Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Selasa, 24 Mei 2011

Romance Zero (Chapter 23)



YOON EUN HYE marah sekali. Kesal. Kecewa.

Bayangkan saja. Seumur hidupnya dia telah bekerja keras. Memajukan perusahaan ayahnya. Membangkitkan perusahaan suaminya yang hampir bangkrut.

Lalu apa hasilnya? Kursi direktur di perusahaan ayahnya disediakan untuk adiknya. Dan kini kursi itu akan diwariskan untuk anaknya.

Suaminya sudah mengajaknya ke notaris.

"Ada surat-surat yang harus kau tanda tangani," katanya sebelum pergi. "Supaya tidak ada masalah di kemudian hari."

Bae Soo Bin ingin secepatnya menyelesaikan masalah warisan mereka.

"Kita sedang berkejaran dengan waktu," katanya serius. "Aku ingin Lee Min Ho sudah memperoleh haknya sebelum dia meninggal."

"Hak apa?" bantah Yoon Eun Hye ketus. "Jangan-jangan dia sudah meninggal sebelum sempat mencicipi warisannya."

"Kalau Lee Min Ho sudah menikah, biarlah anak-istrinya yang mewarisinya. Itu keinginannya yang terakhir."

Tapi perempuan sampah itu tidak berhak mencicipi uang yang diperoleh dari hasil cucuran keringatku, geram Yoon Eun Hye muak. Dan bocah yang katanya lucu itu! Bocah yang tampangnya tidak mirip sama sekali dengan Kim Bum... benarkah dia anaknya? Atau ibunya yang bejat itu berselingkuh lagi dengan orang lain?

Yoon Eun Hye tidak mau ikut suaminya ke notaris. Dia malah sengaja menyingkir. Pulang ke rumah orangtuanya.

Ketika dia tiba di depan rumah, Kwon Sang Woo membukakan pintu gerbang untuknya.

Dan melihat pengawal almarhum ayahnya yang setia itu, tiba-tiba saja Yoon Eun Hye sadar wajah siapa yang melekat di paras anak Kim Bum....

* * *

"Seandainya hidup ini punya cetakan kedua," desah Kim So Eun lirih. "Seandainya waktu bisa diputar mundur..."

Kim Bum membalikkan tubuhnya. Tidak ingin melihat air mata penyesalan istrinya.

Seandainya aku bisa mengeringkan Sungai Barceloneta, keluhnya dalam hati. Seandainya aku tidak pernah bertemu denganmu!

"Kenapa tidak pernah kau katakan kepadaku, Kim Bum?"

"Apa yang harus kukatakan? Ayah meninggal karena aku melanggar janji?"

"Kenapa tidak bilang terus terang kau ingin membatalkan perceraian kita? Supaya aku tidak usah melarikan diri bersama Wang Suk Hyun!"

"Sudahlah," gumam Kim Bum murung. "Semua sudah terlambat."

"Kim Bum," sambil menahan tangis Kim So Eun memeluk suaminya dari belakang. Tidak peduli seandainya Kim Bum menghempaskannya sekalipun. Tetapi kali ini Kim Bum tidak menolaknya. Dia diam saja. Seperti sedang menahan gejolak perasaannya sendiri. "Masih adakah hari esok untuk kita?"

Kim Bum menggeleng.

"Aku tidak bisa mengatakannya kepada arwah Ayah. Kau tidak berani mengatakannya pada lelaki itu. Rasanya Barceloneta masih mengalir. Tapi bukan ke hati kita lagi."

"Hidup Lee Min Ho takkan lama lagi, Kim Bum," desah Kim So Eun getir. "Masih bolehkah aku dan Wang Suk Hyun kembali padamu? Masih adakah kesempatan ketiga untukku?"

Kim Bum belum sempat menjawab ketika terdengar teriakan Wang Suk Hyun.

"Ibu, kapan kita menengok Ayah?"

Sambil menengadah untuk menelan air mata yang menyekat tenggorokannya, Kim Bum memegang kedua belah tangan Kim So Eun. Lalu dia memutar tubuhnya dan melepaskan genggamannya.

"Pergilah," katanya datar. "Bawa mobil itu untuk Wang Suk Hyun. Tidak usah dikembalikan. Dia yang memilih warnanya. Hitam. Sehitam air Delstres Dragons."

Kim So Eun tidak dapat menahan tangisnya lagi. Dia memeluk Kim Bum sambil terisak. Sesaat Kim Bum merasa kehangatan menyergap dadanya. Kerinduan meronta tatkala tubuh wanita yang dicintainya terbenam dalam pelukannya.

Pada saat yang sama, Kim So Eun tenggelam dalam kenikmatan yang sudah lama dirindukannya. Terdampar kembali di pelabuhan yang sudah lama ditinggalkan membersitkan kebahagiaan yang amat dalam meskipun hanya sesaat.

"Jangan tinggalkan aku, Kim Bum!"

"Aku tidak pernah meninggalkanmu. Kau yang selalu meninggalkanku!"

"Ibu!" Wang Suk Hyun memburu ibunya dengan cemas. Ditarik-tariknya baju Kim So Eun. "Kenapa menangis, Bu?"

"Ucapkan terima kasih pada Ayah Kim Bum, Wang Suk Hyun,” pinta Kim So Eun sambil melepaskan pelukannya. “Karena Ayah Kim Bum yang telah memberimu mobil."

Bukan itu saja. Ada pengorbanan yang lebih besar lagi yang diberikan Kim Bum untuk anaknya. Tapi Kim So Eun tidak mampu menjabarkannya. Bagaimana menjelaskannya kepada anak yang baru berumur empat tahun? Betapa cinta ayahnya telah mengalahkan segalanya!

Wang Suk Hyun melongo bingung. Tidak mengerti mengapa dia harus memanggil "Ayah" kepada orang lain? Paman Galak memang sudah tidak seram lagi. Tapi kenapa harus dipanggil Ayah?

"Ucapkan terima kasih, Wang Suk Hyun!" desak Kim So Eun tegas. "Katakan… terima kasih, Ayah Kim Bum."

Meskipun tidak mengerti, Wang Suk Hyun membeo saja. Daripada Ibu marah dan dia dicubit. Sakit

“Terima kasih, Ayah Kim Bum."

Ketika mendengar anaknya memanggil "Ayah" untuk pertama kalinya, Kim Bum tak dapat menyembunyikan air matanya lagi. Dengan mata berkaca-kaca dia meraih Wang Suk Hyun ke dalam gendongannya.

Kim So Eun memalingkan wajahnya sambil menggigit bibirnya menahan tangis.

* * *

Yoon Eun Hye wanita yang sangat cerdas. Pengetahuannya pun luas. Dia tahu apa yang disebut maternal impresi. Karena sangat terobsesi pada seseorang, seorang wanita hamil dapat mewariskan sifat atau ciri fisik orang itu pada anaknya.

Mungkin saja Kim So Eun punya hubungan yang sangat dekat dengan Park Jung Min. Begitu dekatnya sampai profil Park Jung Min melekat pada wajah anaknya.

Tetapi benarkah hanya maternal impresi? Bukan perselingkuhan?

Mereka tinggal serumah. Park Jung Min memang sangat setia pada Kim Bum. Tapi dia masih muda. Dan dia laki-laki.

Mungkin saja Kim So Eun yang menggodanya. Dia memang perempuan murahan. Tidak boleh melihat pria menganggur.

Yoon Eun Hye memutuskan untuk bertindak cepat. Jika Wang Suk Hyun bukan anak Kim Bum, dia tidak berhak atas kursi direktur di perusahaan keluarga mereka! Dan jika benar Wang Suk Hyun anak Park Jung Min, Kim Bum pasti marah sekali.

"Jangan pikir aku melakukannya untukmu," kata Kim Bum waktu dia berjanji akan menceraikan istrinya. "Aku melakukannya untuk Wang Suk Hyun."

Kalau Kim Bum tahu Wang Suk Hyun bukan anaknya, untuk apa dia berkorban? Mungkin dia akan membatalkan perceraian dan perempuan itu tidak dapat mewarisi harta Lee Min Ho!

* * *

Kedatangan Kim So Eun dan Wang Suk Hyun membuat semangat Lee Min Ho pulih kembali. Dia bisa meninggalkan rumah sakit lebih cepat dari dugaan dokter.

"Semangatnya yang menopang fisiknya," kata Dokter Jae Hee kagum. "Memang ada hal-hal yang di luar prediksi medis. Mudah-mudahan dia bisa menaklukkan penyakitnya. Paling tidak menahannya lebih lama."

"Maksud Dokter, Lee Min Ho bisa sembuh?" tanya Kim So Eun harap-harap cemas.

"Prognosisnya sangat buruk," sahut Dokter Jae Hee terus terang. "Kankernya sudah stadium empat. Sudah metastasis ke hati dan paru. Secara medis, tidak ada harapan. Tapi seperti saya katakan tadi, kadang-kadang ada hal-hal yang di luar prediksi medis. Jadi kita berharap saja Tn. Lee Min Ho mampu bertahan. Tentu saja dengan dukungan moral anak-istrinya."

*) Prognosis > ramalan tentang peristiwa yg akan terjadi, khususnya yang berhubungan dengan penyakit atau penyembuhan setelah operasi.

Lama Kim So Eun tercenung. Ketika berpisah dengan Kim Bum di lobi hotel tadi, dia sudah ingin berterus terang pada Lee Min Ho. Dia masih istri laki-laki lain. Suaminya belum meninggal. Dia tidak dapat menikah dengan Lee Min Ho.

Tetapi ketika bertemu dengan lelaki itu, Kim So Eun tidak sampai hati mengatakannya. Dan kini Dokter Jae Hee menambah keraguannya. Jika dia berterus terang, semangat Lee Min Ho pasti langsung hancur. Daya tahannya ambruk. Mungkin dia tidak mampu lagi bertahan.

Kim So Eun benar-benar dihadapkan kepada dua pilihan yang sulit. Melihat Kim Bum pergi dengan lunglai, dia hampir saja menghambur untuk merangkulnya dari belakang.

Jangan tinggalkan aku, Kim Bum! Aku sangat mencintaimu!

Tetapi ketika di rumah sakit dia melihat Lee Min Ho menyambut kedatangannya dengan gembira, dia tak sampai hati membuka mulutnya.

Aku masih punya suami, Lee Min Ho. Aku tidak bisa menikah denganmu. Dan Wang Suk Hyun menambah kebimbangannya. Wang Suk Hyun begitu menyayangi Lee Min Ho. Seperti Lee Min Ho juga sangat mencintainya. Pertemuan mereka membangkitkan keharuan di hati Kim So Eun. Dan kebisuan membungkamnya.

"Kenapa, Angel?" Seperti baru sadar betapa diamnya Kim So Eun, Lee Min Ho memegang tangannya. Sejak tadi Wang Suk Hyun berceloteh terus. Percakapan mereka menyita seluruh perhatian Lee Min Ho Mendominasi suasana. "Dokter Jae Hee meramalkan hal-hal yang paling jelek?" Lee Min Ho tersenyum lebar. "Jangan khawatir. Aku akan membuat kejutan. Dengan bantuanmu dan Wang Suk Hyun, aku akan mengalahkan penyakit terkutuk ini."

Dan Lee Min Ho tidak membuang waktu. Pada hari ketiga sepulangnya dari rumah sakit, dia menitipkan Wang Suk Hyun di rumah kakaknya. Lalu sore itu juga dia membawa Kim So Eun ke sebuah hotel bintang lima.

Ketika mereka masuk ke kamar yang telah dipesan Lee Min Ho, ada sebotol sampanye dan dua gelas kosong di atas meja.

"Kau boleh minum alkohol?" tanya Kim So Eun agak cemas. "Tidak memperburuk kondisi hatimu?"

"Tidak selama ada kau di hatiku," sahut Lee Min Ho mantap. Senyumnya begitu lebar. Begitu cerah. Begitu bahagia.

Tanpa ragu-ragu dia membuka sumbat botol sampanye dan menuangkannya ke gelas. Tetapi dia tidak langsung menyerahkannya kepada Kim So Eun. Dia meletakkannya di atas meja.

"Kita baru minum setelah kau jawab pertanyaanku," katanya sambil berlutut di depan Kim So Eun. "Angela Kim, maukah kau menikah denganku?"

Lee Min Ho membuka sebuah kotak kecil dari beludru biru. Dan sebentuk cincin platinum bermata berlian berkilau menyilaukan mata.

Sesaat kenangan Kim So Eun kembali ke sebuah malam yang gelap di Delstres Dragons. Dalam sebuah sampan kayu berwarna hijau. Ketika Kim Bum melamarnya. Dan memasukkan sebentuk cincin belah rotan dari emas delapan belas karat Tidak ada harganya dibandingkan cincin yang kini diberikan Lee Min Ho. Tetapi kalau cinta memerlukan stempel, itulah meterai yang tak tergantikan.

Sesaat Kim So Eun hendak menolaknya. Dia merasa tak pantas menerima cincin semahal itu. Dan merasa tak patut menerima cincin kawin dari seorang laki-laki pada saat dia masih menjadi istri lelaki lain.

Tetapi bagaimana menolak permohonan seorang pria di ambang maut? Jika dusta dapat menyelamatkan seorang laki-laki sebaik Lee Min Ho, risiko apa lagi yang tidak berani diambilnya?

Dan melihat kebahagiaan Lee Min Ho ketika dia menganggukkan kepalanya, Kim So Eun tidak menyesal telah menipunya.

Hatinya menangis ketika Lee Min Ho menyelipkan cincin itu di jari manisnya. Wajah Kim Bum langsung terbayang di depan matanya. Tatapan Kim Bum begitu terluka. Istrinya memakai cincin dari lelaki lain!

Maafkan aku, Kim Bum, desahnya getir.

Lee Min Ho menghapus air mata yang meleleh ke pipi Kim So Eun.

"Jangan ada air mata lagi, Angel," bisiknya lembut. "Lebih-lebih di hari bahagia ini. Dan hari-hari penuh madu yang akan kita lalui bersama. Percayalah, di sampingmu dan Wang Suk Hyun, aku akan hidup lebih lama dari dugaan dokter."

* * *

Yoon Eun Hye bertindak cepat. Dia menggunakan kesempatan yang sangat baik ketika sore itu Wang Suk Hyun ditinggal di rumah bersama Bae Soo Bin. Dia membawa anak itu ke laboratorium. Mengambil sampel darahnya. Dan menunggu hasilnya.

Lalu tanpa membuang waktu lagi, malam itu juga dia menemui adiknya. Kebetulan malam itu Kim Bum tidak pulang ke rumah orangtua mereka. Dia sedang bermalam di rumah peristirahatannya di daerah Wizard Residence. Mengasingkan diri karena pikirannya sedang kacau.

Kim Bum suka sekali berada di tempat ini. Bukan saja karena suasananya yang tenang dan damai. Terapi juga karena dari teras vilanya dia bisa melihat ke bawah. Ke Sungai Aegukga yang mengingatkannya pada Delstres Dragons.

"Ada rahasia yang ingin kuceritakan padamu," kata Yoon Eun Hye begitu menemui adiknya.

Kim Bum memang belum tidur walaupun sudah jauh malam. Dia masih melamun di kamar kerjanya. Menghadapi laptop terbuka yang sudah dua jam lebih ditatapnya.

Di layar komputer jinjing itu terpapar strategi pemasaran yang dipresentasikan stafnya dalam pertemuan siang tadi. Kim Bum memang tidak ikut meeting. Jung So Min yang mengirimkannya melalui e-mail.

Tetapi sejak tadi Kim Bum tidak mampu berkonsentrasi. Yang tampil di depan matanya hanya wajah wanita yang selalu dirindukannya. Dan paras lucu seorang bocah berumur 4 tahun.

"Jangan tinggalkan aku, Kim Bum...." Desahan itu menggema di sela-sela dentingan piano yang mengalunkan Plaisir D'amour. Salah satu persembahan Richard Clayderman yang paling manis.

Richard Clayderman - Plaisir d'Amour


*) Richard Clayderman (lahir di Paris, Perancis, 28 Desember 1953; umur 57 tahun), terlahir dengan nama Philippe Pagès adalah pianis Perancis yang telah menghasilkan banyak album piano pop maupun klasik. Ia telah merekam lebih dari 1.200 lagu-lagu instrumental, termasuk komposisi asli karya Paul de Senneville dan Olivier Toussaint. Lagu yang dimainkannya tergolong lagu-lagu yang mudah didengarkan, termasuk aransemen ulang lagu-lagu pop, musik film, dan lagu-lagu klasik yang populer.

Nada suara itu begitu penuh permohonan. Begitu trenyuh. Begitu menyakitkan. Rasanya Kim Bum rela berenang menyeberangi Barceloneta untuk meraih mutiaranya yang hilang.

Tetapi... masih miliknyakah mutiara itu? Atau dia telah diterbangkan seekor rajawali ke puncak Himalaya? Tinggi tak terengkuh. Jauh tak tergapai.

Lalu hembusan angin sepoi-sepoi basa membelai hatinya yang luka. Menitikkan kesegaran walau hanya sekejap.

"Ayah Kim Bum...." Berkaca-kaca mata Kim Bum setiap kali suara itu menyentuh telinganya.

Kenangannya kembali ke sebuah boks bayi di rumah sakit. Di balik kaca tebal yang memisahkan mereka.

Ketika untuk pertama kalinya Kim Bum melihat anaknya. Anak yang diberinya napas kehidupan…

"Aku tidak tertarik," sahut Kim Bum tanpa menoleh. Mengapa ada perempuan yang tidak punya hati seperti kakaknya? Di mana hatinya dititipkan ketika dia dilahirkan? Mengapa hidupnya hanya dipakai untuk menyusahkan orang lain?

Tanpa bertanya Kim Bum sudah tahu apa yang ingin disampaikan kakaknya. Pasti sesuatu yang merugikan Kim So Eun.

"Kau pasti kaget."

Tidak lagi. Semua yang paling buruk sudah menghampiriku. Apa lagi yang lebih jelek yang belum kualami?

"Aku sudah mengunjungi rumah sakit tempat istrimu melahirkan. Sudah datang ke rumah sakit tempat Park Jung Min meninggal. Dan sore tadi, aku sudah mengambil contoh darah anakmu...."

"Apa hakmu mengambil darah Wang Suk Hyun?" bentak Kim Bum gusar. "Heran Kim So Eun tidak menamparmu!"

"Dia sedang ke hotel bersama calon suaminya," Yoon Eun Hye menyeringai menyakitkan sekali. "Barangkali mereka masih perlu rest drive meskipun sudah empat tahun tidur di garasi yang sama."

"Sudahlah, jangan membuang-buang waktumu mengintip urusan orang," balas Kim Bum sambil menyembunyikan kecemburuannya. "Lebih baik hitung saja berapa uangmu yang akan diberikan suamimu kepada adiknya."

"Kau rela istrimu menikah dengan orang lain?"

"Sudah kukatakan, aku akan menceraikannya demi anakku."

"Juga kalau dia bukan anakmu?"

Sekarang Kim Bum mengangkat wajahnya. Dan menatap kakaknya dengan berang.

"Apa Nunna tidak bisa bernapas kalau tidak menyusahkan orang lain?"

Sebaliknya Yoon Eun Hye menatap adiknya dengan puas. Senyumnya mengembang lebar.

"Anakmu bergolongan darah A! Golongan darah istrimu O."

Kim Bum tertegun. Dia mengawasi kakaknya dengan nanar.

"Darahmu golongan B, kan? Jadi kau tidak mungkin ayah Wang Suk Hyun!"

Kim Bum tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Tiba-tiba saja kejadian tragis malam itu kembali ke benaknya.

"Bukan salahnya..." gumam Park Jung Min di ambang maut. "Dia sangat mencmtaimu...."

"Golongan darah Park Jung Min A," sambung Yoon Eun Hye dramatis sekali. "Memang bukan jaminan dia ayah Wang Suk Hyun. Tapi dia lebih punya kemungkinan daripada kau. Karena kau pasti bukan ayah Wang Suk Hyun. Sekali lagi istrimu yang tercinta membohongimu. Dia berselingkuh dengan lelaki lain. Dan aku yakin orang itu Park Jung Min. Anakmu seperti sampelnya, kan?"

Karena itukah Park Jung Min sengaja membunuh diri? Melemparkan dirinya ke depan pisau yang terhunus? Bukan hanya untuk menyelamatkan Kim Bum. Tapi sekaligus untuk membayar hutangnya!

"Kita bisa minta tes DNA," sambung Yoon Eun Hye, puas sekali melihat adiknya tertegun beku. "Kau berhak melakukannya. Bukankah anak itu calon direktur pabrik rokok keluarga kita?"

Jadi itu sebabnya Kim So Eun ingin menyingkirkan bayinya! Karena anak itu bukan anak Kim Bum. Anak itu anak haram! Anak... Park Jung Min?

Bukan salah Kim So Eun. Itu kata-kata Park Jung Min yang terakhir. Itukah pengakuannya karena telah... memperkosa Kim So Eun?

Karena itu Kim So Eun menolak kugauli, pikir Kim Bum penuh penyesalan. Karena dia masih merasa jijik. Tapi dia tidak mau menceritakan apa sebabnya.

Kim So Eun tidak mau merusak nama Park Jung Min. Tidak mau menodai persahabatan mereka! Dan dia harus menanggung akibatnya. Dibenci suaminya sendiri. Dijauhi orang yang dicintainya. Bahkan diancam perceraian! Dipaksa berpisah dengan anaknya!

Ya Tuhan! Mengapa penyesalan selalu datang terlambat?

Yoon Eun Hye menyodorkan telepon tanpa kabel kepada adiknya.

“Telepon istrimu," katanya tegas. "Supaya dia tahu, rahasianya telah kubongkar!"

Huh! Dia bisa mengelabui adikku! Tapi jangan harap bisa menipu Yoon Eun Hye!

"Bukan rahasia," sahut Kim Bum dingin. "Park Jung Min sudah mengatakannya padaku. Sesaat sebelum dia tewas. Kim So Eun tidak bersalah."

"Hah?" Yoon Eun Hye terlonjak antara terperanjat dan marah. "Kau sudah tahu anak itu bukan anakmu tapi masih tetap ingin menjadikannya direktur?"

"Aku boleh menunjuk siapa pun sebagai penggantiku."

Yoon Eun Hye menggeram gusar.

"Kau boleh mewariskan hakmu kepada siapa pun. Tapi aku tidak rela memberikan harta keluarga kita kepada anak Park Jung Min! Lebih-lebih lagi, aku tidak sudi membagi hartaku kepada orang yang tidak berhak!"

Sekarang Kim Bum mengawasi kakaknya dengan dingin.

"Pernahkah ada tempat lain di otakmu yang tidak berisi uang?"

Yoon Eun Hye membalas tatapan adiknya dengan dingin.

"Kau tidak pernah merasakannya. Karena sejak lahir, semua yang kau inginkan selalu datang sendiri menghampirimu. Tapi aku harus mencarinya kalau tidak mau menerima sisa-sisamu!"

"Itukah yang membuat Nunna menjadi monster? Karena sejak kecil iri kepada adik kandung sendiri?"

"Kau akan menyesal, Kim Bum!" geram Yoon Eun Hye sengit.

"Aku memang sudah menyesal, Nunna," sahut Kim Bum datar. "Jika hidup ini punya cetakan kedua, alangkah banyak yang harus diperbaiki."

"Kau tidak bisa menceraikan istrimu dan mengambilnya kembali kalau Lee Min Ho sudah mati! Kau juga tidak bisa mengakui anak Park Jung Min sebagai anakmu! Tidak bisa mewariskan pabrik rokok kita padanya! Jasad Ayah akan berbalik di kuburan!"

"Aku tidak akan mengubah keputusan. Kami akan bercerai Kim So Eun akan menerima warisan iparmu. Dan Wang Suk Hyun akan menerima warisanku kelak."

"Kau sengaja menyakiti hatiku!" teriak Yoon Eun Hye kalap. "Kau manusia yang paling busuk atau yang paling bodoh!"

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...