Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Kamis, 08 Desember 2011

Boneka Misterius (Karakter)

CAST :

Kim So Eun

* Pemilik boutique
* Perancang desain di boutiquenya
* Tidak tahu darimana asal boneka misterius itu ada di boutique miliknya dan menghiasi ruang kerjanya
* Memberi ide pada Park Ji Yeon, untuk menulis surat kepada orang-orang di bagian riset psikis tentang boneka misterius.
* Ia berharap seseorang dari bagian riset psikis bisa menyelidiki atau seorang paranormal atau siapapun saja yang bisa melihat kalau-kalau ada sesuatu yang aneh dengan kamar itu.


Park Ji Yeon of T-Ara

* Pembuat pola di Boutique milik Kim So Eun
* Ia menduga salah satu pekerja di Boutique telah membuat lelucon konyol, dengan cara memindahkan letak boneka misterius
* Menurutnya, boneka misterius itu membenci dan ingin menguasai kediamanan mereka


EXTENDED CAST :

Victoria Song of f(x)

* Pelanggan setia boutique milik Kim So Eun
* Merasa senang dengan hasil kerja Park Ji Yeon, karena setiap Garis potongan gaun yang yang dibuat Park Ji Yeon selalu mampu membuat bokongnya terlihat lebih kecil dari ukuran sebenarnya
* Takut melihat Boneka yang ada di ruang pas. Menurutnya, Seolah-olah boneka itu memperhatikannya, dan menertawakannya di belakang


Baek Suzy of Miss A

* Wanita yang bertugas membersihkan rumah yang sekaligus dijadikan Boutique oleh Kim So Eun
* Menurutnya, cara boneka itu berbaring, dan matanya yang licik itu, kelihatan tidak wajar
* Menurutnya, boneka itu seperti mimpi di malam hari, mimpi buruk...


Jung So Min

* Kepala penjahit di Boutique milik Kim So Eun
* Dituduh Park Ji Yeon telah memindahkan letak boneka misterius yang ada di ruang pas, mendudukkannya di ruang kerja Kim So Eun


Im Yoona of SNSD

* Pekerja di Boutique milik Kim So Eun
* Dituduh Park Ji Yeon telah memindahkan letak boneka misterius yang ada di ruang pas, mendudukkannya di ruang kerja Kim So Eun


Park Shin Hye

* Pekerja di Boutique milik Kim So Eun
* Dituduh Park Ji Yeon telah memindahkan letak boneka misterius yang ada di ruang pas, mendudukkannya di ruang kerja Kim So Eun


Han Hyo Joo

* Pekerja di Boutique milik Kim So Eun
* Dituduh Park Ji Yeon telah memindahkan letak boneka misterius yang ada di ruang pas, mendudukkannya di ruang kerja Kim So Eun

Rabu, 07 Desember 2011

Misteri Hantu Merah (Chapter 5)



Chapter 5
Kemunculan Hantu Di Namchoseon Valley


Heechul memandang Eunhyuk. Temannya itu meng­angguk, sebagai tanda setuju.

"Ya, tentu saja kami bisa datang, Victoria," kata Heechul kemudian.

"Syukurlah kalau begitu!" Nada suara Victoria terdengar lega. "Namchoseon Valley ini tempat yang sangat tenang. Dan di sini kalian nanti bisa ditemani saudara sepupuku. Namanya Nichkhun. Sedari kecil ia tinggal di Cina."

Setelah itu mereka membicarakan urusan penjemputan. Heechul dan Donghae akan berangkat dengan pesawat jet pukul enam sore ke Seoul. Di Bandara mereka dijemput dengan mobil, lalu diantarkan ke Namchoseon Valley. Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, Victoria memutuskan pembicaraan.

"Bukan main!" kata Heechul dengan gembira. "la ingin mendapatkan segala macam keterangan tentang hantu itu dari orang yang melihatnya sendiri, dan karenanya kita akan di undang ke rumahnya di Namchoseon Valley!" Saat itu ia baru terkejut, karena teringat pada sesuatu. "Tapi kau tidak ikut diundang, Eunhyuk!" Eunhyuk berusaha keras untuk tidak menunjukkan kekecewaannya.

"Karena, kalian berdua melihat hantu itu... sedang aku tidak," katanya. "Lagi pula aku besok memang tidak bisa pergi! Junsu dan Yoona akan pergi ke Chuncheon. Mereka mau memborong barang­barang bekas Angkatan Laut di sana. Jadi aku harus tinggal di sini, menjaga toko."

"Tapi bagaimanapun, kita kan satu team," bantah Donghae. "Tidak enak rasanya pergi kalau kau tidak ikut, Eunhyuk. Apalagi kalau kepergian itu ada urusannya dengan hantu," tambahnya.

Eunhyuk menggosok-gosok dagunya.

"Mungkin ini pertanda bagus," katanya. "Jika hantu itu dilihat muncul di Namchoseon Valley, kalian berdua bisa melakukan penyelidikan di sana untuk Chief Siwon. Sementara itu aku melacak setiap jejak yang bisa kupikirkan di sini. Gunanya tim penyelidik adalah kita bisa mengusut dua dan bahkan tiga jalur penyelidikan pada waktu yang sama."

Jadi persoalan ini sudah diputuskan. Penjelasan Eunhyuk memang masuk akal. Tidak lama kemudian Heechul dan Donghae pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap-siap. Pakaian sudah dimasukkan ke dalam koper. Mereka berdua pun menambahkan senter, serta membekali diri dengan kapur tulis khusus. Heechul berbekal kapur berwarna hijau, sedang Donghae biru. Kapur itu untuk membubuhkan tanda Trio Detektif, apabila ternyata nanti diperlukan.

Wooyoung mengantarkan mereka ke Bandara Incheon yang ramai dan modern. Eunhyuk ikut mengantarkan.

"Kalau ada perkembangan baru, telepon aku, ya," katanya pada Heechul. "Jika hantu itu benar-benar ada di sana, nanti aku akan mencari jalan untuk menyusul kalian."

Tidak lama kemudian pesawat jet yang ditumpangi kedua pemuda itu sudah terbang ke arah utara. Penerbangan itu hanya satu jam lamanya. Heechul dan Donghae merasa waktu itu begitu, singkat, apalagi karena mereka juga masih disibukkan dengan makan malam yang dihidangkan di atas piring plastik yang berkotak-kotak. Selesai makan mereka kembali melayangkan pandangan ke luar, memperhatikan tanah yang bagaikan mengalir di bawah mereka. Tahu-tahu pesawat sudah membelok, lalu menukik untuk mendarat di Bandara Taekgoo, Seoul.

Di sana mereka dijemput seorang pemuda. Pemuda itu memperkenalkan diri sebagai Nichkhun. Ia sejak kecil hampir selalu tinggal di Hongkong. Setelah memperkenalkan diri, ia membantu Donghae dan Heechul mengambil barang-barang mereka di bagian bagasi. Kemudian Nichkhun mengajak mereka menyeberang jalan yang ramai, menuju ke sebuah pelataran parkir yang luas sekali.

Di situ sudah menunggu sebuah mobil kecil. Dengan Sopir yang masih muda.

"Ini tamu-tamu kita, Kyuhyun," kata Nichkhun. "Ini Donghae, dan yang ini Heechul. Kita langusung kembali sekarang, ke Namchoseon Valley. Mereka tadi sudah makan malam di pesawat."

"Baiklah, Tn. Nichkhun," kata Kyuhyun. Kedua koper Heechul dan Donghae dimasukkan olehnya ke bagian belakang mobii, sementara ketiga pemuda itu duduk di bangku di belakang tempat supir. Dengan begitu mereka bisa duduk berjejer.

Dalam perjalanan Donghae dan Heechul sibuk berbicara dan bertanya-tanya, sambil memandang ke sekeliling mereka pada waktu bersamaan. Kedua­nya agak menyesal karena ternyata mereka tidak masuk ke dalam kota Seoul, melainkan mengitari tepinya. Beberapa saat kemudian mobil itu sudah meluncur melewati daerah yang berbukit-bukit tapi masih bisa dibilang lapang.

"Kita sekarang menuju ke lembah Namchoseon, dimana saudara sepupuku - Victoria, mengelola perusahaan anggur," kata Nichkhun. Heechul sudah tahu dari Wooyoung, bahwa perusahaan itu bernama Deoksugung Garden. Nichkhun melanjutkan penjelasannya.

"Menurut Victoria, akulah yang sebenarnya memiiiki kebun dan perusahaan anggur itu, karena Victoria hanya cucu moyang dari istri kedua kakek moyang Taecyeon. Tapi aku sama sekali tak bermaksud untuk mengambil alih darinya."

Donghae dan Heechul menoleh ke samping, memandang Nichkhun dengan penuh minat. Keduanya menunggu penjelasan lebih lanjut. Dan Nichkhun memang menjelaskan, sementara mobil melucur terus ke Namchoseon Valley.

Ternyata Nichkhun itu cucu moyang Taecyeon, dari istri pertamanya. Istrinya yang pertama semasa hidupnya selalu ikut dalam setiap pelayaran Taecyeon. la meninggal terserang penyakit mematikan ketika sedang berada dalam pelayaran lagi di daerah Eropa.''

Nichkhun berhenti sebentar. Heechul dan Donghae melihat pemuda itu menelan ludah beberapa kali, untuk mengendalikan perasaannya.

"Aku masih bayi saat itu," katanya meneruskan kisah. " Sepasang suami istri bangsa Cina menyelamatkan diriku dari cengkeraman banjir. Selama beberapa tahun aku tinggal bersama mereka. Ketika mereka kemudian mendengar bahwa keselamatanku terancam karena aku orang Korea, mereka membawaku lari ke Hongkong.

"Waktu itu aku belum mengetahui namaku yang sebenarnya. Aku dititipkan di suatu sekolah oleh Sepasang suami istri bangsa Cina yang menyelamatkan diriku dari cengkeraman banjir. Pada suatu hari, ada seorang guru yang mengatakan padaku bahwa aku adalah orang yang dicari-cari selama ini oleh Victoria. Lalu Guruku itu menghubungi Victoria di Namchoseon Valley. Kemudian Victoria menyuruhku datang kemari.

"Sejak itu aku tinggal di Namchoseon Valley, bersama Victoria. la sangat baik padaku. Aku ingin sekali menolongnya, karena saat ini ia sedang dalam kesulitan. Leeteuk Hyung juga berusaha membantu, tapi ia sendiri juga bingung. Kini situasi menjadi bertambah sulit, karena adanya desas-desus mengenai munculnya hantu moyangku, Taecyeon. Saat ini aku tidak bisa menceritakan segala kesulitan itu, karena banyak yang tidak kupahami. Tapi kalian akan bisa melihatnya sendiri."

Heechul sebenarnya mau bertanya, tapi ia lupa dengan apa yang akan ditanyakannya. Kesibukannya seharian itu, melelahkannya. Gerak mobil yang meluncur dengan nyaman, seperti meninabobokkannya. Matanya terpejam, dan tahu-tahu ia sudah terlelap.

Ia baru terbangun lagi ketika mobil berhenti. Matahari sudah menghilang di balik punggung bukit. Ternyata mereka sudah berada di depan sebuah rumah tua yang besar, membelakangi lereng yang curam. Rupanya rumah itu dibangun dalam suatu lembah yang sempit tapi memanjang. Tidak banyak yang bisa dilihat karena saat itu hari sudah senja. Tapi samar-samar masih nampak juga kelompok semak berjejer-jejer sejauh mata memandang. Pasti itulah tanaman anggur yang dipelihara Victoria.

"Ayo bangun! Kita sudah sampai!" kata Donghae. Kini Heechul benar-benar bangun. Sambil menguap, ia turun dari mobil. Sementara itu Nichkhun sudah mendahului, mendaki undak-undakan kayu yang agak tinggi menuju beranda rumah tua itu.

"Inilah Namchoseon House," kata Nichkhun. "Kalian akan kubawa menemui Victoria. la ingin sekali berjumpa dengan kalian."

Mereka memasuki sebuah ruangan yang luas. Dinding ruangan itu dilapisi dengan papan kayu merah. Seorang wanita cantik keluar dari sebuah kamar untuk menyambut mereka.

"Selamat sore," sapanya. "Aku senang kalian bisa datang. Bagaimana perjalanan kalian tadi?"

Setelah berbasa-basi sebentar, wanita itu mengajak mereka masuk ke ruang makan.

"Kalian pasti lapar sekarang," katanya, "Kalau begitu kutinggalkan kalian di sini supaya bisa makan sepuasnya, sambil mengobrol dengan Nichkhun. Besok saja, kita mengobrolnya. Sekarang aku agak capek, karena seharian ini aku sangat sibuk. Aku mau cepat-cepat tidur."

Wanita itu membunyikan sebuah bel kecil. Sesaat kemudian seorang wanita muncul.

"Kau bisa menghidangkan makan malam sekarang, Seohyun," kata wanita itu, yang tadi sudah memperkenalkan diri sebagai Victoria, saudara sepupu Nichkhun.

"Baik Nn. Victoria, akan saya siapkan," kata wanita yang akhirnya diketahui bernama Seohyun itu.

Setelah itu ia keluar lagi, sementara seorang laki-laki masuk. Heechul dan Donghae langsung mengena­linya kembali. Orang itu Leeteuk, yang mereka lihat sehari sebelumnya di Sungkyunkwan, yaitu ketika ditemukan tengkorak putri Cina dalam kamar rahasia di Shinhwa Mansion. Leeteuk nampak gelisah.

"Selamat malam," sapanya dengan nada ramah. "Ketika kita berjumpa kemarin dalam situasi yang begitu aneh, sama sekali tak kusangka bahwa hari ini kita akan berjumpa lagi di sini. Tapi..." ia berhenti sebentar, lalu menggelengkan kepala. "Terus terang saja, aku sama sekali tidak bisa mengerti. Begitu pula orang-orang di sini." Ia mengeluh.

"Aku tidur saja sekarang," kata Victoria. "Selamat sore, semuanya! Leeteuk Oppa, maukah kau menolongku sebentar?

"Tentu saja, Victoria." Leeteuk membimbing Victoria dengan hati-hati, membantunya naik tangga menuju ke tingkat atas. Kemarin sore Victoria terjatuh dari kuda, sehingga kakinya bengkak, dan itu membuatnya agak susah untuk berjalan. Sementara itu Nichkhun menyalakan lampu.

"Kalau sore, di lembah ini cepat sekali gelap," katanya menjelaskan. "Ya... kita makan saja sekarang, sementara aku melanjutkan cerita mengenai keluarga kami. Atau mungkin kalian ingin bertanya?"

"Sekarang bukan waktunya mengobrol!" tukas Seohyun, Kepala Pelayan itu masuk lagi ke ruang makan sambil mendorong meja kecil yang beroda. Di atas meja itu terhidang berbagai makanan. "Sekarang saatnya makan. Silakan menikmati, Tn.muda!"

Melihat hidangan yang begitu lezat diatur di meja, barulah Heechul merasa sangat lapar. Hidangan di pesawat terbang tadi rasanya sudah lama sekali, dan sangat sedikit!

Ketiga pemuda itu menghampiri meja makan. Tapi ketika mereka hendak duduk, tiba-tiba dari arah tingkat atas terdengar jeritan melengking. Setelah itu, sunyi!

"Itu suara Victoria!" seru Nichkhun, sambil melompat dari kursinya. "Ada sesuatu yang terjadi di atas!"

la lari menuju tangga, disusul oleh Heechul dan Donghae, diikuti oleh Seohyun serta beberapa pelayan yang tahu-tahu muncul.

Nichkhun mendahului lari naik tangga, lalu menyusuri sebuah gang. Di ujung, nampak sebuah pintu terbuka. Lampu kamar di belakang pintu itu menyala. Leeteuk kelihatan sedang membungkuk di depan Victoria, yang terkapar di tempat tidur. Leeteuk mengusap-usap pergelangan tangan Victoria, sambil berbicara dengan gugup.

"Victoria!" katanya memanggil-manggil.

Kemudian dilihatnya orang-orang yang datang bergegas-gegas. "Seohyun! Tolong ambilkan minyak angin!"

Wanita itu berjalan ke kamar mandi, dan sesaat kemudian kembali dengan sebuah botol kecil. Ditonton oleh para pelayan yang berkerumun di depan pintu, ia menyodorkan botol kecil itu ke bawah hidung Victoria. Setelah beberapa saat nampak tubuh Victoria bergidik. Matanya terbuka.

"Apa aku pingsan?" katanya. "Ya, aku ingat... tadi aku menjerit, lalu pingsan. Baru kali ini hal itu terjadi seumur hidupku."

"Tapi apa yang terjadi tadi, Victoria?" tanya Nichkhun dengan cemas. "Kenapa kau menjerit?"

"Aku melihat hantu itu lagi," kata Victoria dengan suara gemetar. "Setelah mengucapkan selamat tidur pada Leeteuk Oppa, aku masuk ke kamarku. Sebelum menyalakan lampu, aku berpaling ke relung yang di sana itu."

Ia menuding sebuah relung sempit dekat jendela.

"Kulihat jelas hantu itu berdiri di situ, la menatapku dengan mata menyala-nyala. Ia memakai jubah merah, persis seperti yang dulu biasa dipakai Kakek Moyang Taecyeon. Aku yakin tadi itu dia, walau wajahnya kabur kecuali matanya yang nampak jelas menyala-nyala menatapku."

Suaranya kini merendah. Berbisik-bisik. "la kelihatannya marah padaku. Aku tahu pasti, ia marah! Dulu leluhur kita pernah berjanji, setelah Kakek moyang Taecyeon meninggal... rumah yang di Sungkyunkwan akan ditutup untuk selama-lamanya. Tidak akan dijual, atau diapa-apakan! Kini aku melanggar janji itu. Aku setuju untuk menjualnya. Jenazah istri Kakek moyang Taecyeon terganggu ketenangannya... dan kini Kakek Moyang Taecyeon marah padaku!"

Bersambung…

Misteri Hantu Merah (Chapter 4)



Chapter 4
Telepon Yang Tak Terduga


Keesokan harinya di Markas Besar, Donghae sibuk mengumpulkan guntingan berita dan foto dari berbagai surat kabar, sementara Heechul menempelkan kumpulan itu dalam sebuah buku yang besar. Sedang Wooyoung tidak berhasil menahan tersebarnya publisitas mengenai kota kecil Sungkyunkwan, sehubungan dengan kisah Hantu Merah di Shinhwa Mansion.

Sebenarnya kisah tentang hantu itu sendiri mungkin tak begitu lama menarik perhatian umum. Tapi kemudian menyusul ditemukannya kamar rahasia serta tengkorak mayat istri Taecyeon dengan kalung mutiara yang begitu tersohor di lehernya! Kejadian itu kembali dijadikan berita penting, dengan kepala berita yang besar-besar... nyaris memenuhi halaman surat kabar yang memuatnya.

Dalam pemberitaan mereka, wartawan menggali masa silam. Dikisahkan kembali berbagai kejadian yang menyangkut kehidupan Taecyeon. Diceritakan bahwa semasa hidupnya ia seorang nakhoda kapal yang berani. Dalam pelayaran ke Cina, badai sedahsyat apa pun tak pernah menggetarkan dirinya.

Ditulis pula bahwa Taecyeon bersahabat dengan beberapa bangsawan bangsa Mancu dan diangkat menjadi penasihat mereka. Banyak batu permata yang diperolehnya sebagai hadiah. Tapi Mutiara Hantu tidak didapatnya sebagai hadiah, melainkan dicuri. Sehabis mencurinya, Taecyeon buru-buru kabur. la melarikan diri dari Cina, dengan membawa istri seorang putri Cina. Sejak itu ia tidak pernah kembali lagi ke sana. Selama sisa hidupnya ia mengurung diri dalam Shinhwa Mansion.

"Bayangkan... kesemuanya itu terjadi di sini, di Sungkyunkwan!" kata Heechul dengan kagum. "Kau tahu, apa kesimpulan Wooyoung serta Chief Siwon?"

Ia tidak melanjutkan kata-katanya, karena saat itu terdengar bunyi logam tergeser. Kedua pemuda itu tahu, yang terdengar itu kisi-kisi besi yang menutupi lubang sebelah luar Terowongan Dua yang digeser ke samping. Tak lama kemudian menyusul bunyi samar sesuatu yang menggeleser. Pasti itu Eunhyuk, yang sedang merangkak dalam pipa di Terowongan Dua. Sesaat setelah itu terdengar pintu rahasia di lantai diketuk dengan irama tertentu. Itu isyarat sandi mereka! Pintu itu terangkat ke atas. Eunhyuk masuk ke caravan. Tubuhnya berkeringat.

"Huh... panasnya!" kata Eunhyuk, lalu menambahkan, "Aku tadi berpikir."

"Lebih baik hati-hati, Eunhyuk," kata Donghae. "Jangan berlebihan! Dalam keadaan berkeringat seperti itu, otakmu pasti kelelahan juga. Jangan sampai macet karena terlalu dipaksa, sehingga kau nanti menjadi pemuda biasa seperti kami-kami ini."

Heechul tertawa geli. Sebetulnya Donghae sangat bangga terhadap kecerdasan otak Eunhyuk. Tapi sekali-sekali ia iseng, menyindir temannya itu. Kadang-kadang itu memang perlu, karena rendah hati tidak ada dalam kamus istilah Eunhyuk.

Eunhyuk melirik Donghae dengan masam.

"Aku tadi sibuk menarik kesimpulan," katanya sambil duduk di kursi putarnya. "Maksudku, mengenai apa yang terjadi waktu itu di Shinhwa Mansion."

"Itu sebenarnya tidak perlu lagi, Eunhyuk," kata Heechul. "Wooyoung menceritakan padaku, kesimpulan apa yang dicapainya bersama Chief Siwon."

Tapi Eunhyuk berbuat seolah-olah tidak mendengar.

"Aku menarik kesimpulan bahwa istri Taecyeon..." katanya, tapi buru-buru dipotong oleh Heechul.

"Wooyoung dan Chief Siwon sependapat, bahwa Suzy - istri Taecyeon itu mungkin meninggal karena sakit," kata Heechul. Ia jarang mendapat informasi yang seperti itu, dan kini ia bertekad untuk menceritakannya.

"Lalu suaminya membaringkannya dalam peti yang indah itu," sambungnya. "Tapi kemudian ia merasa tidak bisa berpisah dari istri tersayangnya itu. Karenanya peti mati lantas ditaruh dalam bilik kecil di ujung gang. Jendela yang ada dalam bilik itu disumbat, begitu pula pintunya. Dengan demikian tidak ada yang tahu bahwa di situ sebenarnya ada kamar.

"Jadi putri Cina itu tetap ada di dekatnya. Saat ini tidak bisa diketahui lagi dengan pasti, kapan hal itu terjadi. Tapi pada suatu malam Taecyeon tersandung ketika sedang menuruni tangga. Para pelayan ketakutan ketika menemukan dirinya sudah mati. Malam itu juga mereka lari dengan diam-diam. Kemungkinannya pergi ke Kampung Cina di Seoul dan membaurkan diri dengan sanak kerabat mereka di sana, atau mungkin juga pulang ke Cina. Ada kemungkinan, beberapa di antara mereka masuk ke Jepang melalui jalan gelap. Jadi secara ilegal! Pokoknya, orang-orang Cina semasa itu maunya hanya bergaul dengan sesama mereka saja. Kalau bisa, mereka memilih lebih baik tidak memberi informasi apa pun pada orang keturunan lain. Jadi tindakan melarikan diri itu wajar, kalau dilihat dari sudut pandang mereka.

"Satu-satunya kerabat Taecyeon ialah ipar perempuannya. Jadi iparnya itu mewarisi segala­galanya. la membeli kebun anggur yang luas yang terletak di dekat kota Seoul. Namanya Namchoseon Valley, la tidak pernah datang ke sini. Begitu pula Victoria, cucunya. la juga tidak pernah ke sini. Kini Victoria itu yang rnemiliki kebun anggur serta Shinhwa Mansion, setelah neneknya meninggal dunia.

"Karena salah satu alasan yang tidak diketahui, Shinhwa Mansion dibiarkan begitu saja, tanpa dirawat sedikit pun. Dan akhirnya tahun ini Victoria menyatakan setuju, ketika ada seorang kontraktor yang mau membelinya."

"Dan ketika para pekerja mulai membongkar rumah itu, ternyata hantu Taecyeon marah," sela Donghae. "Karena itulah ia menjerit, dan dilihat orang masuk ke kamar tersembunyi itu. Rupanya ia mau pamit pada istrinya. Setelah itu… ya, setelah itu rupanya ia pergi dari rumahnya itu."

Eunhyuk nampak agak kesal, karena tepat seperti itulah hasil kesimpulannya tadi. Walau begitu ia tetap menjaga gengsi, bersikap lebih tahu.

"Kau rupanya begitu yakin bahwa itu hantu," katanya, "dan juga bahwa itu hantu Taecyeon!"

"Kami melihatnya sendiri, sedang kau tidak!" tukas Donghae. "Kalau itu bukan hantu, artinya aku belum pernah melihat hantu!"

Sebetulnya Donghae memang belum pernah melihatnya... tepatnya sebelum malam menyeramkan itu. Tapi kenyataan itu tidak diacuhkan olehnya.

"Kalau bukan hantu, lalu apa?" tanya Heechul pada Eunhyuk. "Kalau kau bisa mengajukan kemungkinan lain, mungkin kau akan diberi hadiah oleh Chief Siwon."

Mata Eunhyuk terkejap-kejap sesaat.

"Apa maksudmu?" tanyanya.

"Ya, ada apa dengan Chief Siwon?" sambung Donghae dengan penuh minat.

"Ya... kita semua kan mendengar penuturan­nya kemarin bahwa ia melihat hantu itu," kata Heechul. "Kemudian Wooyoung bercerita bahwa Chief Siwon saat ini benar-benar bingung. Karena, secara resmi ia tidak mungkin bisa mengatakan bahwa hantu itu ada. Jadi karenanya ia tidak bisa menugaskan anak buahnya untuk melacaknya. Tapi di pihak lain ia juga tidak bisa melupakan bahwa ia benar-benar melihatnya. Jadi mungkin saja hantu memang ada. Karenanya ia pasti akan sangat berterima kasih pada siapa saja yang bisa membuktikan apa sebenarnya yang dilihat oleh kita semua... jika itu memang bukan hantu."

"Hmmm." Eunhyuk kini kelihatan senang. "Kurasa kita perlu menangani kasus Hantu Merah ini, untuk menolong Chief Siwon. Kecuali itu, aku juga punya firasat bahwa masih banyak yang tersembunyi di balik misteri ini, melebihi dugaan kita sekarang."

"Tunggu dulu!" sela Donghae dengan buru-buru. "Chief Siwon sama sekali tidak meminta kita agar mau menangani persoalan ini. Dan kalaupun disuruh menyelidiki Hantu Merah... aku tidak mau ikut-ikut!"

Tapi Heechul sama tertariknya seperti Eunhyuk.

"Semboyan kita kan, "Kami Menyelidiki Apa Saja"," katanya mengingatkan. "Tapi aku sendiri pun ingin tahu, yang kita lihat itu hantu atau bukan. Tapi bagaimana cara kita menyelidikinya?"

"Sebaiknya kasus ini kita telaah dari awal mulanya," kata Eunhyuk. "Pertama-tama, apakah hantu itu kelihatan lagi kemarin malam?"

"Menurut koran, tidak," jawab Heechul. "Dan adikku - Wooyoung mendengar dari Chief Siwon bahwa tidak ada kabar baru yang masuk mengenai itu."

"Apa Wooyoung sudah mewawancarai orang-orang yang melihat sosok bayangan waktu itu?" tanya Eunhyuk pada Heechul.

"Wooyoung ikut berkeliling dengan Chief Siwon," jawab Heechul. "Tapi yang berhasil dijumpai cuma empat orang saja, yaitu yang berbadan atletis, lalu yang membawa anjing kecil, serta dua tetangga mereka. Laporan mereka semua sama... tepat seperti yang ada dalam catatanku."

"Lalu bagaimana dengan dua... atau tiga orang lagi?"

"Mereka tidak bisa ditemukan. Menurut Wooyoung, ada kemungkinan mereka itu tidak ingin dikenal, sebab takut nanti diganggu teman-teman mereka karena mengaku melihat hantu. Tapi aku tetap yakin jumlahnya tiga orang, dan bukan dua!"

"Apa sebetulnya yang mendorong orang-orang itu datang ke Shinhwa Mansion?" tanya Eunhyuk.

"Kata mereka, waktu itu ada dua orang datang dan menyarankan agar datang melihat bangunan tua itu malam hari pada saat terang bulan, sebelum dibongkar. Kedua orang itu begitu pintar membujuk, sehingga mereka merasa tertarik lalu ikut pergi. Lalu ketika mereka sedang memasuki pekarangan, tahu-tahu terdengar jeritan. Selebihnya kau sudah tahu, kan."

"Apa sekarang pekerjaan membongkar rumah itu dihentikan?" tanya Eunhyuk lagi.

"Ya... setidak-tidaknya untuk sementara waktu," kata Heechul. "Kepala polisi sudah memerintahkan anak buahnya memeriksa seluruh bangunan kalau-kalau ada lagi kamar rahasia yang lain, tapi ternyata tidak ada. Walau begitu ia masih menyuruh anak buahnya menjaga di sana untuk mencegah orang-orang yang tidak berkepentingan masuk. Menurut Wooyoung, ada desas-desus yang mengatakan bahwa rencana membongkar gedung tua itu untuk membangun gedung baru di tempatnya mungkin akan dibatalkan. Maklumlah, cerita tentang hantu itu tidak bisa dibilang berita bagus!"

Eunhyuk sibuk berpikir selama beberapa menit.

"Kurasa ada baiknya jika mendengarkan kembali rekamanmu waktu itu, Heechul," katanya kemudian. "Karena, hanya itu saja petunjuk yang ada pada kita saat itu."

Heechul menghidupkan tape recorder. Sekali lagi terdengar suara jeritan seram itu, disusul pembicaraan orang-orang yang datang malam itu. Eunhyuk mendengarkan dengan kening berkerut.

"Ada sesuatu dalam rekaman ini yang menggelitik pikiranku, tapi aku belum tahu pasti apa itu," katanya. "Tadi terdengar sebentar goggongan anjing. Anjing jenis apa itu?"

"Apa hubungannya jenis anjing dengan persoalan ini?" tukas Donghae. "Apa pun juga, bisa saja penting artinya," kata Eunhyuk dengan lagak menggurui.

"Aku tidak tahu, anjing itu jenis apa... Tapi yang pasti, Anjing itu kecil dan berbulu ikal," kata Heechul. "Ada jawaban yang bisa kautemukan sekarang, Eunhyuk?"

Eunhyuk terpaksa mengatakan bahwa ia masih tetap belum tahu apa-apa. Rekaman suara malam itu didengarkan berulang-ulang. Ada sesuatu di dalamnya yang dirasakan aneh oleh Eunhyuk. Tapi ia tidak bisa mengatakan, apa sesuatu itu. Akhirnya mereka mengalihkan perhatian pada guntingan koran. Satu-persatu dibaca dengan cermat.

"Kurasa Hantu Merah itu memang sudah pindah ke tempat lain," kata Donghae kemudian dengan nada puas. "Rumah tua yang dihuninya selama ini dibongkar, karena itu ia pergi!"

Sementara Eunhyuk sedang memikirkan jawaban atas komentar Donghae, tiba-tiba telepon berdering. Eunhyuk menerimanya.

"Halo," katanya. Teman-temannya bisa mengikuti pembicaraan yang terjalin setelah itu, lewat alat pengeras suara yang dihubungkan dengan pesawat telepon.

"Hallo, bisa bicara dengan Heechul." terdengar suara seorang wanita.

Ketiga pemuda itu saling berpandang-pandangan.

"Untukmu, Heechul," kata Eunhyuk sambil menyerahkan gagang telepon pada temannya itu.

"Halo! Di sini Heechul," kata Heechul. Suaranya agak gemetar karena perasaannya yang tegang. la ingin tahu, siapa yang ingin bicara dengan dirinya.

"Halo, Heechul. Aku Victoria! Aku menelepon dari Namchoseon Valley."

Victoria! Cucu Taecyeon, yang hantunya... kalau betul yang muncul itu hantu... Yang dilihat oleh Heechul dan Donghae!

"Ya, Victoria," kata Heechul dengan sopan.

"Aku ingin minta tolong," kata Victoria. "Bisakah kau datang ke Namchoseon Valley, bersama temanmu, Donghae?"

"Datang ke Namchoseon Valley?" tanya Heechul. la tidak mengerti.

"Aku ingin sekali bicara dengan kalian," kata Victoria. "Kalian berdua yang melihat kakek moyangku... kan, kata orang hantu yang kalian lihat dua malam yang lalu itu, kakek moyangku. Aku ingin mengetahui kejadian itu dengan jelas, dari saksi yang melihatnya sendiri. Aku ingin tahu seperti apa rupanya, apa yang dilakukan olehnya dan lain-lainnya lagi. Pokoknya, aku ingin tahu semuanya. Karena..." sesaat Victoria terdengar agak bingung, lalu melanjutkan dengan suara lemah, "karena, hantu itu muncul di Namchoseon Valley. Kemarin malam aku... aku melihatnya di dalam kamarku."

Bersambung…

Chapter 3
Chapter 2
Chapter 1

Misteri Hantu Merah (Chapter 3)



Chapter 3
Kamar Tersembunyi

Seketika itu juga ketiga pemuda itu merangkak ke luar lewat Terowongan Dua, dan muncul di tempat terbuka di dekat pondok kecil yang dijadikan kantor perusahaan barang bekas itu.

Yoona ada di situ. la sedang mengobrol dengan Wooyoung, adik Heechul yang memiliki kilatan mata ramah.

"Muncul juga kau akhirnya, Hyung!" katanya pada Heechul. "Ayo, kita harus bergegas. Chief Siwon ingin bicara denganmu. Kau juga, Hyung!" katanya pada Donghae.

Donghae menelan ludah karena kaget. Apa? Chief Siwon ingin bicara dengan dia? Donghae merasa tahu apa yang akan dibicarakan nanti. Pasti tentang kejadian kemarin malam!

"Aku juga boleh ikut, Wooyoung?" tanya Eunhyuk. Wajahnya kelihatan bersemangat. "Kami ini kan satu team. Jadi kalau dipanggil, ketiga-tiganya harus datang."

"Aku rasa tidak apa-apa kalau ditambah satu orang lagi," kata Wooyoung sambil tersenyum. "Ayo cepat, Chief Siwon menunggu di dalam mobil polisi di luar. Kita akan ikut dengannya."

Di luar menunggu sebuah mobil hitam. Chief Siwon, kepala polisi Sungkyunkwan sendiri yang mengemudikan. Wajannya saat itu sangat serius.

"Bagus, Wooyoung," katanya pada adik Heechul. "Sekarang kita langsung berangkat saja. lngat...anda ini kan orang sini juga. Saya harapkan bantuan dari anda untuk menghadapi wartawan yang datang dari luar, apabila masalah ini... ya, apabila kejadian aneh ini ternyata kemudian menjadi semakin aneh."

"Tentu saya bersedia membantu, Chief," kata Wooyoung. "Tapi sementara dalam perjalanan ke Shinhwa Mansion, sebaiknya anda dengarkan dulu apa yang dilihat kakak saya beserta temannya kemarin malam di sana."

"Ya, baiklah... coba ceritakan," kata Chief Siwon, sementara mobil mulai meluncur dengan kecepatan tinggi. "Saya sudah mendengarnya dari beberapa orang yang kemarin ada di sana. Tapi sekarang ceritakanlah pengalaman anda."

Secara ringkas Heechul menceritakan pengalaman bersama Donghae pada malam itu. Chief Siwon mendengarkan sambil menggigit-gigit bibir.

"Ya, persis begitulah laporan orang pada saya," katanya kemudian dengan wajah suram. "Tapi walau begitu banyak saksi mata, saya cenderung mengatakan itu mustahil. Hanya saja...."

Chief Siwon tidak melanjutkan kalimatnya. Wooyoung, Adik Heechul... seorang wartawan yang cekatan, menatap kepala polisi itu dengan tajam.

"Saya mendapat firasat bahwa anda sendiri juga melihat Hantu Merah itu, Chief," katanya pada Chief Siwon. "Oleh sebab itu anda tidak berkeras mengatakan bahwa itu tidak mungkin."

"Memang, betul," Chief Siwon mengeluh. "Saya juga melihatnya. Di pemakaman! Tepatnya di dekat tugu peringatan yang didirikan untuk mengenang Taecyeon. Dan sementara saya memandangnya, sosok merah itu terbenam ke dalam tanah tempat makam itu, lalu lenyap!"

Donghae, Heechul dan Eunhyuk mendengarkan dengan penuh minat. Sedang Wooyoung memandang kepala polisi itu dengan pandangan bertanya.

"Bisakah saya memuat keterangan anda itu, Chief?" tanyanya. Naluri kewartawanannya timbul.

"Tidak! Anda tidak boleh mengutip kata-kata saya itu!" tukas Chief Siwon. "Keterangan saya tadi off the record... tidak untuk diketahui umum! Wah... Saya sampai lupa bahwa kalian bertiga juga ada," katanya sambil memandang ketiga pemuda yang mendengarkan dengan asyik. "Kalian tidak boleh meneruskan cerita saya tadi pada orang lain, mengerti?"

"Baik, Chief," kata Eunhyuk.

"Jadi sosok merah itu keseluruhannya dilihat oleh... nanti dulu... dua pengemudi mobil di depan restoran, wanita yang menelepon, penjaga malam di gudang, lalu saya serta kedua anak buah saya, kedua pemuda ini..."

"Keseluruhannya sembilan orang, Chief," sela Wooyoung.

"Sembilan, ditambah keenam orang yang datang malam kemarin untuk melihat-lihat rumah tua itu," kata Chief Siwon. "Keseluruhannya lima belas orang. Lima belas orang saksi yang melihat sosok tubuh yang seperti hantu!"

"Yang ada di Shinhwa Mansion kemarin malam enam atau tujuh orang, Chief?" tanya Eunhyuk. "Donghae dan Heechul tidak sependapat mengenai itu."

"Saya tidak tahu pasti," kata Chief Siwon dengan nada menggerutu. "Empat orang datang melaporkan kejadian itu. Tiga dari mereka mengatakan bahwa mereka semula berenam. Sedang yang satu lagi ngotot, mengatakan mereka bertujuh. Aku tidak bisa berbicara dengan yang lain-lainnya... karena tidak berhasil menghubungi mereka. Rupanya mereka tidak ingin nama mereka tersebar sehubungan dengan kejadian ini. Tapi pokoknya, saksi mata ada lima belas atau enam belas orang. Tidak mungkin orang sebanyak itu salah lihat! Aku lebih senang apabila kejadian itu bisa kuanggap perbuatan iseng belaka, tapi sesudah menyaksikannya sendiri... melihat dengan mata sendiri bagaimana sosok tubuh itu menghilang ke dalam kubur. Ya....!"

Sementara itu mobil sudah memasuki peka­rangan Shinhwa Mansion yang tidak terawat. Dilihat siang hari bangunan itu mengesankan sekali bentuknya, walau satu sayapnya sudah dibongkar sebagian. Dua orang polisi menjaga di pintu. Sedang seorang laki-laki dengan stelan jas nampak menunggu dengan sikap tidak sabar.

"Siapa itu?" gumam Chief Siwon, sementara mereka keluar dari mobil. "Mungkin reporter!"

"Chief Siwon!" Laki-laki berstelan jas yang tampangnya kelihatan cerdas itu menyapa sambil datang menghampiri. Cara bicaranya cepat sekali. "Anda Chief Siwon, kan? Saya sudah menung­gu dari tadi. Apa sebabnya saya tidak boleh masuk ke rumah klien saya?"

"Rumah klien Anda?" Chief Siwon menatap orang itu. "Anda ini siapa?"

"Nama saya Leeteuk," kata orang itu. "Ini kan rumah Victoria. Saya pengacaranya, dan sekaligus juga sepupunya. Saya mewakili kepentingannya. Begitu saya membaca berita dalam surat kabar tadi pagi tentang kejadian kemarin malam, saya langsung datang dengan pesawat terbang dari Seoul, lalu naik mobil sewaan kemari. Saya ingin menyelidiki kejadian itu. Rasanya itu cuma omong kosong yang fantastis."

"Kalau fantastis, cocok!" kata Chief Siwon, "Tapi bukan omong kosong. Saya senang Anda ada di sini sekarang, Tn. Leeteuk. Karena mungkin kami memang perlu memanggil Anda. Kedua bawahan saya ini, saya suruh menjaga di sini agar mencegah masuknya orang-orang yang tidak berkepentingan. Karena itulah mereka melarang Anda masuk. Tapi sekarang kita masuk saja semua, untuk melihat-lihat di dalam. Saya membawa dua orang pemuda yang ikut melihat kejadian itu kemarin malam, dan mereka akan menunjukkan di mana tepatnya han… eh, bayangan aneh itu muncul."

Chief Siwon memperkenalkan Wooyoung, Heechul, Donghae dan Eunhyuk pada Leeteuk. Setelah itu ia mendului masuk ke dalam rumah, sementara kedua bawahannya ditinggal di luar untuk menjaga. Dalam kamar-kamar yang besar dan gelap di dalam masih terasa ada kesan seram seperti malam sebelumnya. Heechul dan Donghae menunjukkan pada Chief Siwon, di mana tepatnya mereka berada, dan di mana sosok tubuh kemerahan itu mula-mula nampak.

Setelah itu Donghae mendului naik ke tingkat atas. "Bayangan itu meluncur naik tangga ini, lalu menyusuri serambi," katanya. "Sebelum kami menyusulnya, lantai diperiksa dulu untuk mencari tapak kaki. Itu ide Heechul. Tapi debu yang menutupi lantai masih kelihatan seperti semula. Tidak nampak tapak kaki di situ."

"Bagus, Hyung," kata Wooyoung sambil menepuk bahu kakaknya.

"Lalu hantu itu menuju gang itu," kata Donghae sambil menuding, "dan berhenti di ujungnya. Tapi tahu-tahu lenyap, seperti masuk ke dalam dinding."

"Hmmm," gumam Chief Siwon. Tampang­nya masam, sementara semua menatap ujung gang yang berupa dinding belaka. Leeteuk menggeleng-gelengkan kepala. Kelihatannya bingung.

"Saya tidak bisa mengerti," katanya. "Benar-benar tidak mengerti! Memang... banyak desas-desus yang mengatakan bahwa rumah tua ini ada hantunya. Tapi selama ini saya tidak percaya! Sekarang... entahlah. Saya benar-benar bingung!"

"Tn. Leeteuk," kata Chief Siwon, "Anda tahu apa yang terdapat di balik dinding itu?"

Orang yang ditanya mengejapkan matanya.

"Tidak," katanya. "Apa yang mungkin ada di baliknya?"

"Untuk menyelidiki itulah kami ke sini," kata kepala polisi itu, "dan karena itulah saya merasa senang Anda hadir di sini. Pagi ini salah seorang pekerja yang disuruh membongkar rumah ini mengambrukkan sebagian dari dinding luar bagian ini. Rupanya gang ini posisinya berada di atas bagian bawah yang sedang diruntuhkan. Pekerja itu tahu-tahu melihat sesuatu, lalu langsung berhenti bekerja dan memanggil saya."

"Melihat sesuatu?" Kening Leeteuk berkerut. "Astaga, apa yang dilihatnya?"

"Orang itu tidak bisa mengatakannya dengan pasti," jawab Chief Siwon, "tapi menurutnya, di belakang dinding ini kelihatnnya seperti ada kamar lagi. Kamar rahasia! Dan karena Anda kini ada di sini, kita akan membongkar dinding ini dan melihat ada apa di belakangnya."

Leeteuk mengusap-usap keningnya dengan sikap bingung. Diliriknya Wooyoung yang sedang sibuk mencatat.

"Kamar rahasia?" kata Leeteuk. "Saya belum pernah mendengarnya."

Donghae, Heechul dan juga Eunhyuk sudah gelisah saja, ketika dua orang polisi muncul dengan kapak dan linggis.

"Sekarang buat lubang di dinding itu," kata Chief Siwon pada mereka. Lalu menambahkan pada Leeteuk, "Anda setuju, kan?"

"Tentu saja, Chief," kata pengacara dari Seoul itu. "Rumah ini memang harus dibongkar."

Kedua polisi itu bekerja dengan bersemangat. Tak lama kemudian dinding itu sudah berlubang besar. Nampak jelas bahwa di belakangnya ada ruangan yang cukup lapang. Ruangan itu gelap. Ketika lubang sudah cukup besar sehingga bisa dilewati seseorang, Chief Siwon datang menghampiri lalu menyorotkan senternya ke dalam.

"Astaga!" katanya, lalu masuk ke dalam ruangan gelap itu. Leeteuk dan Wooyoung bergegas menyusul. Terdengar seruan-seruan mereka, menandakan keheranan.

Eunhyuk cepat-cepat menyelinap masuk, diikuti oleh Donghae dan Heechul. Ternyata ruangan di balik tembok itu suatu kamar kecil. Ukurannya sekitar dua kali dua setengah meter. Keadaan kamar itu agak terang, karena ada cahaya matahari masuk lewat retakan di dinding yang sudah mulai diruntuhkan.

Kini Eunhyuk, Donghae dan Heechul tahu, apa sebabnya Chief Siwon, Leeteuk dan Wooyoung yang lebih dulu masuk terdengar begitu kaget.

Ruangan itu kosong. Hanya ada satu benda di situ. Dan benda itu... peti mayat!

Peti itu terletak di atas meja yang terbuat dari kayu yang digosok mengkilat. Peti mayat itu sendiri berukir indah dan mengkilat. Tapi perhatian Chief Siwon, Leeteuk dan Wooyoung terarah pada apa yang terdapat di dalamnya.

Eunhyuk dan kedua temannya mendekati mereka, lalu ikut menjengukkan kepala ke dalam peti itu. Mereka kaget setengah mati, karena di dalamnya ada tengkorak manusia. Tengkorak itu diselubungi jubah merah indah yang sudah rusak karena tuanya. Tapi walau demikian mereka tahu pasti bahwa itu tengkorak manusia!

Sesaat tidak ada yang bicara. Akhirnya Leeteuk yang paling dulu membuka mulut.

"Lihatlah!" katanya, sambil menuding sekeping pelat perak yang terpasang pada dinding peti. Di sini tertulis, "Istri tercinta Taecyeon. Bersemayamlah dengan tenang di dekatku!"

"Putri Cina, istri Taecyeon!" kata Chief Siwon dengan suara serak.

"Bayangkan... padahal semua mengira ia pergi dari rumah ketika Taecyeon meninggal dunia," kata Wooyoung menambahkan dengan suara tertahan.

"Ya, betul," kata Leeteuk. "Tapi ternyata inilah yang terjadi. Ini persoalan yang perlu saya tangani sendiri, Chief. Demi kepentingan keluarga."

Sambil berkata begitu, ia meraih ke dalam peti mati. Trio Detektif tidak bisa melihat apa yang diperbuatnya, karena tubuh Chief Siwon dan Wooyoung menutupi pandangan mereka. Tapi sesaat kemudian Leeteuk nampak memegang seuntai benda yang bentuknya bulat dan berwarna kelabu suram, diterangi cahaya senter yang ada di tangan Chief Siwon.

"Seharusnya inilah mutiara hantu yang terkenal itu, yang menurut kabar dicuri Kakek Moyang Taecyeon dari seorang bangsawan Cina. Mutiara inilah yang menjadi sebab kenapa ia melarikan diri dari Cina lalu bersembunyi di sini. Mutiara kelabu ini tak ternilai harganya. Kami menyangka sudah hilang... ketika Kakek Moyang Taecyeon meninggal dunia, kami mengira istrinya lari kembali ke Cina dengan membawa mutiara ini. Tapi ternyata masih tetap ada di sini."

"Ya... bersama putri Cina itu," kata Wooyoung.

Bersambung…

Chapter 2
Chapter 1

Misteri Hantu Merah (Chapter 2)



Chapter 2
Dipanggilnya Para Saksi Mata

"Aaaa-aiiiii!" Jeritan seram itu terdengar lagi. Tapi kali ini Heechul dan Donghae santai saja. Bunyi itu merupakan rekaman, yang datang dari tape recorder.

Saat itu mereka sedang berkumpul di Markas Besar. Pemimpin Trio Detektif, Eunhyuk, dengan penuh perhatian mendengar hasil rekaman Heechul malam sebelumnya.

"Setelah itu tidak ada jeritan lagi, Eunhyuk," kata Heechul. "Sisanya cuma pembicaraan saja dengan orang-orang yang datang kemudian. Aku baru teringat bahwa tape recorder masih jalan ketika mau masuk ke rumah, lalu kumatikan."

Tapi Eunhyuk mendengarkan semua yang ikut direkam. Suara orang-orang yang berbicara malam sebelumnya terdengar dengan jelas, karena waktu itu Heechul menyetel tombol rekaman sampai habis. Setelah rekaman terputus karena dimatikan Heechul, Eunhyuk mematikan tape recorder itu. la duduk termenung sambil mencubit-cubit dagunya, tanda bahwa ia sedang memutar otak.

"Jeritan tadi kedengarannya, seperti suara manusia," katanya. "Bunyinya seperti jeritan seseorang yang jatuh di tangga, dan akhirnya lenyap karena ia tidak mampu berteriak iagi."

"Ya... persis begitulah kedengarannya," seru Heechul. "Dan itulah yang terjadi Di dalam rumah itu, lima puluh tahun yang lalu. Taecyeon, pemiliknya, jatuh dari tangga hingga mati karena lehernya patah. Mungkin ketika jatuh ia menjerit!"

"Heh, hey... tunggu dulu!" sanggah Donghae. "Kenapa kita mendengar jeritannya itu, lima puluh tahun kemudian?"

"Mungkin jeritan itu gema yang datang dari alam baka," kata Eunhyuk dengan serius.

"Hiiii... jangan bicara seperti itu," kata Donghae. "Menyeramkan sekali rasanya! Tapi mana mungkin suara jeritan lima puluh tahun yang lalu, masih terdengar sekarang?"

"Entahlah, aku juga tidak tahu," kata Eunhyuk. "Heechul, kau kan yang bertugas mengurus catatan dan penyelidikan pada biro detektif kita ini. Coba jelaskan secara terperinci kejadian itu, lalu apa yang berhasil kau selidiki mengenai sejarah Shinhwa Mansion."

Shinhwa Mansion itu, rumah tua yang dulu adalah tempat tinggal Taecyeon.

"Ya..." kata Heechul memulai penuturannya, setelah menarik napas panjang dulu sebelumnya, "kemarin malam aku dan Donghae datang ke sana, setelah mendengar kabar bahwa rumah itu sudah mulai dibongkar. Aku bermaksud menulis artikel mengenai itu, dan menyiapkannya untuk dimuat dalam terbitan pertama Surat Kabar 'Morning Korea' pada musim gugur nanti. Aku sengaja membawa tape recorder. Aku mau merekam kesan-kesanku di situ, lalu kemudian baru kusalin di atas kertas.”

"Rumah itu kelihatannya menyeramkan. Kami berdiri di dalam gelap. Tapi bulan kemudian muncul, ketika kami sudah lima menit di sana. Tiba-tiba terdengar jeritan melengking. Aku cepat-cepat memutar tombol untuk mengeraskan suara yang masuk. Maksudku mau bersiap merekam kalau jeritan itu terdengar lagi, karena aku tahu kau perlu mendengarnya."

"Bagus," kata Eunhyuk, "jalan pikiranmu sudah seperti detektif yang cekatan. Aku sudah mendengar rekaman pembicaraan orang-orang yang datang kemudian. Jadi lanjutkan dengan kejadian setelah kalian masuk ke rumah."

Heechul meneruskan ceritanya. Diterangkannya bagaimana mereka memeriksa seluruh rumah, lalu melihat sosok tubuh samar kemerahan. Mula-mula di tingkat bawah, kemudian naik tangga ke tingkat atas, di mana bayangan itu meluncur sepanjang dinding serambi atas dan akhirnya menghilang, seperti masuk ke dalam dinding.

"Dan sama sekali tidak ada bekas kaki," kata Donghae. "Heechul teringat akan hal itu, dan ia meminta agar orang-orang yang memegang senter memeriksa lantai dengan seksama."

"Bagus," kata Eunhyuk memuji. "Lalu, berapa orang yang melihat bayangan merah itu bersama kalian?"

"Enam orang," kata Donghae.

"Tujuh," bantah Heechul.

Kedua pemuda itu saling berpandangan dengan heran.

"Enam," kata Donghae. "Aku yakin! Laki-laki bertubuh atletis yang berjalan paling depan, lalu yang berkemeja biru, laki-laki yang membawa anjing kecil, laki-laki yang memakai kaca mata, lalu dua orang lagi yang tidak begitu kuperhatikan."

"Mungkin kau benar," kata Heechul, agak sangsi. "Aku menghitung jumlah mereka ketika sedang memeriksa di dalam rumah. Anehnya, dua kali kuhitung jumlahnya tujuh orang, dan satu kali enam orang."

"Aku rasa itu tidak begitu penting," kata Eunhyuk, la rupanya lupa pada peraturannya sendiri, yaitu bahwa dalam menghadapi peristiwa misterius, petunjuk yang paling sepele pun mungkin penting sekali artinya. "Sekarang ceritakan saja sejarah rumah tua itu."

"Kemudian kami pergi dari sana," kata Heechul melanjutkan penuturannya. "Orang-orang yang semula bersama kami, terpecah kedalam beberapa kelompok. Salah satu kelompok memanggil polisi. Koran-koran pagi ini penuh dengan berita mengenai itu. Tadi sebelum kemari, aku mampir sebentar ke perpustakaan. Tapi aku tidak berhasil menemukan informasi mengenai Shinhwa Mansion di sana. Karena, rumah tua itu sudah dibangun sebelum ada kota Sungkyunkwan... jadi perpustakaan juga belum ada…”

"Tapi menurut berita koran, gedung itu dibangun enam puluh atau tujuh puluh tahun yang lalu, oleh Taecyeon. Semasa hidupnya ia nakhoda kapal dagang yang berlayar ke Cina. Kata orang, ia dulu terkenal berwatak keras. Tidak begitu banyak yang diketahui tentang dirinya. Tapi rupanya ketika pada suatu kali ia berlayar lagi ke Cina, di sana ia mengalami kesulitan. Sebagai akibatnya, ia terpaksa buru-buru lari dari sana. la kembali ke sini membawa istri, seorang putri Cina…”

"Ada kabar yang mengatakan bahwa Taecyeon pindah dan tinggal di sini setelah bertengkar dengan iparnya. Iparnya itu satu-satunya kerabat yang masih ada waktu itu. Menurut kabar lain, Taecyeon takut terhadap pembalasan dendam sekelompok bangsawan Cina. Mungkin mereka itu kerabat istrinya. Karena itu ia membangun rumah di sini, untuk menyembunyikan diri. Waktu itu daerah disini masih liar, belum berkembang seperti sekarang….”

"Jadi... pokoknya ia kemudian hidup dengan gaya mewah di Shinhwa Mansion, dengan sejumlah besar pelayan orang Cina. Taecyeon itu senang memakai jubah merah. Segala perbekalan keperluan hidup diantarkan seminggu sekali dengan gerobak kuda dari Incheon. Pada suatu hari ketika gerobak itu datang lagi, kusirnya menemukan rumah tua itu dalam keadaan kosong. Yang ada di situ cuma Taecyeon. Tapi ia sudah mati. Mayatnya tergeletak di kaki tangga, dengan leher patah...”

"Polisi yang kemudian dipanggil menarik kesimpulan bahwa Taecyeon meninggal karena kecelakaan. la minum-minum lalu terjatuh sehingga lehernya patah. Sedang para pelayan semuanya pergi malam itu juga, karena takut disalahkan. Bahkan istrinya, putri Cina itu pun tidak ada lagi di sana…”

"Polisi tidak berhasil menemukan seorang pun yang bisa memberi keterangan. Semasa itu kebanyakan orang Cina yang tinggal di sini segan membuka mulut dan merasa takut menghadapi polisi. Karena itu para pelayan ada yang pulang ke Cina, dan selebihnya pergi ke Seoul untuk kemudian menghilang di kampung Cina kota itu…”

"Jadi misteri kematian Taecyeon tetap tidak berhasil diungkapkan secara tuntas. Iparnya yang di Seoul, seorang wanita yang hidup menjanda mendapat warisan seluruh hartanya. Dari uang yang ditinggalkan, janda itu kemudian membeli kebun anggur. Kebun itu letaknya di suatu lembah bernama Namchoseon Valley, dekat Seoul, la tidak mau tinggal di Shinhwa Mansion. Tapi ia juga tidak mau menjualnya. Bahkan setelah janda itu meninggal dunia, rumah tua itu dibiarkan saja tanpa perawatan. Namun akhirnya tahun ini cucu janda itu, Victoria namanya, menjual Shinhwa Mansion pada seorang kontraktor yang mau membongkar rumah tua itu. Kontraktor itu bermaksud membangun gedung-gedung modern di atas tanahnya. Jadi karena itulah rumah itu kini diambrukkan. Ya... itulah semuanya yang bisa kulaporkan."

"Laporanmu teliti sekali, Heechul," kata Eunhyuk memuji. "Sekarang kita periksa saja kabar-kabar yang ada dalam koran."

Sambil berkata begitu dibeberkannya beberapa lembar suratkabar di atas meja. Satu terbit di Incheon, satu lagi di Seoul dan yang ketiga suratkabar terbitan Sungkyunkwan. Suratkabar setempat memasang kepala berita paling besar mengenai kejadian-kejadian aneh yang dialami malam sebelumnya. Tapi kedua suratkabar kota besar itu pun menyediakan ruangan yang cukup besar untuk kejadian itu. Kepala berita yang dipasang sangat dramatis.

HANTU MENINGGALKAN RUMAH YANG DI BONGKAR MENYEBAR KENGERIAN DI SUNGKYUNKWAN DENGAN JERITAN HANTU MERAH GENTAYANGAN DI SUNGKYUNKWAN SETELAH RUMAH DIAMBRUKKAN HANTU MERAH MENCARI HUNIAN BARU KARENA RUMAHNYA DIBONGKAR

Berita-berita itu ditulis dengan nada tidak serius. Tapi semua fakta yang baru saja dipaparkan oleh Heechul tertera di situ. Tapi tidak diberitakan bahwa kepala polisi Sungkyunkwan, Chief Siwon serta dua anak buahnya melihat sendiri sosok tubuh merah di pemakaman. Rupanya hal itu tidak diceritakan oleh Siwon pada wartawan, karena khawatir ia akan menjadi bulan-bulanan ejekan orang banyak.

"Di sini tertulis bahwa hantu itu dilihat di luar sebuah gudang besar," kata Eunhyuk sambil menuding surat kabar setempat, "lalu setelah itu di teras rumah seorang wanita, dan akhirnya di samping beberapa mobil yang diparkir di luar sebuah restoran di mana pengemudi mobil sering mampir. Kelihatannya seolah-olah hantu itu sedang mencari-cari tempat kediaman baru, karena rumahnya dibongkar."

"Ya" kata Donghae dengan nada mengejek, "mungkin saja ia membonceng mobil, pergi dari Sungkyunkwan."

"Mungkin saja," kata Eunhyuk. Ia menanggapi keisengan Donghae dengan serius, "walau hantu seharusnya tidak memerlukan sarana angkutan konvensional."

"Aduh, ampun," keluh Donghae. Ia merobohkan kepalanya ke atas lengan yang terjulur di meja, pura-pura pingsan. "Mati aku mendengar kalimatmu yang panjang-panjang itu, Eunhyuk! Apa itu, konvensional?"

"Artinya lazim atau biasa," jawab Eunhyuk. "Kejadian ini rasanya misterius sekali. Selama belum ada fakta baru yang muncul...."

la tidak menyelesaikan kalimatnya, karena terganggu oleh suara adiknya, Yoona. Dialah yang sebetulnya mengelola perusahaan keluarga itu. Menurut istilah sekarang, Yoona itu boss-nya "Huang Zhou Workshop".

"Heechul Oppa!" seru Yoona. "Ayo keluar dari balik tumpukan besi tua itu. Kemarilah, adikmu mencarimu. Kau juga, Donghae Oppa!"

Bersambung…

Chapter 1

Misteri Hantu Merah (Chapter 1)



Chapter 1
Jeritan Hantu Merah

Jeritan itu menyebabkan Heechul dan Donghae kaget setengah mati.

Kedua pemuda itu sedang berdiri di suatu jalan masuk yang tidak terawat. Di mana-mana tumbuh rumput liar. Di depan mereka nampak sebuah rumah tua yang tidak didiami lagi. Rumah itu besar sekali, sebesar hotel. Satu sisinya sudah runtuh, diambrukkan para pekerja. Cahaya bulan yang remang-remang, membuat pemandangan saat itu seperti diselubungi kabut. Seperti dalam mimpi.

Heechul sedang berbicara, melukiskan pemandangan yang terlihat. Suaranya direkam dengan tape recorder kecil yang tergantung di lehernya. la berhenti sebentar. Sambil menoleh pada Donghae, ia berkata.

"Banyak orang beranggapan bahwa rumah ini berhantu, Donghae. Sayang tidak teringat oleh kita, ketika Yesung waktu itu mencari-cari rumah hantu untuk filmnya "

"Ya, aku rasa Yesung akan sangat senang dengan rumah ini," kata Donghae menyetujui. "Tapi aku tidak. Terus terang saja, semakin lama aku berdiri di sini, semakin gelisah saja perasaanku. Bagaimana jika kita pergi saja sekarang?"

Tepat saat itulah terdengar bunyi jeritan yang melengking tinggi. Datangnya dari rumah kosong itu. Bulu roma Heechul dan Donghae berdiri mendengar jeritan yang lebih mirip suara binatang dari pada manusia itu.

"Kau dengar suara itu?" kata Donghae dengan suara seperti tercekik. "Tunggu apa lagi kita di sini? Ayo, cepat lari!"

"Tunggu!" kata Heechul. la tetap berada di tempatnya, walau kakinya sudah ingin lari saja. Melihat Donghae ragu-ragu, ia menambahkan, "Akan kupasang tape recorder ini lebih keras lagi, karena siapa tahu nanti ada bunyi lain. Eunhyuk pasti akan berbuat begitu."

"Ya…" kata Donghae, la masih ragu. Tapi Heechul sudah memutar tombol rekaman bunyi serta mengarahkan mikrofonnya ke rumah kosong yang nampak di antara pepohonan di depan mereka.

"Aaaaaa… aiiiiiii!" Terdengar lagi jeritan seperti yang tadi. Melengking panjang dan tinggi, lalu menurun dan lenyap lagi dengan pelan. "Ayo, kita pergi!" kata Donghae mendesak. "Sudah cukup banyak yang kita dengar."

Kali ini Heechul sependapat. Dengan cepat keduanya berpaling. Maksudnya mau lari ke tempat sepeda mereka ditaruh tadi.

Donghae gesit seperti kijang. Sedang Heechul kini bisa lari lebih cepat dari sebelumnya. Beberapa tahun yang lalu kakinya pernah patah, karena jatuh di suatu lereng berbatu. Karena itu kemudian terpaksa memakai penopang. Untung saja proses penyembuhan cederanya berjalan baik. Setelah cukup lama melatih kekuatan kaki, akhirnya minggu lalu Heechul diberi tahu bahwa kakinya tidak memerlukan penopang lagi. Dan kini gerakannya terasa begitu enteng. la merasa seakan-akan bisa terbang.

Walau begitu, keduanya tidak bisa lari jauh-jauh, karena tahu-tahu ada beberapa lengan yang menahan. Donghae mendengus kaget. la menubruk seseorang yang berada di belakangnya. Heechul juga terhenti larinya, karena membentur seorang laki-laki yang langsung memegangnya. Ternyata tanpa mereka ketahui, ada segerombolan laki-laki datang di belakang mereka, ketika keduanya sedang terpaku mendengar suara jeritan seram tadi.

"Hey, Pelan-pelan!" seru laki-laki yang memegang Donghae. "Nyaris saja aku jatuh karena kau tabrak!"

"Suara apa itu tadi?" tanya orang yang menahan Heechul, supaya tidak jatuh. "Kami melihat kalian berdiri sambil mendengarkan!"

"Kami tidak tahu, tapi kedengarannya seperti suara hantu!" kata Donghae.

"Hantu? Omong kosong!.... Mungkin seseorang yang sedang mengalami kesulitan! Mungkin gelandangan!"

Kelima atau enam orang yang baru datang itu berbicara campur aduk. Donghae dan Heechul sudah tidak diacuhkan lagi. Kedua pemuda itu tidak bisa melihat wajah orang-orang itu dengan jelas. Tapi semuanya berpakaian rapi. Dari gaya bicara mereka, diperoleh kesan bahwa orang-orang itu penghuni rumah-rumah di daerah pemukiman yang nyaman di sekeliling rumah kosong yang kebunnya tak terawat itu. Daerah itu dikenal dengan nama Kangsan Estate.

"Kita masuk saja ke dalam!" kata seorang dari mereka dengan lantang. Pemuda itu mengenakan kemeja berwarna biru. Heechul tidak bisa mengenali raut wajahnya dengan jelas. Orang itu menyambung kalimatnya, "Kita ke sini untuk melihat bangunan tua ini, sebelum diambrukkan. Mungkin jeritan itu berasal dari seseorang yang menderita cedera di dalam rumah."

"Aku rasa lebih baik jika kita memanggil polisi," kata seorang laki-laki berkemeja kotak-kotak. Ia agak gugup. "Menyelidiki hal-hal seperti ini kan tugas mereka!"

"Tapi mungkin ada orang cedera di sana," kata orang yang berkemeja biru. "Mungkin kita bisa menolong. Jika menunggu dulu sampai polisi datang… siapa tahu, jangan-jangan nanti ia sudah mati!"

"Kau saja yang masuk, aku akan memanggil polisi," kata pemuda yang memakai kemeja kotak-kotak. la langsung berpaling, hendak pergi.

Saat itu seorang lainnya lagi berbicara. la menuntun seekor anjing kecil. "Ah, mungkin itu burung hantu atau kucing yang tersesat di dalam," katanya. "Kalau kau memanggil polisi hanya untuk itu saja, kau bisa malu nanti!"

Laki-laki berkemeja kotak-kotak nampak agak bingung. "Ya…" katanya.

Saat itu laki-laki yang bertubuh atletis dalam kelompok itu mengambil pimpinan. "Ayo," ajaknya, "kita kan berenam dan beberapa di antara kita membawa senter. Menurutku, lebih baik kita periksa dulu ke dalam. Nanti kita bisa memanggil polisi, kalau ternyata memang perlu. Kalian berdua…" kini orang itu berbicara pada Heechul dan Donghae, "kalian pulang! Kalian tidak ada gunanya di sini." Setelah itu ia melangkah di atas jalan beralas batu yang menuju ke rumah kosong.

Orang-orang yang lain menyusul, setelah bimbang sesaat. Laki-laki yang menuntun anjing kecil mengangkat binatang itu lalu menggendongnya sambil berjalan. Sedang laki-laki berkemeja kotak-kotak berjalan paling belakang. Dari sikapnya nampak bahwa ia masih tetap ragu.

"Ayo," kata Donghae pada Heechul, "kita pulang saja! Kita tidak ada gunanya di sini, seperti kata orang itu tadi."

"Lalu kita tidak menyelidiki apa yang terdengar menjerit itu?" bantah Heechul. "Bayangkan apa yang akan dikatakan Eunhyuk nanti. Pasti kita dikecamnya habis-habisan! Kita ini kan penyelidik. Lagi pula, kita tidak perlu takut lagi, karena beramai-ramai di sini.

Heechul bergegas menyusul kelompok yang sudah mendahului. Donghae menyusulnya. Sedang keenam laki-laki itu sudah sampai di pintu depan yang besar. Mereka berdiri di situ dengan sikap bimbang. Lalu laki-laki yang bertubuh atletis menekan gagang pintu. Pintu terbuka. Di belakangnya nampak serambi dalam yang gelap.

"Kita nyalakan senter," katanya. "Aku ingin tahu, bunyi apa itu tadi!"

Dengan senter menyala ia mendahului masuk. Orang-orang yang lain berdesak-desakan menyusulnya. Tiga senter lagi menyala, memecah kegelapan. Sewaktu orang-orang masuk, Donghae dan Heechul ikut menyelinap dengan diam-diam di belakang mereka.

Mereka sampai di sebuah ruangan yang luas. Kelihatannya dulu merupakan tempat menerima tamu, kalau ada pesta dan sebagainya. Senter disorotkan ke sana-sini. Nampak dinding berlapis kertas sutra yang sudah pudar warnanya. Kertas dinding itu dihiasi lukisan pemandangan di Cina.

Di situ juga ada tangga yang lebar. Bentuknya melengkung ke atas. Satu di antara orang-orang yang masuk, menyorotkan senternya ke tangga itu.

"Di situ rupanya Taecyeon jatuh sehingga lehernya patah lima puluh tahun yang lalu," katanya. "Coba cium bau tempat ini. Pengap sekali! Tidak mengherankan sebetulnya, kalau diingat bahwa rumah ini sejak waktu itu tidak pernah didiami lagi."

"Kata orang, di sini ada hantu," kata seseorang lagi, "dan aku percaya saja. Mudah-mudahan saja kita tidak melihat hantu itu."

"Kalau begini terus, takkan berjalan penyelidikan kita," kata salah satu laki-laki yang bergerombol tadi. "Ayo, kita mulai saja dengan tingkat dasar."

Sambil menggerombol terus, orang-orang itu mulai memeriksa kamar-kamar besar yang terletak di tingkat dasar. Dalam kamar-kamar itu sama sekali tidak ada perabot rumah. Debu berhamburan di mana-mana. Dinding salah satu sayap gedung itu sudah tidak ada lagi. Para pekerja yang bertugas mengambrukkan rumah tua itu memulai pekerjaan mereka hari itu dengan membongkar dinding luar itu.

Orang-orang yang masuk bersama Donghae dan Heechul mencari ke mana-mana. Tapi yang mereka temukan hanya kamar demi kamar yang kosong dan bergema. Mereka berjalan tertegun-tegun. Bicara pun berbisik-bisik.

Kini mereka menuju ke sayap bangunan yang satu lagi. Akhirnya sampai di sebuah ruangan luas, yang dulu kelihatannya ruang duduk. Pada satu ujungnya terdapat tempat perapian yang megah. Di seberangnya berjajar jendela yang besar-besar. Orang-orang yang masuk itu berdiri bergerombol di depan tempat perapian. Mereka berunding. Perasaan mereka tidak enak.

"Percuma saja kita mencari," kata seseorang dengan suara pelan. "Sebaiknya kita memanggil polisi..."

"Ssst!"

Semua berdiri terpaku. Orang yang berbicara tadi langsung bungkam.

"Aku merasa seperti mendengar sesuatu," kata orang yang mendesis tadi. la berbisik-bisik. "Mungkin seekor binatang! Coba kita matikan semua senter! Barangkali nanti ada yang nampak bergerak-gerak."

Seketika itu juga senter padam semuanya. Ruangan menjadi gelap. Hanya sinar bulan saja yang samar-samar merembes masuk lewat kaca jendela yang buram karena debu.

"Lihatlah!" kata seseorang dengan nada kaget. "Itu! Di dekat pintu!"

Semua berpaling ke arah yang dimaksudkan. Dan semua melihat apa yang dimaksudkan orang itu.

Sesosok tubuh kemerah-merahan nampak berdiri dekat pintu yang mereka lewati sewaktu masuk tadi. Tubuh itu seakan-akan memancarkan cahaya samar, bergoyang-goyang seperti kabut. Heechul menatap pemandangan itu. Tanpa disadarinya, ia menahan napas. Dan sosok tubuh itu semakin lama semakin jelas bentuknya. Berupa seorang laki-laki, memakai jubah merah yang panjang.

"Itu hantunya!" kata seseorang dengan suara lemas. "Hantu Taecyeon!"

"Hidupkan semua senter!" kata seorang laki-laki dengan suara tegas. "Arahkan ke sana!"

Tapi sebelum senter dinyalakan, sosok tubuh samar kemerahan itu kelihatannya seolah-olah melayang sepanjang dinding, lalu menyelinap ke luar lewat pintu. Tepat pada saat tiga senter terpancar ke sana, bayangan itu lenyap.

"Andai saja aku ini, tadi ada di tempat lain… sejak satu jam yang lalu, pasti aku tidak akan melihat hantu itu." bisik Donghae di telinga Heechul.

"Mungkin tadi itu cuma cahaya lampu mobil yang masuk lewat jendela," kata seseorang dengan suara keras. "Ayo, kita periksa ke serambi dalam."

Bergedebak-gedebuk mereka pergi ke ruangan itu, lalu menyorotkan senter ke segala arah. Tapi tak ada yang bisa dilihat di situ. Lalu ada yang mengusulkan, sebaiknya senter dimatikan lagi. Mereka lantas menunggu dalam gelap. Semua membisu. Hanya anjing kecil yang digendong terdengar seperti mengeluh dengan suara pelan.

Kini Donghae yang paling dulu melihatnya. Yang lain memandang ke sekitar mereka. Tapi Donghae kebetulan mendongak, memandang ke arah tangga. Dan dilihatnya sosok tubuh merah yang tadi, berada di ujung bawah tangga.

"Itu dia… di tangga!" seru Donghae.

Semua menoleh. Dan semuanya melihat sosok tubuh itu bergerak seakan-akan meluncur menaiki tangga menuju tingkat atas.

"Ayo, kita kejar!" seru laki-laki bertubuh atletis. "Pasti itu seseorang yang mau mempermainkan kita!"

la bergegas lari mendaki tangga diikuti yang lainnya. Tapi sesampai di tingkat kedua, ternyata tidak ada orang di situ.

"Aku punya ide," kata Heechul. la berpikir, apa yang akan dikerjakan Eunhyuk jika pada saat itu ada di antara mereka. Dan Heechul tahu, tindakan apa yang tentunya akan diambil temannya itu. la memicingkan mata karena silau terkena sinar senter yang diarahkan padanya.

"Jika memang benar tadi ada orang menaiki tangga ini, maka tentunya ada bekas kaki di atas lantai yang berdebu. Dan kita bisa mengikuti jejak itu."

"Benar katanya," kata laki-laki yang menggendong anjing. "Kalian yang memegang senter, arahkan cahayanya ke bagian lantai yang belum terinjak kaki kita!"

Tiga jalur sinar menerangi lantai. Nampak debu tebal di situ. Tapi sama sekali tidak kelihatan jejak kaki!

"Tidak ada orang naik kemari!" kata seseorang dengan nada bingung. "Kalau begitu, apa yang tadi kita lihat menaiki tangga ini?"

Pertanyaan itu tidak dijawab. Tapi semua tahu apa yang sedang dipikirkan oleh masing-masing.

"Sekarang kita padamkan senter lagi untuk melihat apakah yang tadi itu muncul kembali," kata seseorang menyarankan.

"Lebih baik kita pergi saja dari sini," kata seseorang yang lain. Tapi yang selebihnya setuju dengan usul pemadaman senter. Bagaimanapun mereka kan beramai-ramai di situ, dan tidak ada yang mau mengaku bahwa ia sebenarnya takut.

Karenanya mereka menunggu lagi dalam gelap. Donghae dan Heechul memandang ke bawah. Tiba-tiba terdengar suara seseorang mendesis.

"Di sebelah kiri," katanya.

Orang-orang berpaling dengan cepat. Suatu sinar samar kemerah-merahan nampak di samping sebuah pintu. Sinar itu semakin lama semakin jelas kelihatan, menjelma menjadi sesosok tubuh manusia. Orang itu memakai jubah panjang, seperti pakaian bangsawan Cina kuno. Jubah itu berwama merah.

"Jangan dikagetkan," kata seseorang dengan suara pelan. "Kita perhatikan saja, apa yang akan dilakukannya!"

Semua menunggu dengan diam.

Sosok tubuh menyeramkan itu mulai bergerak. Seakan-akan meluncur sepanjang dinding, menuju ke ujung serambi. Sesampai di situ kelihatannya seperti membelok ke balik sudut ruangan, lalu lenyap.

"Kita ikuti, tapi jangan ribut-ribut seperti tadi," gumam seseorang. "Kelihatannya dia tidak bermaksud lari."

Heechul berbicara lagi. "Sebelum kita susul, lebih baik diperiksa dulu apakah ada bekas kakinya di lantai," usulnya. Saat berikutnya dua senter dinyalakan, menerangi lantai tempat sosok tubuh tadi berada. "Tidak ada bekas kaki di situ!" kata seorang Laki-laki yang berbicara dengan nada bingung. "Sama sekali tidak nampak tapak kaki di atas debu. Rupanya ia mengambang!"

"Ayo, kita teruskan… karena sudah kepalang tanggung," kata salah seorang dengan tegas. "Aku paling depan!"

Ternyata yang berbicara laki-laki yang bertubuh atletis. Dengan langkah gagah ia maju, disusul orang-orang yang lain. Mereka sampai si ujung serambi dalam, dan menghadap sebuah gang. Di tempat itulah bayangan tadi hilang.

Seseorang menyorotkan senternya ke dalam gang itu. Nampak dua pintu di situ. Kedua pintu itu terbuka. Sedang di ujung gang hanya ada dinding. Tidak ada jendela, tidak ada pintu di situ.

Senter dipadamkan kembali. Sesaat kemudian sosok tubuh kemerahan tadi muncul kembali dari salah satu pintu. Geraknya seperti bergeser sepanjang dinding, menuju ke ujung gang yang buntu. Sesampai di sana bayangan itu memudar dengan pelan-pelan, dan akhirnya lenyap.

''Seolah-olah meresap masuk ke dinding,'' kata Heechul kemudian. ''Dan di lantai sama sekali tidak nampak tapak kaki.''

Chief Siwon, kepala polisi kota kecil itu yang tak lama kemudian datang bersama anak buahnya, juga tidak berhasil menemukan apa-apa di situ. Sama sekali tidak ada tanda bahwa ada orang di rumah itu, selain kelompok yang masuk bersama Donghae dan Heechul. Merekalah yang memanggil polisi.

Sebagai petugas polisi, Chief Siwon tidak bisa percaya bahwa ada delapan saksi yang melihat hantu, atau mendengar jeritan hantu. Tapi tidak ada pilihan lain baginya. la harus menerima kesaksian itu.

Karena, beberapa waktu kemudian pada malam itu juga seorang tukang jaga malam melaporkan bahwa ia melihat sesosok tubuh merah menyeramkan, sedang mengendap-endap dekat pintu masuk sebelah belakang dari sebuah gudang besar. Tapi ketika didekati, bayangan itu menghilang!

Setelah itu datang laporan lagi. Seorang wanita yang ketakutan menelepon polisi. Katanya, ia terbangun karena mendengar bunyi orang mengerang. Ketika memandang ke luar, dilihatnya sesosok tubuh yang memancarkan sinar kemerahan berdiri di teras rumahnya. Bayangan itu menghilang, ketika lampu luar dinyalakan. Lalu ada pula dua pengemudi mobil di sebuah restoran yang dibuka sepanjang malam. Mereka melaporkan ada sesosok tubuh samar berdiri di samping mobil mereka.

Laporan terakhir masuk lewat radio polisi. Dua petugas yang sedang berpatroli dengan mobil mengatakan bahwa mereka melihat sesosok tubuh mencurigakan di Pemakaman Seongnam Hills.

Chief Siwon bergegas ke sana, lalu langsung masuk lewat gerbang besi yang besar. Dan ia terpaku di situ.

Sesosok tubuh samar kemerehan nampak sedang berdiri bersandar pada satu monumen tinggi berwarna putih. Ketika Chief Siwon menghampirinya, bayangan itu lenyap… seolah­olah masuk ke dalam tanah.

Chief Siwon menyorotkan senternya ke monumen putih itu. Ia menatap tugu makam Taecyeon. Makam Pria bernasib malang, yang meninggal dunia lima puluh tahun yang lalu dalam gedung kuno yang kata orang berhantu.

Bersambung…

Sabtu, 03 Desember 2011

Misteri Hantu Merah (Karakter)

TRIO DETEKTIF

Eunhyuk of Super Junior

* Penyelidik Satu
* Leader Trio Detektif
* Memiliki otak yang brilian
* Memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menyusun fakta untuk sampai pada suatu kesimpulan
* Teka-teki dapat disulapnya menjadi jawaban yang jelas


Donghae of Super Junior

* Penyelidik Dua
* Ia bertubuh atletis
* Dalam soal-soal yang mengandung bahaya ia tidak senekat Eunhyuk, namun dalam keadaan mendesak ia dapat bertindak secepat kilat


Heechul of Super Junior

* Bertugas dalam bidang data dan riset
* Ia tidak sekuat dan secepat Donghae, dan hanya sedikit di bawah Eunhyuk dalam soal kepandaian, tetapi ia sangat teliti dan hati-hati
* Tanpa dia, Trio Detektif tidak akan bisa beroperasi


TRIO DETEKTIF FAMILY


Junsu of 2PM

* Adik laki-laki Eunhyuk “Trio Detektif”
* Membantu mengelola bisnis keluarga “Huang Zhou Workshop”


Yoona of SNSD

* Adik perempuan Eunhyuk “Trio Detektif”
* Mengelola bisnis keluarga “Huang Zhou Workshop”


Wooyoung of 2PM

* Adik laki-laki Heechul “Trio Detektif”
* Seorang wartawan

Hyorin of Secret

* Adik perempuan Heechul “Trio Detektif”


SUNGKYUNKWAN PEOPLE

Siwon of Super Junior

* Chief di Sungkyunkwan, Kota kecil di Seoul


Yesung of Super Junior

* Sutradara ternama di Seoul
* Editor untuk novel yang dibuat Trio Detektif yang menceritakan tentang petualangan misteri mereka


Sungmin of Super Junior

* Pekerja di Huang Zhou Workshop
* Kakak Ryeowook yang juga bekerja di Huang Zhou Workshop


Ryeowook of Super Junior

* Pekerja di Huang Zhou Workshop
* Adik Sungmin yang juga bekerja di Huang Zhou Workshop


Yonghwa of CN Blue

* Dokter yang menangani cedera kaki Heechul


NAMCHOSEON VALLEY PEOPLE

Victoria of f(x)

* Mengelola perkebunan anggur di Namchoseon Valley, yang merupakan warisan dari kakek moyangnya – Taecyeon
* Mewarisi Shinhwa Mansion di Sungkyunkwan, kediaman kakek moyangnya – Taecyeon
* Cucu moyang dari keturunan istri kedua Taecyeon


Leeteuk of Super Junior

* Saudara sepupu Victoria
* Seorang pengacara
* Cucu moyang dari keturunan istri kedua Taecyeon


Nichkhun of 2PM

* Saudara sepupu Victoria, yang sudah lama terpisah
* Seharusnya Nichkhun-lah yang berhak mewarisi Perkebunan Anggur di Namchoseon Valley dan Shinhwa Mansion di Sungkyunkwan
* Cucu moyang dari keturunan istri pertama Taecyeon, Putri cina Suzy


Seohyun of SNSD

* Kepala Pelayan di Namchoseon House, kediaman Victoria


Junho of 2PM

* Kepala pekerja penanam dan pemetik buah anggur Perkebunan Anggur yang dikelola Victoria di Namchoseon Valley

Jonghyun of Shinee

* Anak buah Junho
* Pekerja di Perkebunan Anggur yang dikelola Victoria

Chansung of 2PM

* Seumur hidup kerjanya mengorek­ngorek bijih emas yang masih tersisa di dalam tambang-tambang kuno.
* Sangat mengetahui seluk beluk tambang kuno di Deoksugung Canyon


Seulong of 2AM

* Sheriff di Namchoseon Valley
* Sheriff yang kurang sigap, selalu bingung dengan apa yang harus dilakukannya


Shindong of Super Junior

* Berumur seratus tahun
* Minum larutan mutiara untuk memperpanjang umur dan membuatnya awet muda
* Hidup dengan gaya kuno
* Pria keturunan Cina


Kyuhyun of Super Junior

* Sopir keluarga Victoria di Namchoseon Valley
* Mengantar Donghae dan Heechul ke Namchoseon House


Kikwang of Beast

* Menemukan tanda tanya yang dibuat Heechul
* Menagih janji pemberian imbalan 500 Ribu Won pada Victoria, untuk siapa saja yang bisa menemukan tanda berupa ‘tanda tanya’


SHINHWA MANSION PEOPLE

Taecyeon of 2PM

* Semasa hidupnya Taecyeon adalah nakhoda kapal dagang yang berlayar ke Cina.
* Kata orang, semasa hidupnya Taecyeon terkenal berwatak keras
* Menghuni Shinhwa Mansion bersama istrinya - Suzy

Suzy of Miss A

* Seorang Putri Cina
* Istri yang sangat dicintai Taecyeon hingga ajal menjelang


Woohyun of Infinite

* Salah satu saksi mata yang melihat hantu merah di Shinhwa Mansion
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...