Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Sabtu, 25 September 2010

Cinta Saja Tidak Cukup (Part 1)



Part 1
Malaikat Yang Singgah Di Hati


“Menyeramkan sekali, maksudmu setan ya?” Goo Hye Sun langsung terlonjak kaget begitu mendengar kata-kata sahabatnya.

“Dengarkan aku dulu, Kim So Eun. Kau cerna dalam-dalam perumpamaanku itu. Baru komentar. Jangan sebaliknya. Komentar padahal tidak mengerti duduk permasalahannya...” jawab Goo Hye Sun sabar.

“Tunggu. Dia ada, tapi sebenarnya tidak ada.... Dia tidak ada tapi sebenarnya ada. Sudahlah, aku menyerah saja. Jelaskan dengan baik dan benar padaku. Jangan ditambah atau dikurangi....”

Goo Hye Sun terdiam sejenak.

“Kim So Eun, kau tahu Lee Min Ho kan?”

“Ya. Tahu. Lalu?”

“Kau tahu kan kalau aku sudah lama mengaguminya?”

“Tahu, lalu?”

“Kau tahu kan kalau setiap saat aku selalu memikirkannya? Dia sangat baik padaku. Kita berdua setiap hari selalu saling sms atau telepon. Tapi....”

“Tapi apa?”

“Kami hanya sebatas teman... sebatas sahabat saja. Dan bagiku itu sudah sangat indah...” kata Goo Hye Sun sedih. Dengan mata sedikit berkabut.

“Tapi kenapa nada bicaramu tidak ceria. Berarti kau sudah jatuh cinta dengan Lee Min Ho. Iya kan? Kalau tidak, ya sudah. Segitu saja sudah cukup....”

“Tidak Kim So Eun. Aku tidak mengerti ini cinta atau bukan. Tapi dia adalah satu-satunya orang yang membuat hidupku jadi lebih terang. Dia sudah menerangi hidupku...” kata Goo Hye Sun syahdu.

“Berarti Lee Min Ho setara dengan PLN ya?” jawab Kim So Eun polos.

Goo Hye Sun tersenyum. Sahabatnya memang selalu melucu sendiri.

“Dia seperti embun di musim kering...” kata Goo Hye Sun lagi. Kim So Eun mengangguk.

“Kau mengangguk, Kim So Eun? Kenapa? Setuju?”

“Biasa saja. Leherku pegal....”

“Oo.”

Dan curhat singkat antara Goo Hye Sun dengan Kim So Eun pagi itu sudah lumayan banyak mengurangi beban pikiran Goo Hye Sun selama ini. Kadang Kim So Eun sering berkelakuan ajaib. Tidak memberi pemecahan. Tapi paling tidak Kim So Eun satu-satunya orang yang mau mendengarkan keluh kesah Goo Hye Sun tentang Lee Min Ho.

Lee Min Ho.

Kakak kelas SMP-nya yang ia temui saat reuni.

Sejak pertemuan itu, Goo Hye Sun tak pernah berhenti sedetik pun untuk memikirkan Lee Min Ho.


Sosok Lee Min Ho yang tampan. Pintar. Lucu.

“Dia beda sekali dengan Kim Hyun Joong....” begitu alasan Goo Hye Sun.

“Di dunia ini tidak ada yang sama. Termasuk kembar identik. Lihat saja Kak Seto dan Kak Seno...” kata Kim So Eun.

Dan Goo Hye Sun kembali terdiam, menerawang jauh....

Sebenarnya Goo Hye Sun hanya sedikit melow saja hari ini. Sudah dua hari Lee Nin Ho tidak sms dan menelponnya. Walaupun hanya sekedar say hello. Padahal Goo Hye Sun ingin mengucapkan terima kasih pada Lee Min Ho. Beberapa hari lalu Goo Hye Sun minta tolong untuk dibelikan Buku National Geographic pada Lee Min Ho yang memang rajin berburu buku ke mana-mana. Dan ketika buku itu sudah dapat, Lee Min Ho mengantarkannya sendiri ke rumah Goo Hye Sun.

Sosok Lee Min Ho memang sangat perhatian.

Dia tidak pernah bilang tidak setiap kali Goo Hye Sun minta tolong. Padahal Lee Min Ho sibuk sekali dengan kegiatannya yang seabrek.

Beda sekali dengan sosok Kim Hyun Joong yang sudah 10 bulan menjadi cowoknya. Kim Hyun Joong tidak pernah merespon dengan baik apa yang ada di dalam pikiran Goo Hye Sun. Kim Hyun Joong cenderung pasif. tidak peduli. Suka asyik dengan dirinya sendiri. Jadi 10 bulan punya pacar, rasanya tetap menjomblo. Kalau kata orang dalam hubungan harus ada take and give, dengan Kim Hyun Joong, Goo Hye Sun merasa tidak menemukan semua itu.

“Putus saja, Goo Hye Sun. Susah sekali...” kata teman-teman Goo Hye Sun yang paham betul dengan apa yang terjadi.

“Aku juga sudah pernah memikirkan hal itu. Tapi Kim Hyun Joong tidak pernah merespon. Tidak mungkin putus hanya sepihak. Lagipula aku tidak enak dengan mami dan papi Kim Hyun Joong. Aku sudah dekat dengan mereka....”

“Tapi untuk apa kau paksakan?”

“Aku masih berharap someday Kim Hyun Joong akan berubah. Kalaupun aku putus dengan Kim Hyun Joong, aku juga tidak akan jadian dengan Lee Min Ho. Pacar Lee Min Ho yang ada di Amerika, aku dengan dia sayang sekali dengan Lee Min Ho. Aku tidak akan mengganggu hubungan mereka yang sudah solid...”

“Berubah? Memangnya Powers Rangers...!” semua teman-teman Goo Hye Sun tertawa kompak.

Tapi niat Goo Hye Sun sangat putih dan tulus pada Kim Hyun Joong. Seperti apa pun Kim Hyun Joong ia mencoba menerima Kim Hyun Joong apa adanya.

Dan sore itu Kim Hyun Joong muncul seperti biasa ke rumahnya.

Membuat Goo Hye Sun agak jengah.

Pakaian Kim Hyun Joong tidak rapi.

Rambutnya pun tidak rapi, pakai jeans yang sudah belel.

Ah, berbeda jauh sekali dengan Lee Min Ho yang selalu wangi dan berpenampilan keren. Dan ketika bayang-bayang Lee Min Ho muncul, sekuat tenaga Goo Hye Sun menepisnya jauh-jauh dari benaknya.

Setelah say hello dengan Goo Hye Sun, Kim Hyun Joong dengan cuek duduk di depan TV dan menyalakan play station. Tidak lama kemudian ia sudah asyik dengan play station-nya.
Hati Goo Hye Sun bener-bener miris. Kim Hyun Joong terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Kim Hyun Joong tidak pernah bertanya dengan sikap mesra, apa kegiatan Goo Hye Sun hari ini, capek tidak, apa yang bisa ia bantu. Pertanyaan standar dari seorang cowok untuk soulmate-nya.

“Kim Hyun Joong... kita harus bicara....”

“Ya? Apa?” tanya Kim Hyun Joong masih asyik dengan play station-nya.

“Tentang kita berdua. Hubungan kita....”

“Memangnya ada apa dengan hubungan kita, Goo Hye Sun? Kita baik-baik saja....”

“Kim Hyun Joong, aku merasa kalau kau sudah tidak perhatian lagi denganku. Kita sudah jauh berbeda. Kau tidak pernah berubah dari dulu....”

“Apa yang berbeda? Aku tetap mencintaimu, Goo Hye Sun.” Akhirnya Kim Hyun Joong meletakkan stick PS-nya. Ia lalu menatap Goo Hye Sun tajam. Kim Hyun Joong bersandar di sofa.

“Cinta saja tidak cukup, Kim Hyun Joong.... Tapi harus ada sesuatu yang membuat kita berdua merasa bahagia jika saling bertemu. Tidak hambar....”

“Jadi kau tidak merasa bahagia jika bertemu denganku?” Tiba-tiba saja mata Kim Hyun Joong berubah jadi merah. Seakan tidak senang dengan ucapan Goo Hye Sun.

“Bukan begitu, Kim Hyun Joong. Aku saying padamu. Tapi aku ingin kau jadi lebih baik. Jadi lebih rapi, kau tidak hanya mengabiskan waktumu hanya untuk main play station...” Goo Hye Sun kelihatan sedih. Ia menunduk. Dua air bening melesat lembut membasahi pipi, wajah cantik Goo Hye Sun.

Dan tidak ada sepuluh detik Goo Hye Sun menunduk, mengusap airmatanya, ketika ia mengangkat wajah, ternyata Kim Hyun Joong sudah tidur dengan cueknya, dengan kepala menyandar di sofa.

Goo Hye Sun bengong.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...