Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Sabtu, 21 Mei 2011

Romance Zero (Chapter 14)



SELAMA Kim So Eun diharuskan tiduran, Kim Bum melayaninya dengan telaten. Melayani makan. Mengambilkan obat. Membantu ke kamar mandi. Tapi semua dilakukannya seperti tanpa perasaan. Tak ada sikap yang manis. Kata-kata yang ramah. Bahkan pandangan iba.

Kim So Eun sudah berusaha mendekati suaminya. Mencoba bermanja-manja. Bahkan berlaku konyol seperti wanita hamil yang minta perhatian suami.

Misalnya saja dia minta mangga muda. Minta rujak. Bahkan minta dicarikan rambutan padahal sedang musim mangga. Terang saja Kim Bum kelimpungan.

"Kau tidak mau anak kita ngiler, kan?” rayu Kim So Eun manja. Tentu saja dengan suara di buat-buat. Seolah-olah sebentar lagi dia jatuh pingsan kalau permintaannya tidak dituruti. Padahal dalam hati dia sedang menahan tawa.

Bodohnya lelaki! Lihat bagaimana bingungnya parasnya! Tidak bisa memenuhi keinginan anak. Padahal jangankan minta rambutan, minta susu saja anak mereka belum bisa!

Tapi begitulah saktinya wanita hamil. Kim Bum kalang kabut mencarinya ke sana kemari.

"Maaf, aku sudah cari sampai keliling pasar. Tidak ada yang jual rambutan. Semua pohon sedang tidak berbuah." Dan kebun rambutan di sana sudah banyak yang jadi rumah!

Tentu saja Kim So Eun pura-pura mengeluh. Padahal dia sedang bahagia sekali. Ternyata suaminya masih memperhatikannya. Tentu saja dia tidak tahu, Kim Bum melakukannya demi anaknya!

Tetapi bagaimanapun, semakin, besar kehamilan Kim So Eun, hubungan mereka semakin dekat. Bagaimanapun Kim Bum berusaha menjauhi istrinya, bersikap dingin, dia tidak bisa bermasa bodoh lagi. Tidak bisa lama-lama meninggalkan Kim So Eun seorang diri.

Padahal sekarang Kim Bum sudah mendapat pekerjaan di sebuah showroom mobil mewah. Tentu saja itu jasa ayahnya. Siapa lagi. Kalau tidak, mana ada showroom yang mempekerjakan seorang karyawan hanya dari pukul dua sampai pukul lima sore?

Pagi sampai siang dia berada di kampus. Melanjutkan kuliahnya di fakultas ekonomi jurusan manajemen. Sambil diam-diam mengawasi Kim So Eun yang sibuk mengelola warnetnya. Sebenarnya Kim So Eun bukan hanya sibuk mengelola warnet. Dia juga sedang sibuk mengejar ketinggalannya menyelesaikan skripsi.

Sejak perbuatan menjijikkan dengan Park Jung Min, Kim So Eun memang sulit berkonsentrasi. Tidak heran kalau skripsinya jadi terbengkalai. Padahal dari dulu dia menargetkan harus lulus dalam empat tahun. Dan dulu semua itu tampak mudah. Ternyata dia tidak mampu mengejar targetnya.

Cobaan demi cobaan melanda hidupnya. Perkawinannya berantakan. Sementara kehamilannya semakin besar juga.

Untung semakin besar kehamilan istrinya, Kim Bum semakin repot. Dan semakin repot dia, semakin berkurang juga kadar kegarangannya.

Kim Bum selalu mengantarkan istrinya ke dokter. Bersama-sama melihat hasil USG bayi mereka. Bahkan bersama-sama mengikuti senam hamil.

Semua itu menambah dekat hubungan mereka. Membuat Kim So Eun gembira. Tapi sekaligus semakin sedih membayangkan semakin dekatnya hari perceraian mereka.

Karena semakin dingin sikap Kim Bum, cintanya kepada suaminya justru semakin besar. Dan Kim So Eun semakin takut kehilangan.

Bukan hanya takut kehilangan Kim Bum. Sekaligus takut kehilangan bayinya. Karena semakin besar kandungannya, semakin sering dia merasakan tendangan lembut di perutnya, semakin tumbuh juga naluri keibuannya.

Kini Kim So Eun merasa heran bagaimana dulu dia tega mengenyahkan anaknya sendiri!

Sekarang dia sadar. Kim Bum yang benar. Terlalu kejam membunuh darah dagingnya sendiri, apa pun alasannya.

Tapi bagaimana mengubah tekad Kim Bum? Kelihatannya dia tetap ingin menceraikan Kim So Eun. Walaupun sikapnya tidak segersang dulu. Walaupun kadang-kadang dia seperti ingin mengulangi kembali paragraf pertama kisah cinta mereka. Walaupun bukan hanya sekali-dua kali, dia seperti ingin berhubungan dengan istrinya.

"Kim Bum," gumam Kim So Eun suatu malam, ketika mereka baru pulang mengikuti senam hamil. Senam untuk ibu hamil itu semakin lama membuat mereka semakin dekat. "Kalau aku memohon maaf padamu, maukah kau membatalkan perceraian kita?"

"Bukan aku yang ingin bercerai," sahut Kim Bum datar.

"Aku tahu, Kim Bum. Aku yang salah," sahut Kim So Eun penuh penyesalan. "Tapi tidak bisakah kau memaafkan aku?"

"Kita bicarakan nanti saja. Sesudah anakku lahir."

Anakku. Kim Bum tidak pernah menyebutnya anak kita.

"Aku sudah menyesali perbuatanku, Kim Bum. Sudah terhukum oleh sikapmu. Sekarang aku ingin menata kembali pernikahan kita. Tidak bolehkah aku mendapat kesempatan kedua untuk menjadi istrimu, ibu anak kita?"

"Sudahlah," Kim Bum menghembuskan napas kesal. "Kita bicarakan nanti saja."

"Kenapa kau begitu benci padaku?" sergah Kim So Eun getir.

"Masih perlu tanya? Kau hampir membunuh anakku!" Dan kau tampak jijik kalau didekati suamimu! Gerak-gerik tubuhmu melukiskannya walaupun mulutmu berkata lain!

* * *

Tentu saja Kim So Eun tidak tahu alasan Kim Bum yang sebenarnya. Karena sekarang yang ingin menunda bahkan membatalkan perceraian itu bukan hanya Kim So Eun. Kim Bum juga sudah lama memikirkannya.

Bagaimanapun lebih baik anaknya punya seorang ibu. Dan ibu mana yang lebih baik dari ibu kandung, walaupun suatu saat dulu dia pernah hendak menyingkirkannya?

Kim Bum tahu Kim So Eun sudah menyesal. Dia juga merasa, Kim So Eun mulai menyayangi bayinya. Dan dia tidak mau bercerai. Tidak mau berpisah dengan suami dan anaknya.

Tetapi Kim Bum sudah kepalang janji. Janji kepada ayahnya. Dan janji itu diucapkan waktu dia memerlukan uang.

Ketika umur kehamilan Kim So Eun memasuki dua puluh empat minggu, Kim Bum terlibat perkelahian dengan Lee Hong Ki. Masalahnya apa lagi kalau bukan perempuan.

Park Ji Yeon mengadu karena diputuskan oleh Kim Bum. Dia merasa dipermainkan. Dan Lee Hong Ki yang masih mencintainya, bertindak sok pahlawan.

Dia mendatangi Kim Bum. Melabrak. Dan memukulnya.

"Jangan kira kau bisa mempermainkan Park Ji Yeon seperti perempuan-perempuan lain yang kau kenal!"

Padahal Kim Bum memutuskan hubungan karena dia ingin konsentrasi pada kehamilan istrinya. Bukan karena masa pacaran mereka sudah masuk seratus hari.

Perkelahian itu membuat Kim So Eun sangat terperanjat. Lebih-lebih melihat suaminya babak belur dihajar Lee Hong Ki dan teman-temannya.

Ketika mereka sudah dipisahkan, Kim So Eun bergegas menolong suaminya. Tapi Kim Bum menyingkirkannya dengan kasar. Bukan karena dia merasa terhina ditolong istrinya. Tapi karena dia teringat Park Jung Min. Dan ingatan itu merobek luka di hatinya yang belum sembuh. Kesedihan membuat Kim Bum lupa diri. Lupa siapa yang menghambur ingin menolongnya. Lupa Kim So Eun sedang hamil. Kim So Eun terjajar mundur dan jatuh terduduk.

Kaget dan cemas Kim Bum memburu dan membantu istrinya berdiri.

"Perutmu tidak apa-apa?" tanya Kim Bum khawatir.

Kim So Eun menggeleng pahit. Hanya kandungannya yang ditanyakan Kim Bum! Hanya itu yang dipikirkan suaminya! Bayinya. Bukan istrinya. Dia tidak peduli istrinya jatuh. Tidak menanyakan apanya yang sakit. Minta maaf saja tidak.

Kim So Eun ingin membawa suaminya pulang. Untuk mengobati luka-lukanya. Tapi Kim Bum menolak. Dia memilih berobat di klinik universitas. Dan Kim So Eun cuma bisa mengantarkan Kim Bum ke sana. Itu pun sesudah tujuh kali diusir.

"Untuk apa kau ikut?" gerutu Kim Bum kesal. "Aku kan bukan anak kecil! Tidak perlu diantar!"

"Aku istrimu!" bantah Kim So Eun, tak dapat lagi menahan emosinya. "Apa salahnya aku ikut ke klinik?"

"Tidak perlu! Aku bisa sendiri! Sana, jaga saja warnetmu!"

Tapi kali ini Kim So Eun membandel. Dia tetap saja membuntuti Kim Bum ke klinik. Dan Kim Bum tidak bisa apa-apa kecuali mengomel. Klinik itu bukan miliknya. Siapa pun boleh masuk ke sana.

Baru ketika sedang menunggui Kim Bum diobati, Kim So Eun merasa perutnya sakit. Melihat parasnya yang pucat menahan sakit, dokter menyuruhnya memeriksakan kandungannya. Kim So Eun langsung mengunjungi Dokter Lee Ji Hoon.

"Sungsang," kata Dokter Lee Ji Hoon sambil mengawasi monitor USG. "Letak kaki, bukan panggul. Rupanya janinmu ikut kaget."

"Berbahaya, Dok?" Kim Bum mendahului bertanya sebelum Kim So Eun sempat membuka mulut.

"Risiko pesalinannya jelas lebih besar dari letak kepala maupun letak panggul. Tapi jangan khawatir. Sebelum tiga puluh empat minggu, bagian bawah belum terjepit di pintu atas panggul. Jadi janin masih dapat berputar kembali."

"Kalau tidak?" sergah Kim Bum cemas.

"Caesar."

"Operasi?"

Dokter Lee Ji Hoon mengangguk santai.

"Operasi Caesar sekarang risikonya kecil. Tidak usah khawatir." Tapi biayanya tetap besar. Dan mereka tidak punya uang!

Karena itu diam-diam Kim Bum pergi menemui ayahnya untuk meminjam uang.

"Anak kami laki-laki," kata Kim Bum seperti membujuk ayahnya. Bukankah itu harapan Ayah? Anak yang dapat menyambung dinastinya. "Begitu dia bisa memegang mainan, Ayah boleh mulai mengajarinya melinting rokok."

"Sudah Ayah bilang," sahut ayahnya dingin. "Ayah tidak mau punya cucu dari perempuan yang tidak ketahuan siapa Ayahnya."

"Kami akan bercerai," Kim Bum menggertakkan giginya menahan marah. "Ayah boleh membariskan seribu perempuan yang sudah Ayah saring kualitasnya di depanku. Apa lagi yang Ayah inginkan?"

"Kalau begitu buat apa anak itu lahir?"

"Yang Ayah bicarakan itu anakku!"

"Dari ibu yang tidak ketahuan dari mana asalnya! Anak seperti itu yang kau banggakan?"

"Ayah mau meminjamkan uang atau tidak?"

"Kata siapa kau bisa mengancam ayahmu?"

"Kenapa kalian kalau bicara selalu bertengkar?" keluh Ibu. Dia yang paling berharap anak kesayangannya kembali. Bawa bayi atau tidak, itu urusan kedua. "Kim Bum kan sudah berjanji akan bercerai, Song Seung Hun. Dia hanya ingin anaknya selamat. Kim Bum bisa membawa anaknya kemari kalau sudah lahir. Kita akan merawatnya.”

“Hanya kalau kau berjanji akan membawa keduanya.” Suara Song Seung Hun terdengar keras dan berwibawa.

“Bayiku dan Ibunya?” Alis Kim Bum terangkat. “Dia harus menyusui anaknya selama setahun lalu meninggalkannya?”

Barangkali Ayah tahu sekali gunanya ASI! Tidak bisa diganti dengan susu sapi!

“Bayi laki-laki dan surat cerai,” sambung ayahnya datar.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...