi Kaisar Ryu Seung Ryong kemudian diadili dan dijatuhi hukuman, maka setelah mereka lepas dari hukuman, mereka akan mengulangi kejahatan yang pernah lakukan.”

“Biarlah segala sesuatunya di putuskan kelak.” jawab Pangeran Kim Hyun Joong.

Panglima Yesung masih akan menjawab, tetapi Panglima Eunhyuk pun berkata “Bukankah yang dikatakan oleh Pangeran Kim Hyun Joong itu benar?”

“Kita akan menjadi prajurit yang cengeng.”

“Kita terikat pada pangeran, Panglima Yesung.” kata Panglima Donghae.

Panglima Yesung tidak menjawab lagi, tetapi dari raut wajahnya nampak bahwa jantungnya justru menjadi semakin bergejolak.
Pangeran Kim Hyun Joong pun kemudian telah memerintahkan kepada anak-anak muda Desa Namchoseon untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan yang telah menjadi korban dan gugur di pertempuran, bahkan bukan hanya kawan-kawan mereka yang terluka dan menjadi korban saja yang harus dikumpulkan, tetapi juga para perampok yang terluka dan terbunuh di pertempuran, sedangkan yang menyerah, telah diikat dan dibawa ke halaman rumah Kepala Desa Oh Ji Ho.

Menjelang fajar, Panglima Siwon, para Petinggi Desa, Pangeran Kim Hyun Joong dan para Panglima masih berbincang di rumah Kepala Desa Oh Ji Ho, semuanya menyatakan kekecewaan mereka, bahwa pimpinan peramapok yang bernama Panglima Siwon itu tidak dapat tertangkap.

“Para perampok itu harus di hukum mati.” geram Panglima Yesung. “Ada tiga orang prajurit Seongnam yang terluka, meskipun tidak terlalu parah, siapa yang melawan, apalagi melukai petugas, ia akan dihukum dengan hukuman yang paling berat, selain itu ada sebelas orang anak muda yang terluka, tiga diantaranya parah dan yang seorang telah gugur.”

“Ada berapa orang perampok yang tertangkap?” tanya Kepala Desa Oh Ji Ho.

“Yang menyerah ada enam belas orang Kepala Desa Oh Ji Ho. Panglima Siwon sendiri entah dengan berapa orang kawannya, berhasil meloloskan diri, yang terluka dan terbunuh.”

Kepala Desa Oh Ji Ho menarik nafas dalam-dalam, katanya “Kami mengucapkan terima kasih yang besar sekali, Pangeran Kim Hyun Joong. bukankah dengan demikian, gerombolan perampok itu sudah dihancurkan, mereka tidak mempunyai kekuatan lagi untuk dapat melakukan kegiatan mereka dihari-hari mendatang. Setidak-tidaknya untuk waktu yang dekat ini.”

“Tetapi kami merasa kecewa, bahwa kami tidak dapat menangkap Panglima Siwon, pimpinan perampok itu, Kepala Desa Oh Ji Ho. kami sangat memerlukan keterangannya dalam hubungannya dengan gerakannya yang seakan-akan muncul dari Kerajaan Sungkyunkwan.”

“Ya, Pangeran, tetapi apa boleh buat, namun yang sudah Pangeran lakukan bersama para Panglima dan para prajurit sudah merupakan satu keberhasilan, anak-anak muda Desa Namchoseon, bukan saja mendapat pengalaman yang sangat berharga malam ini, tetapi mereka bukan lagi anak-anak muda yang gemetaran mendengar suara kentongan dalam irama cepat, latihan-latihan yang sudah pangeran berikan bersama para Panglima dan para prajurit, akan dapat kita kembangkan, sehingga jika pimpinan perampok itu datang lagi dengan membawa dendam, maka anak-anak muda Namchoseon sudah tidak akan mengecewakan.”

“Itulah yang kami harapkan, Kepala Desa Oh Ji Ho, mudah-mudahan anak-anak muda di desa tidak segera menjadi jemu justru karena mereka merasa sudah memiliki kemampuan yang cukup.”

“Aku akan berusaha, Pangeran, sementara itu, kelak jika pangeran akan meninggalkan desa ini, Pangeran dapat memberikan pesan kepada mereka.”

Pangeran Kim Hyun Joong mengangguk-anggguk sambil berdesis “Ya, Kepala Desa Oh Ji Ho.”

***

Kemudian, di tempat yang jauh, di perbatasan antara Kerajaan Seongnam dan Kerajaan Sungkyunkwan, Panglima Siwon memapah seorang anak muda yang terluka parah dibantu seorang anak buahnya.
“Kuatkan, dirimu. Sebentar lagi kita akan sampai di pondok itu. Ayahmu- Patih Han Jung Soo tentu menunggu kita di pondok itu.”

Anak muda itu mengerang kesakitan, sementara langit menjadi semakin terang, cahaya fajar sudah membayang di pungung pebukitan di arah timur.

“Aku tidak kuat lagi, Panglima Siwon.”

“Jangan berkata begitu. Kau adalah anak muda yang jarang ada duanya, kau mempunyai daya tahan yang sangat tinggi, kaupun menjadi harapan ayahandamu di masa mendatang.”

“Tetapi lukaku sangat parah, Panglima Siwon.”

“Lihat, di depan kita adalah Gapura Desa, pondok kita terletak dekat pintu gerbang itu, sedikit berbelok ke kiri, di tempat yang kelihatan terpisah dari rumah-rumah yang lain karena halamannya yang luas serta kebun kosong di sebelahnya.”

Anak muda itu tidak menjawab, yang terdengar adalah desah desah kesakitan.

Sebelum terang, mereka bertiga telah memasuki Gapura Desa yang masih sepi, merekapun dengan cepat menyelinap memasuki lorong kecil kearah kiri, sejenak kemudian merekapun telah memasuki sebuah halaman rumah sederhana yang terletak di tengah-tengah kebun yang luas serta di sebelahnya terdapat kebun kosong yang cukup luas pula.

Karena pintu rumah sederhana itu masih tertutup, maka Panglima Siwon pun mengetuk pintunya perlahan-lahan.

Sekali dua kali tidak terdengar jawaban, sementara itu anak muda yang terluka itu masih saja mengerang kesakitan.

Karena itulah, maka Panglima Siwon pun mengetuk lebih keras lagi.

Di dalam rumah itu, Patih Han Jung Soo dan Panglima Leeteuk ternyata baru saja terlelap, semalam suntuk mereka bertahan menunggu Panglima Siwon itu kembali, tetapi sampai dini hari, mereka masih belum memasuki rumah sederhana yang terletak di perbatasan itu.

Namun justru ketika mereka baru saja terlelap, pintu rumah itu telah diketuk orang.

Patih Han Jung Soo yang terkejut dengan gagap memanggil Panglima Leeteuk. “Panglima Leeteuk, kau dengar pintu diketuk orang?”
Panglima Leeteuk segera terbangun pula, sementara itu ketukan pintu itupun menjadi semakin keras.

“Siapa itu?” tanya Panglima Leeteuk sambil mengambil pedangnya.

“Aku Panglima Leeteuk.”

“Panglima Siwon?”

“Ya.”

“Buka pintu itu cepa.” bentak Patih Han Jung Soo yang tidak sabar.

Panglima Leeteuk pun segera meloncat ke pintu sambil meletakkan kembali pedangnya.

Demikian pintu dibuka, maka Panglima Siwon pun segera bergerak masuk sambil memapah anak muda yang terluka itu, di belakangnya seorang anak buahnya mengikuti pula.

“Tutup kembali pintu itu, dungu.” bentak Panglima Leeteuk.

Anak buah Panglima Siwon itupun kemudian dengan tergesa-gesa menutup pintu yang masih terbuka.

Sementara itu, cahaya fajarpun menjadi semakin terang, ayam-ayampun mulai turun dari kandangnya, seekor induk ayam berkotek memanggil anak-anaknya, ketika ia menemukan seekor cacing tanah yang gembur.

“Anak itu terluka?” tanya Patih Han Jung Soo.

“Ya, Patih Han Jung Soo.”

“Siapa?”

Panglima Siwon menjadi ragu-ragu.

“Siapa?” bentak Patih Han Jung Soo.

Panglima Siwon pun kemudian membaringkan anak muda yang terluka itu di lantai.

“Heechul.” Patih Han Jung Soo hampir menjerit. “Jadi yang terluka itu anakku?”

Panglima Siwon menundukkan wajahnya, dengan nada dalam ia pun berdesis “Ya Patih Han Jung Soo.”

Patih Han Jung SOo segera meloncat dan berjongkok disisinya.

“Heechul, jadi kau yang terluka itu, nak.”

“Ayah.” desis Heechul.

“Kenapa kau nak?”

“Lukaku parah, ayah.”

“Biarlah Panglima Leeteuk memanggil tabib terbaik di Sungkyunkwan.”

“Tidak ada gunanya lagi, ayah.”

“Jangan berkata begitu, Heechul.”

Patih Han Jung Soo itupun kemudian mengangkat kepala anaknya dan diletakkannya di pangkuannya.

“Aku sudah tidak kuat lagi, ayah. Darahku terlalu banyak yang keluar.”

“Siapa yang melukaimu, Heechul? orang-orang Namchoseon?”

“Tidak ayah, bukan orang-orang Namchoseon.”

“Jadi siapa?”

“Ternyata di Namchoseon kami bertemu dengan sekelompok prajurit dari Seongnam, ayah.”

“Prajurit dari Seongnam?”

“Ya, ayah, para prajurit yang dipimpin langsung oleh Pangeran Kim Hyun Joong.”

“Kim Hyun Joong, Pangeran Kim Hyun Joong anak Kaisar Seongnam?”

“Ya, ayah.”

“Kau tidak salah lihat, Heechul, bukankah Kim Hyun Joong tidak berada di Seongnam?”

“Tidak, ayah. Aku tidak salah lihat. Selain aku memang sudah mengenalnya sejak lama, seorang Panglima pun telah menyebut namanya pula, disamping Kim Hyun Joong, tiga orang Panglima muda yang namanya mulai dikenal sejak pertempuran di China, Panglima Yesung, Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae.”

“Gila orang-orang Seongnam, tetapi jangan cemas Heechul, kau akan segera sembuh, kau akan segera mendapat kesempatan untuk membalas dendam.

“Ayah, aku tidak mampu lagi bertahan.

“Panglima Leeteuk.” teriak Patih Han Jung Soo.

“Ya, Patih Han Jung Soo.”

“Kenapa kau begitu dungu, cepat pangil tabib terbaik di Sungkyunkwan.”

“Dibawa kemari?”

Patih Han Jung Soo termangu-mangu sejenak, lalu katanya “Ya, bawa orang itu kemari.”

“Tetapi, apakah tidak ada bahayanya jika tabib itu melihat rumah ini?”

“Aku tidak peduli, yang penting anakku dapat diselamatkan.”

Namun terdengar suara Heechul yang lemah “Tidak usah ayah, tidak akan ada artinya.”

“Heechul.”

Suara Heechul menjadi semakin tersendat “Ayah.”

“Heechul.”

Heechul memandang ayahnya dengan mata yang semakin sayu, wajahnya menjadi sangat pucat seakan-akan tidak berdarah lagi, sementara itu darah yang mengalir dari lukanya membasahi lantai rumah itu, menggenang di kaki ayahnya.

“Ayah.” suara Heechul hampir tidak terdengar.

“Heechul, dengar. Aku akan mengundang tabib itu, Heechul.”
Mata Heechul menjadi semakin redup, sehingga akhirnya mata itupun terpejam.

“Heechul” Patih Han Jung Soo berteriak.

Namun Heechul sudah tidak mendengarnya, nafasnya yang terakhir pun telah meluncur lewat lubang hidungnya.

Patih Han Jung Soo memeluk anaknya dan meletakkannya di dadanya, dengan suaranya yang bergetar iapun berkata “Heechul, kenapa kau mendahului ayahmu, nak. Aku ingin kau menjadi seorang besar, jauh lebih besar dari ayahmu. Aku ingin kau menjadi Panglima yang selalu berada dekat dengan Kaisar, tetapi kenapa kau justru mendahuluiku.”

Tetapi Heechul sama sekali sudah tidak bergerak lagi. Perlahan-lahan Patih Han Jung Soo meletakkan anak laki-lakinya yang sudah meninggal itu, kemudian iapun bangkit dan bergeser mendekati Panglima Siwon, dengan sinar mata yang menyala Patih Han Jung Soo mencengkam baju Panglima Siwon sambil membentak. “Apa kerjamu manusia bodoh. untuk apa kau pergi ke Namchoseon? kenapa kau tidak dapat melindungi anakku, sehingga terbunuh di pertempuran melawan prajurit Seongnam? ada berapa orang prajurit Seongnam yang berada di Namchoseon? Seratus, lima puluh? Seluruh prajurit Seongnam?”

Panglima Siwon tidak segera menjawab, mulutnya justru bagaikan terbungkam.

“Kau sudah menjadi tuli, he? atau bisu?”

Panglima Siwon masih belum menjawab.

Namun tiba-tiba saja tangan Patih Han Jung Soo menyambar wajahnya sambil membentak “Berapa, He?”

“Ampun, Patih Han Jung Soo. Panglima Siwon menjadi gagap. “Tidak jelas, kami tidak tahu ada berapa orang prajurit Seongnam di Namchosoen, mereka tidak mengenakan pakaian prajurit, agaknya mereka sengaja menjebak kami, sementara itu, anak-anak muda Namchoseon pun telah ikut pula bersama-sama mereka. jumlahnya tidak terhitung, bahkan mereka sudah pandai pula menempatkan diri untuk melawan kami.”

Patih Han Jung Soo mengguncang baju Panglima Siwon yang dicengkramnya sambil membentak “Jadi kau tidak dapat mengatasi anak-anak muda Namchoseon itu, He? Mulutmu saja yang selalu sesumbar, tetapi apa yang terjadi? anakku telah mati.”

Panglima Siwon tidak menjawab, Patih Han Jung Soo yang kehilangan anaknya tentu sulit untuk menahan perasaannya yang bergejolak, karena itu, maka Panglima Siwon memilih untuk diam.
Patih Han Jung Soo itupun kemudian melepaskan baju Panglima Siwon, kemudian ia mendekati pengikut Panglima Siwon yang membantunya membawa Heechul pulang ke pondok itu.

Dengan kasar Patih Han Jung Soo mendorong pundak orang yang duduk di lantai itu dengan kakinya, sehingga orang itu jatuh terlentang.

“Dase pengecut, apa kerjamu di Namchoseon He? Kau biarkan anakku mati?”

Orang itupun tidak menjawab pula, ketika ia perlahan-lahan bangkit dan duduk kembali, maka Patih Han Jung Soo pun berkata “Aku tidak mau menerima keadaan ini, orang-orang Seongnam telah berhutang nyawa, mereka harus membayar dengan nyawa pula, Pangeran Kim Hyun Joong, Panglima Yesung, Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae harus mati.”

Suara Patih Han Jung Soo tergetar seakan-akan telah mengguncang dinding pondok kecil yang dipergunakannya itu.

“Kita akan membawa Heechul pulang.”

“Apa kata orang yang melihat keadaannya di sepanjang jalan?” desis Panglima Leeteuk.

Patih Han Jung Soo termangu-mangu sejenak, dengan nada berat iapun bertanya “Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?”

“Patih Han Jung Soo.” kata Panglima Leeteuk. “Jika tubuh Heechul dibawa pulang, akan dapat menimbulkan masalah, di perjalanan,tetapi juga di Sungkyunkwan. Seandainya akan diaadakan upacara pemakaman, apa yang dapat kita katakan kepada orang-orang yang datang melayat? kecelakaan atau pembunuhan atau apa? seandainya demikian, masih akan timbul pertanyaan panjang yang tidak berkeputusan, kita akan semakin lama akan menjadi semakin sulit untuk menjawabnya.”

Bersambung (Season 10 - Pertempuran)...

Meraba Matahari (Season 8)


Season 8
Rumah Tn.Cha Seung Won


Para perampok yang lebih muda yang mendengar keterangan itu tertawa, namun perampok yang lebih tua itu berkata “Kalian boleh tertawa, tetapi kalianpun harus tahu, bahwa pengaruh gejolak jiwa seseorang itu benar sekali, meskipun mereka tetap tidak memiliki kemampuan yang cukup, tetapi keberanian mereka akan dapat membuat kita terkejut karenanya.”

“Aku setuju dengan pendapatnya.” sahut pemimpin perampok yang dikenal bernama Panglima Siwon itu. “Kalian jangan meremehkan lawan kalian, tetapi kalianpun jangan menjadi cengeng. Ingat kalian adalah perampok yang sudah teruji, kalian terdiri dari tiga kelompok perampok yang paling ditakuti, dan orang-orang yang diyakini memiliki ilmu yang tinggi.”

“Ya, Panglima Siwon.” anak buah Panglima Siwon itu hampir berbareng menyahut.

Namun pembicaraan, pengamatan dan untuk meyakinkan diri, Panglima Siwon memerlukan waktu hampir satu bulan.”

Sementara itu Pangeran Kim Hyun Joong, Panglima Yesung, Panglima Eunhyuk dam Panglima Donghae justru sudah mulai menjadi cemas, bahwa para perampok dapat mencium kehadiran mereka di Desa Namchoseon, sehingga mereka merubah sasaran mereka atau bahkan untuk sementara menghentikan kegiatan mereka.

Namun mereka masih saja bersabar, mereka masih akan menunggu beberapa hari lagi.

Selagi mereka menunggu di Desa Namchoseon, maka Pangeran Kim Hyun Joong pun telah dapat berkenalan dengan gadis yang telah menggetarkan jantungnya. ternyata gadis itu adalah anak Kepala Desa Oh Ji Ho. ia memang masih seorangn gadis yang sedang meningkat dewasa, seorangpun gadis yang terbiasa hidup di pedesaan. Ketika Jung So Min, anak Kepala Desa Oh Ji Ho itu sedang menumbuk padi, maka iapun terkejut, Jung So Min yang sedang sibuk itu tidak mendengar langkah kaki pangeran Kim Hyun Joong, namun tiba-tiba saja anak muda itu sudah berdiri bersandar di tiang lumbung.

“Ah, Pangeran, kenapa Pangeran berdiri disitu?” desis Jung So Min, diluar sadarnya, tangannya pun berhenti pula bekerja, ia tidak lagi mengangkat penumbuk padinya.

“Kau berkeringat Jung So Min.”

“Kerja ini sudah terbiasa aku lakukan, Pangeran” sahut Jung So Min.

“Apakah tanganmu tidak menjadi terkelupas karenanya?”

“Tidak Pangeran, ini pekerjaan yang harus aku lakukan sehari-hari?”

“Bukankah kau anak seorang Kepala Desa? aku lihat ada beberapa orang pelayan di rumah ini, kenapa kau sendiri harus menumbuk padi?”

“Siapa yang sempat saja Pangeran, ibuku juga sering menumbuk padi, kadang-kadang seorang pelayan, kadang-kadang aku, tetapi kali ini ibu menginginkan beras yang putih, seorang pelayan kadang-kadang tidak telaten, berbeda jika aku sendiri yang menumbuknya.”

“Kenapa Ny.Lee Bo Young kali ini ingin beras yang putih, sehingga yang harus menumbuk padinya harus kau sendiri?”

“Bukankah sejak hampir sebulan, di Desa ini ada tamu dari Seongnam?”

“O….” Pangeran Kim Hyun Joong mengangguk-angguk “Jadi kau menumbuk padi untuk menjamu kami yang datang dari Seongnam?”

“Ah, sudahlah Pangeran, sebenarnya Pangeran tidak boleh berada disini.”

“Jadi yang menumbuk padi kemarin, kemarin dulu sepekan yang lalu, juga kau, Jung So Min?”

“Tidak, baru kali ini aku menumbuk padi.”

Pangeran Kim Hyun Joong tertawa.

“Jika saja Panglima Yesung, Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae juga berada di sini, mereka tentu akan memuji, nasinya putih agak wangi, ternyata yang wangi, bukan jenis padinya, tetapi karena tangan gadis yang menumbuknya.”

“Ah, Pangeran, silahkan Pangeran duduk di gazebo saja. Mungkin Panglima Yesung atau yang lain datang mencari Pangeran, sementara Pangeran bersembunyi disini.”

“Mereka tidak akan kemari, Jung So Min. Mereka sedang sibuk berlatih bersama anak-anak muda di rumah Para Petinggi desa itu.”

“Apakah latihan-latihan yang mereka selenggarakan itu tidak berhenti untuk beristirahat? Pangeran sekarang juga tidak sedang berlatih?”

“Aku sudah berlatih sejak matahari belum terbit, Jung So Min.”

“Mungkin Panglima Yesung dan yang lain juga sudah berlatih sejak matahari terbit.”

Pangeran Kim Hyun Joong tertawa.

Namun tiba-tiba saja Jung So Min itu mengerutkan keningnya, kemudian dengan nada rendah ia pun berkata “Lihat Pangeran, bukankah aku benar?”

“Apanya yang benar, Jung So Min.”

“Panglima Yesung.”

Pangeran Kim Hyun Joong berpaling, dilihatnya Panglima Yesung berdiri bersandar sebatang pohon sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

“Kau Panglima Yesung?”

“Apakah aku mengganggu, Pangeran.” tanya Panglima Yesung.

“Tentu Panglima, Panglima Yesung sudah mengganggu ketenanganku.”

“Tidak.” yang menyahut justru Jung So Min. “Panglima Yesung sama sekali tidak mengganggu, Pangeran Kim Hyun Joong yang sejak tadi menggangguku yang sedang menumbuk padi.”

“Aku sama sekali tidak bermaksud mengganggu, Jung So Min. sebenarnya aku justru ingin membantu.”

“Sudahlah Pangeran. Panglima Yesung tentu mempunyai keperluan penting jika ia datang kemari.”

Pangeran Kim Hyun Joong tersenyum, katanya. “Baiklah, aku akan menemui Panglima Yesung. Tetapi aku harus berpesan kepadanya, agar lain kali Panglima Yesung jangan menggangguku jika aku sedang beristirahat.”

“Ah, bukankah Panglima Yesung tidak mengganggu, sejak ia datang, ia berdiri saja disana tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia baru berbicara sejak Pangeran bertanya kepadanya.”

“Kau benar, Jung So Min. tetapi aku tidak akan mengulanginya lain kali.”

Jung So Min tidak menjawab, sementara itu, Pangeran Kim Hyun Joong pun melangkah mendekati Panglima Yesung.

Pangeran Kim Hyun Joong tertawa, katanya. “Tidak, ini sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan Panglima Yesung, aku tidak sedang menggoda anak Kepala Desa Oh Ji Ho itu.”

“Aku tahu Pangeran.” Panglima Yesung pun tertawa pula.

“Bagaimana menurut pendapatmu? bukankah ia seorang gadis yang cantik?”

“Ya, Pangeran. gadis itu memang cantik.”

“Bukan hanya itu, tetapi juga kepribadiannya menarik, ia anak seorang Kepala Desa, tetapi ia melakukan kerja apapun juga sebagaimana seorang gadis padesan, dan ternyata gadis itu cukup cerdas, aku pernah mendengar gadis itu berbicara dengan ayahnya tentang jalannya pemerintahan di Desa ini, ternyata cukup banyak yang diketahuinya, bahkan terlalu banyak bagi seorang gadis seperti Jung So Min.”

“Nampaknya ia juga seorang gadis penurut.”

“Ya, ia bukan anak manja meskipun ia anak satu-satunya.” keduanyapun kemudian melangkah ke halaman depan rumah Kepala Desa Oh Ji Ho, ternyata di depan Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae telah duduk bersama Kepala Desa Oh Ji Ho.

“Kapan kalian datang?” tanya Panglima Yesung.

“Baru saja.” Kepala Desa Oh Ji Ho lah yang menjawab.

“Kau malah sudah ada disini.” desis Panglima Eunhyuk.

“Aku mencari Pangeran Kim Hyun Joong di belakang, nampaknya…..”

Panglima Yesung tidak meneruskan kata-katanya, tetapi ia berpaling memandang Pangeran Kim Hyun Joong sambil tersenyum.

“Sudahlah.” kata Pangeran Kim Hyun Joong. “Marilah kita masuk.”

Sejenak kemudian, Pangeran Kim Hyun Joong dan ketiga orang Panglima muda itu serta Kepala Desa Oh Ji Ho telah duduk melingkar di dalam kediaman Kepala Desa Namchoseon itu.

“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan Pangeran.” kata Panglima Yesung kemudian.

“Ada apa Panglima Yesung?”

“Dalam hubungannya dengan para perampok itu.”

Pangeran Kim Hyun Joong mengangguk-angguk.

“Dua orang pengawas telah melihat dua orang yang mencurigakan lewat di jalan utama desa ini, sedang di hari berikutnya dua orang pengawas yang lain melihat dua orang lagi melakukan hal yang sama seperti kedua orang yang terdahulu, mereka berjalan menyusuri jalan di desa induk, berhenti melihat latihan di halaman rumah Pejabat Lee Sang Yoon, namun ternyata bahwa kedua orang itu, baik yang pertama maupun yang kemudian, telah pergi ke desa-desa lain pula, para pengawas di desa juga melihat mereka memperhatikan anak-anak muda yang berkumpul dan berlatih di halaman rumah Pejabat Jo Dong Hyuk atau di halaman rumah Pejabat Lee Hyung Chul.”

Pangeran Kim Hyun Joong mengangguk-angguk, katanya kemudia.n “Nampaknya mereka sedang mengamati keadaan, mereka baru akan menentukan sikap setelah mereka melihat langsung gejolak di desa ini.”

“Ya, Pangeran, dengan demikian, maka tanda-tanda bahwa mereka akan mulai bergerak telah nampak.”

“Kita harus lebih berhati-hati, Panglima Yesung, pengawasan harus ditingkatkan, sementara itu, para prajurit pun harus mempersiakan anak-anak muda yang dibimbingnya untuk dalam waktu singkat terjun dalam tugas mereka yang sebenarnya.”

“Ya, Pangeran.”

Pangeran Kim Hyun Joong pun kemudian berkata pula kepada Kepala Desa Oh Ji Ho .“ Kepala Desa Oh Ji Ho, para Petinggi desa pun harus bersiap, perintah-perintah mereka kepada anak-anak muda yang berlatih kepada merekapun harus jelas, mereka jangan turun ke dalam arena pertempuran, tetapi mereka diperintahkan untuk mengepung lingkungan pertempuran, menjaga agar tidak ada seorang perampok pun yang berhasil melarikan diri, namun bukan berarti bahwa tugas mereka tidak berbahaya, para perampok yang berusaha melarikan diri itu umumnya adalah orang-orang yang berputus asa, sehingga mereka justru akan menjadi orang-orang yang nekad dan kehilangan akal, sekali lagi aku peringatkan, anak-anak muda itu jangan mencoba menghadapi mereka satu lawan satu.”

“Ya, Pangeran.”

“Kita tidak tahu, kapan, para perampok itu akan datang, tetapi tentu dalam waktu yang dekat, jika mereka sudah mengirimkan orang-orangnya untuk mengamati keadaan, itu berarti bahwa mereka sudah mengambil ancang-ancang.”

“Ya, Pangeran, aku akan memanggil para Petinggi Desa hari ini juga, untuk memberikan peringatan-peringatan kepada mereka.”

“Kitapun harus memberi peringatan pula kepada keluarga yang mungkin akan menjadi sasaran, tentu orang-orang terkaya di desa ini.”

“Ya, Pangeran, jika Pangeran dan para Panglima berkenan, aku harap Pangeran dan para Panglima bersedia bertemu dengan para Petinggi Desa disini sebentar lagi.”

“Baik Kepala Desa Oh Ji Ho, kami akan menunggu.” kata Pangeran Kim Hyun Joong yang kemudian bertanya kepada para Panglima. “Bukankah latihan-latihan itu dapat kalian tinggalkan sebentar untuk berbicara dengan para Petinggi desa?”

“Tentu Pangeran.” jawab Panglima Donghae. “latihan-latihan itu sudah dapat berjalan, anak-anak muda itu ternyata mempunyai ketrampilan yang tinggi, sehingga kami tinggal mengarahkannya.”

“Mudah-mudahan latihan-latihan yang berlangsung hampir sebulan ini akan berarti bagi mereka.” sambung Panglima Eunhyuk.

“Meskipun demikian, merekapun jangan mencoba untuk bertempur satu lawan satu, mereka adalah anak-anak muda yang belum berpengalaman.” sahut Pangeran Kim Hyun Joong.

“Ya, Pangeran, kami setiap kali memperingatkan mereka, agar mereka tidak terlibat dalam perang tanding, kamipun sudah menunjuk pasangan-pasangan diantara mereka jika mereka benar-benar harus terjun ke medan pertempuran.”

“Agaknya cara itu pulalah yang harus kami lakukan.” kata Kepala Desa Oh Ji Ho. “kelompok-kelompok kecil itu harus sudah ditunjuk sebelumnya, agar mereka tidak bingung dengan siapa mereka harus bekerja sama.”

“Ya.” kata Panglima Yesung kemudian, “Apakah hal itu belum Kepala Desa Oh Ji Ho lakukan?”

“Belum Panglima Yesung, kami baru memerintahkan agar mereka bertempur dalam kelompok-kelompok kecil, tetapi kami belum menunjuk kelompok kecil itu.”

“Nanti hal itu dapat Kepala Desa Oh Ji Ho sampaikan kepada para Petinggi Desa.”

Kemudian, beberapa orang anak-anak muda telah menyebar memanggil para Petinggi desa untuk berkumpul di rumah Kepala Desa Oh Ji Ho.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka mulai berdatangan, mereka menyadari, bahwa mereka telah sampai pada persiapan terakhir untuk benar-benar menghadapi para perampok yang mereka perhitungkan akan segera datang ke Desa Namchoseon.”

Kepala Desa Oh Ji Ho dan Pangeran Kim Hyun Joong berganti-ganti memberikan petunjuk-petunjuk, apakah yang seharusnya mereka lakukan.

Sementara itu, belum lagi pembicaraan mereka selesai, dua orang pengawas telah datang untuk menemui Kepala Desa Oh Ji Ho.

“Marilah, masuk.” kata Kepala Desa Oh Ji Ho.

Kedua orang pengawas itupun masuk, di wajah mereka membayang kegelisahan, baju mereka basah oleh keringat yang mengalir dari tubuh mereka.

“Ada apa?” tanya Kepala Desa Oh Ji Ho.

Seorang diantara kedua pengawas itupun berkata dengan suara yang agak bergetar. “Kepala Desa Oh Ji Ho, aku melihat mereka.”

“Mereka siapa?” tanya Kepala Desa Oh Ji Ho.

“Kedua orang itu lagi, mereka berjalan menyusuri jalan utama desa induk ini.”

“Apa yang mereka lakukan?”

“Mereka berhenti beberapa lama di depan rumah Tn.Cha Seung Won, namun kemudian mereka berjalan terus ke selatan, kami mencoba mengawasi mereka dari jarak yang cukup jauh.”

“Apalagi yang mereka lakukan?”

“Mereka juga berhenti di depan rumah Tn.Kaneshiro Takeshi.”

Kepala Desa Oh Ji Ho mengangguk-angguk, kedua orang yang disebut itu adalah orang-orang terkaya di Desa Namchoseon.

“Lalu kemana lagi mereka pergi?”

“Kami tidak dapat mengikutinya lagi, jalan kearah selatan di depan rumah Tn.Kaneshiro Takeshi adalah jalan yang lurus, jika kami mengikuti mereka, maka mereka tentu akan melihat kami, karena keduanya kadang-kadang juga melihat ke belakang.”

“Apa yang kau lakukan kemudian?”

“Kami mencari jalan lain, kami melingkari rumah Tn.Kaneshiro Takeshi, namun tiba-tiba saja kami berpapasan dengan kedua orang itu. kami memang terkejut ketika melihat mereka muncul dari simpang tiga, tetapi kami berjalan terus, kami berpura-pura tidak menghiraukannya.”

“Kau tahu mereka pergi kemana?”

“Keduanya justru menegur kami berdua.”

“Menegur kalian?”

“Ya, Kepala Desa Oh Ji Ho, mereka bertanya kepada kami, apakah kami tinggal di desa induk ini.”

“Apa jawabmu.”

“Kami mengiakannya, keduanya tertawa. seorang diantara mereka justru berpesan kepada kami agar malam nanti kami berhati-hati, agar semua anak-anak muda yang sudah berlatih olah bela diri dibawah bimbingan Kepala Desa Oh Ji Ho itu keluar rumah untuk meronda.”

“Untuk apa menurut mereka?”

“Mereka tidak mengatakannya, namun mereka pergi sambil tertawa berkepanjangan.”

“Nampaknya sudah jelas, Kepala Desa Oh Ji Ho.” kata Pangeran Kim Hyun Joong. “Mereka akan datang malam nanti, kedua orang itu tentu berusaha meyakinkan sasaran mereka, agaknya kedua rumah itulah yang akan mereka datangi malam nanti.”

“Ya, Pangeran.”

“Waktu kita tidak banyak lagi Kepala Desa Oh Ji Ho, kita harus segera mempersiapkan segala-galanya, terutama di desa ini.”

“Jika demikian Pangeran, apakah anak-anak muda dari Desaku harus datang ke desa induk ini pula malam nanti?”

“Belum sekarang Pejabat Jo Dong Hyuk.” jawab Pangeran Kim Hyun Joong. “Kita masih belum tahu pasti, kemana para perampok itu akan pergi, biarlah anak-anak muda itu menjaga desa mereka masing-masing, kami sendiri malam nanti akan mengawasi mereka, jika perlu, maka biarlah kami memberikan isyarat, tetapi sebaliknya, jika para perampok itu datang ke desa yang manapun, maka isyarat kentongan akan memanggil kami untuk datang.”

“Baik Pangeran, kami akan menunggu.”

“Marilah Kepala Desa Oh Ji Ho, kita akan mulai dengan tugas berat kita, kita akan memikul bersama. mudah-mudahan kita akan berhasil, sehingga keberadaan kami yang hampir sebulan disini tidak sia-sia.”

Demikianlah, maka pertemuan itupun segera dibubarkan, Kepala Desa Oh Ji Ho telah membagi tugas kepada para Petinggi desa, mereka harus segera menghubungi anak-anak muda terutama di desa induk untuk segera bersiap-siap. Sebentar lagi matahari akan turun disisi barat. Langit akan menjadi buram, sesaat kemudian senja akan datang dan malampun akan menyelimuti Desa Namchoseon.

Pangeran Kim Hyun Joong pun telah memberikan printah-perintah kepada para Panglima dan para prajurit yang ada di Desa Namchoseon, bahkan Pangeran Kim Hyun Joong telah memerintahkan para prajurit itu untuk datang mengunjungi kedua buah rumah yang agaknya akan menjadi sasaran para perampok.

“Jangan bersama-sama, datanglah berdua, seorang Petinggi desa atau anak muda yang ditugaskan oleh Kepala Desa Oh Ji Ho akan mengantarkan kalian, kalian harus tahu pasti, apa yang akan kalian lakukan malam nanti, jika mereka benar-benar datang.”

Para prajurit dan para Panglima itupun menjalankan perintah Pangeran Kim Hyun Joong dengan sebaik-baiknya, sementara Kepala Desa Oh Ji Ho telah minta agar pemilik rumah itu justru meninggalkan rumah mereka.

“Sebaiknya kalian berada di rumahku atau rumah Pejabat Lee Hyung Chul atau rumah para Petinggi yang lain. Mungkin keadaan akan menjadi gawat, meskipun kami masih berharap, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa malam ini nanti di rumah kalian.” berkata Kepala Desa Oh Ji Ho kepada kelaurga Tn.Cha Seung Won dan Tn.Kaneshiro Takeshi.

Ternyata kedua keluarga itu tidak berkebaratan, mereka percayakan rumah mereka dibawah pengawasan para Petinggi Desa Namchoseon serta para prajurit Seongnam yang berada di desa mereka.

Ketika kemudian senja turun, maka segala sesuatunya sudah siap, meskipun tidak nampak gejolak dipermukaan, namun Desa Namchoseon sudah berada dalam kesiagaan penuh.

“Jangan membuat desa ini menjadi resah dan ketakutan.” kata Pangeran Kim Hyun Joong kepada para prajurit, sementara Kepala Desa Oh Ji Ho pun berusaha agar Desa Namchoseon tetap tenang. Namun bagaimanapun juga Kepala Desa Oh Ji Ho berusaha, masih juga terasa ketegangan yang mencengkam para penghuninya.

Malampun perlahan-lahan turun menyelimuti Desa Namchoseon, langit nampak cerah dan bintang-bintangpun bergayutan.
Beberapa orang anak muda yang terpilih diantara mereka yang berlatih dibawah bimbingan para prajurit, mendapat tugas untuk mengawasi jalan-jalan utama menuju ke perkampungan induk, sementara itu anak-anak muda di kampung-kampung yang lain telah mendapat perintah untuk tidak mengganggu jika mereka melihat iring-iringan sekelompok orang yang menuju ke kampung induk.

“Biarlah para perampok itu sampai itu sampai ke perkampungan induk, kecuali jika mereka merampok di perkampungan-perkampungan lain, maka kampung itu harus membunyikan isyarat agar para prajurit segera datang.” pesan Kepala Desa Oh Ji Ho kepada para Petinggi Desa.

Sebenarnya, malam ini para perampok itu dibawah pimpinan Panglima Siwon telah mempersiapkan orang-orangnya untuk memasuki Perkampungan induk Desa Namchoseon, mereka sudah menentukan untuk memasuki dua buah rumah orang terkaya di Perkampungan induk Desa Namchoseon, rumah Tn.Cha Seung Won dan Tn.Kaneshiro Takeshi, keduanya adalah saudagar yang berhasil.

“Aku telah mempermainkan anak-anak muda Desa Namchoseon.” kata salah seorang dari para perampok itu.

“Apa yang kau lakukan?”

“Jika anak-anak muda itu menantang kita dengan berlatih olah beladiri dibawah bimbingan Kepala Desa Oh Ji Ho dan para Petinggi Desa, maka aku berkata kepada anak muda Namchoseon yang aku temui di jalan, agar mereka mempersiakan diri malam nanti.”

“Kau memang gila.” geram Panglima Siwon seakan-akan mereka akan dapat menandingi kita?”

“Bukankah kita tersinggung dengan latihan-latihan yang mereka lakukan?”

“Jika anak-anak muda itu benar-benar berusaha melawan, kita akan menjadi pusing juga.”

“Kenapa? kita akan membantai mereka seperti menebas batang ilalang.”

“Itulah yang membuat kepala kita pusing, apakah kita akan membunuh anak-anak muda itu?”

“Jika satu dua orang diantara mereka sudah terbunuh, maka yang lain akan melarikan diri.” kata seorang perampok yang lain.

Namun seorang yang sudah lebih tua dari mereka berkata “Kita akan berusaha untuk menemukan Kepala Desa Namchoseon yang tentu akan memimpin anak-anak muda itu, kita paksa Kepala Desa Oh Ji Ho untuk memerintahkan anak-anak muda itu menyingkir, jika Kepala Desa Namchoseon yang sombong itu keras kepala dan mungkin juga Pejabat Lee Hyung Chul telah mati, maka anak-anak muda itu akan lari dengan sendirinya.”

“Yang akan membuat jantung kita menjadi sangat tegang, jika anak-anak muda itu tidak mau menyingkir.”

“Apa boleh buat.” kata seorang yang bertubuh agak pendek, tetapi otot-ototnya menjorok di permukaan kulitnya, wajahnya yang cacat membuatnya menjadi sangat menyeramkan.

“Ya.” sahut orang yang bertubuh raksasa. “Bukan salah kami.”

Panglima Siwon termangu-mangu sejenak, namun iapun kemudian berkata “Kita adalah sekelompok berandalan terkenal, sebenarnya aku agak malu jika kita harus membunuh anak-anak.”

“Tetapi itu karena salah mereka sendiri, kesombongan merekalah yang telah membunuh mereka.

“Aku setuju untuk menemukan Kepala Desa Oh Ji Ho dan Pejabat Lee Hyung Chul, mereka harus mati, jika mereka mati, kita memang dapat berharap anak-anak muda itu akan berhenti dengan sendirinya.”

Namun orang yang bertubuh raksasa itu masih menyahut “Jika mereka tidak mau menyingkir, kita harus bertindak tegas. Namchoseon akan menjadi ajang pembantaian yang pertama sejak kita melakukan gerakan beruntun di Seongnam. pada saatnya kita pun akan bergerak ke Sungkyunkwan.”

“Ladang di Sungkyunkwan tidak sesubur ladang di Seongnam, bukankah aku sudah pernah mengatakannya.” sahut Panglima Siwon.

Orang bertubuh raksasa itu masih juga menyahut. “Jika lahan di Seongnam sudah habis dituai?”

“Kita akan memikirkannya kelak, tetapi lahan di Seongnam tidak akan habis dalam beberapa tahun.”

Orang yang bertubuh pendek itulah yang menyahut. “Mungkin, tetapi pada suatu saat kita harus berhenti, para prajurit Seongnam tentu akan turun ke gelanggang jika kita bergerak semakin ketengah, apalagi mendekati pusat pemerintahan di Seongnam.”

“Kita akan memikirkannya kelak, jangan sekarang, sekarang kita siap memasuki kampung induk Desa Namchoseon” potong Panglima Siwon.

Yang lain pun terdiam

Ketika malam menjadi semakin gelap, para perampok itu sudah berada di perbatasan Desa Namchoseon, mereka masih sempat beristirahat sejenak, baru kemudian, Panglima Siwon membawa anak buahnya untuk bergerak, Panglima Siwon telah bergerak ke kampung induk Desa Namchoseon.

Sebelum mereka mulai bergerak, Panglima Siwon pun telah berpesan kepada anak buahnya untuk tidak berbuat apa-apa di kampung-kampung yang akan mereka lewati.

“Kenapa?” tanya yang bertubuh raksasa.

“Jika kita mengganggu kampung yang kita lewati, maka akan ada diantara para penghuninya yang akan memukul kentongan.”

“Apa salahnya? orang-orang kampung induk tentu sudah mengira bahwa kita akan datang malam ini.”

“Itulah bodohnya kedua orang yang menuruti gejolak perasaannya itu.”

“Apakah kita akan menjadi ketakutan jika anak-anak muda itu bersiap-siap menyongsong kedatangan kita?”

“Bukan ketakutan, tetapi sudah aku katakan, apakah kita harus membunuh anak-anak muda itu? sementara itu, orang-orang terkaya di Namchoseon itu sempat menyembunyikan harta benda mereka.”

Tetapi seorang perampok yang lain tertawa. “Tidak akan ada yang berani menyembunyikan harta bendanya, jika kita datang, dimanapun hartanya disembunyikan, tentu akan mereka tunjukkan dan akan mereka serahkan kepada kita, jika tidak, ujung pedang akan kita letakkan di lehernya.”

Namun seorang perampok yang lain bertanya. “Jika mereka pergi mengungsi?”

“Seluruh kampung induk akan kita bongkar, jika kampung induk itu menjadi kosong, maka rumah-rumah merekalah yang akan kita bakar.”

“Cukup.” Kata Panglima Siwon. “Bagaimanapun juga, kita akan melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya, menurut perhitunganku, orang-orang kampung induk itu tidak akan mengungsi, mereka tentu justru akan menyongsong kehadiran kita, karena mereka memang sudah mempersiapkan diri sebelumnya, seharusnya kita menghindari kemungkinan itu, kita tidak perlu memberikan isyarat bahwa kita akan datang atau merangsang penghuni desa yang lain untuk membunyikan kentongan.”

Para perampok itupun terdiam, sementara itu mereka berjalan semakin cepat melintasi jalan-jalan desa.

Perkampungan-perkampungan di lingkungan Desa Namchoseon itu nampak sepi, tidak ada seorangpun yang nampak diluar rumah, ketika mereka melewati gardu perondaan, maka tidak seorang pun yang nampak di dalam gardu itu.

Tetapi ketika para perampok itu melihat rumah-rumah di pinggir jalan lewat pintu pagar yang terbuka, maka di dalam rumah itu nampak cahaya lampu minyak yang menyala.

“Mereka bersembunyi di balik dinding rumah mereka.” kata para perampok itu.

“Mereka menjadi ketakutan, nampaknya berita akan kehadiran kita sudah merambat sampai ke perkampungan-perkampungan.”

“Itu pantas mereka sesali.” kata perampok yang sudah lebih tua.

Dengan demikian, maka iring-iringan itupun bergerak semakin lama menjadi semakin cepat, para perampok itu dihinggapi oleh keinginan untuk segera sampai di rumah yang akan menjadi sasaran perampokan, mereka ingin segera mengetahui, apakah harta benda yang tersimpan di rumah itu sudah disembunyikan, atau bahkan pemilik rumah itu sudah pergi mengungsi sambil membawa semua harta bendanya yang berharga.

Tetapi mereka menduga, bahwa pemilik rumah itu tidak akan pergi, di rumah itu ada sebuah pedati, beberapa ekor sapi, kambing dan bahkan kuda, tiang-tiang di Gazebo yang berukir. Semuanya itu tentu mahal harganya, mereka tentu tidak akan membiarkan semuanya itu dibakar dan menjadi abu.

Beberapa saat kemudian, iring-iringan itupun telah mendekati desa induk, para pengawas pada lapis pertama melihat kehadiran mereka, namun mereka sama sekali tidak mengganggu.

Dalam sepinya malam, tiba-tiba saja terdengar suara burung hantu, dihanyutkan oleh angin yang bertiup perlahan.

Sementara itu, dalam kegelapan malam, seorang pengawas yang duduk diatas dahan pohon jambu yang tumbuh di belakang dinding desa induk yang mendengar suara burung hantu itu, memberi isyarat kepada dua orang kawannya yang duduk bersandar pada batang jambu itu.

Seorang diantara merekapun segera berlari memberikan laporan, bahwa para perampok yang mereka tunggu, benar-benar telah datang.

“Terima kasih.” kata Pangeran Kim Hyun Joong “Sekarang semuanya ke tempat yang sudah ditetapkan, yang kita perhitungkan akan menjadi sasaran pertama adalah Tn.Cha Seung Won, tetapi kita akan mengawasi mereka melintas di jalan utama desa induk ini.”

Para prajurit dan anak-anak muda yang telah terlatih dibawah bimbingan para prajurit itupun berpencar, sebagian dari mereka berada di balik dinding halaman di tepi jalan utama, sementara yang lain telah mendahului berada di halaman rumah Tn.Cha Seung Won, namun beberapa dari mereka juga mengawasi rumah Tn.Kaneshiro Takeshi. Namun dengan isyarat tentu, mereka akan segera berkumpul untuk melawan para perampok itu, apakah di halaman rumah Tn.Cha Seung Won atau di halaman rumah Tn.Kaneshiro Takeshi atau justru di tempat yang lain.

Selain anak-anak muda yang telah berpencar itu, maka anak-anak muda yang lain pun telah menjaga semua pintu gerbang desa selain pintu gerbang yang akan dilewati oleh para perampok itu.

Sejenak kemudian, maka para perampok itupun telah memasuki Pintu gapura Desa Namchoseon, namun ternyata di desa induk itupun mereka tidak menjumpai anak-anak muda yang sebelumnya sudah sempat berlatih di padang rumput, dan di halaman rumah Kepala Desa Oh Ji Ho.

Bersambung (Season 9 – Patih Han Jung Soo)...

Meraba Matahari (Season 7)


Season 7
Jung So Min


“Rencana apa?”

Agaknya Panglima Yesung tidak dapat menahan diri lagi, tiba-tiba saja iapun berkata. “Kepala Desa Oh Ji Ho, kau dengar dahulu apa yang akan dikatakan Pangeran Kim Hyun Joong, baru kau berceloteh tentang nalarmu yang pendek itu.”

Wajah Kepala Desa Oh Ji Ho menjadi merah, sementara itu dengan cepat Kim Hyun Joong menyambung. “Maaf Kepala Desa Oh Ji Ho, aku minta Kepala Desa Oh Ji Ho mendengarkan dahulu dan kemudian mempertimbangkan rencanaku dengan seksama agar Kepala Desa Oh Ji Ho dapat melihat dengan jelas, apa yang mungkin terjadi di desa ini.”

“Tetapi, siapakah yang dimaksud dengan Pangeran Kim Hyun Joong?”

“Aku Kepala Desa Oh Ji Ho.”

“Tunggu, apakah aku berbicara dengan Pangeran Kim Hyun Joong?”

“Ya.”

“Nanti dulu, bukankah Pangeran Kim Hyun Joong tidak berada di Kerajaan Seongnam, sudah beberapa tahun lalu Pangeran Kim Hyun Joong berada di sebuah perguruan.”

“Darimana Kepala Desa Oh Ji Ho tahu?” tanya Kim Hyun Joong.

“Aku mendengar dari seorang saudara sepupuku yang mengabdi di Kerajaan Seongnam.”

“Kepala Desa Oh Ji Ho benar, sudah empat tahun aku meninggalkan Istana dan tinggal di Perguruan Kangsan.”

“Jadi Pangeran adalah Pangeran Kim Hyun Joong itu? aku pernah melihat Pangeran beberapa tahun yang lalu, aku sungguh-sungguh tidak dapat mengenali Pangeran lagi, Pangeran sekarang rasa-rasanya bukan Pangeran Kim Hyun Joong yang pernah aku lihat pada suatu pertemuan di Istana sekitar empat tahun yang lalu.”

“Aku sekarang sudah kembali, Kepala Desa Oh Ji Ho.”

“Pangeran, aku mohon maaf atas segala kesalahanku, karena aku tidak tahu bahwa kau adalah Pangeran Kim Hyun Joong putra Kaisar Ryu Seung Ryong.”

“Tidak apa-apa, Kepala Desa Oh Ji Ho. Apa yang Kepala Desa Oh Ji Ho katakan itu benar, ayahanda memang agak terlambat mengambil sikap, tetapi maskud ayahanda agar persoalan ini dapat diselesaikan dengan tuntas.”

“Ya, Pangeran.”

“Mungkin, Kepala Desa Oh Ji Ho kurang memahami rencana ayahanda itu.”

Kepala Desa Oh Ji Ho tidak menjawab, ia hanya dapat menundukkan kepalanya saja.

Pangeran Kim Hyun Joong kemudian menjelaskan rencana di hadapan Kepala Desa Oh Ji Ho dan Para Petinggi Desa Namchoseon. “Kebetulan, aku dapat bertemu dengan para petinggi malam ini juga.”

Para petinggi itupun mendengarkan keterangan pangeran Kim Hyun Joong dengan segenap perhatian, Kepala Desa Oh Ji Ho sekali-kali mengangguk-angguk, namun kemudian mengerutkan keningnya, demikian pula Para Petinggi yang lain, ada yang segera dapat mereka pahami, tetapi ada pula yang masih memerlukan banyak penjelasan. “Kami sengaja datang dalam tugas yang harus Kepala Desa Oh Ji Ho rahasiakan.” kata Kim Hyun Joong kemudian. “Setidak-tidaknya jangan sampai membuat para perampok itu merubah rencananya.”

Pejabat Lee Hyung Chul yang masih belum paham benar langkah-langkah yang akan diambil oleh Pangeran Kim Hyun Joong itupun bertanya. “bagaimanapun juga, bukankah Pangeran Kim Hyun Joong berniat bertumpu pada kekuatan anak-anak muda desa ini? itulah yang kami khawatirkan Pangeran, korban akan berjatuhan.”

“Pejabat Lee Hyung Chul, bukannya kami merasa diri kami memiliki kamampuan yang tinggi, tetapi sepuluh orang prajurit akan sangat berarti bagi anak-anak muda desa ini, sementara itu, kita tidak akan menebarkan anak-anak muda itu begitu saja, mereka harus mendapatkan petujnjuk-petunjuk yang setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas mereka.”

“Tetapi menurut pendapatku, Seongnam lebih baik mengirimkan prajurit lebih banyak lagi.”

“Itu tidak akan menyelesaikan persoalannya dengan tuntas, bahkan mungkin kita tidak akan pernah dapat bertemu lagi apalagi bertempur dengan para perampok itu, mereka akan menyingkir, merubah rencana mereka dan membuat mereka semakin berhati-hati.”
Pejabat Lee Hyung Chul menarik nafas dalam-dalam.

“Pejabat Lee Hyung Chul.” kata Panglima Yesung. “Kita diam-diam harus menyelenggarakan latihan, kita pergunakan waktu yang pendek itu untuk sekedar menunjukkan kepada anak-anak muda, apa yang harus mereka lakukan dengan senjata-senjata mereka untuk melindungi diri mereka.”

“Waktu kita hanya terhitung hari.” sahut Pejabat Lee Hyung Chul.

“Ya, mungkin sepekan, mungkin dua pekan, kita manfaatkan waktu itu sebaik-baiknya, Pejabat Lee Hyung Chul dapat membuat gelar, mengadakan latihan terbuka di halaman atau di padang rumput, di lereng perbukitan, sementara itu, yang lain mengadakan latihan-latihan kepada lima orang di tempat tertutup, bukankah sudah ada lima puluh orang yang serba sedikit mendapatkan bimbingan apa yang sebaiknya mereka lakukan jika mereka benar-benar harus menghadapi para perampok.”

Kepala Desa Oh Ji Ho mengangguk-angguk, katanya “Aku telah mengerti dengan rencana Pangeran.”

“Jika para perampok itu benar-benar datang ke Namchoseon, maka yang akan ikut bersama kami menangani para perampok itu adalah anak-anak muda yang ikut berlatih bersama para prajurit, sementara itu, anak-anak muda yang berlatih bersama Pejabat Lee Hyung Chul dan barangkali bersama Para Petinggi yang lain atau Kepala Desa Oh Ji Ho sendiri, akan memagari arena agar tidak seorangpunpun diantara para perampok itu yang sempat melarikan diri.”

Pejabat Lee Hyung Chul itupun mengangguk-angguk.

“Jika telah jatuh korban di desa lain, maka agaknya anak-anak mudanya tidak dipersiapkan sama sekali untuk menghadapi kemungkinan yang buruk itu, mereka tidak siap turun ke arena pertempuran melawan dua puluh lima orang perampok. Meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak, tetapi tanpa petunjuk sama sekali, mereka memang akan mengalami kesulitan, bahkan dua orang telah terbunuh dan beberapa orang yang lain terluka.”

“Ya, Pangeran.” Pejabat Lee Hyung Chul masih mengangguk-angguk.

“Nah, sebaiknya Pejabat Lee Hyung Chul memberikan petunjuk-petunjuk kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan menghadapi para perampok, demikian pula para prajurit akan melatih anak-anak muda yang akan ditunjuk oleh Pejabat Lee Hyung Chul.”

“Baik Pangeran.” kata Kepala Desa Oh Ji Ho .“Jika demikian, maka kami pun dapat berharap akan dapat mengatasi jika para perampok itu, juka benar-benar mereka akan datang kemari.”

“Nah, jika Kepala Desa Oh Ji Ho sependapat, maka aku minta Kepala Desa Oh Ji Ho, Pejabat Lee Hyung Chul dan Para petinggi yang lain segera mengatur, dimana latihan-latihan khusus itu akan diadakan, masing-masing untuk lima orang anak muda terpilih, memiliki keberanian, kesediaan mengabdi dan berkorban jika perlu, serta unsur bela diri yang cukup.”

“Baik Pangeran.” jawab Kepala Desa Oh Ji Ho. “malam ini juga Para Petinggi akan melakukannya.”

“Tetapi semuanya harus dilakukan dengan hati-hati, kita akan berusaha merahasiakannya, jika para perampok mengetahuinya, mereka akan merubah sasaran mereka.”

“Tetapi bagaimana dengan latihan-latihan di tempat terbuka itu?”

“Latihan-latihan yang dipimpin sendiri oleh Kepala Desa Oh Ji Ho, Pejabat Lee Hyung Chul dan Para Petinggi itu justru akan memancing mereka untuk datang, mereka akan merasa ditantang oleh anak-anak muda desa ini.”

“Baik, baik, aku mengerti.”

Pembicaraan merekapun kemudian terputus, seorang gadis keluar lewat pintu sambil membawa nampan untuk menghidangkan minuman kepada keempat orang tamu yang datang di rumah Kepala Desa Oh Ji Ho itu.

Ketika dengan tidak sengaja Pangeran Kim Hyun Joong memandang wajah gadis itu, maka jantungnya tergetar, gadis yang memanjat ke usia dewasa itu, adalah gadis yang sederhana, tetapi dalam kesederhanaannya, wajahnya yang cerah bagaikan memancarkan kepribadiannya yang terang.

Namun Pangeran Kim Hyun Joong segera menyadari, bahwa ia datang sebagai seorang tamu yang baru pertama kalinya mengunjungi keluarga Kepala Desa Namchoseon. Kim Hyun Joong pun belum tahu siapakah gadis itu, atau bahkan mungkin ia bukan seorangn gadis, mungkin ia justru menantu Kepala Desa Namchoseon.”

Karena itu, maka Pangeran Kim Hyun Joong pun berusaha untuk tidak memperhatikannya lagi, namun diluar sadarnya, sekali-sekali anak muda itu memandang wajah gadis yang menghidangkan mangkuk-mangkuk minuman hangat itu.

Ketika kemudian gadis itu meninggalkan ruangan dan masuk ke ruang dalam, maka Kepala Desa Oh Ji Ho pun mempersilahkan tamu-tamunya "Marilah Pangeran, para Panglima, minumlah, mumpung masih hangat.”

“Terima kasih Kepala Desa Oh Ji Ho.” sahut Kim Hyun Joong yang berusaha mengusai dirinya.

Namun sejenak kemudian, gadis itu telah keluar lagi dari ruang dalam sambil membawa minuman pula bagi Para Petinggi desa.
“Aku tidak tahu, yang manakah minuman tuan masing-masing, aku bawakan yang baru lagi bagi tuan.”

Kata-kata gadis itupun terdengar bagaikan sebuah lagu yang lembut.

Sejenak kemudian, ketika gadis itu sudah hilang dibalik pintu, sekali lagi Kepala Desa Oh Ji Ho mempersilahkan tamu-tamunya untuk minum.

Sambil minum, maka Pangeran Kim Hyun Joong dan Kepala Desa Oh Ji Ho telah mematangkan kesepakatan mereka, apa yang sebaiknya mereka lakukan di desa itu.

“Kita harus manfaatkan waktu sebaik-baiknya, Kepala Desa Oh Ji Ho.” kata Pangeran Kim Hyun Joong.

“Baik, Pangeran, mulai malam ini juga, Para Petinggi desa akan mulai dengan kerja mereka sebagaimana kita sepakati bersama.”
Demikianlah sejenak kemudian, maka Kepala Desa Oh Ji Ho mempersilahkan tamu-tamu mereka dari Seongnam itu makan malam.

“Aku sudah makan sebelum berangkat kemari.” desis Pejabat Lee Sang Yoon.

Tetapi Kepala Desa Oh Ji Ho pun menyahut. “Aku tadi juga sudah makan, tetapi biarlah kita menemani tamu-tamu kita untuk makan malam.

Setelah makan, maka para tamu itupun dipersilahkan untuk beristirahat di gazebo sebelah kanan. kepada para tamu Kepala Desa Oh Ji Ho itu berkata “Silahkan Pangeran dan para Panglima, tetapi inilah rumah di padesaan, sederhana dan barangkali kotor, kami sediakan dua buah bilik di Gazebo sebelah kanan.”

“Terima kasih Kepala Desa Oh Ji Ho, tetapi ini sudah terlalu baik bagi kami. Kami para prajurit sudah terbiasa tidur disembarangn tempat, bahkan ditempat-tempat terbuka, atau di hutan sekalipun.”

“Itu bila para prajurit berada dalam keadaan terpaksa.”

Pangeran Kim Hyun Joong tersenyum, katanya. “Terima kasih atas sambutan yang baik dari Kepala Desa Oh Ji Ho dan Para Petinggi. Besok masih ada enam orang prajurit yang akan datang, tetapi mereka tidak datang bersama-sama, mereka akan langsung menuju kemari dan minta untuk dapat dipertemukan dengan Kepala Desa Oh Ji Ho.”

“Baik, Pangeran. besok atau kapanpun mereka datang, aku akan terima dengan senang hati, bahkan dengan harapan-harapan sebagaimana kedatang Pangeran dan ketiga Panglima itu.”

“Kami akan berusaha sebaik-baiknya, Kepala Desa Oh Ji Ho.”
Demikianlah Pangeran Kim Hyun Joong dan ketiga Panglima itupun telah dibawa ke Gazebo sebelah selatan, dua bilik telah disediakan bagi mereka.

Namun ternyata bahwa ketiga Panglima itu lebih senang berada di dalam satu bilik, sedangkan bilik yang lain dipergunakan oleh Kim Hyun Joong sendiri.”

Seharusnya salah seorang dari kalian bertiga beristirahat di bilik ini bersamaku.” ajak Pangeran Kim Hyun Joong.

Tetapi ketiga panglima itu agaknya merasa segan, sehingga mereka memilih tidur diatas sebuah tikar bambu yang mereka rasa cukup besar bagi mereka bertiga.

“Biasanya aku mandi dahulu baru makan, sekarang aku terpaksa makan dahulu.”

“Kita tunggu sebentar sampai nasi ini turun ke dalam perut, baru kita mandi, mudah-mudahan para perampok itu tidak datang malam ini.”

Setelah mandi maka tubuh merekapun merasa segar, namun dengan demikian, ketika kentongan di gardu di sebelah rumah Kepala Desa Oh Ji Ho itu mengisyaratkan bahwa malam telah sampai ke pertengahannya, merekapun membaringkan tubuh mereka di pembaringan.

Pangeran Kim Hyun Joong yang tidur sendiri di dalam bilik yang terpisah, justru segera dapat tertidur.

“Anak-anak muda yang meronda itu tentu akan berjaga-jaga sampai dini hari.” kata Pangeran Kim Hyun Joong di dalam hatinya.” dengan demikian, maka iapun menjadi tenang, sehingga beberapa saat kemudian, Pangeran Kim Hyun Joong itupun telah tertidur nyenyak.

Ketiga Panglima yang tidur di dalam satu bilik, justru tidak dapat segera tertidur, mereka masih saja berbicara diantara mereka, tentang kemungkinan yang dapat terjadi di Desa Namchoseon.

”Bagaimana Jika yang kemudian didatangi oleh para perampok itu bukan Desa Namchoseon?” desis Panglima Yesung.

“Jika kita mendengar isyarat kentongan, kemanapun kita akan pergi, tetapi menurut perhitungan kita dan bahkan juga perhitungan Para Petinggi desa, para perampok itu akan datang ke Namchoseon.” sahut Panglima Donghae.

Panglima Yesung terdiam.

Baru lewat tengah malam mereka tertidur nynyak. Pagi-pagi sekali ketiganya telah bangun, bergantian mereka menimba air mengisi bak mandi.

Ketika pelayan di rumah Kepala Desa Oh Ji Ho itu mempersilahkan mereka untuk mandi saja, sementara pelayan itu yang akan mengisi Bak mandi, Panglima Eunhyuk pun berkata “Sudahlah, kami sudah terbiasa melakukannya.”

Ketika matahari terbit, maka ketiga orang Panglima itu serta Pangeran Kim Hyun Joong telah selesai berbenah diri, merekapun kemudian duduk di serambi depan kediaman Kepala Desa Oh Ji Ho.

Jantung Kim Hyun Joong terasa berdegup kencang ketika ia melihat gadis yang semalam menghidangkan minuman, datang kepadanya serta ketiga orang Panglima itu sambil membawa mangkuk minuman hangat.

Sambil meletakkan mangkuk-mangkuk minuman itu di tikar bambu di serambi, gadis itupun berkata “Silahkan Pangeran, marilah diminum.”

Kim Hyun Joong yang menjadi agak gagap itupun menjawab “Terima kasih.”

Ketika gadis itu pergi, tanpa sadar Pangeran Kim Hyun Joong memperhatikan gadis itu dari arah belakang, gadis yang berjalan turun ke halaman dan menuju ke dalam rumah.

Pangeran Kim Hyun Joong menarik nafas dalam-dalam, gadis itu benar-benar menarik perhatiannya, justru karena kesederhanaannya serta kepribadiannya.

Tetapi sekali lagi, Kim Hyun Joong harus mengekang diri, ia masih belum tahu pasti, siapakah gadis itu, jika ia menantu Kepala Desa Oh Ji Ho, maka perhatiannya harus berhenti sampai sekian.

Demikian gadis itu hilang di balik pintu, maka Panglima Yesung lah yang mempersilahkan “Marilah Pangeran, mumpung masih panas, hari masih pagi, tetapi aku sudah haus.”

Keempat orang tamu Kepala Desa Oh Ji Ho itupun kemudian telah menghirup minuman hangat.

Kemudian, dua orang melangkah memasuki halaman rumah Kepala Desa Oh Ji Ho, sebelum orang itu bertanya sesuatu, Panglima Donghae mengangkat wajahnya sambil berdesis “Dua orang prajuritku sudah datang.”

Panglima Donghae pun kemudian bangkit berdiri menyongsong kedua orang prajuritnya. dibawanya kedua orang itu duduk di serambi. Panglima Donghae pun memperkenalkan kedua prajuritnya itu kepada Pangeran Kim Hyun Joong.

Keduanya mengangguk hormat.

“Pangeran Kim Hyun Joong adalah putra Kaisar Ryu Seung Ryong di Seongnam.”

Kedua prajurit itupun mengangguk semakin dalam.

“Marilah, duduk.”

Kedua prajurit itupun kemudian duduk di serambi itu pula. “Aku akan melaporkan kepada Kepala Desa Oh Ji Ho.” kata Panglima Donghae.

Sementara itu, di ruang dalam Ny.Lee Bo Young-Istri Kepala Desa Oh Ji Ho serta gadis yang telah menghidangkan minuman bagi Pangeran Kim Hyun Joong itupun telah sibuk menyiapkan makan pagi, mereka tidak menyiapkan sekedar untuk empat orang tamunya, tetapi karena pagi itu diduga akan datang lagi enam orang tamu, maka makan pagi yang disedikakan oleh Ny.Lee Bo Young adalah untuk sepuluh orang tamu, serta Kepala Desa Oh Ji Ho sendiri.

Sebenarnya sebelum matahari terbit, enam orang prajurit dari Seongnam telah ada di rumah Kepala Desa Oh Ji Ho, pagi itu Kepala Desa Oh Ji Ho juga sudah memerintahkan Pejabat Lee Hyung Chul dan Para Petinggi desa yang lain untuk datang sedikit lebih pagi dari biasanya.

Kepala Desa Oh Ji Ho menerima keenam prajurit yang datang berurutan itu di ruang dalam, sekaligus mempersilahkan mereka makan pagi.

“Tetapi kami baru saja datang, Kepala Desa Oh Ji Ho. Kami belum mandi.”

“Nanti saja mandi, sekarang makan saja dahulu.” sahut Kepala Desa Oh Ji Ho sambil tersenyum.

Kenam prajurit itu tidak dapat menolak, merekapun segera makan pagi di ruang dalam, sementara itu, merekapun berbincang untuk menegaskan kesepakatan mereka semalam, terutama kepada para prajurit yang baru saja datang itu.

“Dalam waktu yang singkat dan pendek, kalian harus menyiapkan masing-masing lima orang anak muda, setidak-tidaknya mereka tahu, bagaimana mereka harus melindungi dirinya sendiri.” kata Pangeran Kim Hyun Joong kepada para prajurit itu.

“Ya, Pangeran.” salah seorang dari mereka menjawab “Kami akan berusaha sejauh kemampuan kami.”

“Aku percaya kepada kalian, itu adalah satu-satunya jalan untuk menjebak para perampok itu.”

“Kami mengerti pangeran.”

Demikianlah, maka ketika Pejabat Lee Hyung Chul dan Para Petinggi yang lain datang, segala sesuatunya sudah dapat ditentukan, Pejabat Lee Hyung Chul telah menentukan, dimana para prajurit itu harus melatih masing-masing lima orang anak muda, sedangkan anak-anak muda itupun telah ditentukan pula, siapa-siapa mereka dan diman mereka harus berlatih.

“Jika para prajurit telah siap dan tidak lagi merasa letih, anak-anak muda itu sudah dapat memulainya, nanti sedikit lewat senja, anak-anak muda itu sudah akan berada di tempat yang telah ditentukan bagi mereka.”

“Baik, kita memang tidak boleh menyia-nyiakan waktu di setiap detiknya.”

Setelah para prajurit itu makan pagi, beristirahat sejenak, serta kemudian mandi dan merapikan diri, maka merekapun segera dibawa ke tempat yang telah ditentukan bagi masing-masing prajurit, termasuk Pangeran Kim Hyun Joong, namun Pangeran Kim Hyun Joong telah ditentukan untuk memberikan latihan kepada lima orang anak muda di rumah Kepala Desa Oh Ji Ho itu sendiri.

Di halaman belakang rumah Kepala Desa Oh Ji Ho terdapat sebuah sanggar terbuka yang sederhana, sekedar tempat untuk mempertahankan kemampuan serta ketahanan tubuh Kepala Desa Oh Ji Ho, tidak ada alat-alat yang rumit, yang dapat dipergunakan untuk dengan sungguh-sungguh meningkatkan kemampuan olah bela diri. Namun tempat itu sudah memenuhi kebutuhan bagi anak-anak muda yang akan berlatih bersama Pangeran Kim Hyun Joong, yang jumlahnya tidak hanya lima orang, tetapi ternyata yang akan berlatih di desa itu terdapat tujuh orang anak muda.

“Biar saja.” kata Pangeran Kim Hyun Joong ketika Pejabat Lee Hyung Chul bertanya, apakah yang dua harus dikurangi.

Sementara itu, para prajurit yang lain pun ternyata juga tidak hanya berlatih bersama lima orang, ada yang enam dan ada pula yang tujuh.

Tetapi seperti Pangeran Kim Hyun Joong, mereka sama sekali tidak berkeberatan asal tidak lebih dari tujuh orang saja.

Para prajurit Seongnam itu tidak membuang-buang waktu, hari itu juga, maka latihan-latihan itupun sudah dimulai.

Ketika malam turun, maka sepuluh orang prajurit itupun sudah berpencar di rumah Para Petinggi desa, mereka mulai memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda Namchoseon untuk menghadapi segala kemungkinan.

“Jika kami, para prajurit datang dengan kekuatan penuh untuk menghadapi para perampok tanpa meningkatkan kemampuan anak-anak muda desa ini sendiri, maka jika pada suatu saat kami meninggalkan desa ini akan menjadi sasaran dendam mereka.” kata salah seorang prajurit kepada enam orang anak muda yang berlatih kepadanya. “tetapi jika kalian sendiri mempunyai bekal yang memadai, maka kalian tidak akan cemas sedikitpun pada suatu saat kami meninggalkan desa ini.”

Anak-anak muda itupun mengangguk-angguk, mereka menyadari sepenuhnya, apa yang sedang dihadapi oleh desanya serta kewajiban yang akan dipikulnya.

Kesadaran itu telah mendorong anak-anak muda desa Namchoseon berlatih dengan sungguh-sungguh, mereka bekerja keras menempa diri dibawah bimbingan para prajurit pilihan, mereka mempergunakan waktu yang singkat itu dengan sebaik-baiknya.

Karena itu, anak-anak muda yang berlatih secara khusus itu tidak menghitung waktu lagi, mereka tidak lagi melakukan pekerjaan mereka sehari-hari atas ijin orang tua mereka, karena orang mereka juga mengerti, untuk apa anaknya berlatih dengan tekun setiap hari.
Selain mereka, Kepala Desa Oh Ji Ho, Pejabat Lee Hyung Chul dan Para petinggi yang lain telah memanggil anak-anak muda desa itu untuk melakukan latihan terbuka, mereka berlatih di padang rumput Desa atau di halaman rumah Kepala Desa Oh Ji Ho.

Namun selain Para Petinggi Desa dan Prajurit Seongnam, tidak ada yang tahu bahwa di desa induk telah dilakukan latihan-latihan khusus bagi beberapa orang anak muda terpilih, anak-anak muda itu sendiri juga tidak bercerita kepada kawan-kawannya. Bahwa mereka telah melakukan latihan-latihan khusus yang berat dibawah bimbingan prajurit pilihan.

Kemudian, disamping mereka yang dengan sukarela berlatih di tempat-tempat terbuka, ada pula mereka yang dengan berterus-terang menolak untuk ikut serta.

“Aku tidak mau memasukkan kepalaku ke dalam api.” kata seorang anak muda yang dalam kehidupannya sehari-hari dikenal sebagai seorangpun anak muda yang penakut.

“Siapakah yang menyuruhmu memasukkan kepalamu ke dalam api?”

“Jika kita harus melawan para perampok itu, apakah itu tidak berarti bahwa kita bersama-sama membunuh diri?”

“Karena itu kita mengikuti latihan yang diselenggarakan di halaman kediaman Kepala Desa Oh Ji Ho, para prajurit Seongnam yang mengajari kita, bagaimana kita memegang tombak, atau pedang atau jenis-jenis senjata yang lain.”

“Perampok itu akan datang besok atau lusa atau sepekan lagi, apa yang kita dapatkan dengan latihan hanya sepekan itu.”

“Banyak.” jawab kawannya.

“Apa saja?”

“Kita tahu bahwa kita jangan melawan satu lawan satu, kita tahu, bahwa kita harus melawan mereka dalam kelompok-kelompok, empat atau lima orang bersama-sama melawan seorang perampok, jika kita bersama-sama mengacungkan senjata dari arah yang berbeda, maka perampok itu tentu akan kebingungan, tetapi kita jangan ragu-ragu, jika ada diantara kita yang ragu-ragu, maka akibatnya akan menjadi sangat buruk bagi kita.”

“Apapun yang kau katakan, tetapi aku tidak mau melakukan kerja yang sia-sia.”

“Ini bukan kerja yang sia-sia, mempertahankan hak adalah kewajiban kita, semua di desa ini, tetapi yang terutama adalah kita, anak-anak mudanya.”

“Kau dengar, bahwa di desa seberang sungai yang terkenal dengan beberapa orang pemburu yang berani, tidak mampu membendung arus perampok itu, malah ada diantara mereka yang terbunuh, sedangkan perampok itu tetap saja merampok. Nah. Bukankah itu sia-sia.”

“Tidak, orang yang terbunuh itu telah mengorbankan nyawanya seharusnya yang masih hidup itu mewarisi jiwa pengorbanannya, jika kita, maksudku aku, kawan-kawan dan kau, menyerah saja. Maka kedua orang yang mati itu memang sia-sia. tetapi jika kematiannya itu mendorong kita semuanya untuk melakukan perlawanan seperti yang telah mereka lakukan, maka kematian keduanya bukan kematian yang sia-sia, kitalah yang harus memberikan arti bagi kematian mereka.”

“Kau berbicara dengan gelora perasaanmu yang telah dibakar oleh Prajurit Seongnam itu. Kau tahu, kenapa Prajurit Seongnam menganjurkan kita untuk berlatih dan jika perlu berkorban untuk melawan para perampok yang ganas itu?”

“Ya, Prajurit Seongnam menghendaki kita semuanya bangkit melawan mereka.”

“Omong kosong, Prajurit Seongnam menganjurkan agar kalian semuanya bersedia berlatih untuk melawan para perampok itu, karena mereka ingi melindungi para petinggi desa yang adalah seorang yang kaya, dengan kesediaan kalian berkorban, maka Para Petinggi desa akan merasa aman. Harta bendanya terlindungi tanpa memperdulikan bahwa ada diantara kita akan mati terbunuh.”

“Betapa kerdilnya jiwamu, kau sama sekali tidak mengikat diri ke dalam satu kesatuan diantara penghuni desa ini.”

“Terserahlah, apa saja penilaianmu, tetapi aku tidak mau mati sia-sia.”

“Sudahlah, jika kau memang ketakutan mendengar sebutan perampok itu, jangan ikut campur, kami akan melaksanakan tugas kami dengan baik, kami akan membantu mempertahankan kekayaan yang terdapat di kampung halaman kami.”

Anak muda yang penakut itu terdiam, tetapi ia tidak berbicara apa-apa lagi.”

Kemudian, ternyata hanya seorang anak muda yang berusaha menghindar karena ketakutan, tetapi para Petinggi desa tidak memaksa mereka, para Petinggi Desa justru selalu bertanya kepada anak-anak muda yang berlatih di rumahnya, siapakah diantara mereka yang memang tidak berani menghadapi langsung para perampok bersenjata itu.

“Sebaiknya kalian minggir, tidak apa-apa, kami tidak akan mendendam pada kalian. Jika kalian memang merasa ketakutan dan terpaksa harus turun ke gelanggang, maka kalian hanya akan menjadi beban kawan-kawanmu yang memang benar-benar berani menghadapi lawan yang meskipun tidak seimbang, tetapi aku selalu memperingatkan, jangan hadapi mereka satu lawan satu, aku dan barangkali Pejabat Lee Hyung Chul dan bahkan Kepala Desa Oh Ji Ho sendiri, tidak akan menghadapi para perampok itu dalam perang tanding.” Kata Pejabat Jo Dong Hyuk.

Beberapa orang memang minggir, tetapi sebaliknya, orang-orang yang sudah tidak tergolong anak-anak muda lagi, bahkan mereka yang sudah mempunyai satu dua orang anak, telah menyatakan kesediaan mereka untuk ikut berlatih bersama Pejabat Jo Dong Hyuk dan Para Petinggi Desa Namchoseon yang lain. bahkan Kepala Desa Oh Ji Ho sering datang pula untuk melihat latihan-latihan itu.

Sementara itu, anak-anak muda yang terpilih, berlatih dengan sungguh-sungguh dibawah bimbingan para prajurit, mereka kerja keras tanpa mengenal lelah. Dari hari kehari mereka mendapat petunjuk yang penting, namun juga melakukan latihan-latihan langsung untuk memahami dan membiasakan diri mempergunakan berbagai macam senjata.

Sementara itu, pengawasan dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh anak-anak muda Desa Namchoseon, dengan petunjuk para prajurit Seongnam mereka dapat melakukan tugas mereka dengan baik.

Dua pekan telah berlalu, ternyata masih belum ada tanda-tanda bahwa para perampok akan memasuki Desa Namchoseon, tetapi para perampok itu juga tidak memasuki desa lain disekitar Desa Namchoseon, mereka juga tidak mendatangi Desa Chunggukga.

Sebenarnya para perampok juga sedang mengadakan pengamatan atas sasaran yang akan mereka pilih, ada diantara mereka yang memilih untuk pergi ke Chunggukga. Baru kemudian ke Namchoseon, tetapi beberapa orang perampok ternyata telah tersinggung dengan sikap anak-anak muda Namchoseon yang telah mengadakan latihan-latihan dibawah bimbingan Kepala Desa Oh Ji Ho, Para Petinggi desa dan para prajurit Seongnam.

“Apakah latihan-latihan itu mempunyai pengaruh?” tanya salah seorang perampok yang kepalanya botak.

“Panglima Siwon minta kita melihat, sejauh mana latihan-latihan itu diadakan, apakah anak-anak muda itu benar-benar dapat ditempa untuk menjadi pahlawan bagi desa mereka, atau hanya sekedar omong kosong untuk menggertak kita.” sahut kawannya.

“Aku setuju, kita akan melihat, apa saja yang dilakukan oleh anak-anak muda itu.”

Sebenarnya dua orang diantara para perampok itu telah ditugaskan untuk pergi ke Namchoseon melihat latihan-latihan yang diselenggarakan di padang rumput atau di halaman rumah Para Petinggi desa.

Namun ketika keduanya kembali ke sarang mereka, maka keduanyapun tertawa berkepanjangan, katanya. “Rupanya Kepala Desa Namchoseon itu sudah gila, ketika aku lewat di depan desa induk, Kepala Desa sendirilah yang sedang memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda, tidak ada yang perlu dicemaskan, mereka memang belajar menggenggam senjata, tetapi senjata itu akan dapat membunuh diri mereka sendiri.”

“Apakah mereka sekedar menggertak agar kia tidak berani memasuki desa itu?”

“Ya, mereka mencoba untuk menggetarkan jantung kita.”

“Jika demikian, kita putuskan, bahwa kita akan pergi ke Namchoseon, ada empat orang saudagar kaya di desa induk, disamping Kepala Desa Oh Ji Ho, tetapi Pejabat Lee Hyung Chul juga terhitung kaya karena peninggalan orang tuanya.”

“Disamping beberapa orang kaya di Desa induk, di beberapa Desa pun terdapat orang-orang kaya pula.”

“Ya, kita akan kembali beberapa kali ke Desa Namchoseon, biarlah orang-orang Namchoseon menyesali kesombongan mereka, jika mereka melawan dengan kekuatan yang mereka kira sudah mereka persiapkan dengan baik itu, maka kita tidak akan segan-segan membunuh beberapa orang diantara mereka, agar seluruh Desa meratapi ulah mereka sendiri.”

Namun agaknya pemimpin perampok itu cukup berhati-hati, ia tidak segera memerintahkan orang-orangnya untuk berangkat merampok di Desa Namchoseon, namun pimpinan perampok itu masih mengirimkan dua orangnya sekali lagi untuk membuktikan, apakah pengamatan dua orang sebelumnya tidak keliru.

Ternyata dua orang yang mengamati keadaan untuk yang kedua kalinya itu juga melihat, bahwa anak-anak muda yang berlatih di halaman hanya sekedar membesarkan hati anak-anak muda itu saja.

“Pengaruhnya tidak ada peningkatan kemampuan mereka.” kata perampok yang lebih tua. ”Tetapi latihan-latihan itu membuat Desa Namchoseon menjadi semakin berani, mereka tentu merasa memiliki kemampuan lebih untuk menghadapi kita, Kepala Desa Oh Ji Ho dan Para Petinggi yang melatih mereka tentu akan mengatakan bahwa latihan-latihan yang diselenggarakan itu sudah meningkatkan kemampuan orang-orang yang akan datang merampok.”

Bersambung (Season 8 – Rumah Tn.Cha Seung Won)...

Kamis, 16 Desember 2010

Meraba Matahari (Season 6)


Season 6
Desa Namchoseon


“Maksud Pangeran Kim Hyun Joong?”

“Kita akan pergi berempat, mudah-mudahan kedatangan kita tidak mereka ketahui. Tetapi seandainya mereka tahu, maka merekapun tidak merasa perlu untuk menghindar, karena kita hanya berempat. Selebihnya, beberapa orang prajurit akan datang berurutan dalam pakaian para petani sehari-hari. Seakan-akan mereka sedang melakukan tugas sandi.”

“Aku mengerti maksud Pangeran.” kata Panglima Yesung.

“Nah jika demikian, maka aku minta Panglima semua masing-masing memilih dua prajurit terbaik, perintahkan mereka untuk menyusul kita, tetapi seperti yang aku katakan tadi, mereka berada dalam tugas sandi, agar para perampok itu tidak merubah rencana mereka.”

“Baik Pangeran, kami mengerti maksud Pangeran Kim Hyun Joong.”

“Kapan kita akan berangkat Pangeran?”

“Besok pagi saat matahari terbit, kita akan pergi menghadap ayahanda memberikan laporan tentang rencana kita, kita akan langsung berangkat menuju ke Desa Namchoseon. Bukankah menurut perhitungan kita, para perampok itu akan merambat sampai ke Desa Namchoseon?”

“Ya, Pangeran. Sementara itu, kedua orang prajurit dari basecamp kami masing-masing harus langsung pergi ke Namchoseon.”

“Ya, biarlah mereka berjalan kaki, tetapi mereka tidak boleh berjalan bersama-sama.”

“Baik, baik, aku akan memerintahkan dua orangku yang terbaik untuk berangkat esok pagi, kata Panglima Yesung.

“Mereka harus langsung pergi ke rumah Kepala Desa sementara kita sudah berada di desa itu.”

“Ya, Pangeran.”

Demikianklah, malam itu itu mereka telah mendapatkan kesepakatan, esok pagi, pada saat matahari terbit, mereka akan bersama-sama menghadap Kaisar Ryu Seung Ryong.

Malam itu, Panglima Eunhyuk, Panglima Yesung, Panglima Donghae, telah menunjuk masing-masing dua orangnya yang terbaik. Mereka mendapat perintah khusus untuk menjalankan tugas mereka yang khusus pula.

Demikianlah, maka ketika matahari terbit di keesokan harinya. Kim Hyun Joong bersama Panglima Eunhyuk, Panglima Yesung, dan Panglima Donghae telah menghadap Kaisar Ryu Seung Ryong, meskipun Kaisar Ryu Seung Ryong baru saja bangun dan bersiap-siap untuk mandi, namun kedatangan Kim Hyun Joong dan ketiga orang Panglima itu telah mendapat perhatiannya, sehingga Kaisar Ryu Seung Ryong telah menerima putranya sebelum Kaisar Ryu Seung Ryong sempat mandi.

“Apa rencanamu Kim Hyun Joong?”

Kim Hyun Joong pun telah menyampaikan rencananya yang telah disusun semalam Panglima Eunhyuk, Panglima Yesung, dan Panglima Donghae.

Kaisar Ryu Seung Ryong pun mendengarkan laporan serta rencana Kim Hyun Joong itu dengan sungguh-sungguh, sekali-kali Kaisar Ryu Seung Ryong mengangguk-angguk, namun kadang-kadang nampak dahinya berkerut.

“Aku percaya padamu, Kim Hyun Joong.” kata Kaisar Ryu Seung Ryong.

“Kami mohon doa restu ayahanda.” kata Kim Hyun Joong kemudian.

“Berangkatlah, kau mengemban tugas sebagai seorang putra Kaisar Seongnam.”

Ketika matahari naik, maka Kim Hyun Joong dan ketiga Panglima muda itupun meninggalkan Istana menuju ke Desa Namchoseon yang tidak jauh dari perbatasan dengan Kerajaan Sungkyunkwan.

Berkuda mereka berempat keluar dari pintu gerbang kawasan kerajaan Seongnam, menyusuri jalan-jalan setapak, kuda mereka itupun berlari di bawah panasnya sinar matahari yang semakin terasa menyengat kulit.

Sekali-kali keempat orang itupun berhenti untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat.

Namun kemudian keempat orang itupun segera melanjutkan perjalanan, dibawah teriknya sinar matahari, mereka melarikan kuda mereka di jalan berbatu-batu, diantara jalur-jalur jejak roda pedati. Sekali-kali keempat orang itu melewati jalan tidak begitu jauh dari hutan yang lebat. Namun kemudian jalan itu melingkar dan menurun tajam. Tetapi kemudian memanjat naik lereng pegunungan, menyeberangi sungai yang tidak mempunyai jembatan.

Perjalanan mereka memang cukup panjang.

“Kita tidak mendahului prahurit-prajurit yang pergi ke Namchoseon.” kata Kim Hyun Joong. “Atau mungkin mereka berada di pasar ketika kita melewati pasar di Desa seberang sungai itu, apa nama desa itu?”

“Desa Teukbyeolsi, Pangeran. Pasar itu juga bernama pasar Teukbyeolsi.”

Namun Panglima Donghae pun menyahut. “Agaknya mereka tidak mengambil jalan ini, Pangeran. Mereka akan mengambil jalan pintas yang lebih dekat.”

Kim Hyun Joong mengangguk-angguk.

“Meskipun jalan itu agak rumit, tetapi mereka akan cepat sampai di Namchoseon.”

“Barangkali esok pagi mereka baru akan memasuki Desa Namchoseon, Pangeran.” kata Panglima Donghae.

“Jadi mereka harus bermalam di perjalanan?”

“Mereka tentu akan menghentikan perjalanan mereka dan bermalam di mana saja. Jika mereka berjalan terus di malam hari, pada saat kerusuhan sedang menghantui desa-desa, akan dapat timbul salah paham.”

Kim Hyun Joong mengangguk-angguk.

Di sore hari, ketika mereka berempat singgah di sebuah kedai, merekapun mendengar pembicaraan tentang kerusuhan itu, agaknya rakyat Seongnam, terutama di daerah rawan, benar-benar menjadi gelisah.

“Kalian akan pergi kemana anak muda?” tanya seorang tua yang juga sedang berada di kedai itu.

Orang itu tidak menyadari bahwa ia berbicara dengan putra Kaisar Seongnam serta tiga Panglima terpilih di Kerajaan Seongnam, karena mereka sama sekali tidak mengenakan ciri-ciri keprajuritan.
Yang menjawab pertanyaan orang tua itu adalah Panglima Donghae, jawabnya. “Kami akan pergi ke Baekjeong, Tuan.”

Orang tua itu mengeruntukan keningnya, lalu katanya. “Hati-hatilah anak muda, bukankah Baekjeong itu letaknya di sebelah Desa Namchoseon?”

“Ya, Tuan?”

“Kami, di lingkungan ini sedang digelisahkan oleh kerusuhan-kerusuhan yang semakin meningkat.”

“Apa yang telah terjadi disini, Tuan?” tanya Panglima Yesung.

“Perampokan, tidak hanya di jalan-jalan sepi, tetapi para perampok itu dengan berani mendatangi desa-desa, mereka tidak melakukan kejahatan itu dengan diam-diam, tetapi mereka seakan-akan sengaja menantang para penghuni desa yang di datanginya.”

“Nampaknya keadaan sudah parah, Tuan.”

“Ya. Karena itu, pertimbangkan perjalanan kalian. Apakah keperluan kalian ke Baekjeong anak muda?”

“Kami adalah pedagang bebatuan aji, Tuan.”

“Apalagi jika kalian pedagang.” kata orang tua itu. “Sebaiknya kalian menunda perjalanan kalian.”

“Tetapi kami tidak mau kehilangan kesempatan terbaik, Tuan. Kami berjanji untuk membawa barang-barang yang mereka pesan itu hari ini.”

“Kau akan kemalaman di jalan.”

“Tidak akan terlalu malam.”

“Anak muda.” kata orang tua itu, “Mungkin kau belum mendengar apa yang pernah terjadi di daerah ini, kerusuhan dan kejahatan semakin menjadi-jadi. Sementara itu, Kaisar Ryu Seung Ryong nampaknya acuh tak acuh saja, desa-desa sudah menyampaikan laporan, bahwa mereka sudah tidak mampu menanggulangi kejahatan yang semakin tersebar di daerah ini. tetapi tidak ada tindakan apapun yang telah diambil oleh Kaisar, menurut ceritanya, para prajurit telah mendapat pujian ketika mereka turun ke medan perang antara Korea dengan China, tetapi sekarang, di kerajaan itu sendiri, prajurit itu tidak mengambil tindakan apa-apa.”

“Tentu bukan begitu, Tuan.” kata Panglima Eunhyuk. “Pada saatnya Kaisar Ryu Seung Ryong tentu akan memerintahkan prajurit-prajurit untuk mengatasinya.”

“Tetapi kapan? apa pula yang ditunggu? lihatlah, meskipun hanya berseberangan perbatasan, di Kerajaan Sungkyunkwan tidak terjadi apa-apa. Tetapi hampir di sepanjang perbatasan, terutama yang menghadap ke daerah rawan, prajurit meronda hampir setiap saat, sehingga para perampok itu tidak berani menyeberang. Mereka tidak berani melakukan kejahatan di daerah Sungkyunkwan.

“Mungkin Kaisar Ryu Seung Ryong sedang mengumpulkan keterangan-keterangan yang akan sangat berarti bagi langkah-langkah yang akan diambilnya.”

“Itulah yang kami sesalkan, lamban sekali.”

Kim Hyun Joong menarik nafas panjang, tetapi ia tidak menyahut sama sekali agar lidahnya tidak salah ucap.

“Nah, dengar nasehatku, aku adalah penghuni daerah ini sejak lahir, aku tahu benar apa yang sedang bergejolak di daerah ini dan sekitarnya.”

“Tetapi bukankah Baekjeong masih agak jauh dari sini?”

“Ya, tetapi kau akan melintasi daerah rawan itu.”

Panglima Eunhyuk pun tersenyum sambil berkata. “Terima kasih atas peringatan ini, Tuan. Tetapi jangan cemaskan kami, kami akan berhati-hati.”

“Jadi kalian tetap akan pergi ke Baekjeong?”

“Ya, Tuan. Doakan kami agar kami tidak menemui hambatan yang berarti.”

“Aku doakan kalian meskipun kalian tidak mau mendengarkan nasehatku.”

“Bukannya kami tidak mau mendengarkan nasehat Tuan, tetapi kami sudah berjanji kepada seseorang yang sangat baik kepada kami.”

Orang tua itu memandang ke empat anak muda itu dengan kerut di dahi. Tetapi ia pun kemudian tidak berbicara lagi, diangkatnya mangkuknya, kemudian dihirupnya minuman yang ada di dalamnya. Sementara itu, beberapa orang yang lain, yang agak lama berada di kedai itu, telah meninggalkan tempat itu, setelah mereka membayar makanan dan minuman mereka.

Kim Hyun Joong dan ketiga orang Panglima itu sudah merasa cukup beristirahat, demikian juga kuda-kuda mereka, maka mereka pun minta diri kepada orang tua itu.

“Hati-hati anak muda, sebenarnya aku merasa sedih bahwa kalian ternyata akan tetap meneruskan perjalanan.”

“Terima kasih atas perhatian Tuan, tetapi jangan cemas. Dalam beberapa hari aku akan kembali lewat jalan ini pula, sekali lagi, doakan kami, Tuan.”

Ketika Kim Hyun Joong membayar makanan serta minuman mereka, pemilik kedai itupun berkata. “Aku sependapat dengan orang tua itu, anak muda.”

“Tetapi kami tidak dapat berbuat lain, kami sudah berjanji untuk datang hari ini meskipun kami akan sampai di Baekjeong agak malam.”

“Hati-hatilah anak muda.” pemilik kedai itupun berpesan.
Sejenak kemudian, maka empat ekor kuda berlari di jalan-jalan setapak menuju ke Desa Namchoseon.

Namun Kim Hyun Joong kemudian memperlambat kudanya, kepada Panglima Donghae yang berkuda disebelahnya, Kim Hyun Joong pun berkata. “Rakyat benar-benar sudah menjadi gelisah, ayahanda memang agak terlambat mengambil tindakan.”

“Ayahanda agaknya tidak mau tergesa-gesa menanggapi peristiwa yang bagi Seongnam agak mengejutkan dan menimbulkan banyak pertanyaan itu.”

“Tetapi seharusnya ayahanda tidak usah menunggu jawaban dari pertanyan itu, ternyata rakyat sudah menjadi sangat gelisah. Karena itu, kita memang harus bertindak segera.”

“Mungkin kita memang agak lamban, Pangeran, tetapi kita ingin penyelesaian yang tuntas, jika kita melakukannya sebagaimana dilakukan oleh Kerajaan Sungkyunkwan sebagaimana dikatakan oleh orang tua itu, maka penyelesaiannya pun akan mengambang. Waktunya akan menjadi panjang. Tetapi seperti yang Pangeran kehendaki, cara yang kita tempuh ini agaknya memang lebih baik.”

Kim Hyun Joong mengangguk-angguk, namun rasa-rasanya ia ingin lebih cepat sampai di Desa Namchoseon.

Kemudian, setiap keempat ekor kuda itu berlari tidak terlalu kencang, Kim Hyun Joong dan para Panglima itu mendengar derap kaki kuda di belakang mereka.

Ketika mereka berpaling, mereka melihat beberapa orang berkuda berusaha untuk menyusul mereka.

“Kita akan menunggu mereka.” kata Panglima Yesung, “Jika mereka orang-orang jahat, kita akan menyelesaikan mereka disini.” Tetapi Kim Hyun Joong berkata. “Sebaiknya kita melarikan diri saja, aku yakin, kuda-kuda kita tentu lebih baik dari kuda mereka.”

“Kenapa melarikan diri, Pangeran. Bukankah jumlah mereka tidak terlalu banyak, mungkin hanya lima orang atau enam orang saja.”

“Bukan itu soalnya, jika mereka itu bagian dari orang-orang yang sering menimbulkan kerusuhan di daerah ini, jangan mendapat kesan bahwa ada orang-orang yang dapat mengalahkan mereka, biarkan mereka tetap dalam keadaan seperti biasa. Kita harus menghadapi mereka jika mereka datang dalam jumlah yang utuh, sehingga kerja kita akan dapat selesai dengan tuntas.”

“Tetapi, aku belum pernah melarikan diri dari pertempuran, apalagi hanya sekedar sekelompok perampok.” kata Panglima Yesung.

“Sekarang saatnya untuk mencoba.” sahut Kim Hyun Joong sambil tersenyum.

Panglima Yesung termangu-mangu sejenak, namun ketika Kim Hyun Joong, Panglima Eunhyuk dan Panglima Donghae melarikan kuda mereka semakin kencang, maka Panglima Yesung pun menghentakkan kudanya pula.

Keempat ekor kuda itu berlari semakin kencang, beberapa puluh langkah dibelakang mereka, enam orang penunggang kuda mencoba untuk mengejar mereka.

Beberapa lama kedua kelompok orang berkuda itu saling berkejaran di jalan-jalan setapak yang tidak terlalu lebar, bahkan jalan yang telah digores oleh jalur roda pedati yang agak dalam. Namun para penunggang kuda itu cukup terampil mengendalikan kuda mereka.

Beberapa saat kemudian, jalan pun mulai mendaki dan berbelok-belok, mereka melintasi jalan yang tidak terlalu jauh dari hutan.

Ternyata perhitungan Kim Hyun Joong benar, jarak mereka dengan orang-orang berkuda yang memburu mereka semakin lama menjadi semakin jauh, kuda-kuda para Panglima dan miliknya itu memang lebih baik dari kuda yang dipergunakan oleh orang-orang yang memburu mereka.

Beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang memburu Kim Hyun Joong dan ketiga Panglima itu menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat berhasil memburu sekelompok orang yang akan mereka jadikan korban perampokan itu.

“Kuda-kuda itu berlari seperti anak panah.” geram orang tertua diantara para perampok itu.

“Kuda-kuda mereka tergolong kuda-kuda yang baik, sehingga kuda-kuda kita tidak berhasil mengejarnya.”

“Satu sasaran yang sangat baik.” kata seseorang yang lain.

Ternyata mereka adalah orang-orang yang mendengar pembicaraan ketiga orang Panglima Seongnam dengan orang-orang yang ada di kedai tadi. Orang-orang itulah yang meninggalkan kedai terlebih dahulu untuk mempersiapkan perampokan.

Namun ternyata mereka tidak berhasil mengejar keempat orang yang mengaku pedagang bebatuan aji itu.

“Kita akan menghadang mereka pulang kelak.” geram orang tertua diantara mereka.

“Kapan mereka pulang? Jika mereka pulang, mereka sudah tidak membawa benda-benda berharga itu lagi.”

“Tetapi mereka akan membawa uang.”

“Ya, ya, mereka akan membawa uang.”

“Kita akan mengamati jalan ini, bukankah mereka mengatakan bahwa mereka akan kembali lewat jalan ini beberapa hari lagi?”

“Ya, ya, beberapa hari lagi. Tetapi yang beberapa hari lagi itulah yang tidak pasti.”

“Sejak tiga hari mendatang, kita akan berada di daerah ini.”

“Jika Panglima Choi Siwon memanggil dan menghendaki kita pergi bersamanya?”

“Apa boleh buat, kita akan kehilangan mereka, kecuali kita dapat meyakinkan Panglima Choi Siwon, bahwa sebaiknya kita tetap berada disini.”

“Mustahil, kita tahu watak dan sifat Panglima Choi Siwon yang berhati batu itu.”

Orang tertua diantara mereka itu mengangguk-angguk, katanya. “Sudahlah, marilah kita kembali, kita memang harus melepaskan mereka. Betapapun kita berusaha, kita tidak akan mempu mengejar mereka, jika saja kita mempunyai kuda yang lebih baik.”

Para perampok itupun kemudian dengan kecewa berbalik arah, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk memburu calon korban mereka.

Kemudian Kim Hyun Joong yang sudah meyakini bahwa orang-orang yang mengejar mereka berhenti, memperlambat kudanya, kepada para Panglima itu iapun berkata. “Nah, bukankah lebih baik demikian?”

“Tetapi rasa-rasanya hatiku masih belum mau menerima kenyataan, bahwa kita harus melarikan diri dari kejaran para perampok itu.”

“Kita harus memperhitungkan segala kemungkinan dalam keutuhan tugas kita, Panglima Yesung.” kata Kim Hyun Joong. “Memang, jika kita berpijak pada harga diri kita, maka kita tidak akan melarikan diri dan menghadapi mereka. Bahkan jika jumlah mereka lebih banyak sekalipun. Jika kita sekedar berpijak pada harga diri yang berlebihan, tetapi tugas kita tidak terselesaikan, maka itu akan berarti kita lebih mementingkan diri sendiri daripada tugas kita.”

Panglima Yesung mengangguk-angguk sambil berdesis. “Ya, Pangeran.”

“Nah, para perampok itu agaknya orang-orang yang tadi juga berada di kedai. Agaknya mereka mendengar pembicaraan kita, sehingga mereka benar-benar menganggap kita pedagang bebatuan aji yang bernilai tinggi. Dengan demikian, maka mereka tidak akan membuat pertimbangan-pertimbangan baru untuk melanjutkan rencana-rencana mereka, merampok .”

“Ya, Pangeran.” Panglima Yesung masih mengangguk-angguk.

Demikianlah kuda-kuda itu masih berlari terus, sementara itu, matahari pun menjadi semakin rendah.

“Kita akan memasuki Desa Namchoseon setelah gelap.” kata Kim Hyun Joong.

“Ya, Pangeran.” jawan Panglima Eunhyuk, “Kita harus bersiap-siap untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya salah paham.”

“Kita akan langsung pergi menemui Kepala Desa Namchoseon.”

Panglima Donghae mengangguk-angguk.

Langit sudah menjadi buram ketika mereka semakin mendekati Desa Namchoseon. kuda-kuda yang sudah nampak menjadi lelah itu, tidak lagi berlari terlalu kencang.

“Sudah tidak terlalu jauh lagi, Pangeran.” kata Panglima Eunhyuk.

“Kuda-kuda kita sudah letih.” Kata Kim Hyun Joong.

“Beberapa saat lagi kita akan sampai.”

Kim Hyun Joong tidak menjawab, sementara itu senjapun menjadi semakin gelap.

Ketika malam turun, mereka sudah berada di jalan setapak panjang, di lingkungan Desa Namchoseon. Panglima Eunhyuk lah yang kemudian berkuda paling depan, dibelakangnya Kim Hyun Joong, kemudian Panglima Donghae lalu Panglima Yesung.

Kemudian, selagi empat orang berkuda itu masih dalam perjalanan, maka di tempat tinggal Kepala Desa di Namchoseon, beberapa orang petinggi desa sedang berkumpul. Dengan cemas mereka membicarakan perkembangan keadaan yang menurut pendapat mereka menjadi semakin gawat.

“Para Perampok itu semakin lama semakin bergeser ke selatan.” kata Pejabat Lee Hyung Chul.

“Apa maksudmu Pejabat Lee Hyung Chul?” kata Kepala Desa Oh Ji Ho.

“Coba perhatikan Kepala Desa, mereka telah merampok Desa Aegukga. Merekapun bergeser lagi lebih ke selatan, merekapun merampok Desa Byulgukga. Desa yang terkenal dihuni oleh orang-orang yang berani, karena sebagian dari mereka senang berburu di hutan, namun Desa Byulgukga tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti. Dua orang diantara mereka yang mencoba memberikan perlawanan telah terbunuh. Setelah itu, Seongmega menjadi sasaran berikutnya, Seongdeok telah mereka rambah pula, terakhir, beberapa hari yang lalu, mereka memasuki sebuah perkampungan di desa tetangga kita. Mereka telah membakar rumah. Hampir saja penghuninya ikut terpanggang, untunglah bahwa jiwa mereka dapat diselamatkan meskipun mereka mengalami luka-luka bakar yang agak parah.”

“Ya, agaknya memang demikian, sasaran berikutnya ada dua pilihan, Desa Sillagukga atau Desa kita, Desa Namchoseon.”

“Menilik kesejahteraan hidup rakyat Namchoseon yang lebih baik, maka para perampok itu akan memasuki desa kita. Kepala desa, aku yakin sekali jika mereka akan merampok di Desa Namchoseon.”

Kepala Desa menarik nafas dalam-dalam, Kemudian, Pejabat Jo Dong Hyuk pun bertanya “Lalu, apa yang harus kita lakukan?”

“Itulah pertanyaannya.” desis Pejabat Lee Hyung Chul.

“Apakah kita akan berdiam diri saja dan membiarkan para perampok itu mengambil apa saja yang mereka senangi dari desa kita ini? Pejabat Lee Hyun Chul. menurut kabar yang dibawa oleh para pedagang di pasar, para perampok itu tidak saja merampok harta benda.”

“Selain harta benda, lalu apa?”

“Di Seongdeok para perampok itu telah menyeret seorang perempuan yang telah mempunyai dua orang anak.”

“Perempuan juga?”

“Ya, memang untuk yang pertama kali mereka lakukan, justru di Seongdeok, tetapi itu akan dapat menjadi kebiasaan mereka, ditempat lain mereka akan merampok sambil mencari korban keliaran mereka, perempuan dan gadis-gadis.”

Pejabat Lee Hyung Chul menarik nafas dalam-dalam, katanya “Ya, aku juga mendengarnya.”

“Jika demikian, apakah kita tidak dapat berbuat apa-apa?”

Kepala Desa Oh Ji Ho menarik nafas dalam-dalam, katanya “Pilihan yang rumit, jika diam saja, maka mereka akan dengan leluasa berbuat apa saja sesuka hati mereka. Tetapi jika kita mencoba melawan, yang terjadi mungkin lebih buruk lagi dari yang pernah terjadi di Desa Byulgukga. Di Byulgukga dua orang terbunuh, disini mungkin korbannya akan lebih banyak lagi.”

“Tetapi adalah kewajiban kita untuk mempertahankan hak dan milik kita.” Kata Pejabat Lee Sang Yoon

“Pejabat Lee Sang Yoon , yang terjadi di Byulgukga adalah bencana ganda, setelah dua orang mati terbunuh, para perampok itu justru menjadi garang karena mereka merasa mendapat perlawanan. Beberapa rumah yang malam itu di bongkar oleh para perampok, beberapa orang terluka, tetapi mereka waktu itu masih belum sempat berpikir tentang perempuan.”

“Kita memang tidak dapat berbuat apa-apa.” desis Pejabat Jo Dong Hyuk. “Kita hanya dapat menunggu perlindungan para prajurit Seongnam yang konon gagah perkasa itu.”

“Kita pun hanya dapat melihat, siapakah yang datang lebih dahulu, para prajurit atau para perampok.”

Namun selagi mereka berbincang, dua orang anak muda dengan tergesa-gesa langsung mengetuk pintu kediaman Kepala Desa Namchoseon-Oh Ji Ho.

Kepala Desa Oh Ji Ho dan para bebahu yang berbicara di ruang dalam terkejut, dengan nada rendah Kepala Desa Oh Ji Ho bertanya “Siapa?”

“Kami Kepala Desa, Lee Hyun Woo dan Lee Joon Ki, kami termasuk diantara mereka yang bertugas mengawasi lingkungan desa ini.”

Kepala Desa Oh Ji Ho kemudian bangkit berdiri dan membuka pintu. Lee Hyun Woo dan Lee Joon Ki berdiri termangu-mangu di depan pintu.

“Ada apa?” tanya Kepala Desa Oh Ji Ho, sementara itu Pejabat Lee Hyung Chul mendekatinya pula sambil bertanya “Apakah ada tanda-tanda buruk yang kalian jumpai?”

“Ada empat orang berkuda memasuki Desa ini, Kepala Desa.”

“Empat orang berkuda? siapakah mereka? Apakah kau tidak bertanya apakah maksud mereka?”

“Mereka mengatakan, bahwa mereka ingin bertemu dengan Kepala Desa.”

“Nampaknya mereka seperti orang baik-baik Kepala Desa, sikap merekapun baik.”

“Antar mereka kemari.”

“Baik, Kepala Desa.”

Kedua orang anak muda itupun dengan tergesa-gesa turun dari pendapa untuk memanggil keempat orang yang akan bertemu dengan Kepala Desa Oh Ji Ho, keempat orang itu masih tertahan di pintu gerbang Desa Namchoseon.

Beberapa saat kemudian, empat orang itupun sudah menuntun kudanya memasuki halaman rumah Kepala Desa Oh Ji Ho, sementara itu, Kepala Desa dan para petinggi telah turun ke halaman untuk menyongsong mereka.

Pejabat Jo Dong Hyuk telah memutar pedangnya ke sebelah kiri.

“Kau mau apa, Pejabat Jo Dong Hyuk?” desis Pejabat Lee Sang Yoon.

“Kenapa apannya?”

“Pejabat Jo Dong Hyuk tadi memutar pedang ke sebelah kiri.”

“Ah, tidak apa-apa, rasa-rasanya punggung ini agak kaku.”

“Aku kira Pejabat Jo Dong Hyuk akan mengamuk dengan pedang pusakanya itu.”

“Jika aku mengamuk, kaulah sasaran yang pertama.”

Pejabat Lee Sang Yoon itupun tertawa tertahan, katanya “Jangan cepat marah.”

Merekapun terdiam, kedua-duanya melangkah semakin dekat, sementara salah seorang diantara keempat orang yang datang sambil menuntun kudanya itu berkata setelah mengangguk hormat. “Kami ingin menghadap Kepala Desa Namchoseon-Oh Ji Ho.”

“Aku Kepala Desa di Namchoseon, Tuan. Apakah maksud Tuan datang di desa ini?”

“Jika Kepala Desa Oh Ji Ho berkenan, kami ingin menghadap untuk menyampaikan beberapa pesan kepada Kepala Desa Oh Ji Ho.”

“Pesan dari siapa?” tanya Pejabat Lee Hyung Chul dengan serta merta.

Seorang diantara keempat orang itupun menjawab “Nanti, kami akan menjelaskan.”

Kepala Desa Oh Ji Ho termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya “Baiklah, marilah, aku persilahkan kalian naik.”

Keempat orang itupun kemudian dipersilahkan naik ke pendapa, sementara itu Pejabat Lee Hyung Chul sempat mendekati Lee Hyun Woo dan Lee Joon Ki yang mengantar keempat orang berkuda itu “Jangan lengah, meskipun wujud dan sikapnya tidak mencurigakan, kita tidak tahu siapakah mereka sebenarnya. Dimana kawan-kawanmu?”

“Dua orang ada di pos sebelah, yang lain di pintu gerbang halaman induk.”

“Baik, kalian berdua jangan pergi dahulu.”

“Baik Pejabat Lee Hyung Chul.”

Kemudian, para tamu, Kepala Desa Oh Ji Ho dan para Pejabat sudah duduk di dalam kediaman Kepala Desa Oh Ji Ho. Agaknya Kepala Desa Oh Ji Ho ingin segera mengetahui siapakah mereka berempat yang malam-malam datang ke Desa Namchoseon.

“Maaf, tuan, tetapi suasana desa ini sekarang memang agak keruh, sehingga kami harus berhati-hati.”

“Kami mengerti Kepala Desa Oh Ji Ho.”

“Siapakah tuan berempat ini, dan apa pula maksud kedatangan kalian kemari?”

“Kepala Desa Oh Ji Ho, kami adalah prajurit dari Seongnam.”

“Prajurit dari Seongnam?”

“Ya, Kepala Desa Oh Ji Ho.”

Jilid 4
Kepala Desa Oh Ji Ho menarik nafas dalam-dalam, katanya “Tuan, keadaan sudah demikian mencemaskan, Seongnam masih juga belum tanggap, Seongnam malah sempat mengirimkan prajurit yang agaknya untuk melihat apa yang telah terjadi disini. Kemudian kembali menghadap Kaisar Ryu Seung Ryong untuk memberikan laporan. Laporan itu masih akan dibicarakan dalam pertemuan para pemimpin di Seongnam. setelah itu, Kaisar Ryu Seung Ryong memerintahkan seorang Panglima untuk membawa prajuritnya ke Namchoseon, Panglima itu masih harus mengadakan persiapan selama tiga hari. Nah, ketika para prajurit itu sampai kemari, maka Namchoseon telah menjadi debu.”

Ketika Panglima Yesung beringsut setapak, Panglima Donghae menggamitnya, sementara itu Kim Hyun Joong lah yang menjawab dengan bijaksana. “Kami mengerti, Kepala Desa Oh Ji Ho. tetapi kami datang bukannya untuk sekedar melihat keadaan. Kami minta maaf, bahwa penanganan kami memang agak lamban, tetapi kami bermaksud untuk menyelesaikan dengan tuntas.”

“Apa yang tuntas? di Byulgukga dua orang sudah terbunuh, di Seongdeok, mereka mulai mengganggu perempuan.”

“Kami minta maaf atas keterlambatan kami, Kepala Desa Oh Ji Ho, tetapi kami datang tidak untuk sekedar melihat dan mengamati keadaan, kami datang dengan membawa perintah Kaisar Ryu Seung Ryong untuk mengatasinya.”

“Jadi tuan datang untuk menghadapi para perampok itu?”

“Kepala Desa Oh Ji Ho, menurut laporan yang kami terima, serta menurut perhitungan kami, ada kemungkinan para perampok itu akan memasuki Desa Namchoseon, karena itu kami datang untuk memberi peringatan kepada desa ini, sekaligus untuk membantu mengatasinya.”

“Tuan, barangkali Kaisar Ryu Seung Ryong mendapat laporan yang salah, atau barangkali telah terjadi salah paham, sehingga Kaisar Ryu Seung Ryong mengirimkan empat orang prajurit untuk mengatasi para perampok itu.”

“Kami tidak hanya berempat, Kepala Desa Oh Ji Ho. mungkin esok pagi kawan-kawan kami akan memasuki desa ini.”

“Seluruh prajurit di Seongnam?”

“Tidak, Kepala Desa Oh Ji Ho. kawan kami itu berjumlah enam orang sehingga kami seluruhnya sepuluh orang.”

“Hanya sepuluh orang?”

“Ya, Kepala Desa Oh Ji Ho.”

“Berapakah jumlah prajurit Seongnam? aku dengar prajurit Seongnam telah terjun dalam kancah pertempuran untuk melawan pasukan yang datang dari China. Tetapi kenapa Seongnam hanya mengirimkan sepuluh orang prajurit untuk mengatasi kekacauan yang terjadi didaerah ini.”

“Dengan sepuluh orang kami akan melakukan tugas kami sebaik-baiknya Kepala Desa Oh Ji Ho.”

“Tuan, dengar baik-baik, para perampok yang sering mengganggu daerah ini tidak hanya terdiri dari dua atau tiga orang, tetapi mereka lebih dari duapuluh lima orang.”

“Kami tahu, Kepala Desa Oh Ji Ho. tidak ada salah paham, Kaisar Ryu Seung Ryong tahu, bahwa jumlah para perampok itu lebih dari duapuluh lima orang. kadang-kadang mereka datang bersama-sama memasuki sebuah desa. merekapun diperhitungkan akan memasuki Desa Namchoseon dengan kekuatan penuh.”

“Jika demikian, kenapa Tuan datang hanya dengan sepuluh orang?”

“Bukankah di Desa ini terdapat tidak hanya dua puluh lima orang, tetapi berpuluh-puluh anak muda.”

“Ooo, jadi kalian datang hanya untuk melihat bagaimana anak-anak muda kami dibantai oleh para perampok itu? jika kami mengerahkan anak-anak muda kami, maka korban yang akan jatuh tentu lebih dari dua puluh lima orang, jika seorang perampok membunuh dua orang anak muda atau lebih, apa jadinya dengan Desa Namchoseon.”

Kim Hyun Joong tersenyum, katanya kemudian. “Kepala Desa Oh Ji Ho, apakah kami boleh menjelaskan rencana kami?”

Bersambung (Season 7 – Jung So Min)...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...