Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Kamis, 27 Januari 2011

Senandung Cinta Masa Lalu (Chapter 8-Tamat)


Moon Geun Young menatap Ok Taecyeon. Sudah lama ia melupakan Tuhan, terlebih setelah semua kejadian buruk dan rasa dendam menguasai hidupnya. Ok Taecyeon mendekatinya. “Tidak ada kata terlambat, Moon Geun Young. Bukankah Tuhan itu sangat pengampun dan pemurah? Kau bisa mengaku dosa untuk meringankan sedikit bebanmu. Itu jika kau sudah siap, Moon Geun Young.”

“Jika sudah siap, aku akan menghubungi Romo. Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, seandainya tidak menemukan kalian kembali dalam hidupku.”

Jang Geun Suk dan Ok Taecyeon tersenyum. Moon Geun Young melepas kepergian kedua sahabatnya. Sesaat sesudahnya, ia menangis tersedu-sedu di dalam selnya. Moon Geun Young tidak menyesali perbuatannya. Jo Dong Hyuk memang harus mati. Ia harus menyelamatkan anak-anaknya.

Park Ji Yeon dan Yoo Seung Hoo tidak bersalah. Dialah yang membawa mereka pada dendam tak berujung antara dirinya dan Jo Dong Hyuk. Jika Jo Dong Hyuk sudah mati, ia harus siap untuk mati juga. Dendam itu pasti akan berakhir dengan kematiannya. Park Ji Yeon dan Yoo Seung Hoo harus bahagia dan aman, meskipun mereka kehilangan dirinya.

Setidaknya, ia bisa meminta bantuan Jang Geun Suk dan Ok Taecyeon untuk menjaga, mengawasi, dan memelihara Park Ji Yeon dan Yoo Seung Hoo. Park Ji Yeon sudah dewasa. Ia bisa menjaga Yoo Seung Hoo. Moon Geun Young harus siap meninggalkan mereka.

“Maafkan Saya, Mrs. Han Chae Young dan Mr. Lee Bum Soo! Hanya sampai di sini waktuku untuk menjaga mereka.” Moon Geun Young terisak.

Janji itu sebentar lagi tidak akan dapat ditepatinya.

Melangkah keluar dari penjara, Jang Geun Suk angkat bicara.

“Ok Taecyeon, aku tidak yakin dapat membebaskan Moon Geun Young dari ancaman hukuman mati. Yang dibunuhnya memang kelompok penjahat. Tapi, cara yang dilakukan Moon Geun Young sangat kejam!”

“Tapi, Moon Geun Young seakan sudah siap mati, Jang Geun Suk. Aku yakin, Moon Geun Young menyesali semua perbuatan buruknya. Tapi, apa yang sudah dilakukan Jo Dong Hyuk terhadapnya juga tidak kalah kejam.”

“Jika aku boleh berfilosofi, Romo, dendam itu tanpa awal dan akhir. Benar-benar keji dan mengerikan. Entah mengapa, Moon Geun Young kita yang sangat lembut itu harus terjebak dalam lingkaran setan dendam!”

“Kehidupan memberi kita banyak pilihan, Jang Geun Suk. Sayangnya, Moon Geun Young memilih untuk tetap berada dalam lingkaran itu. Mungkin, usaha kita yang terbaik saat ini adalah menuruti semua keinginan Moon Geun Young, yang mungkin menjadi keinginan terakhirnya.”

Jang Geun Suk menuruti nasihat Ok Taecyeon, ia harus membujuk Park Shin Hye untuk menemui Moon Geun Young. Tentu saja Park Shin Hye berkeras tidak mau menuruti permintaan suaminya. Untuk apa ia harus menemui wanita yang bisa membuat suaminya jatuh cinta? Anehnya, Jang Geun Suk tidak marah atau menunjukkan sikap keras. Ia hanya bercerita semua tentang Moon Geun Young. Park Shin Hye terpaku, matanya basah, dan jantungnya berdetak sangat cepat. Betapa malang nasib Moon Geun Young. Ia menatap suaminya dan dengan mantap ia menyetujui permintaan Moon Geun Young.

Pengadilan sudah menjatuhkan vonis mati untuk kejahatan yang dilakukan Moon Geun Young. Seperti permintaan Moon Geun Young, Jang Geun Suk tidak mengajukan banding. Park Ji Yeon dan Yoo Seung Hoo tidak henti-hentinya menangis. Park Ji Yeon bahkan sempat pingsan sewaktu hakim menjatuhkan vonis mati untuk wanita yang selama ini menjadi ibunya.

“Paman, ini sangat tidak adil! Ibu tidak bersalah. Lelaki berengsek dan kelompok penjahat itu memang pantas mati. Mengapa hakim tidak melihat siapa mereka dan siapa Ibu?”

Park Ji Yeon menangis di pelukan Jang Geun Suk. Ok Taecyeon menenangkan Yoo Seung Hoo yang menangis meraung-raung. Pemuda itu sangat kehilangan Moon Geun Young. Park Shin Hye tidak dapat menahan air mata. Ia juga seorang ibu dan sekarang kedua anak itu akan kehilangan ibu mereka.

“Park Shin Hye, Moon Geun Young ingin bicara padamu di sel,” bisik Jang Geun Suk.

Keduanya kini saling berhadapan. Park Shin Hye menatap Moon Geun Young dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita ini memang sempurna, sangat cantik. Pantas saja Moon Geun Young sangat memujanya.

“Saya Moon Geun Young, klien dan sahabat Jang Geun Suk.” Moon Geun Young mengulurkan tangannya dan mengulaskan senyumnya yang anggun. Park Shin Hye dengan tangan bergetar menerima uluran tangan itu.

“Park Shin Hye, istri Jang Geun Suk, sahabat Anda!”

Mereka berdua tertawa ringan. Park Shin Hye makin mengagumi Moon Geun Young. Meskipun vonis mati telah dijatuhkan, ia tetap tegar. Wajah cantik itu tidak menunjukkan rasa takut atau gelisah.

“Maaf jika aku merepotkan suamimu dengan kasus ini. Aku sangat ingin bertemu denganmu karena kau juga seorang ibu. Aku ingin menitipkan kedua anakku. Tolong, jaga mereka. Beri mereka kasih sayang. Aku mohon kau bersedia menolongku.”

Park Shin Hye menggenggam tangan Moon Geun Young erat-erat dan dengan mantap ia menganggukkan kepala. Ia bisa merasakan kepedihan Moon Geun Young, seorang ibu yang terpaksa berpisah dari kedua anaknya.

“Jangan khawatir, Moon Geun Young. Aku akan menjaga mereka berdua.”

“Mereka adalah hartaku yang paling berharga. Aku tidak perlu mengatakannya karena kau juga bisa merasakannya. Terima kasih, Park Shin Hye! Aku memercayakan mereka padamu.”

Mereka berdua berpelukan erat sebelum akhirnya Park Shin Hye meninggalkan sel, tempat Moon Geun Young menjalani sisa hidupnya yang singkat.

Moon Geun Young meminta pelaksanaan hukumannya dipercepat. Ia tidak ingin terlalu lama menanggung beban. Tiga hari sebelum pelaksanaan hukuman, Moon Geun Young memberi tahu Ok Taecyeon bahwa dirinya telah siap mengaku dosa.

Ok Taecyeon mengenakan jubah pastor dan memulai upacara pengakuan dosa. Moon Geun Young tampak tenang.

“Bapa, sudah dua puluh tahun saya tidak mengaku dosa. Dosa-dosa saya begitu banyak. Saya sempat meragukan dan mempertanyakan keberadaan Tuhan dalam hidup saya. Saya juga telah berbohong di pengadilan. Sebenarnya, saya tidak membunuh Jo Dong Hyuk dan kelompoknya.”

Ok Taecyeon tercekat, jantungnya berdebar keras.

“Maaf, bisa kauulangi lagi dan kauceritakan mengapa kau harus berbohong di pengadilan?”

Dengan bibir bergetar Moon Geun Young menceritakan kejadian sebenarnya. “Malam itu Park Ji Yeon menelepon dengan suara sangat panik. Ia menangis histeris dan berteriak-teriak, “Ibu, aku membunuh orang! Ibu cepat datang. Tolong Ibu!’”

Moon Geun Young teringat malam yang mengerikan itu.

“Saya jadi sangat panik. Apalagi, setelah sampai di tempat kejadian, saya melihatnya memegang pistol. Di hadapannya terkapar empat sosok pria. Semuanya sudah tidak bernyawa. Saya berusaha menenangkan Park Ji Yeon. Ada Choi Siwon, asisten saya, yang sedang memeriksa keempat mayat itu. Saya makin terkejut sewaktu Choi Siwon membalikkan satu sosok yang sangat saya kenal. Jo Dong Hyuk. Saya menatap Park Ji Yeon dan meminta penjelasan darinya.”

Firasat Ok Taecyeon benar. Moon Geun Young memang tidak bersalah!

Moon Geun Young menceritakan kejadian malam itu. Dengan terpaksa Park Ji Yeon menemui Jo Dong Hyuk, lelaki yang membuatnya terjerumus pada obat-obatan terlarang. Park Ji Yeon terpaksa menuruti keinginan lelaki itu karena Jo Dong Hyuk mengancam akan mengikutsertakan Moon Geun Young. Park Ji Yeon tidak bersedia. Ia memilih menemui lelaki itu supaya Ibunya aman. Untuk berjaga-jaga, Park Ji Yeon membawa pistol milik Lee Bum Soo yang selama ini tersimpan rapi di kamar ayahnya itu. Park Ji Yeon mengenal siapa Jo Dong Hyuk. Lelaki licik dan jahat.

Ketika mereka bertemu, Jo Dong Hyuk menghina, mengumpat, dan merendahkan Moon Geun Young di depan Park Ji Yeon. Bahkan, lelaki itu menyebut Moon Geun Young sebagai pembunuh putrinya! Park Ji Yeon meradang. Gadis itu mengeluarkan pistol. Dengan membabi buta ia melepaskan tembakan pada Jo Dong Hyuk dan tiga pengawalnya. Mereka roboh, terkapar bersimbah darah. Park Ji Yeon ketakutan. Ia lalu menelepon Moon Geun Young, tempatnya berlindung selama ini.

Moon Geun Young memeluk Park Ji Yeon. Ia sendiri mencoba untuk tenang, demi Park Ji Yeon. Moon Geun Young mengambil pistol dari tangan putrinya, membersihkan sidik jari Park Ji Yeon yang menempel di sana dan menggenggamnya. Park Ji Yeon adalah korban dari perseteruan antara dirinya dan Jo Dong Hyuk. Park Ji Yeon sama sekali tidak bersalah. Park Ji Yeon hanya berusaha membela kehormatan Moon Geun Young.

Karena itulah Moon Geun Young merasa harus bertanggung jawab. Ia merasa wajib menggantikan posisi Park Ji Yeon. Tidak ada seorang pun yang dapat mencegah kekerasan hati Moon Geun Young. Dengan bantuan Choi Siwon, Moon Geun Young menghilangkan jejak Park Ji Yeon sebagai pembunuh yang sebenarnya. Mayat empat lelaki itu terpaksa dilenyapkan dengan cara dibakar di dalam mobil sehingga seolah-olah seperti suatu kecelakaan. Semuanya berjalan sesuai rencana. Ia berhasil menyelamatkan Park Ji Yeon dari kurungan penjara dan bahkan dari kematian.

Ok Taecyeon terenyak dengan kebenaran yang didengarnya dari mulut Moon Geun Young. Ia tidak bisa menceritakan kebenaran itu kepada orang lain. Moon Geun Young memercayainya. Hati kecilnya bersorak. Moon Geun Young memang tidak bersalah!

“Kenapa kaulakukan semua itu?”

“Saya seorang ibu, Romo. Sebagai ibu, sudah kewajiban saya untuk melindungi anak-anaknya, meski dengan taruhan nyawa sekali pun. Park Ji Yeon tidak bersalah seutuhnya. Seandainya saya tidak terbawa pada lingkaran dendam, kejadian mengerikan ini tidak mungkin dilakukannya.”

“Bagaimana dengan Park Ji Yeon? Tidakkah kau memikirkan perasaannya?”

“Park Ji Yeon merasa sangat berdosa dan tertekan. Tapi, saya berhasil meyakinkannya, semua akan baik-baik saja. Itulah dosa-dosa saya, Romo.”

Ok Taecyeon memberikan berkat untuk mengakhiri upacara pengakuan dosa. Setelah itu, Ok Taecyeon memeluk Moon Geun Young dan menangis bersamanya.

“Aku titip anak-anakku, Ok Taecyeon, terutama Park Ji Yeon. Dia masih sangat terguncang. Yakinkan dia bahwa dia bukan seorang pembunuh. Tumbuhkan lagi kepercayaan dirinya. Ia harus bisa menjaga Yoo Seung Hoo. Biarlah itu semua menjadi rahasia besar antara aku dan Tuhan, Ok Taecyeon. Aku mohon, jagalah kedua anakku.”

“Moon Geun Young, akan kulakukan semua keinginanmu. Aku akan menjaga mereka seperti permintaanmu. Kau memang tidak pernah berubah, Moon Geun Young. Dan, yang kau lakukan ini merupakan pengorbanan besar.”

Saat itu pun tiba. Moon Geun Young dengan tenang membiarkan dirinya dibawa oleh sipir penjara yang mengantarnya pada sang eksekutor. Ia sudah siap. Ia tidak takut saat melihat sekelompok orang bersenjata berdiri tidak jauh dari tempatnya. Ok Taecyeon menemaninya dan memberikan sakramen terakhir.

Beban yang menindih hidupnya sudah ia tanggalkan. Ia telah menemukan kedua sahabat terbaiknya dan menitipkan buah hatinya pada mereka. Ia harus pergi untuk menebus dosanya pada keluarga Jo Dong Hyuk, terutama pada Jeon Boram.

Moon Geun Young sudah mengatupkan matanya yang sudah tertutup kain hitam saat didengarnya suara kokangan senjata. Dari bibirnya terucap doa. Bibir itu kemudian terkatup saat peluru menembus jantungnya. Moon Geun Young tidak berteriak kesakitan. Bibirnya mengulas senyum, senyum bahagia.

Orang-orang yang mencintainya mengambil jenazah Moon Geun Young dengan perasaan remuk redam. Park Shin Hye memeluk Park Ji Yeon dan Yoo Seung Hoo, yang menangisi kepergian ibunya. Jang Geun Suk membiarkan air matanya mengalir deras. Ok Taecyeon memilih bersikap setenang mungkin.

“Lihatlah Moon Geun Young. Dia sangat tenang dan damai. Tidak ada mimik takut atau kesakitan. Park Ji Yeon, jangan kecewakan ibumu! Ingat semua pesan dan nasihatnya!” Ok Taecyeon berbisik di telinga Park Ji Yeon, yang hanya bisa mengangguk. Park Ji Yeon lalu mendekati Yoo Seung Hoo.

“Yoo Seung Hoo, apakah kau tidak ingin mendekati Ibu dan mencium Ibu untuk yang terakhir kali?” Tanya Park Ji Yeon pada Yoo Seung Hoo-adiknya.

Yoo Seung Hoo mengangguk. Ia mendekati tubuh Moon Geun Young yang dingin dan memeluknya seerat mungkin. Ia menciumi kening dan pipi Moon Geun Young.

“Aku sayang ibu. aku berjanji akan menjadi orang sukses, seperti harapan Ibu dan Ayah,” kata Yoo Seung hoo, sambil menangis.

Gerimis yang turun sejak dini hari seakan menunjukkan duka yang dalam. Kepergian Moon Geun Young menimbulkan kesedihan mendalam bagi Jang Geun Suk dan Ok Taecyeon. Namun, Moon Geun Young meninggalkan pesan sangat berharga bagi Park Ji Yeon tentang arti cinta dan pengorbanan. Moon Geun Young meninggalkan kebesaran hati dan cintanya yang tidak akan mungkin dilupakan Yoo Seung Hoo. Moon Geun Young memberikan kesan keindahan nilai persahabatan untuk Park Shin Hye. Moon Geun Young meninggalkan senandung cinta masa lalu dalam persahabatan yang manis..

TAMAT
Copyright Sweety Qliquers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...