Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Rabu, 12 Januari 2011

Disasters Beautiful Mistress (Chapter 1)



Hutan kecil itu terletak di teluk yang sangat sepi. Hanya deburan ombak terdengar menderu di pasir sepanjang siang dan malam hari. Ombak yang begitu ganas membuat teluk itu hampir tak pernah didatangi manusia termasuk nelayan pencari ikan.

Tersembunyi di balik kerapatan pepohonan dan semak belukar terdapat sebuah pondok kayu beratap ijuk. Bangunan ini cukup besar, memiliki dua kamar serta Serambi (balai-balai bambu di depan rumah) yang lebar. Dua orang tampak duduk di balai-balai bambu, berhadap-hadapan satu sama lain.

Untuk beberapa saat lamanya tak satupun dari mereka membuka mulut bersuara. Duduk di sebelah kanan di dekat pintu adalah seorang tua, berkulit putih, mengenakan pakaian berwarna kuning muda. Parasnya yang mulai keriput dimakan usia tampak tenang walau benak dan lubuk hatinya diliputi berbagai pikiran dan perasaan. Dihadapannya duduk bersila seorang pemuda berpakaian putih, berbadan langsing dan berkulit putih halus. Rambutnya yang hitam agak tertutup oleh ikat kepala putih. Meskipun dia berpakaian cara laki-laki, namun keelokan paras dan kehalusan kulitnya tak dapat menyembunyikan bahwa sebenarnya pemuda ini adalah seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun.

“Master Jang Hyuk, kau tadi hendak membicarakan sesuatu. Tapi sejak tadi kau hanya berdiam diri….” Terdengar suara gadis elok paras itu.

“Terus terang sebelumnya percakapan ini sudah kupersiapkan. Namun pada waktu tiba saatnya terasa tenggorokanku menjadi kering dan lidah seperti kelu,” kata orang tua yang dipanggil Master Jang Hyuk itu. “Shin Min Ah, ketahuilah, sejak kita tersingkir dari Daehan Minguk, sejak orang tuamu terbunuh, sejak sanak saudara handai taulan dan semua pejabat pengasuh dimusnahkan, sejak itu pula aku hampir-hampir hilang rasa percaya diri…..”

“Tapi Master Jang Hyuk!” sang dara bernama Shin Min Ah cepat memotongnya. “Selama ini justru Master Jang Hyuk selalu menanamkan semangat percaya diri padaku. Selalu mengobarkan api keberanian dan tekad bulat bahwa suatu ketika semua yang musnah itu akan kita dapatkan kembali. Adalah aneh kalau sekarang Master Jang Hyuk bicara lain….”

Si orang tua itu batuk-batuk beberapa kali lalu menganggukkan kepalanya.

“Aku sudah tua Shin Min Ah dan aku bukan manusia yang dapat menyembunyikan kenyataan. Sikap dan semangatku hanya akan sampai sejauh batas usiaku yang tinggal tidak berapa lama lagi. Sebaliknya semangat dan tekadmu masih harus menempuh jalan jauh dan sulit. Karena itulah aku selalu mengobarkannya dalam hati sanubarimu. Jalan yang akan kau tempuh tidak mudah apalagi mengingat kau seorang gadis usia muda.

Namun menyadari bahwa kau sebenarnya adalah satu-satunya kekuatan yang tersisa, yang memiliki hak sebagai pewaris Kerajaan lama yang dimusnahkan oleh penguasa yang sekarang, maka kau harus mempunyai keyakinan, keberanian serta tekad bulat. Bahwa apapun yang terjadi kau harus mendapatkan kembali hakmu yakni tahta Kerajaan yang hilang. Kau harus dan memang hakmu kelak untuk menjadi Ratu penguasa di delapan penjuru angin tanah kelahiranmu ini.

Siapa yang telah memusnahkan orang tua dan saudara-saudaramu harus ganti dimusnahkan. Tahta yang hilang harus kembali ke tanganmu. Kau satu-satunya yang berhak muridku. Seperti kukatakan tadi, jalan untuk mencapai itu tidak mudah.

Musuh begitu kuat dan besar. Namun dengan bekal kepandaian yang kau miliki aku yakin kau akan berhasil mendapatkan tahta yang hilang itu. Aku berdoa pada Dewa semoga pada saat kau dinobatkan menjadi Ratu, aku yang tua ini masih diberikan umur panjang untuk menyaksikannya. Hanya satu hal yang harus kau ingat Shin Min Ah.

Ilmu kepandaian yang betapapun tingginya tidak ada manfaatnya bilamana tidak disertai akal pikiran dan kecerdikan. Lakukan rencana yang telah kita susun dengan sebaik-baiknya. Jika kau nanti meninggalkan teluk ini bersikaplah selalu hati-hati.

Aku tahu pasti mata-mata penguasa berkeliaran di mana-mana. Sebelum kita berdua mereka temukan dan mereka tumpas, mereka tidak merasa aman. Hindari jalan-jalan umum. Jangan pernah bicara dengan siapapun. Masuklah ke Daehan Minguk pada malam hari.

Ingat, satu-satunya yang harus kau cari dan temui adalah Shinhwa seorang ahli ukir-ukiran perak. Sepertiku dia sebenarnya juga seorang empu. Nama sebenarnya Master Gong Yoo….”

Lama Shin Min Ah terdiam sebelum akhirnya berkata “Semua pesan dan petunjuk Master Jang Hyuk akan aku ikuti. Kalau aku boleh bertanya kapan aku harus berangkat ke Daehan Minguk?”

“Malam ini!” jawab Master Jang Hyuk.

“Malam ini? Begitu cepatkah?” tanya Shin Min Ah hampir tak percaya.

“Pekerjaan yang harus kita lakukan memang jenis pekerjaan gerak cepat. Berlama-lama berarti hanya memberi kesempatan pada penguasa untuk lebih leluasa menyusun kekuatan!”

“Jika begitu kata Guru, aku akan melakukannya.” Jawab Shin Min Ah dengan hati bulat. “Kalau bertemu dengan Master Gong Yoo, apa yang harus aku katakan padanya?”

“Kau tak perlu bicara atau mengatakan apa-apa. Dia sudah maklum arti kedatanganmu. Ingat baik-baik Shin Min Ah. Selalu bersikap hati-hati. Jangan bicara dengan sipapun. Usahakan untuk tidak bertemu dengan siapapun sebelum mencapai Daehan Minguk. Juga jangan percaya pada siapapun!”

“Aku akan ingat hal itu baik-baik, aku minta diri untuk mempersiapkan segala sesuatu….”

“Tunggu dulu Shin Min Ah,” ujar Master Jang Hyuk. Sambil masuk ke dalam rumah orang tua itu mengeluarkan sebilah pedang bersarung emas. Senjata ini memancarkan sinar kuning yag angker. Master Jang Hyuk mencium pedang itu tiga kali berturut-turut. Lalu meletakkannya di atas pangkuannya.

“Ini adalah Pedang Choshinsei, pusaka tunggal Kerajaan semasa ayahmu memerintah. Siapa yang memilikinya dialah yang berhak akan tahta kerajaan. Ini bukan senjata biasa Shin Min Ah. Pedang ini memiliki keampuhan luar biasa karena sakti. Bila kau cabut dari sarungnya akan terpancar sinar merah dan hawa sepanas api akan membersit. Jarang lawan yang sanggup menghadapinya. Karenanya kau hanya boleh mempergunakan bilamana dalam keadaan terdesak sekali….”

Kagum Shin Min AH mendengar keterangan sang Guru. Matanya tak berkedip memandang senjata yang ada di atas pangkuan gurunya itu.

“Ambillah Shin Min Ah….” Kata Master Jang Hyuk.

“Pedang…..Choshinsei itu untuk aku guru?” tanya Shin Min Ah hampir tak percaya.

Aku tidak memberikannya padamu Shin Min Ah. Pedang ini adalah memang milikmu sebagai pewaris tunggal Kerarjaan. Selama ini aku hanya menolong untuk menyimpannya saja…..”

Dengan dua tangan gemetar Shin Min Ah mengambil senjata itu dari atas pangkuan sang Guru. Aneh. Pedang Choishinsei ternyata ringan sekali. Pada saat dara itu memegang pedang sakti tersebut, detik itu pula Master Jang Hyuk menjatuhkan diri bersimpuh.

Shin Min Ah tersentak kaget.

“Guru, mengapa kau menyembahku?!” tanya sang dara.

Si orang tua tersenyum. “Karena kaulah pewaris tunggal Kerajaan yang syah. Karena kau adalah Ratuku kepada siapa aku berakti!”

Shin Min Ah menggigit bibirnya lalu berkata perlahan “Seperti katamu Guru. Perjalanan masih jauh. Belum saatnya siapapun menyembahku. Aku saat ini hanya manusia biasa, tak lebih seperti kau sendiri….”

Ketika Master Jang Hyuk mengangkat wajahnya tampaklah air mata telah membasahi pipinya yang cekung. “Muridku, sifat dan tutur bicaramu sangat menyerupai Baginda Raja Kim Min Joon, mendiang ayahmu…..”

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...