Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Senin, 20 September 2010

Cinta Yang Tak Terduga (Part 2)


Part 2
Lee Min Ho vs Peter Ho


“Tahu tidak, Son Ye Jin, apa masalahmu?” tanya Lee Min Ho suatu saat dengan mimik yang lucu. Aku tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalaku.

“Kau ini terlalu bagaimana ya, tidak santai! Kau harus lebih terbuka pada orang lain, lebih easy-going.... Pernah tidak, semua yang kau ceritakan padaku ini, kau ceritakan pada kekasihmu? tidak pernah, kan? Kau harus lebih banyak share denganya. Wajar saja dia marah kalau kau tidak suka bercerita tentang semua unek-unek yang ada di dalam otakmu. Kalau begitu terus, dia akan jadi merasa tersisih, Son Ye Jin,” sambung Lee Min Ho panjang lebar.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Benar juga, Peter Ho memang suka marah jika aku menceritakan tentang Lee Min Ho, bagaimana dekatnya aku dengannya, dan bagaimana aku merasa bebas menceritakan masalah-masalahku. Atau, apa mungkin dia cemburu ya? Aku tertawa geli membayangkannya. Walaupun tampan dan banyak wanita yang naksir, Lee Min Ho itu cerewet sekali kepadaku, sampai-sampai terkadang aku menjulukinya 'my sister' – karena dia, seperti wanita! Namun, aku yakin dia bukan gay karena ia pernah menceritakan kisah cintanya yang dulu padaku.

Persahabatan kami pun berlanjut terus, sampai tiba waktunya kami berdua harus kembali ke Seoul karena kuliah kami sudah tuntas. Begitu sampai di Seoul, aku memperkenalkannya kepada Papaku, yang sangat menyukainya. Namun, ketika aku memperkenalkannya kepada Peter Ho, reaksi kekasihku selama lima tahun tersebut benar-benar tidak kusangka.

“Aku tidak suka dengannya, Son Ye Jin!” ujar Peter Ho datar, dengan ekspresi masam yang membuat wajah tampannya menjadi tidak enak dilihat.

“Aku ingin kau menjauhinya. Bukankah sekarang sudah ada aku, kau juga tidak perlu dia lagi, kan? Jika kau mau teman jalan-jalan, kan ada Lee Hyori, Song Hye Gyo, atau Son Dam Bi...." lanjutnya sembari menyebutkan nama teman-temanku saat SMA dulu.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Peter Ho tidak mengerti arti persahabatan Lee Min Ho bagiku. Dia memang benar-benar cemburu. Namun saat itu, aku mengira kecemburuannya hanya akan berlangsung sementara saja. Mungkin saja, jika dia sudah mengenal Lee Min Ho lebih baik, pasti dia akan menyukainya.

Di sisi lain, walaupun Peter Ho sangat tidak ramah kepadanya, Lee Min Ho tetap ceria dan menganggap Peter Ho sebagai teman. Ia juga masih sering menghubungiku, dan kadang-kadang ia main ke rumahku untuk menemani adik-adik perempuanku yang masih kecil-kecil. Mereka suka sekali dengannya karena ia pandai bercerita dan masakannya sangat enak. Selain menemani si kecil Seo Shin Ae bermain dan membaca, Lee Min Ho juga sering membantu memberikan solusi-solusi masalah pria untuk Goo Hye Sun yang mulai beranjak remaja.

Tahun demi tahun terlewati, dan Lee Min Ho tetaplah teman yang terbaik untukku. Kami sering bertemu, sekedar hanya untuk berbincang-bincang. Kami bahkan mengajukan diri untuk menjadi guru Les privat Bahasa Jepang di ‘Ferindo Japan (Les Privat Bahasa Jepang di Jepang, yang buka cabang di Korea) bersama-sama.

Hubunganku dengan Peter Ho juga menjadi semakin serius. Kami telah berpacaran selama lebih dari tujuh tahun. Ia sudah bekerja untuk Papa, membuat pernikahan semakin berada di dekat mata. Bagiku, semua yang kami lewati bersama telah menjadi suatu masa depan pasti yang tak perlu diramalkan lagi. Ya, mengapa aku harus khawatir? Peter Ho Pria yang baik, dia supel dalam pergaulan dan akrab dengan semua saudara-saudaraku, mempunyai tabungan yang lebih dari cukup untuk memulai suatu rumah tangga dan kami tidak pernah berselisih lebih dari pertengkaran-pertengkaran kecil. Dan bukankah aku juga telah mengenakan cincin ‘janji’ dari Peter Ho?

Akan tetapi sore itu aku tidak mengenakan cincin tersebut. Aku tidak pernah mengenakannya apabila sedang bersama-sama Lee Min Ho. Peter Ho telah memberikan ultimatum kepadaku seminggu yang lalu, sebelum aku dan Lee Min Ho berangkat bersama-sama ke Jepang untuk menghadiri reuni angkatan kami saat kuliah dulu.

“Aku tidak ingin terlalu dekat dengan Lee Min Ho lagi. Kita sebentar lagi akan menikah Son Ye Jin, dan aku sering mendengar orang-orang mempergunjingkan kedekatanmu yang tidak wajar dengan Lee Min Ho. Bagaimanapun juga dia Pria dan kau Wanita. Aku percaya kepadamu, tapi kau harus memutuskan hubunganmu dengannya,” ultimatum Peter Ho. Tanpa ekspresi. Dingin sekali.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...