Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Senin, 16 Mei 2011

Romance Zero (Chapter 4)



KIM BUM menepati janjinya. Dia melamar Kim So Eun. Tapi bukan di sebuah restoran remang-remang yang romantis. Bukan di bawah pohon yang rimbun. Bukan di pinggir laut yang panoramanya memikat mata. Tapi melalui internet.

Ketika Kim So Eun datang ke warnetnya keesokan harinya, warnetnya kosong melompong. Tentu saja itu hasil karya Park Jung Min. Siapa lagi. Meskipun kesal pada Kim So Eun, dia tetap patuh pada atasan.

Dan pagi itu kesepuluh layar computer Kim So Eun dipenuhi lamaran Kim Bum.

Sekejap Kim So Eun terkesiap, lalu perlahan-lahan matanya menjadi berkaca kaca.

Ternyata pemuda yang tidak pernah serius itu bersungguh-sungguh. Kali ini, tekadnya mantap. Dia akan melamar gadis yang dicintainya. Menikahinya walaupun orangtuanya melarang.

"Kau masih terlalu muda untuk menikah," gerutu ayahnya kesal. "Lulus saja belum!"

"Kalau ketuaan nanti keburu tidak bisa punya anak!" sahut Kim Bum enteng. Dia memang sedang gembira. Sedang bersemangat. Hari itu juga dia terbang. Pulang ke rumahnya.

Setelah acara peluk-pelukan kangen dengan ibunya, Kim Bum langsung mengatakan maksudnya. Ingin menikah. Ibunya sampai lupa bernapas.

"Kau mau menikah dengan siapa?” sergah ibu Kim Bum terengah-engah karena terlalu lama menahan napas.

"Ya dengan orang, Bu!" sahut Kim Bum Jenaka. Parasnya berbinar. Matanya berkilauan. "Perempuan!"

Saat itu gay sedang mewabah. Sampai ada perkumpulannya segala. Ibunya takut sekali putra semata wayangnya ketularan. Padahal kata WHO, homoseksualitas bukan penyakit. Jadi mana bisa menular?

"Tukang jaga warnet?" sela ayahnya dingin.

"Yang punya, Ayah," sahut Kim Bum bangga. "Beda, kan?"

"Anak yang tidak ada orangtuanya?"

"Ya tentu saja ada. Ayah! Memangnya dia lahirnya dari lubang batu? Dia anak yatim-piatu."

"Bukan." sergah Song Seung Hun dengan suara menyeramkan. "Dia anak haram. Tidak ada lelaki yang sudi jadi ayahnya."

Wah, gawat, pikir Kim Bum panik. Jelek sekali laporan yang diterima Ayahnya!

"Kim So Eun gadis baik-baik."

“Tapi dia bukan keturunan orang baik-baik. Orang baik tidak akan lari meninggalkan anaknya."

"Masa bodoh. Aku akan menikah dengan Kim So Eun. Bukan dengan Ayahnya!"

"Kau tidak akan menikah dengan dia."

Mendengar suara ayahnya, mendadak Kim Bum sadar, untuk pertama kalinya Ayah tidak akan mengabulkan permintaannya. Dia boleh minta apa saja. Permainan. Mobil. Rumah. Tapi menikah dengan Kim So Eun, itu masalah lain.

"Biar aku yang bicara dengan Kim Bum, Song Seung Hun," pinta Ibu cemas, ketika malam itu dia sudah berada berdua saja dengan suaminya di dalam kamar. "Dia masih muda. Pikirannya pendek. Belum pengalaman. Perempuan seperti itu pasti tahu sekali bagaimana menguasainya."

"Aku kenal Kim Bum, Kim Tae Hee," sahut Song Seung Hun murung pada istrinya. "Makin dilarang, dia makin jadi. Sudah biasa dia memperoleh apa yang diinginkannya."

"Tapi kali ini dia bukan cuma ingin mobil. Song Seung Hun!"

"Percuma melarangnya, Kim Tae Hee. Menurutku, biarkan saja dia coba. Kalau sudah jera, ke mana lagi dia mau pergi selain pulang ke rumah sendiri?"

"Tapi aku tidak tahan kehilangan Kim Bum, Song Seung Hun!" desah Ibu separuh meratap.

"Kau tidak akan kehilangan dia. Percayalah, suatu hari dia akan kembali. Dan Aku yakin, waktunya tidak lama."

* * *

Kim Bum memang tidak bisa dilarang. Apa pun pendapat orangtuanya, dia tetap membandel. Halangan seperti apa pun diterjangnya tanpa berpikir dua kali.

"Pikir lagi, Kim Bum," pinta Park Jung Min resah. "Jangan terburu nafsu."

"Tekadku sudah bulat, Park Jung Min. Aku akan menikahi Kim So Eun."

"Menikah itu gampang, Kim Bum. Tapi bertahan hidup sesudah menikah, itu yang susah!"

"Kim So Eun sudah biasa hidup sendiri. Aku bisa belajar dari dia."

"Kim So Eun bisa hidup sendiri. Tapi kau tidak bisa, Kim Bum!” Tidak biasa!”

"Siapa bilang? Kau selalu meremehkan kemampuanku!"

"Kau tidak biasa hidup susah, Kim Bum! Dari kecil hidupmu selalu enak!"

"Jangan khawatir, Park Jung Min. Dengan Kim So Eun di sampingku, hidupku pasti lebih enak!"

"Apanya yang enak? Kalian masih kuliah. Belum punya pekerjaan! Mau kau beri makan apa istrimu?"

"Kau lupa, Kim So Eun sudah punya pekerjaan! Dia juragan warnet!"

"Lalu kau mau makan dari dia? Lelaki apa kau, diberi makan istri?"

“Aku bisa kerja."

"Mau kerja apa? Memotong rumput saja kau tidak bisa!"

Tetapi siapa dapat menghalangi Kim Bum kalau dia sudah mau? Tangis ibunya dan tampang seram ayahnya tidak mampu mencegahnya.

"Kau akan menyesal, Kim Bum," ancam kakak sulungnya. "Saat kau mau kembali, pintu sudah tertutup untukmu"

"Aku tidak yakin Ibu tega," sela Jung So Min santai. "Kapan saja kau kembali, Kim Bum. Ibu pasti akan menerimamu dengan tangan terbuka! Jadi jangan ragu berbuat salah. Karena untukmu, selalu ada maaf!"

Kim Bum tidak tahu kakaknya menyindir atau sungguh-sungguh. Tapi dia yakin, kata-katanya benar. Kapan saja dia kembali, Ibu pasti menerimanya.

"Pulanglah kalau kau sudah tidak tahan lagi, Kim Bum," bisik Ibu ketika sedang memeluknya dengan air mata berlinang. "Kau tahu Ibu selalu menunggumu."

"Aku kan tidak berangkat perang, Bu," hibur Kim Bum separuh bergurau. "Aku cuma mau menikah! Aku pasti pulang menengok Ibu. Dan Aku janji, kalau pulang nanti, aku sudah membawa sampel."

Ayah memang tidak berkata apa-apa ketika Kim Bum pamit. Tapi Kim Bum tahu, ayahnya juga sedih. Hanya saja dia enggan mengungkapkannya. Hatinya masih dibelenggu rasa marah dan kecewa.

Cuma Park Jung Min yang mengantarnya.

"Maafkan aku, Park Jung Min," kata Kim Bum ketika sedang menjabat tangan sahabatnya. "Kau jadi kehilangan pekerjaan. Tapi kalau kau mau terus kuliah, rasanya Ayah tidak keberatan. Kau jadi bisa alih profesi."

"Aku tetap ikut denganmu," sahut Park Jung Min mantap. "Ke mana pun kau pergi."

Sesaat Kim Bum tertegun. Hatinya tersentuh melihat kesetiaan temannya. Tetapi dia tidak tega membawa Park Jung Min ke medan yang belum dikenalnya. Lagi pula di mana dia harus menempatkan Park Jung Min? Apakah Kim So Eun tidak marah? Masa menikah bawa-bawa pengawal?

"Aku harus tanya Kim So Eun dulu, Park Jung Min," gumam Kim Bum agak bingung. "Aku kan mau menikah. Bukan camping.”

"Kau kan laki-laki, masa apa-apa harus tanya istri?" gerutu Park Jung Min kesal. "

"Jangan jadi anggota Sutari (Suami Takut Istr)! Dari malam pertama, kau sudah harus unjuk gigi!"

"Aku kan mau menikah, bukan gigit-gigitan!"

"Pokoknya kau tidak boleh lembek!"

"Kalau itu ada obatnya!"

* * *

Kim So Eun sedang sibuk di warnetnya ketika Kim Bum masuk. Wajahnya sangat muram sampai Kim So Eun merasa cemas.

“Tidak usah bilang apa-apa," bisiknya ketika menyorongkan sebuah kursi untuk Kim Bum. Takut dia keburu jatuh pingsan. "Aku sudah tahu apa yang terjadi."

Apa lagi? Pasti permintaan Kim Bum ditolak. Menikahi gadis miskin yang tidak tahu asal-usulnya? Yang benar saja! Orangtua Kim Bum pasti menolak. Mengancam. Mengusir kalau dia tetap membandel. Lagu lama. Tapi masih sering terdengar.

Kim Bum menjatuhkan dirinya ke kursi dengan lesu. Matanya sesuram parasnya. Senyum lenyap dari bibirnya. Dan dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mulutnya seperti terkunci.

"Aku beli minuman dulu," Kim So Eun menyentuh bahunya dengan sabar. "Tunggu saja di sini."

Ketika Kim So Eun masuk ke kantin, dia melihat Park Jung Min, sedang duduk minum seorang diri.

"Dia sudah melamarmu?" tegur Park Jung Min datar.

"Sejak dua hari yang lalu," sahut Kim So Eun sama tawarnya. "Orangtuanya keberatan, kan?"

Park Jung Min mengangguk.

"Mereka menganggap kau tidak sepadan."

"Heran. Aku tidak kaget."

"Aku juga tidak. Yang membuat aku heran justru Kim Bum."

"Dia tidak berani melawan?" Tidak heran. Begitulah kalau pacaran dengan bocah!

"Dia justru berani meninggalkan mereka! Hei, Kim Bum tidak mengatakannya padamu?"

Kim So Eun tertegun. Kim Bum meninggalkan orangtuanya? Dia nekat menikahi gadis yang dicintainya? Anak manja yang tak pernah serius itu berani melangkah keluar dari istananya?

Kim Bum tidak mengatakannya padamu?

Kurang ajar! Pada saat sepenting ini dia masih tega bercanda!

Kim So Eun membalikkan badannya dengan cepat. Ingin menghambur ke warnetnya. Akan dipukulnya bahu Kim Bum sekuat-kuatnya! Atau lebih baik dicubitnya saja dengan gemas? Cubitan yang sekecil-kecilnya supaya dia kapok!

Tetapi belum sempat dia menerjang keluar, pintu kantin terbuka. Kim Bum tegak di hadapannya. Wajahnya sumringah seperti pengantin baru yang baru dapat bonus malam pertama. Senyum mengembang cerah di bibirnya. Kedua lengannya tersembunyi di balik tubuhnya.

Sekejap mereka saling pandang. Dengan tatapan yang hanya mereka berdua yang mampu merasakan kehangatannya. Lalu Kim Bum mengeluarkan tangannya dari balik tubuhnya. Dan menyerahkan sekuntum mawar merah untuk Kim So Eun.

Serentak seisi kantin bertepuk tangan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Tapi jika seorang pria memberikan sekuntum mawar merah kepada seorang gadis, apa lagi kalau bukan sebuah pernyataan cinta?

Kim So Eun bukan gadis yang romantis. Tapi saat itu, semut yang paling tidak romantis pun pasti dijalari perasaan yang sama. Haru. Hangat. Bahagia.

"Bakso untuk semua orang!" cetus Kim Bum ketika Kim So Eun menerima bunganya. Diraihnya bahu gadis itu. Dirangkulnya dengan mesra. Dan dibawanya duduk di dekat Park Jung Min yang sedang melongo bingung.

Bakso untuk semua orang? Lupakah Kim Bum dia kini bukan lagi putra Song Seung Hun?

Sekali lihat saja, Park Jung Min bisa menghitung. Kantin yang penuh sesak itu berisi tidak kurang dari tiga puluh orang!

"Hidup Kim Bum!" teriak pemuda yang duduk di sudut dekat kasir. Buru-buru didorongnya piringnya yang sudah kosong. "Boleh minta minumnya juga, Kim Bum?"

"Semua yang ada di atas meja!" balas Kim Bum sambil tertawa.

"Kalau kurang, yang masih di peti juga boleh, ya?" sela seorang gadis manis. Heran. Cantik tapi rakus.

"Asal jangan yang masih di truk!" Lalu sambil memiringkan tubuhnya ke arah Park Jung Min, Kim Bum berbisik, "Nanti kau yang bayar ya, Park Jung Min."

"Eh, tunggu dulu!" protes Park Jung Min ketika dilihatnya Kim Bum sudah bangkit dan menarik tangan Kim So Eun. "Kau mau ke mana?"

"Kau tidak usah ikut lah," sahut Kim Bum sambil mengulum senyum. "Nanti saja kuceritakan."

“Tapi kau tidak bisa pergi begitu saja, Kim Bum!" Park Jung Min sudah buru-buru bangkit hendak menyusul temannya. Mumpung semua orang sedang ribut berebut bakso gratis.

Tetapi di depan pintu, ibu pemilik kantin sudah keburu mencegat mereka. "Maaf, anak muda," katanya sopan. Tentu saja dia tahu siapa Kim Bum. Yang dia belum tahu, Kim Bum sudah kehilangan bintangnya. "Bonnya nanti dikirim ke mana?"

"Nanti teman saya ini yang bayar, Bibi," dengan tenang Kim Bum menunjuk Park Jung Min yang sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur. "Permisi dulu, Bibi. Saya masih ada urusan."

“Terima kasih," sahut Ibu Kantin dengan senyum seratus ribu.

Lalu kepada Park Jung Min katanya sambil tersenyum manis. "Silakan duduk dulu. Nanti baksonya diantar." Untukmu pasti baksonya dobel! Bakso urat yang besar-besar dan kenyal. Dengan kuah gurih ekstra vetsin yang membuat sakit kepala.

Mati aku, desah Park Jung Min sambil menjatuhkan tubuhnya ke bangku. Dan dia hampir memekik merasakan kerasnya kayu yang dihantam pantatnya. Moga-moga ATM-ku belum diblokir! Belum menghirup kuah baksonya saja kepalanya sudah sakit!

* * *

Kim So Eun harus ke warnetnya dulu untuk berbenah. Tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Ketika melihat sudah banyak mahasiswa yang menunggu di depan warnetnya, sebenarnya dia merasa sayang. Berapa rupiah yang terbang kalau mereka tidak diizinkan masuk?

Tapi Kim Bum pasti tidak mau dibantah. Dia mengajak pergi. Merayakan lamarannya. Padahal merayakan lamaran di mana pun bisa.

"Masa di dalam warnet?" protes Kim Bum sambil membeliak heran.

"Apa salahnya? Kau juga melamar melalui internet!"

"Apa yang bisa dirayakan di dalam warnet?"

"Kita sudah merayakannya di kantin. Mentraktir semua orang di sana!"

“Tapi ini beda! Aku ingin merayakannya berdua saja denganmu!"

"Baiklah!! Beri aku waktu lima menit"

"Untuk apa?"

"Minta tolong Jung Yong Hwa menggantikanku."

"Nanti dia minta upah!"

"Itu haknya."

"Kalau upahnya bukan uang?"

"Pikiranmu kotor!"

"Cuma curiga! Tidak boleh?"

"Perkawinan harus dilandasi saling percaya."

“Tapi tanpa cemburu artinya tidak ada cinta!”

“Masa kau cemburu dengan Jung Yong Hwa?”

"Maksudmu, tidak level, kan?" Kim Bum menyeringai lebar. "Itu memang tidak salah!"

“Tergantung dari sudut mana dilihatnya. Kalau urusan pelajaran, dia jauh di atasmu."

"Kalau yang lain, dia di bawah, kan? Makanya kau tidak suka. Karena kau cari laki-laki yang selalu di atas!"

"Siapa bilang? Aku suka laki-laki pintar."

"Kalau begitu, kenapa tidak menikah dengan dosen?"

* * *

Akhirnya setelah setengah jam berdebat, Kim Bum mengalah. Membiarkan Kim So Eun membuka warnet dulu. Tetapi Jung Yong Hwa tidak bisa menggantikan. Karena dia ada kuliah. Dan katanya, dia tidak bisa bolos.

"Dia cuma cemburu," gerutu Kim Bum kesal. Makanya tadi dia tidak ikut makan bakso gratis. "Masa bolos kuliah saja tidak bisa!"

"Sudah aku bilang, dalam hal pelajaran, dia di atasmu."

"Sekarang bagaimana?"

“Tunggu sebentar."

"Sampai kapan? Sampai warnetmu tutup?"

"Untuk apa buru-buru?"

"Nanti mood-nya keburu lewat!"

"Kalau mood-nya cuma setengah jam, bagaimana kalau kita sudah jadi suami-istri nanti?"

"Itu beda!" Wah, susah sekali pacaran dengan orang yang pragmatis (bersifat praktis)! Dia sama sekali tidak romantis. Cuma tahu yang praktis-praktis saja.

"Apanya yang beda? Cinta kita tetap seperti ini, kan? Tetap sepanjang Barceloneta menurut istilahmu?"

"Tapi kita butuh saat-saat romantis supaya cinta kita tidak membosankan, Kim So Eun!"

"Kita harus romantis terus supaya kau tidak bosan pada istrimu?"

Wah.

Akhirnya Kim Bum memanggil Park Jung Min.

"Cepat kemari!" katanya menahan kesal. "Aku harus buat bon dulu," sahut Park Jung Min sama kesalnya.

"Bon apa?"

"Bon hutang di kantin!"

"Pokoknya kau cepat ke sini."

"Untuk apa?" tanya Kim So Eun yang sejak semula tidak menyukai Park Jung Min. "Merayakan lamaran juga harus bawa-bawa pengawal?"

"Untuk apa lagi? Jaga warnetmu!"

"Dia?" belalak Kim So Eun kaget.

Celaka! Bisa kabur semua langganannya! Sudah wajahnya seram, jarang tersenyum lagi!

Tetapi Kim Bum tidak mau dibantah lagi. Dia menyuruh Park Jung Min menjaga warnet. Meskipun menggerutu, Park Jung Min tidak bisa membantah.

"Boleh kupukul kalau ada yang tidak mau bayar?" dengusnya gondok.

"Jangan diladeni,” hibur Kim Bum. "Dia memang lagi uring-uringan terus hari ini. Premenstrual sindrom.”

Premenstrual sindrom! Kurang ajar! Kim Bum tidak tahu pedasnya kata-kata Ibu Kantin tadi! Lebih gawat dari sambal baksonya!

"Masa orang kaya berhutang?"

Kaya darimana? Dari hutan? Kalau bukan perempuan, sudah kuhantam kepalanya!

* * *

Tapi Kim Bum betul-betul kurang ajar! Dia tidak peduli Park Jung Min sedang ngambek. Dia langsung saja membawa Kim So Eun ke rumahnya.

“Untuk terakhir kalinya," Kim Bum tersenyum pahit. "Sebelum rumah ini disita Ayah. Aku ingin menikmati malam terakhirku di surga bersamamu."

"Maksudmu, hidup bersamaku di rumahku yang sederhana sama dengan hidup di neraka?" sergah Kim So Eun tersinggung.

"Surga dalam versi lain," sahut Kim Bum sabar. "Itu juga kalau kau sudah kehilangan separuh kegalakanmu."

"Kalau aku galak, kenapa masih dikejar terus?"

"Justru karena galak kau jadi berbeda!”

"Cuma karena aku berbeda kau menyukaiku?"

"Karena kau beda, tidak akan tertukar dengan istri tetangga!"

Kurang ajar! Kim So Eun menggebuk bahu Kim Bum dengan gemas. Mengapa dia tidak henti-hentinya bercanda? Seolah-olah dunia selalu tersenyum padanya!

Tetapi benarkah sesudah menikah nanti, dunia masih tetap tersenyum?

Ketika sedang menikmati kenyamanan di rumah itu, tiba-tiba saja Kim So Eun merasa resah. Sanggupkah dia memberikan kenikmatan seperti ini kepada suaminya nanti?

"Kau tidak kehilangan?" desah Kim So Eun murung. Saat itu mereka sedang duduk berdua di sofa empuk. Menikmati musik lembut sambil saling rangkul.

"Kehilangan apa?" Kim Bum menoleh sambil tersenyum hangat. Dikecupnya rambut kekasihnya dengan mesra. "Keperjakaanku?"

"Semua kenikmatan yang bisa kau peroleh di rumah ini."

"Di rumahmu yang mungil itu pasti ada kenikmatan lain. Kenikmatan yang tidak bisa kuperoleh di sini."

"Dan kau rela menukarnya?"

"Tidak perlu tukar tambah. Aku sudah puas."

"Sampai kapan?"

"Kenapa kau selalu meragukannya? Tidak percaya kita bisa bahagia walaupun miskin?"

"Karena aku ragu kau tahu apa artinya miskin. Kau belum pernah merasakan apa artinya tidak punya uang."

"Kata siapa kita tidak punya uang? Istriku juragan warnet!"

“Dan kau yakin hasilku bisa mencukupi kebutuhanmu?"

"Kata siapa cuma kau saja yang bisa kerja? Sudahlah, bagaimana kalau sekarang kita dansa? Daripada sedih terus?"

"Aku tidak bisa dansa."

"Aku ajari."

"Nanti kakiku keseleo."

"Aku tidak menyuruhmu lompat galah."

Kim Bum menarik tangan Kim So Eun. Merangkul pinggangnya. Dan membawanya melantai mengikuti Unchained Melody yang mengalun lembut.

Righteous Brothers - Unchained Melody – Ost. Ghost


"Aku mencintaimu," bisik Kim Bum ketika pipi mereka saling melekat "Dengan cinta yang sepanjang Sungai Barceloneta. Aku berjanji selama Sungai Barceloneta masih mengalir, cintaku kepadamu takkan pernah kering."

Kim So Eun merasa sangat terharu sampai matanya terasa panas. Tetapi dia tidak mau terlihat cengeng di depan Kim Bum. Nanti dia malah ditertawakan.

"Bagaimana aku tahu Sungai Barceloneta sudah kering atau belum?"

"Kau harus ke sana," sahut Kim Bum lembut.

"Untuk membuktikan cintamu, aku harus pergi ke Barcelona?"

"Untuk membuktikan cintaku, aku akan membawamu ke sana."

"Kau akan membawaku terbang seperti Superman?"

"Kau tidak takut naik pesawat, kan?"

Kim So Eun tersenyum tipis.

"Aku hanya takut membayar tiketnya."

"Bagaimana kalau aku yang bayar?"

"Berapa tahun kau harus bekerja?"

"Aku menjual mobilku."

"Itu milik ayahmu."

"Hadiah ulang tahunku. Artinya sudah jadi milikku, kan?"

"Kembalikan kepada ayahmu, Kim Bum. Kumohon."

"Kenapa?"

"Karena kita tidak akan mencuri satu rupiah pun untuk memulai pernikahan kita."

"Mencurikah namanya mengambil milik sendiri?”

"Apa pun namanya, kita tidak akan mengambil satu rupiah pun uang ayahmu."

"Bagaimana kalau keuntungnya saja? Itu bukan uang Ayah, kan?"

"Jangan membohongi dirimu sendiri."

"Siapa bilang aku bohong? Harga jual mobil itu lebih tinggi dari harga belinya!"

Tentu saja Kim So Eun tidak tahu. Dia tidak pernah punya mobil! Mana ada harga jual mobil lebih tinggi dari harga belinya? Memangnya rumah? Tapi Kim So Eun tahu dari mana? Ketika Kim Bum membeli mobil dengan merek yang sama tapi cc-nya lebih kecil pun dia tidak tahu! Yang penting warnanya sama! Mobil itulah yang dijualnya lagi. Dan seluruh uang penjualannya diberikannya kepada Kim So Eun untuk dikirim ke bank ayahnya.

Benar juga kata Ayah, wanita memang diciptakan untuk dibohongi! Dan wanita yang buta mobil seperti Kim So Eun lebih gampang lagi dibohongi! Hahaha…

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...